![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Lama keheningan menyapa kami berdua ketika berada di dalam mobil. Mataku fokus menatap ke depan, menyetir mobil membelah jalanan kota Beijing menuju kawasan elit apartemen, di mana sekarang aku tinggal. Baik aku dan Purnama belum membuka percakapan sedari tadi. Apalagi aku sendiri, bingung mau memulai dari mana dulu. Sedang Edgar, kulirik ke belakang di bagian penumpang, telah tertidur pulas.
Aku menghentikan mobil tepat di parkiran restoran yang menyajikan menu masakan Jepang. Mengajak istriku makan. Dari penjelasan Randy, dia belum makan sama sekali. Aku membuka sabuk pengamanku dan melirik istriku, dia mengerutkan dahinya.
“Kita makan dulu.” ujarku menjawab apa yanga ada dalam benaknya.
Purnama menaikkan satu alisnya. Melipat kedua tangannya di dada, dan memalingkan wajahnya ke jendela. “Aku tak mau makan di sini,” ketusnya. Aku menghela napas panjang. Mengetuk-ngetuk jemariku ke setir mobil. “Lagipula Kak Edgar masih tidur, kasihan bila dibangunkan.” lanjutnya.
“Terus mau makan di mana?” tanyaku melunak menatap wajah cemberutnya dari pantulan kaca jendela. Lalu beralih melirik ke belakang. Edgar masih tertidur pulas, tak terganggu ketika mobil telah berhenti.
“Um...makan di apartemen saja.”
“Baiklah. Aku pesan makanannya dulu.” Aku meraih ponsel di saku jeansku
“Tunggu...” Purnama memegang tanganku saat ingin memencet nomor tujuan restoran yang ingin dipesan. Kami sama-sama terdiam beberapa saat. Aku mematung melihat tangannya menyentuhku. Sontak Purnama melepaskan genggamannya.
“Tak usah pesan. Aku ingin kau yang memasak,” ujarnya tanpa melihatku sama sekali. Wajahnya memerah. Aku hanya terkekeh melihatnya.
***
“Berhenti.” Purnama mencegahku ketika aku membawa kopernya masuk ke kamar utama.
“Aku tidur di situ,” lanjutnya menunjuk kamar tamu tepat di samping kamar utama. Kulirik Edgar juga berhenti di belakangku. Aku menarik napas panjang. Meletakkan kopernya di sampingku.
“Sayang, kamarmu di sini,” ujarku menunjuk kamar utama.
“Tidak. Itu kamarmu. Dan selama ini kamarku memang ada di sana.”
Aku terdiam beberapa saat. Ucapannya seakan menamparku. Selama ini dia memang tidur di sana.
“Tapi sekarang berbeda, Sayang. Kau tidur bersamaku,” ujarku berdeham. Sedikit malu pada Edgar. Bukan malu kami tidur bersama, melainkan malu karena selama ini aku dan Purnama tidur terpisah akibat keegoisanku sendiri.
“Tidak ada yang berbeda. Aku tetap tidur disitu,” ujarnya keras kepala.
“Sayang, kamar tamu akan ditempati Edgar. Kalau kau tidur di sana, dia mau tidur di mana?” ucapku menatap Edgar. Edgar mengangguk.
“Kak Edgar tidur denganmu.”
“Sayang...”
__ADS_1
“Purnama, kau tidur dengan Elias. Biarkan Kakak yang menempati kamar tamu.” Edgar menyela.
“Tidak mau. Aku tak mau sekamar dengannya.”
“Purnama.”
“Kakak...aku belum siap sekamar dengannya. Aku...aku...”
Kutarik napas dalam-dalam. Purnama tak melanjutkan ucapannya. Ia menunduk menatap lantai. “Baiklah, kau boleh tidur di kamar tamu, Sayang. Dan maafkan aku, Ed. Kau harus sekamar denganku.” Kutatap Edgar dengan pandangan memelas. Berharap ia mengerti.
Edgar mengangguk, lalu menepuk pundakku. “Tak apa. Dan kau, Purnama. Jangan lama-lama marah dengan Elias ya, kasihan dia.”
Purnama tak menjawab. Sekali lagi Edgar menepuk pundakku. Menyeret kopernya masuk ke kamar utama.
“Istirahatlah. Bila perlu sesuatu segera panggil aku,” kataku sembari meletakkan koper di samping lemari. Sekali lagi menatap wajah Purnama. Dia tak mengeluarkan suara apapun. Kuhela napas panjang. Sebenarnya sebelum pergi aku ingin mengecup kepalanya. Namun tak berani aku melakukannya. Takut dia menolakku. Dan berakhir ia marah besar padaku.
***
“Belum,” jawab Edgar dengan suara seraknya. Ia membuka matanya. Menatapku berjalan ke arahnya. Duduk bersandar di sisinya.
“Bagaimana keadaanmu, Ed?” tanyaku lagi. Pertanyaan yang belum sempat kuajukan saat berada di apartemen Randy tadi juga saat menuju kemari.
