![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku melirik istriku yang tidur memunggungiku. Kuambil bantal dan selimut di sampingnya. Membalikkan tubuhku berjalan menuju sofa di mana seminggu ini tempat tidurku sambil memandangi istriku.
Kupikir tadi dia mendengar pembicaraanku dengan Edgar. Bunyi suara benda jatuh yang kudengar tadi ternyata botol minuman yang jatuh dari atas meja rias. Kurasa angin yang menyenggolnya. Soalnya kalau Purnama, dia pasti masih ada di dalam kamar saat aku bergegas masuk ke kamar tadi. Lagipula saat aku bicara dengan Edgar, istriku sedang menonton di ruang keluarga. Saat kutemui di ruang keluarga ia masih menonton. Tak peduli akan kehadiranku.
“Elias.” Baru mau melangkah, suara serak Purnama memanggilku.
Secepat kilat aku membalik tubuh atletisku, tersenyum lebar padanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Purnama menghela napas. Melipat kedua tangannya sembari menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Matanya lurus ke depan tanpa melihatku sama sekali. “Tidurlah di sampingku,” ujarnya melembut hampir berbisik.
Aku mematung sesaat mendengarnya. Tidur di sampingnya? Mimpikah? Memiringkan kepalaku, memandang lekat dirinya yang masih tetap menatap lurus ke depan.
“Yakin, Sayang?” tanyaku memastikan ucapannya, sedikit ragu. Mungkin saja dia khilaf barusan. Kenapa dengannya? Kenapa bisa hatinya berubah menjadi lembut mendadak.
Purnama mengembuskan napas pendek. “Iya, yakin. Kenapa diam tak bergerak begitu? Tak mau? Ya sud--”
“Tentu saja aku mau.” Buru-buru kupotong ucapannya sebelum berubah pikiran kembali. “Siapa yang menolak tidur di samping istri sendiri.”
Sudut bibirku tertarik ke atas membentuk senyuman lebar, dan mungkin juga terlihat bodoh. Well, aku tak peduli. Yang penting hatiku bahagia. Bagaikan menang undian tak terduga, aku sangat girang. Langsung saja aku berbaring di sampingnya. Menyandarkan tubuh ke sandaran kepala ranjang - sama persis apa yang dilakukan oleh istri manisku.
“Jangan senang dulu. Kau hanya boleh tidur di sampingku, tidak boleh melakukan lebih. Ingat! Aku masih belum memaafkan kesalahanmu sepenuhnya, El.” Seakan tahu niatku yang hendak memeluknya Purnama mengingatkanku. Menyentak selimutnya, tidur memunggungiku.
Kuhela napas berat. Menatap sayu punggungnya. Sungguh susah melunakkan hatinya yang telah beku itu. Kupejamkan mata. Berusaha tidur meski otakku memerintahkan terus terjaga. Tengah malam nanti aku akan memeluk tubuh istriku. Mendekapnya seperti biasa.
Samar kudengar Purnama membalik tubuhnya. Aku tahu ia memandangi wajahku. Kunahan napas saat jemari Purnama berada di wajahku. Mengelus pipiku.
“Aku tahu kau belum tidur, El,” ujarnya parau.
__ADS_1
Kuhela napas pendek. Perlahan kubuka kelopak mataku. Irisnya segera bertemu dengan manikku. Pancaran matanya begitu sayu dan redup, penuh kesedihan di dalamnya. Hatiku sakit melihatnya. Terlihat sekali ia sedang menahan rasa sakit.
“Kenapa, El. Kenapa kau tak mengatakannya padaku?” tanyanya dengan pandangan menunduk. Tak berani menatap kedua mataku lagi. “Mengapa kau berbohong padaku. Mengapa kau tak memberitahuku sebelumnya. Huks ...”
Aku terpaku. Bibirku tertutup rapat, lidahku terasa kelu. Ya Tuhan, ternyata istriku mendengarkan pembicaraanku dengan Edgar tadi. Tanpa kujawab pertanyaannya, sontak kuraih tubuh berisi istriku ke dalam dekapanku. Purnama semakin menangis tersedu-sedu. Darahku berdesir halus. Dadaku berdenyut sakit mendengarkan isakannya.
“Kenapa kau berbohong padaku, El,” ulang istriku lagi di tengah sedu sedannya. Aku semakin mengeratkan pelukanku di pinggangnya. Mengecup lekuk bahunya. Mataku mendongak ke atas, mencoba menahan cairan bening yang berdesakan ingin keluar. Rasanya sakit sekali seakan ditusuk ribuan jarum mendengar isakannya.
“Tahukah, El. Kau ... membuatku merasa bersalah.” Purnama memukul dadaku. Aku masih membisu, tak berniat mengeluarkan sepatah katapun. Kubiarkan ia melampiaskan semua perasaannya padaku.
