I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA


__ADS_3


Aku menyeringai melihat orang paling aku benci di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan Edgar--yang membuat keluargaku hancur. Edgar tampak terkejut melihatku, shock-kah? Sesaat dia hanya terpaku, matanya mendelik tajam ke arahku, yang kubalas dengan senyuman sinis.


“Kak Ed.” Purnama berlari ke arah Edgar--tak jauh dari kami berdiri. Menuntun Edgar ke arahku.


“Kakak, perkenalkan ini tuan El dan tuan El ini kakakku satu-satunya,” ucap Purnama ceria memperkenalkan kami berdua. Aku hanya tersenyum, tak ingin mengulurkan tanganku padanya--tampaknya Edgar juga sama sepertiku.


Sekali lagi kutatap lekat wajah Edgar, sedikit kesal kala melihat perubahan wajah Edgar menjadi datar. Ck! Benar-benar penjahat ulung, memasang wajah tanpa dosa. Kami hanya saling memandang tajam mengeluarkan tatapan sinis. Purnama yang melihat kami berdua tampak bingung dengan wajah polosnya.


“Kakak, apa kalian berdua saling kenal?” tanyanya memandang kami bergantian.


“Tidak,” jawab Edgar cepat yang dibalas Purnama dengan ber oh ria--benar-benar polos. Hn! Hebat sekali kau Edgar, aku menyeringai kembali. Baiklah akan kubuat permainan ini semakin menarik.


“Edgar benar, kami baru berkenalan sekarang. Hanya saja wajahnya tampak familiar bagiku.” Menyunggingkan senyum penuh makna pada Edgar. Samar dia menggertakkan giginya tanpa diketahui oleh Purnama--hanya kecepatan mataku yang bisa melihatnya.


“Ekhem, karena sudah malam, aku pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi nona Purnama.” Kuusap kepala Purnama.


“Shiit, jangan harap.” Samar kudengar Edgar berucap pelan dengan sinis menatap tajam ke arahku--tanpa didengar Purnama; diam mematung atas tindakanku tadi.


Aku masuk ke mobil, menghidupkan mesin dan bergegas meninggalkan tempat yang memuakkan ini. Kulirik sekilas di kaca spion mobil - Edgar menyeret Purnama masuk. Menyunggingkan senyum melihat kepolosan Purnama. Hah benar-benar menarik, sepertinya gadis manis ini sudah terjebak akan pesonaku, tak lama lagi gadis manis ini jatuh ke tanganku. Merogoh saku jas, mengambil telepon pintar - memasang handsfree dan menghubungi sahabat sekaligus sepupu.


“Hai, Nila,” berucap ketika panggilanku diangkat di seberang telepon.


“Temani aku minum di cafe biasanya,” sambungku begitu singkat dan memerintah. Sesaat aku terkekeh mendengar Nila mengumpat, sepertinya aku telah mengganggu waktunya saat ia bersama kekasihnya.


* I’m Sorry To Hurt You*

__ADS_1


[Author Pov]


“Dek, kenapa kau bisa kenal Elias?” tanya Edgar ketika mereka sudah di dalam rumah.


“Oh itu ... tadi aku tak sengaja bertabrakan dengannya, jadilah bajuku kotor, kemudian ia menawarkan untuk mengganti bajuku.” Purnama menjelaskan panjang lebar sambil menerawang kejadian tadi.


“Dan kau menerima tawarannya begitu saja.” Edgar berdecak melihat betapa polos adiknya.


“Be-begitulah.” Purnama menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kau ini ... bagaimana kalau ia berbuat jahat padamu.” Edgar sedikit meninggikan nada suaranya, menggeleng-gelengkan kepala. Purnama memiringkan kepalanya ke arah Edgar, memandang kakaknya dengan wajah imut nan polos.


“Aih, Kak Ed. Aku tak sebodoh yang kau kira. Aku sudah menolaknya berkali-kali, tapi dia terus memaksaku.” Purnama membela diri, wajahnya ia tekuk, kesal akan reaksi kakaknya.


“Baiklah, Kakak percaya. Tapi--entahlah, Kakak kurang suka dengan si tuan Elias itu.” Edgar memejamkan matanya - tubuhnya ia sandarkan ke sofa butut satu-satunya yang terletak di ruang tamu sempit.


