I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
DUA [S2]


__ADS_3

 


 


“Kalian akan kembali ke New York?” tanya Edgar ketika kami bertandang ke rumahnya—usai mengadakan syukuran rumah barunya di kawasan tak jauh dari rumah singgah relawan Kanker Beijing, memudahkan aktifitas Zahra sebagai relawan.


Sebulan sudah Edgar dan Zahra menikah. Dua hari yang lalu mereka baru saja pulang dari bulan madu di Jepang. Melihat foto-foto bulan madu mereka membuatku sangat iri. Kalau dipikir-pikir aku belum pernah memberikan surprise bulan madu pada istriku selama kami menikah empat tahun—meski Purnama tak pernah mempersalahkannya padaku. Tak pernah protes sama sekali.


Ah kalau begini, aku jadi merasa sangat tidak berguna sebagai suaminya. Mulai sekarang—sebaiknya aku akan memikirkan acara bulan madu kami, sebagai kado yang kebetulan bulan depan perayaan ulang tahun pernikahan kami yang ke empat tahun.


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Edgar. “Ya. Lusa kami berangkat.”


“Kenapa tidak menetap di sini saja, El? Bukankah perusahaanmu juga ada di sini?”


“Memang.” Aku mengedik. Kemudian mengalihkan pandanganku sekilas ke arah taman di samping rumah. Kulihat Purnama dan Zahra sedang asyik mengobrol di kursi taman. Sementara jagoanku, Geoff, tampak asyik mengejar kupu-kupu dengan dibawah pengawasan istriku. Kembali aku beralih menatap kakak iparku, melanjutkan kembali ucapanku, “Tapi induk perusahaan kami ada di New York. Sedikit sulit untukku harus mengontrolnya. Harus datang ke New York dan menginap berbulan-bulan, jauh dari keluarga. Bagiku itu sulit. Lebih baik menetap seperti biasanya.”


“Itu benar. Biar bagaimanapun keluarga yang paling utama. Ya sudah kalau memang itu keputusanmu, El. Aku titip Purnama dan keponakanku. Jangan sakiti mereka, oke.”


Aku mengangguk cepat. “Tentu, Ed. Separuh hidupku ada pada istri dan anakku. Aku takkan menyakiti keduanya.”


“Syukurlah. Aku bahagia mendengarnya.” Edgar tersenyum lega.


Kuperhatikan sekali lagi wajah kakak iparku. Kurasakan ia berbeda hari ini. Wajahnya tampak cerah dan ceria begitu—seperti pertama kali balik dari bulan madu kemarin. Tak tahan untuk berspekulasi sendiri. Kulayangkan pertanyaan padanya, “Ed, kulihat kau sedang sangat bahagia.”


“Oh kelihatan ya.” Edgar mengusap tengkuknya. Malu.


“Sangat,” jawabku sambil mengedik.


“Semalam aku dapat kejutan dari Ara.”


“Oh ya? Apa itu? Ara beli lingerie baru? Atau beli celana dalam berenda yang baru? Atau punya gaya baru saat lagi anu-anuan?” tanyaku beruntun dan tercengir di akhir kalimat.


“Mesum.” Edgar melempar bantal ke arahku. Langsung kutangkap. Aku tergelak.


“Tak apa, Ed. Mesum dikit, kan udah nikah juga. Biar dapat anak banyak,” godaku. Edgar hanya mengelengkan kepala.


“Bukan itu,” ujarnya. “Ara sudah isi seminggu.”


“Isi seminggu?” aku melongok bagai orang bodoh.


“Iya. Ara hamil.”


“Astaga.” Aku baru ngeh. “Selamat ya, Ed. Tak sia-sia kau dua minggu ini bulan madu ke Jepang. Akhirnya membuahkan hasil juga begadangnya tiap malam.”

__ADS_1


Edgar tertawa kecil mendengar godaanku. “Iya. Usaha tiap malam plus do’a. Dan terima kasih juga soal ilmunya, El. Kupratekin semua instruksi yang kau berikan. Ara sangat puas dengan servisku. Hehehe.”


