![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku menguap panjang dan bangun. Kutatap jam besar di dinding, pukul lima pagi, masih terlalu pagi. Kuregangkan otot-ototku dan melirik sofa, dimana biasanya Purnama tidur. Kosong. Sepertinya ia sudah bangun. Aku beranjak ke kamar mandi dan membasuh muka, lalu mengganti pakaian trening. Lebih baik jogging untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuh yang proposional.
Aku melewati dapur, tanpa sengaja melihat Purnama yang tertidur. Kepalanya tertelungkup ke atas meja dan menghadap samping. Jejak bekas tangisan masih tercetak jelas di pipinya yang pucat. Dadaku berdesir halus. Sakit rasanya melihat wajah menyedihkan ini.
Aku beralih menatap meja. Di sana ada kue ulang tahun berhiaskan angka 22. Sepertinya, Purnama semalam merayakan ulang tahun dirinya---sendiri lagi. Tanpa kusadari, dia sudah berumur 22 tahun. Aku ingat jelas, aku menikahinya saat dia berumur dua puluh tahun. Itu berarti aku sudah menikahinya selama dua tahun pula.
Dan tak pernah aku merayakan ulang tahunnya, tak pernah memberinya kado, bahkan mengucapkan selamat pun aku tak mau. Ya, aku tak peduli padanya. Selama dua tahun ini sikap dingin dan kasarku padanya tak pernah berubah. Aku belum puas membuatnya menderita. Tapi, sampai kapan ini akan berakhir?
* I’m Sorry To Hurt You *
“El, kau tak ke kantor?” tanya Purnama saat aku menonton acara variety show. Aku menghentikan tawaku dan beralih menatapnya. Purnama meletakkan secangkir kopi dan sepiring cookies di depanku, kemudian duduk jauh di sofa depan. Takut. Ia sangat takut padaku.
“Terserah aku mau ke kantor atau tidak, bukan urusanmu,” ujarku ketus dan kembali menonton tv, menghiraukannya.
Purnama menghela nafas, “Kau benar,” katanya lesu dan dan beranjak pergi. Sontak kupegang tangan kanannya saat melintas di depanku.
“Ingat! Jangan lupa dandan yang rapi nanti malam. Jangan mempermalukanku saat nanti menghadiri acara peringatan satu tahun pernikahan Nila dan Sakti,” kataku tajam.
“Untuk apa aku menemanimu bila nanti aku menjadi patung di sana,” balas Purnama tersenyum sinis, ia berani melawanku, meski di matanya jelas rasa ketakutan terhadapku. Aku berdecak kesal dan mengibaskan genggaman tanganku padanya. Well, jangan pancing aku marah-marah siang ini, Purnama, batinku kesal. Inilah Purnama, meski ia takut padaku, kadang diwaktu-waktu tertentu, ia bisa berani juga---walau pada akhirnya, ia tau akan konsekuensi yang diterima setelahnya.
“Tak ada kata penolakan ingat itu, kau harus ikut!” ujarku tegas menatap tajam matanya. Purnama semakin menciut.
“A-aku ... menghadiri acara peringatan pernikahan kak Nila dan kak Sakti. Kita saja tak pernah memperingati pernikahan kita, bahkan kau tak tau hari ulang tahunku selama dua tahun ini,” ucap Purnama kecewa, sedikit ia beranikan untuk melawanku.
“Apa? Kau mau kita merayakannya? Ingat pernikahan kita ini tak penting buatku, bahkan untuk apa aku mengingat ulang tahunmu, kau bukan siapa-siapa bagiku,” kataku tajam dan tepat mengenai ulu hatinya.
Purnama tertegun. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan sakit akibat perkataanku. Aku memalingkan wajahku, tak mau melihatnya terluka lebih dalam.
“Ya, kau benar, El. Aku...aku...” Purnama berlari ke lantai atas menutup pintu dengan keras, hingga menimbulkan suara berdebam.
Aku terhenyak sesaat. Kuacak rambutku hingga berantakan. Shit! Untuk apa memancing kemarahanku kalau ia tau akan sakit jadinya. Sial.
__ADS_1
* I’m Sorry To Hurt You *
Aku mondar-mandir di ruang tamu, menunggu Purnama selesai berdandan. Sebegitu lamanya-kah untuk berdandan?
Kesal. Aku menatap arloji di tanganku, lima belas menit lagi wedding anniversary Nila dan Sakti akan dimulai. Apa yang Purnama lakukan di kamar?
Kuembuskan nafasku dengan keras. Lagi, Purnama memancing kemarahanku. Dengan tergesa kunaiki tangga dan membuka pintu, bahkan membanting pintu kamar dengan keras. Purnama tersentak saat melihatku di depan pintu. Semakin membuatku marah melihatnya hanya menggunakan kimono mandi dan belum mengenakan apa-apa.
“Kenapa lama sekali, ha! Butuh berapa lama untuk mandi. Taukah kau, ini sudah jam berapa?” bentakku kesal. Purnama meneguk salivanya.
“Apa kau berniat untuk tak menghadiri acaranya, ha!” Mataku memicing menatap matanya.
“Jadi memang benar kau berniat tak mau datang,” kataku kesal dan melangkah mendekatinya. Purnama memundurkan tubuhnya sampai punggungnya menyentuh dinding. Aku memenjarakan tubuhnya. Purnama menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya. Kupegang paksa rahangnya hingga ia mendongak menatapku. Aku menyeringai.
“Sudah kuperingatkan padamu, jangan pernah membantahku.”
Purnama semakin menciut, ia tau apa yang akan kulakukan selanjutnya.
