I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Kupegang tangan Purnama dengan erat ketika kami tepat berhenti di depan pintu ruang inap. Sesaat tadi Purnama terkejut kala aku membawanya ke rumah sakit.


“Sebenarnya, ada seseorang yang ingin kupertemukan denganmu, Sayang,” kataku.


“Siapa?” Mata Purnama membola menatap kedua mata elangku, pupilnya membesar memancarkan rasa penasaran yang tinggi. Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaannya. Segera kubuka pintu ruang inap.


“Elias, akhirnya kau datang juga—eh, Purnama ikut.” Suara cempreng Mommy menyapa dengan semangat cerianya saat menyambut kami. Mommy menghampiri kami, lebih tepatnya menghampiri istriku, sedang aku langsung disingkirkan oleh Mommy. Aku berdecak sebal seraya menggeser tubuhku dan melototi Mommy yang memeluk erat Purnama.


“Bagaimana kabarmu, Sayang.” Kudengar suara Mommy sedikit bergetar kala melepaskan pelukannya dari Purnama. Terus kuperhatikan mereka berdua, Mommy menepuk pucuk kepala Purnama dengan gerakan lembut.


“Sedikit baikan, Mom,” jawab Purnama dengan canggung.


Mommy menghela napas pendek. “Maafkan Mommy ya, belum sempat menjengukmu saat kau dirawat.”


Ya. Karena Mommy merawat Edgar yang juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan Purnama. Selagi Mommy sama Purnama berbicara, kualihkan pandanganku ke arah ranjang. Ada Randy dan Daddy berdiri menghalangi Edgar sepenuhnya. Sepertinya Edgar sedang tidur, sebab tak bereaksi saat Mommy berteriak memanggil nama adiknya tadi.


“Randy sama Daddy juga di sini?” Suara Purnama kembali mengalihkan perhatianku.


“Yup.” Aku mengangguk. Sebelum Daddy dan Randy menyapa Purnama duluan. Segera kutarik tangannya dan menuntunnya ke arah ranjang.


“Minggir kalian, istriku ingin bertemu dengannya.” ujarku dengan mengibaskan tangan. Keduanya berdecak.


“Elias,” panggil Edgar dari belakang Daddy dan Randy. Kulirik reaksi Purnama kala mendengara suara Edgar. Matanya membola dengan mulut terngangga. Sontak melepaskan genggaman tanganku. Namun tetap bergeming di tempatnya berdiri.


“Kak Ed,” panggilnya dengan suara parau.


“Purnama, kemarilah,” balas Edgar dengan suara lemahnya. Randy dan Daddy segera menyingkir.


“Kak Ed ...” Purnama berlari kepelukan Edgar kala kakak iparku merentangkan kedua tangannya.


“Aku merindukanmu, kak Ed, huks,” tangis Purnama pecah saat sudah berada dalam dekapan Edgar.


“Kakak juga. Ssst! Jangan menangis.” Edgar menepuk-nepuk punggung Purnama.


“Huks, Kak Ed.”


Aku menengadahkan kepalaku ke atas, menghalau buliran airmata yang berdesakan ingin keluar. Mengembuskan napas ke udara kala rasa sesak dan haru di dada memenuhiku. Akhirnya, aku bisa menemukan Purnama dan Edgar dalam keadaan hidup, tidak seperti dalam mimpiku waktu itu. Aku menghela napas lega.


“Kenapa Kakak bisa dirawat di sini?”


Semua terdiam dan menahan napas, seakan ruangan ini kedap udara, tak bisa menghirup oksigen. Semua pandangan mata kini tertuju pada Edgar, termasuk aku. Penasaran. Apa yang akan diberitahukannya pada Purnama, jujur atau menutupi penyakit yang dideritanya.


“Kakak hanya sakit biasa.”


Kutarik napas dalam-dalam. Benar dugaanku. Edgar tetap menyembunyikan penyakitnya dari Purnama. Kuperhatikan semua wajah di ruangan ini, menatap Edgar dengan pandangan sayu dan prihatin, menyayangkan sikapnya.


***


“Elias? Kau kenapa?” panggil Purnama terdengar cemas, mengkhawatirkanku kala kupeluk tubuhya dengan posesif dari belakang. Sepertinya dia membaca dari gelagatku yang tak tenang setelah kami pulang dari rumah sakit.


