I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Elias ... Elias ... Elias ...


Sayup-sayup kudengar suara Purnama memanggilku. Wajahnya yang manis tersenyum ceria menatapku. Sudut bibirku melengkung ke atas. Membentuk senyuman. Membalas senyuman hangat istriku.


Purnama ...


Mulutku bergerak-gerak kaku, mencoba memanggil namanya. Aku menahan napas sesaat. Ada apa dengan suaraku? Kenapa rasanya sangat sakit mengeluarkan suara?


Purnama ... Sayang ...


Sekuat tenaga aku mengeluarkan suara, tetap saja tak bisa. Suaraku hanya menyangkut di tenggorokan. Mengapa? Mengapa susah sekali mengeluarkan satu patah katapun?


Tanganku gatal dan gelisah mencoba untuk bergerak, menyentuh wajah istriku - masih tersenyum ceria padaku. Namun kemudian senyumanku menghilang, bersamaan wajah manis Purnama yang berangsur-angsur memudar dan lenyap dengan sendirinya.


Tidak! Purnama, jangan pergi. Arrrgh ...


Aku meremat kepalaku. Tiba-tiba berdenyut sakit menusuk. Kemudian, kurasakan sebuah sentuhan hangat mengalir di tanganku. Menggenggamku begitu kuat.


Purnama ...


Sayup-sayup aku mendengar suara serak. Berbisik tepat di telingaku, mengatakan sesuatu, “Bangunlah, Elias! Purnama dan calon anakmu sedang menunggumu di Beijing, menantikan kehadiranmu.”


Selanjutnya, aku mendengar beberapa suara memanggil namaku, serta suara beberapa derap langkah kaki menghampiriku. Dengan enggan kupaksakan kelopak mataku terbuka. Memaksaku bangun dari kenyataan pahit, ditinggal istriku pergi.


Dengan pandangan buram, kutatap lekat beberapa wajah dokter yang berdiri tepat di depanku. Ketelengkan kepala ke kiri, melihat wajah Mommy dan Sakti. Wajah mereka tampak sangat khawatir dan cemas. Kendati demikian dalam raut wajah cemas itu, aku melihat segurat kegembiraan hadir di sana.


Kemudian aku kembali menoleh ke depan. Menatap wajah dokter seorang wanita. Sekilas kuperhatikan name tag yang tersemat di jas putihnya bagian kiri. Dokter itu bernama Katy. Dia mengajukan beberapa pertanyaan padaku. Suaranya begitu jelas terdengar di telingaku.


“Apakah anda bisa melihat kami, tuan Benjamin?” tanyanya.


Aku hanya mengangguk kecil. Semuanya menarik napas lega. Terlebih Sakti dan Mommy, bahkan Mommy mulai menitikkan airmata. Aku meringis sesaat. Tubuhku rasanya remuk redam, bagai ditimpa besi seton di sekujur tubuhku.


“Apakah anda bisa menggerakkan tangan, tuan Benjamin?” tanya Dr. Katy lagi seraya matanya terus memperhatikanku, menelisikku begitu tajam.


Aku kembali mengangguk kecil. Kugerakkan tanganku seperti yang dikatakan oleh Dr. Katy tadi. Semua kembali bernapas lega. Perlahan aku bangun, ingin berbaring di sandaran kepala ranjang dengan dibantu Sakti. Tanganku terulur, berniat ingin mengambil gelas di atas nakas. Akan tetapi, segera ditahan oleh Dr. Katy. Aku mengernyit bingung. Kutatap lekat wajahnya. Bibirku bergerak, ingin bertanya, ‘Ada apa?’ Hanya kata itu, namun kenapa rasanya sangat sakit sekali mengeluarkan suara ini. Menepuk dadaku, mencoba mengeluarkan sapatah kata. Yang ada, hanyalah rasa sakit di tenggorokanku makin menjadi. Terasa dibakar.


Mengapa dengan suaraku? Kutatap Mommy dan Sakti. Keduanya mulai cemas akan keadaanku. Dokter Katy menghela napas panjang, kemudian kembali bertanya, “Apakah ada yang ingin anda katakan, tuan Benjamin?”

__ADS_1


Aku mengangguk, lalu mulai berbicara. Lagi, suaraku tak bisa kukeluarkan. Kenapa? Kenapa dengan suaraku?


“Cobalah mengatakan sesuatu, tuan Benjamin,” perintah Dokter Katy.


Kembali aku berusaha, menggerakkan kedua bibirku. Mencoba berkata sesuatu. Nihil. Suaraku tetap tak bisa keluar. Aaargh ... aku mencoba berteriak frustasi, tetap saja suaraku tak mampu keluar. Dokter Katy kemudian berbalik, menatap Mommy.


“Bagaimana, Dok?” tanya Mommy seraya menatapku prihatin.


Dokter Katy menghela napas pendek, sembari berbalik menatapku ia menjawab, “Sepertinya, suara tuan Benjamin sejauh ini yang bermasalah.”


Apa? Dengan kata lain aku menjadi bisukah? Tidak! Tidak mungkin ... Arrrgh ....


