I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TUJUH BELAS


__ADS_3

“Bagaimana keadaaan Purnama, El?” sembur Nila baru datang, tampak ia tergesa-gesa datang kemari, disusul  dari belakang Sakti--suaminya--menggendong Alston, anaknya yang baru berumur delapan bulan sedang tertidur pulas.


“Entahlah, Nil.Aku belum tau keadaannya sejak ia masuk ke ruang icu setengah jam yang lalu,” desahku frustasi, duduk termenung di kursi panjang.


“Bagaimana bisa terjadi?” tanya Sakti penasaran, duduk di sebelahku.


“Semuanya begitu cepat. Aku memaksanya untuk berkata jujur dan ...” Aku terdiam, kembali terlintas kejadian setengah jam yang lalu. Kutatap lantai marmer putih rumah sakit dan meremat kedua tanganku. Seandainya saja aku tak terlalu memaksanya, mungkin kejadian ini takkan terjadi.


Aku menengadah ketika pintu ruang icu terbuka lebar. “Bagaimana keadaannya, Tante?” tanyaku mencegat tante Rina yang baru keluar. Tante Rina menampar kepalaku dengan berkas yang berada di tangannya. Aku hanya meringis menahan sakit. Aku tau, tante Rina sangat marah padaku.


“Elias, sudah kuperingatkan padamu untuk menjaga kandungannya. Lihat apa yang terjadi, ia hampir saja keguguran, beruntung ia kuat, jadi tak terjadi hal yang fatal”


Aku diam tak berkomentar dan menunduk menatap lantai, memejamkan mataku sejenak dan membukanya kembali, mengembuskan nafasku dengan perlahan.


“Aku sudah memberinya obat penenang. Saat ini ia tertidur, mungkin besok pagi ia baru bangun, jangan ulangi lagi kejadian seperti ini, Elias.”


“Tante, aku sangat kalap waktu itu, aku....” Aku tak meneruskan ucapanku.


“Sudahlah, tak usah dijelaskan. Itu masalah internal kalian berdua. Lebih baik kau masuk melihat keadaaannya,”  saran tante Rina simpati dan meremat bahuku.


“Ya, terima kasih, Tante.”


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You*


 


 


 


 


Aku menatap Purnama yang terbaring pucat di tempat tidur, tak berani mendekatinya. Entahlah, masih ada perasaan yang mengganjal di hati ini, ada rasa kecewa bercampur khawatir. Ingin marah padanya, tapi tak bisa setelah melihat keadaannya yang seperti ini. Hatiku bagai diiris sembilu, sangat sakit. Terluka melihatnya seperti ini, dan terluka saat mengingat adegan di dalam foto dua hari yang lalu.


Kembali aku memandang wajah damainya yang tertidur, nafasnya perlahan mulai teratur, sepertinya obatnya sudah bereaksi.


“Syukurlah ia tak apa-apa, juga bayinya,” ucap Nila menarik napas lega.


Aku hanya diam mematung, tak melakukan apa-apa, hanya memperhatikan Nila mengelus perut buncit Purnama sambil menggendong Baby Alston yang tertidur. Seseorang menepuk pundakku dari belakang.


“Minumlah.” Sakti memberikan sebotol air mineral padaku dan langsung kuminum. Aku mengikuti Sakti duduk di sofa.


“Dari mana kalian tau kalau Purnama dilarikan ke rumah sakit?” tanyaku heran. Aku sama sekali tak mengabari mereka.


“Aku dapat kabar dari Intan, Intan dapat kabar saat ia menelepon Papi Glen dan mengatakan kalau Maminya mendadak ke rumah sakit malam-malam, karena ditelepon olehmu. Dan Intan tak bisa menjenguk karena saat ini ia bersama Jagat lagi berada di Indonesia,” jelas Nila sepanjang rel kereta api.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You*


 


 


 

__ADS_1


 


Aku tersentak bangun saat Purnama membuka matanya. Kupegangi kepalaku yang sedikit pusing akibat mendadak bangun. Barusan aku bisa memejamkan mata karena menjaga Purnama semalaman. Menegakkan kembali tubuhku yang bersandar di kursi sambil memandang Purnama yang terbaring lemah.