“Bagus. Kepuasan istri yang paling utama. Btw, sudah coba gaya apa saja selama ini?” tanyaku menaik turunkan alisku. Pembicaraan mesum kami terhenti ketika istriku dan Zahra masuk. Geoff berlari ke arahku sambil membawa belalang di tangannya.


 


 


***


 


 


Pagi hari yang cerah. Burung-burung sedang bertengger di dahan pohon. Mereka saling berkicauan seakan ikut menyambut pagi yang cerah seperti biasanya. Matahari pagi mulai bersinar menyinari seluruh alam tanpa terkecuali. Begitupun dengan sinarnya juga masuk ke kamar utamaku yang luas—sudah dua tahun kutempati bersama istri tercintaku. Sesuai ucapanku dua tahun yang lalu, aku memboyong istri dan anakku ke New York.


Selang setahun kemudian kakak iparku juga menyusul kami ke New York. Ikut menetap di sini. Edgar dan Zahra tinggal satu kompleks dengan kami. Hanya berjarak tiga rumah dari rumahku, setelah rumah Sakti. Akhirnya Edgar setuju bergabung di perusahaanku. Menjadi kepala supervisor lapangan sesuai keahliannya. Awalnya aku ingin memberikannya jabatan yang lebih tinggi padanya. Namun Edgar menolak. Katanya biarkan ia naik jabatan sesuai kemampuannya. Bukan campur tangan orang dalam. Hal itu membuatku semakin kagum padanya.


Dan semalam Edgar meneleponku. Memberikan kabar gembira. Hari ini dia dan Zahra akan menantikan kelahiran anak kedua mereka. Edgar benar-benar membuktikan ucapannya, akan mempunyai anak banyak pada kami. Hanya setahun jaraknya dengan putra pertama mereka, kini anak kedua sudah menyusul. Hebat. Sementara aku masih belum ada rencana untuk menambah anak. Masih satu. Geoff Benjamin Bowman. Sekarang berumur tiga tahun.


Aku masih setia memejamkan mata. Masih ingin bermalas-masalan di ranjang king size-ku kala kurasakan sebuah pergerakan kecil berada di dalam selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhku. Aku rasa sesuatu menyembul dari balik selimutku. Kemudian embusan napas hangat menerpa wajahku.


Aku tahu siapa sosok yang berada tepat di wajahku ini. Siapa lagi kalau bukan putra semata wayangku, Geoff. Rambutnya yang hitam lebat itu menusuk-nusuk kulit wajahku. Ia terkekeh kecil. Tangan kecilnya menangkup wajahku.


“Zzz.” Aku berpura-pura mendengkur. Pura-pura tidur nyenyak.


Aku yakin saat ini Geoff sedang menggembungkan pipinya kesal. Kuintip sekilas dari balik bulu mataku, ia berkacak pinggang sambil menduduki perut six pack-ku—selalu saja seperti ini, bila Geoff disuruh istriku untuk membangunkanku di hari libur. Ia akan berusaha membangunkanku dengan cara apapun


Inilah salah satu alasan kenapa Geoff selalu lari dan bersembunyi dari istriku bila membantu membangunkanku. Susah membangunkanku. Karena bagiku hari libur adalah waktunya untuk bermalas-malasan. Tanpa perlu bangun pagi untuk mengejar waktu ke kantor.


“Daddyyy, banguuun ... banguuun ... banguuuuun,” teriaknya lagi mengerahkan semua tenaganya mendekatkan mulut kecilnya tepat ke telingaku.


Kali ini kututup kupingku yang berdenging. Perlahan menggosok mataku. Membangunkan tubuhku dengan susah payah karena Geoff masih duduk setia di perutku.


“Tak bisakah jagoan Daddy membangunkan Daddy dengan cara yang lebih baik, hum. Seperti ciuman di pipi misalnya,” ujarku sambil mengangkat tubuh kecil Geoff dari perutku ke sampingku. Kemudian menyandarkan belakang tubuhku ke kepala ranjang sambil bersidekap.