Edgar menyuruhku membawa Purnama pulang ke apartemen. Awal mulanya, istriku berkeras agar tetap di sisi Edgar, ingin lebih lama bersamanya. Tetapi Edgar melarangnya, disebabkan ia lagi hamil besar. Edgar takut Purnama terkena virus di rumah sakit ini hingga membahayakan kesehatannya yang memang masih sakit.


Aku menghela napas pendek, pandanganku jatuh ke bawah menatap hilir mudik kendaraan berlalu lintas atau manusia yang berjalan kaki. Kusurukkan kepalaku diceruk lehernya, sesekali bibirku mendarat di bahu putih mulusnya seraya hidungku menyesap aroma wangi vanilla yang menguar di tubuhnya.


“Aku lagi bingung sekarang,” jawabku ambigu menanggapi ucapan khawatir Purnama tadi.


Purnama menengadah, menatap mataku. Dia mengerutkan keningnya. “Bingung, kenapa?”


“Menurutmu, apa aku harus jujur meski itu kenyataan yang menyakitkan, Purnama?” tanyaku meminta pendapatnya. Kuelus kerutan di keningnya hingga kembali seperti semula.


Purnama terdiam sejenak. “En-tahlah. Aku juga tak tahu. Kurasa harus jujur kalau itu menyangkut soal nyawa.”


Aku hanya menggumam sambil mengelus perut buncitnya.

__ADS_1


“Maksudku ... kalau orang tersebut sakit keras atau sedang dalam keadaan bahaya.” Purnama cepat-cepat mengkoreksi ucapannya, takut kalau aku tak mengerti. Tentu saja aku mengerti. Hanya saja ... aku takut dia akan shock dan membenciku kali ini saat aku berkata jujur.


“Sayang.” Suara bassku mulai naik setingkat ketika mulai memposisikan diri untuk benar-benar berkata serius. Kuputar tubuh berisinya, hingga kami saling berhadap-hadapan. Purnama hanya diam. Menunggu kelanjutan perkataanku.


“Sebenarnya, Edgar mengidap penyakit lupus stadium akhir.”


Purnama diam tak bereaksi.


“Sayang?” panggilku. Aku yakin saat ini dirinya antara percaya dan tidak mendengar ucapanku barusan.


“Kau pasti bohong kan, El,” lirihnya hampir tenggelam suaranya, tubuhnya mulai bergetar hebat. Kupeluk erat dirinya. Kedua bola mataku bergerak-gerak gelisah ke atas. Aku tak menjawab ucapannya.


“Benar kan, El” panggilnya dengan suara bergetar.


Kupejamkan mata sesaat dan membukanya kembali. “Aku tak bohong. Edgar menderita lupus stadium akhir.”


Lama keheningan mengisi cela di antara kami berdua. Purnama melepaskan pelukannya, menatapku dengan nanar seiring cairan beningnya mulai berjatuhan di pelupuk matanya yang indah.


“Ini pasti lelucon. Kau hanya ingin menyakitiku lagi kan,” sangkalnya.


Aku tak menjawab apapun. Kutatap sayu matanya, rasa sakit menyeruak di hatiku melihatnya menangis seperti ini.


“Ini pasti bohong kan, El. Ya pasti begitu. Bukankah selama ini kau dendam pada kakakku. Ini pasti akal-akalanmu saja untuk memisahkan kami kembali. Iya kan. Jawab aku, Elias! Jawab.” Purnama menangis terisak-isak. Dicengkramnya kemejaku dengan kuat. Ia tak terima dengan ucapanku.


Kuteguk ludah dengan susah. Aku mencoba menggelengkan kepala, menyangkalnya, meski rasanya kepalaku sulit sekali kugerakkan.


“Aku tak bohong, Purnama. Itulah yang sebenarnya terjadi pada Edgar. Kalau kau tak percaya, aku punya surat keterangan dari dokter tentang penyakitnya,” jelasku dengan sangat pelan dan serak, mencoba meyakinkannya.


Purnama melepaskan cengkramannya. Ia mundur selangkah. Dahinya mengerut sambil memegangi perutnya. Kurasa, karena istriku syok, bayi dalam perutnya ikut bereaksi. Aku melupakan fakta, bahwa dirinya juga hamil besar serta dengan kondisi tubuh lemahnya. Astaga! Apa yang telah kulakukan. Edgar pasti akan menyalahkanku.


“Tidak! Tak mungkin kak Ed--”


“Ya Tuhan, Purnama.”


***


Aku duduk di sofa dengan menatap cemas istriku. Kini ditangani doker Zhou. Purnama pingsan setelah aku mengatakan jujur soal penyakit yang diidap Edgar.