“Cukup baik dari sebelum-belumnya. Aku masih harus ke check up rutin ke rumah sakit dua kali seminggu. Tetapi, aku sangat bersyukur. Tidak harus menginap lagi di rumah sakit. Selain itu, ini semua karena Purnama, ia merawatku dengan sangat baik. Lalu bagaimana denganmu?” Edgar balik bertanya.
“Sama baiknya. Suaraku mulai pulih. Cuma banyak istirahat saja.” Aku mengangkat bahu. Berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tak ingin membebani Edgar dengan kondisiku.
“Maafkan aku, Elias.”
Aku memiringkan kepala mendengar ucapan Edgar. “Kenapa minta maaf denganku? Kau tak punya salah apapun padaku,” kataku bingung.
“Aku sudah merepotkanmu, El. Selama aku dirawat di rumah sakit, kaulah yang membiayai semuanya. Yang kutahu, semua biayanya sangat mahal. Apalagi aku menginap lebih dari tiga bulan, tentu biayanya tidak sedikit yang dikeluarkan. Sedang kau sendiri, selama tiga bulan juga mengalami koma di rumah sakit New York, belum lagi masalah keuangan perusahaanmu yang waktu itu juga mengalami kendala.”
Kuraih tangan Edgar dan menggenggamnya. “Semua itu tidak seberapa dengan apa yang kau alami selama dua tahun ini, Ed. Belum lagi akan perlakuanku pada Purnama. Seharusnya aku yang disini meminta maaf padamu, Ed. Aku terlalu banyak salah pada kalian. Maafkan aku.”
“Kumaafkan. Dan jangan pikirkan lagi soal itu.” Edgar tersenyum hingga menular padaku. Aku tersenyum lega mendengarnya. Meski belum benar-benar lega. Ya. Istriku masih marah padaku.
“Tapi, Ed. Tanggung jawabku padamu belum selesai sampai di sini saja. Berjanjilah padaku, kau harus benar-benar sehat kembali. Jalani pengobatanmu dengan sebaik mungkin. Seperti yang kau bilang, jangan pikirkan apapun. Terutama soal biaya. Fokusmu hanya pada kesembuhanmu. Oke,” ujarku.
Edgar mendesah sesaat. “Tetap saja, El. Aku merepotkanmu. Bila kesehatanku agak membaik. Aku akan mencari pekerjaan.”
__ADS_1
“Soal pekerjaan nanti saja. Aku bisa mencarikanmu pekerjaan. Kalau kau mau, kau bisa bekerja di perusahaanku. Posisi tinggi pun akan kuberikan padamu, asal kau sembuh, Ed,” harapku dengan mengeratkan genggaman tangan kami.
Edgar tak menyahut.
“Um...omong-omong apa kau punya pacar, Ed?” tanyaku mengalihkan pertanyaan.
“Untuk saat ini tak punya. Kenapa? Apa kau ingin mencarikanku pacar?” Ia tertawa. Membuat suasana kembali mencair.
“Kalau kau mau. Aku punya kenalan. Kau mau tipe gadis yang seperti apa?” kataku serius. Mungkin saja dengan adanya tambatan hati, membuat Edgar makin termotivasi untuk sembuh.
Edgar melambaikan tangan. “Tidak perlu. Aku belum mau memikirkan hubungan serius pada gadis manapun. Aku takut mereka kecewa melihat kondisiku yang seperti ini.”
“Tidak semua gadis akan melihat dari sisi kondisimu. Lagipula kau itu tampan, Ed. Benaran. Aku tak bohong.”
“Aku tahu kau coba menghiburku, El. Aku tidaklah setampan kamu.”
“Kata siapa. Kalau kau ingin lihat seberapa tampannya kamu. Lihatlah wajah Purnama. Ia sangat cantik. Kau saudara kandungnya, tentu saja sama eloknya,” kataku dengan jujur.
“Adikku memanglah cantik. Kau saja klepek-klepek dibuatnya.”
Aku mengelus tengkukku. Salah tingkah. Itu memang benar. Suara ketukan dipintu menyela kami berdua. Aku bergegas melompat dari tempat tidur. Ketukannya sangat berbeda dari biasanya. Aku takut terjadi apa-apa pada istriku. Apalagi ia sendirian di kamar sebelah.
“Kenapa, Sayang,” kataku saat pintu kamar terkuak lebar. Mataku segera memindai seluruh tubuh berisinya.
Purnama melotot padaku. “Kau sudah memasak?”
Astaga. Kutepuk keningku. Aku lupa memasak makan malam untuknya. Dia pasti sangat lapar. Aku tercengir. Pandanganku memelas menatapnya; sedang mengelus perutnya.
“Maafkan aku, Sayang. Aku lupa.”
Purnama mencebik. “Apa saja yang kau kerjakan. Aih, aku lapar,” gerutunya.
“Tunggulah sebentar, Sayang. Aku akan masak,” kataku bergegas pergi ke dapur. Membuatkannya masakan khas Jepang - sesuai permintaannya tadi. Sebelum pergi, aku sempat mencuri cium di dahinya. Tentu saja aku mendapatkan pelototan dan teriakan histeris darinya. Dia masih menolakku. Tapi tak apalah. Setidaknya rasa rinduku sedikit tersalurkan dengan mencium dahinya.
\================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1