“Kau memancing kemarahanku,” bisikku di telinganya hingga membuatnya bergidik. Tanganku kini beralih memeluk pinggang rampingnya. Bibirku mengecupi lehernya yang jenjang. Purnama menggeliat.
“Kau membangunkan singa lapar, Purnama,” kembali aku berbisik di telinganya, bahkan kini aku menjilati telinganya.
“Sepertinya kita benar-benar akan terlambat ke pesta, Baby,” lanjutku serak sambil mengangkat tubuh ringan Purnama dengan gaya pengantin. Kuabaikan teriakan panik Purnama dengan mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur berukuran besar milikku, lantas melepaskan jasku dan melemparnya asal. Sontak kutindih tubuh Purnama.
“El, kumohon, aku lelah.” Purnama memohon padaku untuk tak berhubungan badan. Aku tak menggubrisnya. Siapa suruh melawanku. Kutekan tubuhku di atas tubuhnya dan mendekatkan wajahku pada wajahnya hingga hidung kami saling berbenturan. Aku menggeram kesal manakala Purnama memalingkan wajahnya.
“Tatap aku, Purnama!” Dengan paksa aku membalikkan wajahnya menghadapku. Purnama menatapku dengan nanar.
“Kumohon, El. Jangan malam ini, aku ben---hmmmpttt.”
Tak kubiarkan Purnama terus meracau, langsung kubungkam bibir plumnya. ********** dengan penuh nafsu. Purnama berteriak tertahan di mulutku. Ia berontak, tangannya tak henti memukul dadaku. Kulepaskan ciumanku saat dirasa butuh udara.
Aku tertegun melihatnya menangis. Air matanya tumpah ruah di pipinya yang mulus. Kembali dada ini berdenyut. Kugeser tubuhku dari tubuhnya lantas terlentang menatap langit kamar.
“Huks.” Purnama menangis membelakangiku. Bahunya bergetar hebat. Sial. Aku tak tahan akan tangisan pilunya. Tanpa sadar kedua tanganku sudah melingkar di pinggangnya, memeluknya dengan erat.
“Jangan menangis,” bisikku serak sambil membenamkan kepalaku di bahu sempitnya. “Maafkan aku---sudahlah, lebih baik kau bersiap-siap. Kita pergi ke pesta.” Aku beranjak bangun setelah mengusap lembut rambut almondnya.
Kututup pintu kamar dengan keras hingga menimbulkan suara debaman di udara, lantas kusandarkan tubuhku di pintu yang telah tertutup. Kuacak rambutku prustasi. Ada apa dengan diriku?
Kenapa aku begitu sakit melihatnya sakit? Bahkan aku tadi--hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya--meminta maaf atas kelakuan kasarku padanya.
__ADS_1
* I’m Sorry To Hurt You *
Tepat pukul sembilan malam, kami memasuki gedung tempat acaranya berlangsung.
“Darimana saja kalian? Kenapa baru nongol?” tanya Nila saat kami menghampirinya. Nila menyerahkan segelas wine pada Purnama.
“Oh, aku tau alasan kalian telat,” sambungnya sambil memperhatikan wajah Purnama begitu lekat. Aku mendengus. Purnama hanya menunduk dan menggigit bibirnya.
“Lagi-lagi kau melakukan kekerasan fisik padanya, El,” sinis Jagat saat kami bertiga dengan Sakti duduk di kursi bar---tak jauh dari Purnama berdiri. Aku hanya diam tak menanggapi dan mengambil segelas wine. Meneguknya hingga habis. Mataku tak berhenti menatap Purnama yang sedang mengobrol dengan Nila dan Intan.
“Dua tahun kau menyakitinya. Apa kau tak bosan, Elias?” kembali Jagat mencecarku.
“Bukan urusanmu, Jagat!” dengusku. Jagat mendecakkan lidahnya mendengarku.
“Dasar keras kepala---kalau kau terus bersetubuh dengannya, dia bisa saja hamil,” timpal Sakti. Aku mendelik tajam pada Sakti yang ikut-ikutan menekanku.
Aku menyeringai. Kembali kutuangkan sebotol wine ke gelasku lalu meneguknya hingga habis. “Aku sangat berhati-hati saat melakukannya. Aku pakai ******,” tekanku dengan tegas.
Sakti dan Jagat mencibir ucapan sombongku. Kemudian, aku tak terlalu mendengar lagi pembicaraan Sakti dan Jagat saat mataku menangkap Purnama sedang berbincang dengan seorang laki-laki berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi. Tanpa sadar, kukepalkan tanganku manakala melihat Purnama tertawa tanpa beban. Sudah lama aku tak melihatnya tertawa selepas itu---semenjak kami menikah. Dan yang membuatnya tertawa justeru lelaki tak dikenal itu. Aku berdecak kesal. Sakti dan Jagat tiba-tiba berhenti berbicara dan menatapku aneh.
“Apa!” Aku menghardik mereka berdua. Sakti dan Jagat tertawa keras. Aku semakin dongkol. Ada apa dengan mereka ini? Dasar aneh.
Jagat meninju pelan bahuku. Ia menunjuk ke arah Purnama. “Kau cemburu pada pemandangan di sana, Elias?” kekehnya sambil menyeringai. Menggodaku.
Aku memalingkan wajahku, mencoba menyangkal kenyataan.
“Tak usah menyangkal begitu, El. Kami tau---dan yang lebih penting, cepat hampiri bidadarimu,” timpal Sakti terang-terangan tergelak puas bersama Jagat. Mereka bahkan bertos ria di depan mataku. Sial. Aku semakin mendengus.
“Aku tak peduli,” kataku acuh.
================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1