“Bagaimana, Dok?” tanyaku langsung berdiri setelah dokter Zhou selesai memeriksa istriku


“Dia baik-baik saja. Hanya terlalu syok. Tetapi, entahlah dengan perasaannya. Bayi dalam kandungannya bereaksi seperti itu karena perasaan tertekan dari ibunya. Hingga perutnya mengalami keram. Tapi secara keseluruhan tak apa-apa, bayinya juga sangat sehat,” jelas dokter Zhou bijak. Keterangannya sedikit melegakan hatiku. Syukurlah semuanya baik-baik saja, tak terjadi apa-apa dengan kandungannya maupun dirinya sendiri.


Dokter Zhou menepuk bahuku sekilas, lalu beranjak keluar dari ruangan. Tinggallah di ruangan hanya ada aku dan Purnama. Lama kutatap wajah pucat Purnama yang masih pingsan. Kualihkan pandanganku dengan menunduk menatap lantai. Tanpa kusadari airmataku keluar dengan sendirinya. Setelah Purnama sadar dari pingsannya nanti. Aku yakin, ia akan sangat membenciku.


Kuraba kantong celana jeansku saat ponselku bergetar. Melihat ID pemanggil. Bryan--assistenku yang berada di New York, yang kupercayakan kepengurusan perusahaanku padanya saat ini selama berada di Beijing--yang memanggilku. Bryan juga sahabat baikku.


“Kenapa,  Bry?” tanyaku dengan suara serak yang tak bisa kusembunyikan lagi.


“Gawat, El. Keuangan perusahaan kita di New York mengalami failed. Semua ini ulah Jeremy. Ia memindahkan semua dana perusahaan ke rekening pribadinya.”


Aku terdiam. Bahkan sambungan telepon dari Bryan terputus tanpa sadar olehku. Aku terduduk di lantai menatap nanar dinding rumah sakit. Cobaan apa lagi ini? Jeremy kembali berbuat ulah. Saat ini aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi, perusahaanku failed dan kini aku juga harus menghadapi istriku yang entah bagaimana ketika dia sadar nanti.


Aku masih terpaku bahkan saat Purnama mulai sadar pun tak tahu. Barulah ketika mendengar raungannya yang histeris kembali menghantam duniaku. Aku menghampirinya dan mencoba memegang tubuhnya yang memaksa berdiri. Dengan kasar Purnama menepis tanganku. Ia menatapku dengan penuh kebencian.


“Jangan sentuh aku!”


Aku hanya terdiam mematung. Mengepalkan tanganku, tak bisa berbuat banyak saat melihatnya menangis meraung-raung. Ia terduduk di lantai sembari tangannya memegang erat seprei ranjang rumah sakit.


“Kak Edgar, huks ...”


Aku menunduk menatap lantai mendengarkan tangisannya. Bahkan akupun ikut menitikkan airmata. Perlahan kudekati istriku yang terus menarik seprei ranjang. Kupegang bahunya. Ia menepis kasar tanganku.


“Jauhkan tangan kotormu. Aku tak sudi kau sentuh.”

__ADS_1


Aku terdiam.


“Kenapa jadi begini. Sekarang kau puas, Elias. Tujuanmu telah tercapai. Kakakku ada di tanganmu dan sekarang dia sekarat.”


Purnama memukul dadaku sekuat tenaga. Aku hanya diam tak melawan. Kubiarkan dia melampiaskan semua kemarahannya. Rasa sakit pukulannya tak seberapa dengan rasa sakit saat mengetahui kondisi Edgar. Ya, sebab aku juga pernah berada diposisinya seperti ini. Pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai.


“Maaf--”


Plak!


Pipi kiri dan kananku ditampar bergantian oleh Purnama.


“Maaf katamu, Elias? Mudah kau meminta maaf setelah kakakku sakit keras begini. Kau boleh membuatku menderita, apapun itu akan kuterima. Tapi tidak dengan kakakku. Coba kau kembalikan keadaannya seperti dulu, baru kau kumaafkan.”


Kembali Purnama memukul dadaku. Hatiku kian sakit, bahkan serasa ada sepuluh ribu jarum kecil menusuk-nusuk hatiku, sangat perih sekali. Bagaimana bisa aku mengabulkan permintaan Purnama yang meminta kembali kondisi kakaknya seperti semula. Permintaan yang susah untuk kuwujudkan sampai kapanpun. Hanya Tuhanlah yang berhak mengubah semuanya. Bukan aku yang hanyalah seorang manusia biasa.


