![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Rasanya duniaku seakan runtuh mendengar Mommy tak mampu melanjutkan ucapannya soal Edgar. Tubuhku serasa kaku. Tanganku sudah gemetaran sedari tadi. Firasatku seakan mengatakan hal buruk. Tidak, semoga ini hanyalah mimpi buruk belaka.
Aku berlari-lari dalam koridor rumah sakit lantai dua menuju ruang ICU, kembali Edgar masuk di sana. Jantungku pun berpacu cepat--berdetak kian kencang dan gila--bersama ayunan kakiku berlari.
“Mommy, Daddy. Bagaimana?” serbuku langsung disela-sela menarik nafas yang tersengal-sengal. Kulihat Daddy sedang duduk di kursi panjang menatap kosong ke depan, sedangkan Mommy dan Randy tampak sangat khawatir dan cemas, berdiri di depan pintu ICU yang masih menyala merah.
“Entahlah, El. Sedari tadi pintunya belum terbuka,” jawab Daddy sambil berdiri. Gigiku gemeretak, menghalau rasa cemas yang memenuhi seluruh hatiku. Aku bersandar pada dinding di tengah deru napasku yang belum sepenuhnya teratur, mataku tak hentinya menatap warna merah menyala di atas pintu. Berkali-kali aku mengembuskan napas untuk menenangkan pikiranku, tiba-tiba saja ada perasaan aneh dan sakit menyelinap ke ulu hatiku.
Deg! Deg! Deg!
Rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri berpacu cepat tiada henti. Melirik jam di atas pintu. Tak terasa sudah hampir dua jam, aku, Daddy, Mommy dan Randy menunggui pintu yang tak terbuka-buka. Rasanya menunggu dua jam seperti menunggu satu tahun lamanya.
Tak berapa lama, pintu ganda ruang ICU akhirnya terbuka, aku berharap-harap cemas akan hasil dari balik pintu itu. Muncullah seluruh tim dokter Wu yang menangani Edgar keluar. Wajah mereka tampak lesu. Tidak ... hati ini seakan berkata lain. Tuhan kumohon, jauhkan pikiran kotorku saat ini.
“Dokter Wu, bagaimana hasilnya?” tanyaku langsung menyerobot dokter Wu yang sedang berjalan keluar tergesa-gesa menuju ke arahku yang sedang berdiri. Dokter Kris mengembuskan nafasnya dan menatapku kemudian bergantian menatap Mommy, Daddy dan terakhir Randy. Dia menepuk-nepuk bahuku menenangkanku.
“Kami para tim dokter sudah sangat maksimal berusaha. Tapi Tuhan berkata lain, tuan Elias. Tuhan lebih sayang kepada tuan Ed---”
Belum selesai dokter Wu menjelaskan, kakiku sudah berlari masuk keruang ICU, kulihat seorang tim dokter lainnya sedang menyelimuti wajah damai Edgar yang pucat, serta mata yang kini telah menutup rapat dengan selembar kain tipis. Tidak, tidak, kenapa begini.
Hati kecilku terus menyangkal akan kenyataan di depanku. Aku merosot ke lantai, air mataku tak kuasa kubendung lagi – mengalir hangat. Kukepalkan tangan kananku dan menutup mulutku yang rasanya ingin berteriak pada langit, kenapa dunia tak begitu adil. Kenapa Edgar yang harus pergi. Mengapa? Mengapa? Kenapa tidak aku saja yang mati?
Kupukul-pukul lantai menyesali yang telah terjadi, bulir-bulir air mataku satu persatu jatuh membasahi lantai marmer putih. Ya Tuhan. Bagaimana aku menjelaskan pada Purnama nantinya?
Aku bersandar dengan lemah pada dinding, serta iris mataku menatap nanar ke atas ranjang, saat kulihat Mommy, Daddy dan Randy terisak di samping tubuh Edgar. Kedua bola mataku tak berkedip sedikitpun menatap wajah damai nan pucatnya yang berada di balik kain tipis berwarna putih. Memastikan, bila saja ada satu kali lagi kehidupan yang menyambung dalam tubuh kaku itu. Namun, seberapa keras aku menatapnya, tetap saja tubuh kaku itu diam tak bergerak.