“Perutku ...” lirih Purnama mengelus perutnya. Ia bernapas lega saat kandungannya baik-baik saja, kemudian ia menatapku, matanya bergerak-gerak gelisah tak tenang, sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


Aku hanya diam menatapnya. Hatiku masih tak terima atas pengkhianatannya padaku. Entahlah, benarkah ia berkhianat? hati ini meragu.


“E-El, percayalah padaku. Kejadian di restoran itu benar-benar tak sengaja.” Purnama mencoba kembali menjelaskan. Ia menggenggam tanganku, air matanya kembali tumpah. Aku tak menggubrisnya.


“El, maafkan aku, kalau aku melukai hatimu huks – aku....”


“Sudahlah, tak usah kau jelaskan lagi, hatiku terlanjur sakit melihat adegan di foto itu,” balasku dengan pandangan terluka. Tak mau melihat wajahnya, aku memalingkan muka menatap jalanan bersalju di luar jendela.


“Huks, El ....” tangis Purnama menatapku penuh harap.


Maaf, Purnama.Hati ini kembali meragu, batinku sakit.Sebenarnya hati ini tak tega melihatnya menangis semalaman. Ingin rasanya jari-jari ini menghapus air matanya yang tak pernah kering di pipinya yang pucat. Bahkan tubuh ini ingin memeluk tubuhnya yang ringkih, mendekapnya memberi ketenangan.  Tapi apa daya, perasaan dendam, sakit dikhianati seakan mengambil alih hati ini. Hingga hati ini menjadi beku kembali.


“Melihat kondisimu mulai baik, bersiap-siaplah, kita siang ini tetap akan berangkat ke Beijing. Aku tak mau membuang waktuku percuma,” ujarku dingin tak berperasaan.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


Aku melirik Purnama yang menunduk, memainkan jemarinya di atas perut buncitnya sambil mengigit bibir bawahnya, wajahnya benar-benar pucat, matanya tampak lelah.


“Aku tau, Nil. Sudah ya, sebentar lagi kami sampai di bandara,”  balasku dengan dingin. Masih jelas kudengar Nila mengumpat saat detik-detik aku memutuskan sambungan telepon.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


“Purnama, bangun. Sudah sampai.” Aku menepuk bahu Purnama saat kami sampai di halaman apartemen mewah di kawasan Beijing. Purnama tertidur selama diperjalanan. Aku membuka pintu mobil di sebelah kanan dan diikuti Purnama di sebelah kiri. Mendorong koper masing-masing, aku melirik Purnama yang tampak lesu mendorong kopernya. Ia sangat pucat karena baru sembuh, bahkan mungkin belum sembuh karena aku sudah memaksanya untuk cepat sampai di Beijing.


“Kau menempati ruang tamu,” ucapku dingin ketika kami sampai di apartemen tanpa memandang Purnama. Aku menunjuk kamar tamu di lantai dua, di samping kamar utama yang akan kutempati. Apartemen ini hanya berisi dua kamar tidur dengan kamar utama lebih luas dibandingkan kamar tamu. Untuk sekarang ini, aku tak mau tidur sekamar dengannya.


Aku mendudukkan butt-ku ke sofa empuk di ruang santai, sempat melirik Purnama yang dengan gontai menyeret kopernya menaiki tangga. Tampak ia keberatan membawa kopernya dengan perut buncit seperti itu. Hati ini benar tak tega melihatnya seperti itu. Memejamkan mata sejenak, mengeraskan hati ini agar tak peduli padanya. Tapi ....


“Dasar lelet.” Aku berdecak. Menarik koper dari tangannya membawa koper menaiki tangga melewatinya. Samar kurasakan Purnama tertegun di belakangku kemudian mengekoriku. Aku meletakkan koper tepat di samping lemari pakaian.