“Elias, aku sangat membencimu. Aku tak mau melihatmu lagi, pergi kau! Pergi!”


Purnama meraung-raung histeris, tak hentinya memukul dadaku, bahkan berusaha mendorong tubuhku menjauh darinya. Tubuhku bagai patung tak bernyawa, hanya bisa diam di tempat, tak bergerak sejengkal pun.


“Purnama, Elias!”


Randy tiba-tiba masuk. Menghampiri kami - lebih tepatnya menghampiri Purnama.


“Elias! Apa yang kau lakukan pada Purnama, ha!” bentak Randy di sela-sela membantu Purnama berdiri. “Pur--”


Purnama mendorong tubuh Randy menjauh, hingga Randy terdorong sedikit ke belakang, membuat pegangannya pada tubuh Purnama terlepas. Purnama nyaris jatuh. Langsung kupeluk dirinya. Menahan tubuhnya. Tanganku mengerat di pinggangnya. Posisiku berlutut dan Purnama berdiri. Wajahku langsung menghadap perut buncitnya. Purnama semakin meronta dalam dekapanku. Dia memukul keras punggungku serta menjambak rambutku.


“Lepaskan aku,” teriaknya di sela-sela isakannya. Ia mencoba melepaskan tubuhku yang masih menempel dengan erat di tubuhnya. Aku menggeleng, bahkan kini mataku terpejam menyentuh perutnya.


“Maafkan aku, Purnama. Maaf,” lirihku terus meminta maaf.


“Aku tak bisa memaafkanmu. Aku benci padamu!”


Hanya suara pukulan Purnama di tubuhku, serta suara isakannya yang memenuhi ruang inap. Ia terus melampiaskan semua kekesalan dan kebenciannya padaku. Tanganku tak goyah di pinggangnya dan makin mengerat. Membiarkannya terus memukuliku sampai puas.


“Cukup, Purnama. Tanganmu akan sakit bila terus memukul orang tak berperasaan ini.” Randy menyela dan kembali mendekati kami. Berangsur-angsur Purnama memelankan pukulanya, lalu benar-benar menghentikan pukulannya, walau demikian, airmatanya masih mengalir deras.


“Tapi, Dy. Kak Ed sakit keras, huhuhu,” isak Purnama pilu menatap Randy. Kembali hatiku berdenyut mendengar racauan Purnama. Tanpa sadar pegangan tanganku di pinggangnya mulai mengendur.


Randy melotot. “Bajingan ini! Biar aku yang memberinya pelajaran.”


Dengan kasar Randy menarik tubuhku yang dengan mudahnya terlepas dari pinggang Purnama.


“Suster, suster--” Randy terus berteriak memanggil suster, di sela-sela menyeret tubuhku yang hanya bergeming tak melawan.


“Tolong jaga dia,” lanjutnya saat seorang suster masuk. Suster itu terkejut menutup mulutnya kala melihatku sedang diseret oleh Randy keluar ruangan dengan pasrah. Mataku sayu menatap Purnama yang masih menangis pilu; duduk di ranjang saat suster itu membantunya berbaring.


Randy menendang tubuh lemahku yang tergeletak di lantai yang dingin saat sudah berada di luar ruangan.  Keadaan di luar ruangan sepi. Aku merasakan semua duniaku berputar. Sudah tak sanggup lagi melawan Randy. Kubiarkan saja dia menendang tubuhku dengan puas.


“Uhuk ... uhuk ...” Aku batuk disertai darah yang keluar dari mulutku akibat Randy terlalu kuat menendang dadaku. Aku menggelepar disaat Randy masih terus bertubi-tubi menendangku.


“Ini balasanmu karena beraninya membuat Purnama seperti ini,” maki Randy meluapkan kemarahannya. Mataku sudah mulai berkunang-kunang ketika melihat wajah Randy di atasku. Aku terus berguling kesana kemari menahan sakit di tubuh dan hatiku secara bersamaan. Ah ... inilah balasan yang harus kuterima karena telah menyakiti istriku selama ini.


“Randy, apa yang kau lakukan. Astaga, Elias!”


Samar aku mendengar suara Mommy memekik, saat itupula penglihatanku kabur. Sayup-sayup kudengar langkah sepatu Mommy mendekat ke arahku. Kemudian semuanya gelap, aku sudah tak tahu lagi.


\============


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


__ADS_2