Geoff berdiri dan berkacak pinggang. Pipinya menggembung sambil mengerucutkan bibir manisnya ke depan. "Daddy cih, kalau bobok kayak kelbau. Jadi cucah banguninnya, huh.”


Geoff memalingkan mukanya kesal. Aku terkekeh geli. Gemas melihat tingkahnya. Kutarik tubuh Geoff ke dalam pelukanku, lantas menggelitikinya.


“Aaah, Daddyyy, geliii. Hihihi.” Geoff meronta-ronta dalam pelukanku.


“Minta maaf dulu sama Daddy, karena telah mengatai Daddy seenaknya,” balasku.

__ADS_1


“Iyaaa, maafin Geo ya, Daddy," ujar Geoff tak hentinya tertawa, terkadang menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.


“Ya, ampun. Kalian belum juga mandi?” Purnama menyela dari ambang pintu, menghentikan kegiatanku dan Geoff dari acara menggelitikinya. “Buruan mandi, nanti kita telat ke rumah sakit. Katanya mau lihat dedek bayi."


“Oke, Sayang,” ucapku sambil beranjak dari ranjang. Dengan sigap kugendong Geoff  ke kamar mandi. Purnama hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya ini dan putranya.


“Tunggu sebentar di sini, Geo. Jangan nakal ya,” kataku sambil meletakkan Geoff di bathup—usai melepaskan pakaiannya. Aku memutar badan kembali. Bergegas membuka pintu kamar mandi, lalu menutupnya kembali. Kulihat istriku masih di kamar, sedang memunggungiku.


“Sayaaang,” ujarku dengan manja. Purnama berbalik menghadapku. Kini aku telah berdiri di depannya sambil menyengir lebar.


Purnama menaikkan sebelah alisnya. “Ada ap ... hmmmppttt."


Belum sempat Purnama berbicara lebih lanjut, bibirnya sudah kubungkam dengan ciuman ganas dan penuh nafsu dariku. Kemudian kulepaskan tautan bibir kami setelah puas mengecup bibirnya.


“Jatah morning kiss, Sayang,” ucapku mengedipkan sebelah mata. Purnama hanya memutar bola mata di sela-sela embusan nafasnya menghirup udara segar.


"Aih, Yank ... hmmppttt."


Kembali kulumat bibir istriku. Tapi kali ini Purnama membalas ciumanku hingga terjadilah ciuman panas di antara kami berdua. Purnama mendesah saat tanganku mulai nakal merayap di punggung mulusnya. Mengusap-ngusapnya. Mendengar desahan istriku yang menggoda itu, aku jadi semakin teransang. Dengan sigap kugendong istriku dengan bridal style menuju ranjang king size kami.


Purnama mengalungkan kedua tangannya ke leherku. Saat kami sudah berbaring dengan nyaman di atas ranjang, kembali aku menghujaninya dengan kecupan di bibir plumnya. Kemudian mengecup bahu mulusnya hingga meninggalkan kiss mark berwarna merah hati di sana.


Jari panjangku dengan cekatan membuka kemeja—milikku—yang melekat di tubuh Purnama hingga setengah *****. Setelah berhasil melecuti pakaian Purnama, aku pun dengan tergesa-gesa membuka piyamaku hingga menampakkan otot-otot perut sexy-ku yang membuat istriku makin ingin merasakan kerasnya otot-ototku di sekujur tubuhnya.


Dengan ganas aku kembali melahap bibir istriku. Kedua tanganku ikut bergerilya di tubuhnya. Kulepaskan sesaat tautan bibir kami dan berbicara di sela-sela ciuman panas kami. Aku tersenyum menyeringai pada Purnama yang berada di bawah tubuhku.


“Sayang, ayo kita buat bayi luc—”


“Daddyyy, kapan mandinyaaa.”


Eh? Astaga. Sepertinya aku dan istri melupakan seseorang di kamar mandi. Hehehe.


\=================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2