“El--hmpttt.”
Sontak kucium bibir plumnya, membungkam semua kata-katanya. Sungguh tak ingin kudengar lagi ucapan menyedihkan dari belah bibirnya. Setelah dirasa cukup dan ia membutuhkan oksigen untuk memenuhi rongga pernapasannya. Dengan berat hati kulepaskan tautan bibirku padanya.
Purnama masih terisak dan menundukkan kepala. Dengan lembut kuangkat wajah manisnya hingga menengadah padaku. Perlahan jemari panjangku menghapus cairan bening yang berjatuhan di pelupuk mata indahnya.
Purnama tak menyahut.
“Sudah cukup aku memberikan luka begitu dalam serta menyakiti hatimu karena perbuatanku di masa lalu. Aku...tak ingin memberikan dan menambah luka lagi di hatimu, dengan mendengar kabar bahwa aku koma selama sebulan, setelah sadar aku harus berjuang memulihkan suaraku dan tubuhku selama dua bulan. Sungguh, aku tak sanggup memberikan kabar buruk itu padamu. Aku...tak ingin membuatmu mender--”
Tiba-tiba Purnama memelukku dengan erat, seketika menghentikan ucapanku. Kubalas pelukannya tak kalah eratnya. Kedua tanganku mengelus punggung sempitnya seraya mengecupi puncak kepalanya berkali-kali, lalu beralih mengecupi bahunya.
“Sayang, aku--”
“Cukup, El. Tak usah diteruskan lagi.”
“Maaf, Sayang...” bisiku parau.
__ADS_1
“Sedari dulu aku sudah memaafkan semua perbuatanmu padaku, El. Dan sekarang aku sudah tahu semuanya. Kau tak perlu lagi meminta maaf. Kau tak salah sama sekali. Aku juga tak marah padamu. Justeru aku merasa bodoh. Selama kau menderita aku tak berada di sisimu. Huhuhu, aku yang minta maaf padamu. Selama ini aku kasar padamu.”
“Ssst, jangan teruskan lagi. Aku paham posisimu,” jawabku menenangkannya.
Aku mengeratkan pelukanku saat Purnama membalas pelukanku tak kalah eratnya. Kuembuskan napas lega. Dinding yang tak kasat mata--seakan memisahkan kami berdua-- seakan-akan runtuh seketika setelah pengakuan jujur di antara kami berdua.
Kami saling melempar senyum bahagia. Kupegang lembut rahangnya. Mengangkatnya. Mendekatkan wajahnya pada wajahku hingga hidung kami saling bersentuhan. Kurasakan deru napasnya yang sedikit tak beraturan keluar dari cela bibirnya. Lambat-laun menutup kedua belah kelopak mataku di saat bibirku--dengan lembut--menyentuh bibir plumnya.
Kulepaskan tautan bibir kami untuk yang kedua kalinya saat dirasa istriku butuh bernapas. Tersenyum bahagia, seakan senyumanku telah tertanam selamanya di wajahku. Purnama membalas senyumanku tak kalah manisnya, seolah senyum manisnya memberikan rasa manis disetiap makanan dan minumanku, hingga diriku tak butuh pemanis tambahan.
Kukecup keningnya lama, lalu bibirku turun di pelupuk mata indahnya. Bergantian mengecupnya. Lantas bibirku beralih mengecup hidungnya. Kemudian mengecup kedua pipinya bergantian dan terakhir mengecup di mana menjadi tempat favoritku selain collarbone-nya, bibirnya yang takkan pernah bisa membuatku move on selamanya. Sangat lama aku mengecup bibirnya.
Dengan tatapan sayu, memandang mata teduh milik istriku. Tanganku turun mengelus perut buncitnya. Menyapa bayiku seperti biasanya. Tersenyum lebar merasakan detak jantung lemah di dalam sana saat telapak tanganku menyentuhnya.
Purnama ikut meletakkan tangannya di atas punggung tanganku. Sesaat aku merasakan seperti tersengat listrik, tiba-tiba saja bayi dalam perut istriku menendang. Aku tersentak kaget. Hatiku semakin bahagia. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seakan ada ribuan malaikat dan bidadari di sekelilingku, menjaga bayiku dan istriku.
“El, kau merasakannya? Bayi kita menyapamu.” Purnama tersenyum lebar padaku seraya menekan telapak tanganku ke perutnya. Bibirku sudah tak sanggup lagi berkata, hanya bisa membalas dengan anggukan.
Selama sembilan bulan Purnama mengandung anakku. Aku belum pernah merasakan bayiku bergerak ketika aku menyentuh perut buncit istriku diam-diam. Tapi kini ... Ya, Tuhan ... terima kasih atas anugerahnya yang tak terhingga.
\================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1