I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Kutatap lekat Edgar masih dalam keadaan merosot di lantai. Edgar berbaring di atas tempat tidur dengan luka perban di lengan kirinya - bekas tembakan pertama serta tembakan kedua bersarang di perutnya. Sudah tiga jam yang lalu dia sadar. Wajahnya masih sangat pucat.


“Elias, kemarilah! Duduk di sini!” Edgar menepuk lemah tempat kosong di sebelahnya saat kami hanya berdua di ruangan. Mommy, Daddy dan Randy memberi kami kesempatan untuk berbicara empat mata. Menuruti ucapannya aku beringsut duduk di sebelahnya.


“Maaf, maafkan aku atas perbuatanku selama ini, Ed.” Aku berucap hampir berbisik parau meminta maaf. Kepalaku menunduk menatap lantai putih sambil meremat kedua tanganku. Meratapi ketololanku selama ini yang terlalu percaya dengan Jeremy. Mungkin kata maaf tak pantas untukku yang terlalu kejam pada Edgar.


“Kau kumaafkan, El.” Edgar tersenyum lembut.


Kutatap bola matanya, terperangah tak percaya akan perkataannya - semudah itu memaafkan kesalahanku? Tersenyum tipis, ternyata Edgar punya hati seperti malaikat.


Kembali aku menunduk, tak sanggup menatap mata redupnya. Perlahan kurasakan tangannya mengelus kepalaku. Aku jadi seperti anak kecil diperlakukan olehnya, tapi juga tak menolak akan tindakannya. Nyaman seperti kakak sendiri.


“Terima kasih, Ed---”


“Panggil saja aku kakak, Elias. Apalagi sekarang kau adik iparku.” Edgar tertawa lemah mencoba mencairkan suasana. Aku tersenyum kikuk, lalu ikut tertawa kecil dan miris. Kubuang napas pelan-pelan yang rasanya begitu sesak. Edgar menggenggam tanganku, terasa hangat mengalir ke hati yang beku ini.


“Soal penyakitku---kurasa kau sudah tahu, El.”


Mengingat kembali penyakit yang diderita Edgar seakan hatiku ditusuk sembilu. Aku hanya mengangguk lemah, menatap mata redupnya yang hanya memancarkan sedikit sinar di sana.


“Kumohon, El. Jangan katakan apapun pada Purnama bahwa aku sakit. Aku tak ingin Purnama khawatir padaku.”


Aku mendesah pendek. “Ta-tapi, Ed---”


“Kumohon, El. Ini permintaanku yang terakhir.”


Aku tak menyahut dan memalingkan muka mendengar permintaan Edgar yang terakhir. Kuembuskan napas. Kenapa Edgar memberikan pilihan sulit padaku.


“Apakah Jeremy sudah tertangkap?” Edgar mengalihkan pembicaraan yang menyesakkan ini. Aku hanya menggeleng.


“Rasanya, aku orang paling bodoh di dunia ini, Ed. Bisa-bisanya aku percaya akan perkataan Jeremy dan membalas dendam pada orang yang salah ...” lirihku parau.


“Sudahlah, El. Tak usah kau sesali lagi. Apa kau tahu penyebab Kalina bunuh diri?”


Aku tertegun sesaat. Kutatap mata teduh Edgar, mataku bergerak gelisah dan dengan ragu menjawab pertanyaannya. “Ya aku tahu, bukankah kau yang---”


Edgar menggeleng cepat. “Kau salah, El. Bukan aku yang mencampakkannya dan menyebabkan ia bunuh diri.”


Dahiku mengerut. Bukan Edgar penyebabnya? Apakah ada hal lainnya yang tak kuketahui lagi?


“Itu semua penyebabnya adalah Jeremy.” Edgar menarik napas dalam-dalam. “Sebenarnya, Jeremy dan Kalina berselingkuh di belakangmu.”


Apa? Aku terlonjak kaget. Tapi---entahlah, hati ini tak berdenyut sakit mendengar Kalina berselingkuh di belakangku. Apakah aku mulai merelakannya? Akan tetapi berbeda ketika aku mendengar Purnama yang berselingkuh dengan Randy, hati ini seakan terbakar api cemburu dan marah secara bersamaan.


“Orang tuamu tahu kalau Kalina berselingkuh, makanya ibu tirimu, tante Maria memerintahkanku untuk menyelidikinya. Jadilah aku berpura-pura mendekatinya, dan ternyata Kalina tertarik padaku hingga menawarkan diri untuk menjadi pacarku, berselingkuh di belakangmu dan juga Jeremy.”


Pikiranku seketika menjadi kosong mendengar penjelasan Edgar. Kalina berani memainkan tiga pria sekaligus. Ya, Tuhan.


“Tapi aku tak tertarik padanya, dan memperingatkannya untuk meninggalkanmu. Tujuanku menyuruhnya memutuskanmu agar kau tak terlalu sakit hati, saat tahu apa yang dilakukannya di belakangmu. Akhirnya dia menurutinya dan memutuskanmu, kan,” jelas Edgar.


Kembali memoriku berputar saat Kalina memutuskanku tanpa sebab. Jadi begitu cerita sebenarnya.