 


 


***


 


 


Aku termangu menatap air tenang dalam gelas. Dengan enggan meminumnya. Rasa segar membasahi kerongkonganku, kala cairan bening itu mulai meluncur ke dalam mulutku, setelah sebulan ini tak meminum dan memakan apapun, rasanya begitu nikmat ketika air masuk memenuhi dahagaku.


Aku mendengar cerita dari Mommy. Bahwa aku koma selama sebulanan. Serta soal Jeremy. Akhirnya dia meninggal juga. Tubuhnya sudah dikebumikan oleh pihak rumah sakit, entah di mana. Karena baik Sakti dan Mommy tak mau tahu itu. Meskipun begitu, aku masih tetap merasakan kehilangannya. Walau bagaimanapun juga, Jeremy-lah yang menemaniku selama tiga belas tahun ini, dibalik misinya yang ingin membunuhku.


Mengembuskan napas berat. Kini aku bisu, walau bukan bisu permanen. Dokter Katy mengatakan bahwa suaraku akan pulih dalam tiga bulan.


Tiga bulan? Aku menerawang. Berarti anakku telah lahir ke dunia. Kuhitung-hitung. Saat ini usia kandungan Purnama tujuh bulan. Tinggal dua bulan lagi ... dan aku masih bisu. Bagaimana nanti aku menghadapi Purnama. Bagaimana aku berbicara dengan kondisi bisu seperti ini, mengatakan sesuatu padanya, mengatakan maaf padanya ...


Secepatnya aku ingin menjemput Purnama kembali ke New York, tetapi Dr. Katy menyarankanku untuk melakukan terapi. Tak mengizinkanku pergi ke mana-mana. Apalagi pergi ke luar negeri.


Tidak! Bagaimanapun juga, sebelum Purnama melahirkan aku harus berada di sisinya. Aku tak peduli dengan terapi apapun. Bisa saja aku berobat dan terapi di manapun berada. Ya. Keputusanku sudah bulat. Mungkin setelah mengembalikan kondisi fisikku selama sebulan. Aku akan kembali ke Beijing, menjemput istriku.


 


 

__ADS_1


***


 


 


Sebulan sudah aku giat mengikuti terapi dengan sangat ketat, bahkan anjuran Dr. Katy tak satupun kulewatkan. Baik terapi suara maupun terapi fisik kujalani.


Dan hasilnya, sungguh diluar dugaan semua orang, bahkan oleh diriku sendiri. Tak menyangka suaraku kembali pulih begitu cepat, serta tubuhku kembali normal seperti sedia kala lagi. Aku tidak butuh tongkat lagi untuk berjalan.


Pada awalnya aku hampir putus asa. Beruntung ada Sakti dan Nila terus menyemangatiku. Terlebih lagi, orang yang sangat kucintai. Meskipun dia tak memberikan dukungan secara nyata. Tapi motivasi terbesarku untuk sembuh adalah dia, untuk kembali ke sisinya. Sementara Mommy dan Daddy kembali lagi ke Beijing.


Setelah sembuh. Banyak hal yang harus keperbaiki. Selain terapi ketat yang masih harus kujalani. Aku juga mengembalikan keuangan perusahaanku agar mulai stabil kembali. Serta terus memantau kondisi Purnama di Beijing melalui Edgar dan Mommy. Bersyukur, keadaan istriku telah membaik dan sehat. Apalagi ada Randy di sisinya. Terus menghiburnya. Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang, membayangkan Randylah yang selalu di sisi Purnama.


Aku turun dari mobil ketika memasuki halaman rumahku, setelah satu bulan bolak balik dari rumah sakit melakukan check up. Akhirnya aku bisa bebas tanpa perlu lagi ke rumah sakit dengan melakukan sendiri pengobatan yaitu rutin meminum obat, serta melakukan latihan suara di pagi hari untuk melancarkan tenggorokanku. Serta berolahraga ringan untuk tubuhku.


Rencanaku hari ini yaitu kembali ke Beijing menemui istriku. Purnama sebulan lagi akan melahirkan. Apapun yang terjadi aku akan kembali padanya. Meski kurasa Purnama masih akan menolakku. Aku akan berusaha untuk membuatnya kembali menerimaku.


“Elias, semoga lancar ya urusannya. Dan kalian berdua bisa bersama lagi, terlebih jaga suaramu jangan terlalu banyak berteriak dan berbicara. Juga tubuhmu, jangan terlalu banyak melakukan hal-hal berat.”


Sakti memelukku begitu erat saat kami berada di bandara. Mengantarkan kepergianku ke Beijing. Aku hanya mengangguk dengan memberi bahasa isyarat. Tanda oke melalui jariku sambil tersenyum. Dibalas Sakti dengan kekehan kecilnya akan bahasa isyaratku. Sengaja aku berbuat seperti ini untuk mengurangi rasa sakit akan pita suaraku, serta tak memperburuknya.


“Pergilah! Pesawatnya akan segera berangkat.”


Sakti menepuk pundakku. Kembali aku mengangguk. Melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan. Mengembuskan napas dan menatap lurus ke depan. Langkahku sudah jelas tertuju pada istriku.


Sayang ... tunggulah aku di Beijing. Aku akan segera menjemputmu. Berjuang untuk mendapatkan kembali cintamu.


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2