“Ed,” gumamku pada tubuh kaku Edgar setelah mampu berdiri di depannya. Edgar, huks ... kudekap raga yang masih sedikit hangat - baru saja ditinggalkan sang pemiliknya. Air mataku tak hentinya mengalir, bahkan jatuh ke wajah pucat nan dinginnya. Dengan gemetaran jari-jariku meraba mata yang kini terpejam erat.
Bangun Ed, padahal baru saja kurasakan bagaimana rasanya bahagia memanggilmu seperti saudara. Padahal kita baru saja bertemu dan berbicara satu sama lainnya, untuk pertama kalinya kau tersenyum hangat padaku. Padahal ... Mengapa? Mengapa?
Aku memegang erat tangannya yang pucat, kuletakkan ke pipiku yang tak hentinya mengalirkan air mata hangat di sudut mataku. Berharap tangan yang lemah ini kembali memegang tanganku.
Ed,, bagaimana aku menjelaskannya pada Purnama nanti?
Jawab aku, Ed.
__ADS_1
Jawab ....
Tidakkah kau ingin melihat calon keponakanmu?
Kau tega meninggalkan Purnama sendirian di dunia ini?
Air mataku semakin basah merembes ke tangannya yang pucat. Mulutku kaku tak bisa digerakkan. Hatiku sangat sakit. Aku sudah tak memperhatikan keadaan sekitar lagi. Duniaku runtuh tak ada tempat lagi untuk berpijak, Edgar pergi selama-lamanya ....
“Purnama ... mana Purnama, El?”
Aku tertegun mendengar nama Purnama. Purnama ....
“PURNAMA!”
Aku berteriak sekuat tenaga menyebut nama istriku. Kupegang belakang kepalaku saat denyutan di kepala menyergapku bersamaan penglihatanku memburam. Saat denyutan telah hilang serta pandanganku kembali jelas, kulihat keadaan di sekelilingku. Aku menatap bingung. Bukankah ini kamarku dan bukan di rumah sakit?
Astaga! Jadi tadi hanyalah mimpi. Edgar tidak meninggal. Syukurlah. Mungkin karena pikiranku terlalu kacau, mencemaskan keadaan Purnama yang diculik Jeremy membuatku jadi bermimpi buruk. Sungguh. Aku sangat takut Purnama membenciku karena kesalahan fatalku ini.
“Kau sakit, El?”
Kutatap mata cokelat bening Edgar. Melihat wajahnya kembali membuatku merindukan serta mencemaskan keadaan istriku dalam genggaman Jeremy. Dari semalam aku terus mengerahkan beberapa anak buahku serta melibatkan detektif kota Beijing untuk mencari keberadaan Purnama. Akan tetapi, hingga pagi ini aku belum mendapatkan kabar apapun dari mereka semua.
Sayang, kuharap kau baik-baik saja ...
__ADS_1
“Elias?”
“Y-ya.” Aku tergagap Edgar memanggilku.
“Aku tak sakit,” imbuhku menyunggingkan senyuman tipis dan kikuk. Edgar memiringkan kepalanya, menatap lekat diriku hingga aku meneguk ludah gugup dipandang sedemikian rupa olehnya.
“Ke-kenapa, Ed?”
“Kau ... sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku.”
Deg!
Jantungku bergemuruh, tentu saja aku merahasiakan Purnama diculik, tak ingin membuatnya ikutan khawatir dan cemas yang malah membuat kondisi kesehatannya makin drop.
“Tidak ada yang kusembunyikan,” jawabku dengan menahan napas.
“Benarkah?--ah lupakan saja, El. Mana Purnama? Kok dia belum menjengukku.” Edgar memainkan selang infus di tangannya, sesekali menghela napas pendek.
Kugigit bibir. Gelisah. Tak mampu kujawab ucapan Edgar.
“El?”
“Purnama ...” Kutarik napas dalam-dalam. “Dia sibuk mengerjakan sesuatu untuk kejutanmu setelah pulang dari rumah sakit.”
Kubasahi bibirku yang kering, menatap gugup lantai marmer yang kupijak. “Mu-mungkin tiga hari lagi dia akan menjengukmu.”
Ya, aku hanya butuh tiga hari untuk mendapatkan Purnama kembali, bagaimanapun caranya.
\==============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1