“Apakah kau tahu penyebab yang sebenarnya Kalina bunuh diri, El?”


“Yang kudengar dari Jeremy, karena depresi diputuskan olehmu,” jawabku jujur.


“Kau salah, El. Penyebabnya bunuh diri karena Kalina mengetahui fakta bahwa Jeremy-lah pelaku pembunuh orang tuamu, hingga ia tak sanggup menjaga rahasia besar itu. Kemudian Jeremy berbalik memfitnahku.”


Kuremat kedua tanganku. Kembali aku memaki ketololanku sendiri saat mengetahui kalau Jeremy dan Kalina berselingkuh di belakangku. Kenapa aku tidak menyadarinya. Ya, Tuhan.


“Maaf sebelumnya kalau menyinggungmu, Ed. Bukankah kedua orang tuamu juga dibunuh?” tanyaku pelan sedikit ragu mengutarakan apa yang selama ini menjadi pertanyaan dalam benakku.

__ADS_1


Edgar mendesah sesaat “Soal itu, sebenarnya orang tuaku mengetahui kalau kedua orang tuamu dibunuh oleh Jeremy dariku, hingga Jeremy membunuh kedua orang tuaku untuk menghapus bukti bahwa ialah pelakunya.”


Dadaku bergemuruh. Lagi dan lagi aku merasakan sesak bernapas, seakan ada tangan tak kasat mata yang meremat hatiku, sakit sekali. Karena pembunuhan orang tuaku, orang tua Edgar juga terseret dalam masalah.


Edgar menepuk bahuku. “Tak perlu kau sesali lagi, El. Sekarang ini kita fokus menangkap Jeremy dahulu. Aku belum tenang meninggalkan dunia ini bila Jeremy belum tertangkap, itu artinya tugasku belum selesai.”


“Jangan katakan itu, Ed. Sudah cukup kau melindungiku.” Tanganku gemetaran menggenggam tangannya yang lemah. Kuletakkan ke pipiku. Hatiku berdenyut sakit.


“Bagaimana caranya aku membayar semua kesalahanku padamu,” gumamku penuh sesal.


“Cukup dengan menjaga baik-baik adikku Purnama. Dan selamat, kudengar dari Randy bahwa Purnama hamil anakmu.”


Aku tertegun. Kutatap lekat mata Edgar. Seakan ada batu besar menghantamku, menyadarkanku seketika. Astaga, Purnama ... Kenapa dirinya bisa terlupakan olehku. Kini, aku benar-benar merasa bersalah padanya saat tahu dari Edgar bahwa Randy hanyalah teman dekat Purnama. Randy ditugaskan oleh Edgar dan Mommy menjaga Purnama dari kejahatan Jeremy.


Ya, Tuhan. Terkutuklah diriku. Aku memaki diriku. Tiga hari yang lalu aku mengurung istriku di apartemen sendirian.


Aku bergegas berdiri, berlari nanar meninggalkan ruangan Edgar. Mengabaikan teriakan Edgar, bahkan Mommy, Daddy dan Randy kulewati begitu saja. Saat ini aku ingin cepat sampai di apartemen dan merengkuh tubuh kurus istriku ke dalam dekapanku.


Maafkan aku,  Baby, bertahanlah. Tunggu aku.


 


 


 


 


***


 


 


 


“Purnama.”


Aku memanggil istriku seraya berlari ke kamar tamu yang terletak di lantai dua---di mana Purnama tidur. Mengembuskan napas, menenangkan jantungku yang berdetak kencang sebelum membuka pintu kamar. Gelap tak ada cahaya di dalam kamar, hanya cahaya redup dari bulan yang mengintip di jendela ketika kubuka pintu. Aku mengernyit sekilas melihat sekeliling kamar, Purnama tak ada di sini. Kemana dia?


“Baby.” Kembali aku memanggil nama kesayanganku untuk Purnama. Tetap tak ada jawaban. Mungkinkah di kamar mandi? Aku segera berlari ke sana. Namun, kosong.


“Baby, Purnama.” Aku berteriak dengan mulai meninggikan volume suaraku. Tetap tak ada jawaban.


Kamu di mana, Purnama? Apa mungkin di dapur? Kembali aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa menuju dapur. Istriku juga tak ada di sana. Kemana dia?


Aku terduduk di meja pantry, mengacak rambutku frustasi. Kesal pada diriku. Kenapa aku bisa sebodoh ini.


“Baby, kamu ke mana? Semoga kamu baik-baik saja.” Aku berbisik seraya menatap ujung sepatuku.


Apakah ia melarikan diri?


Tapi rasanya tak mungkin. Ia tak mungkin lari sebab pintu apartemen ini kunci asli dan duplikatnya aku yang pegang, bahkan pintu kamarku sendiri kukunci.


“Kau bodoh, El.” Aku berteriak, kembali memaki diri sendiri.


Dengan langkah gontai menuju kamarku. Lelah dan letih yang kurasakan saat ini. Sudah seharian ini tak mandi bahkan penampilankupun kurasa sangat buruk. Rambut acak-acakan dan kemejaku kusut, bahkan wajahku penuh dengan luka lebam akibat sempat berkelahi dengan Jeremy, dan lebih parahnya lenganku tertembak.