Edgar menoleh ke arah samping; di mana Purnama duduk di sebelahnya. Edgar mengkerutkan dahinya - tampak berpikir keras, bagaimana caranya menjelaskan pada adiknya yang polos ini, bahwa ia terlibat dengan Elias di masa lalu. Ia tak ingin Elias menyakiti adiknya. Dan sepertinya, adiknya ini sudah jatuh ke dalam pesona si Mr. Bowman itu.


Edgar memijit keningnya, bingung. Tidak, masa lalu itu sudah ia kubur dalam-dalam, dan Purnama tak boleh tau, pikirnya. Menghela nafasnya, menatap dalam kedua mata cokelat bening Purnama.


“Hanya perasaan Kakak saja. Tapi, Dek. Kakak benar-benar tak suka padanya.” Tegas Edgar.


Purnama mendecak kesal. “Kakak ... aku hanya bertemu padanya hari ini, dan kenal juga hari ini. Dan mungkin kita ke depannya tak bertemu lagi. Kejadian hari ini sebuah kebetulan, hanya karena ia merasa bersalah padaku,” jelas Purnama panjang lebar. Digenggamnya tangan Edgar dengan erat--meyakinkan kakaknya; bahwa ia tak perlu khawatir. Ia tahu kakaknya ini sangat overprotektif terhadap dirinya semenjak kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh beberapa tahun lalu.


“Kak Ed tau? Kalau si tuan El itu salah satu pengusaha terkaya di negara kita dengan sifatnya yang arogan dan dingin? Dan pastilah baginya kejadian hari ini hanya angin lalu tanpa perlu diingat, he he he.” Hibur Purnama, mengerjap-ngerjapkan matanya polos.


Edgar terkekeh mengusap sayang rambut Purnama dan dibalas dengan kerucutan bibirnya imut.

__ADS_1


“Astaga! Ternyata kau tau banyak tentang si El itu,” goda Edgar.


“Aiya, bagaimana tak tau, kalau setiap hari ia selalu muncul di tv dengan gosip selalu dikaitkan dengan artis-artis wanita cantik – lagian wajahnya itu bikin sebal saja, selalu muncul di mana-mana. Ck! Bikin iri saja,” sebal Purnama dengan wajah ditekuk.


Edgar semakin terkekeh keras mendengar penuturan polos Purnama. Ia mengacak-acak rambut gadis manis ini, gemas bila melihat tingkah polos adik kesayangannya ini. Sedangkan sang empunya rambut, semakin mengerucut sebal.


Edgar beranjak ke kamarnya dikuti Purnama; masuk ke dalam kamar di sebelahnya. Di kamar, Purnama menerawang, memandang langit-langit kamarnya. Wajahnya merona merah bila mengingat perlakuan Elias tadi. Dirabanya dada kirinya, seakan jantungnya berdetak cepat bila mengingat seorang Elias Benjamin Bowman. Menghela nafas, ternyata ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


* I’m Sorry To Hurt You*


[Elias Pov]


Aku memandang ke dalam supermarket; di mana Purnama bekerja paruh waktu. Seminggu sudah sejak pertemuan kami yang pertama. Aku melihat sms berisi alamat Purnama bekerja--dikirimkan oleh bawahanku yang mematai-matai keluarga Edgar termasuk Purnama, adiknya dalam pengawasanku.


“Oke, saatnya kebetulan kedua Purnama,” gumamku lirih. Memasang kacamata hitam dan melenggang masuk ke supermarket; tampak tak terlalu ramai oleh pengunjung. Menuju rak berisi peralatan mandi – mengambil shampo merek mahal kemudian langsung menuju kasir di mana Purnama berada.


“Satu shampo jumlahnya empat puluh ribu sembilan puluh sembilan,” ujar Purnama tanpa mendongak. Sedikit kecewa akan Purnama yang tak menyadari keberadaaanku. Membuka dompet dan mengeluarkan uang pecahan 100 ribuan.


“Kembaliannya ambil saja,” suara bassku berhasil membuat Purnama mendongak padaku – matanya membelalak kaget.


“Eoh? Eh, tuan El?”


“Apa kabar, Purnama.” Aku tersenyum memandang wajah manisnya – membuka kacamata memperlihatkan mata tajamku padanya.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


__ADS_2