“Tidurlah, semalaman ini kau tak istirahat---sebelum itu minum obat yang diberikan oleh tante Rina kemarin,” kataku dingin membelakanginya sambil membuka kenop pintu. Sekilas aku melihat ia mengangguk dengan pandangan sendu menatapku.

__ADS_1


“Kalau terjadi sesuatu padamu, atau kandunganmu panggil saja aku di sebelah.” Usai berkata tanpa mendengarkan jawaban Purnama, kututup dengan kasar pintunya. Aku bersandar di pintu, perlahan tubuhku merosot ke lantai yang dingin.


Maafkan aku, Sayang. Maaf. Aku benar-benar tak sanggup lagi menyakitimu lebih dari ini. Aku tau kau terluka sama sepertiku. Bahkan hati ini berdenyut sakit melihatmu menderita. Tapi apa daya, dendamku pada kakakmu jauh lebih besar.


Aku menelungkupkan wajahku di sela-sela lututku. Hati ini letih, dendam yang bersarang di hatiku begitu menguras tenaga dan fisikku.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


Aku menatap nanar pintu yang tertutup rapat di depanku. Merosotkan tubuhku di lantai dan bersandar di dinding tempat tidur. Huks. Lagi. Aku menangis untuk kesekian kalinya. Menelungkupkan wajahku ke kasur, meremat seprai hingga kusut. Air mata ini seakan tak mau berhenti mengalir di pipiku. Aku lelah dengan kenyataan ini.


Baru saja aku merasakan hangatnya tubuh Elias kemarin malam. Bahkan hingga kini aku bisa mencium aroma khas tubuhnya yang maskulin. Saat itu aku benar-benar merasa bahagia. Aku tak pernah menyangka akan melewati malam penuh kehangatan bersamanya. Sepanjang malam dalam pelukan hangatnya. Ia penuh kelembutan dan terus membisikkan namaku dengan penuh cinta. Kenangan itu begitu manis, sampai sekarang masih membekas di hati. Tapi kini ....


Huks ... semuanya sudah berakhir. Ia kembali seperti dulu lagi, dingin dan tak berperasaan. Itu semua karena foto. Memang benar aku menemui Randy di restoran. Menghiburnya yang lagi patah hati ditinggal kekasihnya. Aku sudah menjelaskannya pada Elias, tapi ia tak mau mendengarnya.


“Ayah, ibu, apa yang mesti anak kalian lakukan,” gumamku menerawang. Aku bimbang, apa yang harus kulakukan. Haruskah aku menyerah? Lari dari Elias? Tetapi hati ini tak sanggup melakukannya.


“Sayang, bantu Mom untuk kuat ... bantu Mommy untuk meyakinkan Daddymu kembali.” Aku mengelus perutku dan berbicara sendiri, berharap bayi dalam kandunganku ini bisa mendengar dan merasakannya. Demi anakku, aku tak boleh menyerah sekarang.


“Ya, ampun. Berapa lama aku seperti ini---gawat, Elias bisa marah.” Kuhapus air mataku dan beranjak berdiri. Mengambil obat di dalam koper, meminumnya dan tidur seperti yang diperintahkan oleh  padaku.


 


 


 


 


* I’m Sorry To Hurt You *


 


 


 


 


“Ya, tunggu sebentar,” teriakku dari dapur saat membuat sarapan, menghentikan kegiatanku sejenak dan berjalan ke ruang tamu kala suara bel pintu berdering nyaring. Sekilas aku mengerutkan dahi. Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Segera kubuka pintu.


“Mana Elias.” Seorang wanita cantik paruh baya menyelonong masuk tanpa kupersilakan. Kemudian ia berbalik padaku dan memandangku penuh intimidasi. Aku meneguk saliva ketika ia memandangku dari ujung kaki sampai ke mataku, kemudian turun ke perut buncitku. Aku memegang perutku protektif - seakan takut ia menyikitiku. Aku terdiam tak berkutik dibuatnya. Dan sorotan tajam nan mematikan itu, mengingatkanku pada ....


“Kamu siapa?”


==============


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2