Aku duduk merenung di ranjang dan menatap lantai kamar yang gelap, sengaja tak kuhidupkan lampunya. Membuang napas pendek, perlahan merebahkan tubuhku ke tempat tidur king size. Menutup mata mencoba tidur, berusaha berpikir dengan jernih, ke mana Purnama pergi.


Kuraba saku celana dasar hitamku saat smartphoneku bergetar. Mengernyitkan kedua alisku ke atas, bingung. Nama tak dikenal. Apakah Purnama yang menelepon? Langsung saja kugeser tombol jawab.

__ADS_1


“Hallo, Elias.”


Suara ini ... aku menggertakkan gigi. Ingin rasanya kubunuh pemilik suara ini. “Berani sekali kau menelpon, Jeremy!” bentakku dengan volume suara tinggi.


Jeremy terkekeh di seberang sana. “Ow, ada yang mengamuk. Tapi sebelumnya dengarkan ini dahulu---”


Dengan seksama aku mendengar suara di seberang telepon, bunyi suara gemerisik kemudian suara ... Purnama?


Elias? El---apa kau di sana?


Aku terdiam saat mendengar suara lemah Purnama, benar itu suaranya dari kejauhan. Beraninya Jeremy menculik Purnama sebagai umpan. Aku semakin menggeram bahkan smartphoneku kugenggam dengan erat.


“Jangan macam-macam, Jeremy. Kembalikan Purnama. Apa maumu, ha! Kau ingin uang? Harta?” tanyaku mendesaknya, apapun itu akan kukabulkan, tapi jangan sampai menyakiti Purnama.


“Hahaha, harta? Kalau itu aku tak butuh. Aku hanya ingin nyawamu dan Edgar.”


Shit. Brengsek kau, Jeremy. Aku menggiling gigiku, rasanya amarahku sudah sangat memuncak, tanganku gatal ingin membunuhnya.


Aku tertawa sinis dan menyerang balik. “Nyawaku? Sebegitu sulitkah kau mengambil nyawaku, hum? Hingga butuh tiga belas tahun lamanya untuk mencabut nyawaku.”


“Kau---“


“Kenapa!? Kau ingin menyakiti Purnama?” tebakku. “Tidakkah kau tahu bahwa selama ini aku telah menyakitinya. Jadi, well...lakukanlah. Aku tak peduli padanya,” kataku dengan dingin.


Maafkan aku, Purnama. Kurasa kau mendengarnya ... tapi, percayalah. Ini demi kebaikanmu. Saat ini aku mencoba berusaha mencari jalan keluar untuk menyelamatkanmu.


“Bukankah kau ingin mengambil nyawaku, Jeremy? Nah, kalau kau membunuh atau menyakiti Purnama tak ada gunanya. Jadi, untuk membunuhku lebih baik kau berikan alamat untuk kita bernegoisasi, lebih cepat lebih baik kau membunuhku.” Aku memberikan Jeremy pilihan yang mendesak, semakin cepat lokasinya ditemukan semakin baik untuk keselamatan Purnama dan bayi yang dikandungnya.


Jeremy terkekeh. “Aku setuju. Kalau begitu, tunggulah telepon dariku selanjutnya.”


Sialan. Kenapa langsung dimatikan.


“Semoga kau baik-baik saja, Purnama,” gumamku sambil menerawang ke atas. Kembali kuingat selama dua tahun ini perlakuan kasarku padanya. Kututup kedua mataku dengan lenganku, perlahan bulir-bulir air mata mengalir hangat di sudut mataku.


Purnama, maafkan aku ...


Rasanya kata maaf tak cukup atas kesalahanku selama ini padanya. Kuraba kembali smartphoneku di kasur. Aku tak boleh diam begini saja, Purnama masih dalam bahaya.


“Luhan, coba kau lacak lokasi nomor yang kukirim nanti,” ucapku tanpa basa basi pada Luhan, seorang detektif swasta yang berada di Beijing.


“Coba kirimkanlah,” katanya.


Setelah kumatikan sambungan teleponnya, langsung kukirimkan nomor Jeremy yang lama dan yang barusan. Aku juga tak bisa berharap banyak pada alamat di nomor telepon ini. Jeremy bukanlah orang bodoh, seperti diketahui – Jeremy sangat licik. Untuk jaga-jaga, aku juga mengirimkan beberapa foto serta alamat apartemen Jeremy. Aku tak ingin setengah-setengah dalam menyelidiki kasus, apalagi ini menyangkut nyawa Purnama dan bayi dalam perutnya.


Sejenak kuhirup udara segar untuk mengisi paru-paruku, memberi ruang untuk bisa bernapas yang serasa makin sesak saja. Kembali smartphone-ku berdering.


Siapa lagi?


Dengan malas kulihat layar smartphone yang berkedip-kedip. Mommy? Berarti dari rumah sakit. Jangan-jangan ....


Tanpa pikir panjang lagi, langsung kugeser tombol jawab. “Ya---”


“Elias, cepat kemarilah. Edgar ...”


=============


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2