![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Baby, i’m sorry. Maafkan aku karena selama ini telah menyakitimu.
Bagai rapalan mantra, terus kuucapkan permintaan maaf, yang tak bisa kuucapkan langsung padanya, karena mungkin selanjutnya aku tak bisa melihat Purnama lagi. Dengan jelas aku mendengar Jeremy mulai menarik pelatuknya, memutarnya beberapa kali. Kutahan napas. Inilah hari terakhirku.
Maaf, Purnama, Sayangku. My son! Kalian berdua terpaksa kutinggalkan sendirian di dunia ini.
Kudengar beberapa kali suara tembakan mengudara. Samar kudengar suara jeritan Mommy yang ketakutan dan meraung-raung---apakah pelurunya menembus tubuhku? Rasanya tubuhku mati rasa. Kemudian sayup kudengar suara pintu gudang didobrak dengan keras. Selanjutnya suara-suara gaduh. Aku mendengar suara Daddy tiriku--Robert--berteriak memanggil Mommy dan suara sirine polisi mengaum di luar gudang secara bersamaan.
Kuraba tubuhku, tak terjadi apa-apa? Apa aku sudah mati?
“Elias, bangun!” Mommy menepuk pipiku. Perlahan kubuka mata. Wajah Mommy yang penuh dengan air mata memenuhi pandanganku. Ia menarik napas lega.
“Aku belum mati?” tanyaku serak sembari melihat sekeliling, beberapa polisi menggiring berandalan itu keluar. Aku melirik ke samping, Edgar sedang dipapah keluar oleh Randy.
“Bukan kau yang mati, Nak. Sepertinya dia yang mati---entahlah.” Daddy Robert berucap sembari menunjuk Jeremy yang terkapar di lantai dengan bersimbah darah tak bernyawa. Jadi suara letusan tiga kali itu dari pistol polisi yang menembak Jeremy. Aku bernapas lega sekaligus sedih begitu melihat mayat Jeremy tak jauh dariku. Bagaimanapun juga ia adalah sepupuku yang menemaniku hampir tiga puluh tahun aku lahir ke dunia ini.
“Maafkan aku, Jeremy,” bisikku.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Ini semua salahnya. Ia sudah tahu risikonya. Kita ke rumah sakit sekarang. Luka-lukamu mesti diobati.” Daddy Robert meremat bahuku pelan - memberikan kekuatan.
Aku berjalan dipapah oleh Daddy Robert keluar dari gudang ini. Saat di luar aku bertemu dengan Edgar yang tersenyum lemah padaku. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya kurus, sungguh miris. Melihat kondisinya seperti ini, dirinya begitu mirip saat ini dengan Purnama.
“ELIAS!”
Aku menoleh ke sumber teriakan suara yang sangat kukenal. Tubuhku membeku. Jeremy dengan seringaian dan tubuh penuh luka, menodongkan kembali pistolnya. Ternyata dia masih hidup. Dalam hitungan detik saja semuanya menjadi gelap kembali, samar kundengar suara teriakan Edgar, Mommy, Daddy Robert, serta Randy berteriak memanggilku, bersamaan suara tembakan dua kali mengudara.
***
Entah berapa lama aku memejamkan mata. Saat kubuka mata, aku telah berada di rumah sakit. Kepalaku terasa berdenyut dan tanganku sangat sakit sekali kala kucoba menggerakkan lenganku. Kuraba lenganku yang ternyata sudah dibalut dengan perban.
Apakah aku tertembak? Kulirik sekitar, sepi. Kemana semua orang? Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka.
“Bagaimana keadaanmu, El. Sudah merasa lebih baik?” tanya Daddy Robert setelah duduk di sebelahku. Aku mengangguk. “Syukurlah. Kata dokter kau hanya mengalami luka ringan,” sambungnya.
“Mana yang lainnya? Mommy?” tanyaku saat melihat hanya Daddy Robert saja di sini menemuiku.
“Mommy sama Randy menemani Edgar di ruang sebelah.”
“Aku juga ingin melihat keadaannya.” Aku beranjak dari ranjang. Terlintas rasa penyesalan yang sangat besar menyergapku setelah tahu apa yang dilakukan Edgar selama ini. Melindungiku diam-diam. Bahkan telah menyelamatkan nyawaku.
__ADS_1
***
Aku membeku, tubuhku tak bisa digerakkan. Hatiku bergetar sakit. Lama aku menatap pintu ICU yang tak terbuka seharian ini, ternyata lamanya sama denganku yang pingsan tadi.
“Elias, duduklah dahulu. Kau juga masih sakit dan baru siuman.” Daddy meremat bahuku pelan.
Dengan gontai aku mengikutinya duduk di bangku panjang bergabung dengan Mommy dan Randy yang telah duluan duduk di sana. Aku berbaring menerawang - mataku kosong. Rasa sakit di bahuku sudah tak kurasakan lagi, ditelan oleh rasa cemas akan kondisi Edgar saat ini.
Kenapa aku jadi bodoh begini. Astaga. Aku tak menyadari musuhku sendiri. Hatiku sangat pedih dan sakit saat mengetahui kalau Jeremy-lah yang selama ini membunuh kedua orang tuaku - menjadi musuh dalam selimut. Dan dengan bebasnya Jeremy berada di sekitarku, mempengaruhiku hingga aku percaya bahwa Edgar-lah yang membunuh orang tuaku selama ini. Mendoktrinku agar terus membenci dan dendam pada Edgar.
“Apa yang terjadi dengan, Edgar, Dad?” tanyaku serak.
“Jeremy menembak Edgar setelah menembakmu. Kemudian dia melarikan diri ketika kami lengah saat memperhatikan kalian berdua.”
Kukepalkan kedua tanganku, gigiku gemerutuk menahan amarah. Rasa sakit dikhianati membuatku ingin membunuh Jeremy. Tunggulah, Jeremy, aku akan membalas dendamku. Sampai ke ujung duniapun kau akan kukejar.
Tak berapa lama pintu ganda ruang ICU terbuka, muncullah beberapa tim dokter. Salah satu ketua tim dokter menuju kemari, dan beberapa dokter lainnya berpencar pergi, memberikan beberapa intruksi pada assisten masing-masing. Raut muka mereka tampak sangat serius. Mommy dan Rnady juga berdiri ketika ketua tim dokter menghampiri kami.
“Keluarga terdekat pasien?” tanya sang dokter sembari membuka masker-nya dan menatap satu persatu wajah kami. Randy maju selangkah dengan raut cemas luar biasa.
“Ak---”
“Aku. Aku adik iparnya, Elias Benjamin Bowman.” Buru-buru kupotong ucapan Randy. Aku yang lebih berhak bertanggung jawab di sini dibandingkan yang lainnya. Dokter Wu menatapku kemudian menghela napas berat.
Kuembuskan napas yang serasa sangat sesak. Melirik sebentar pada pintu yang masih tertutup, masih belum diizinkan untuk masuk. Dengan langkah gontai aku mengikuti ke mana dokter Wu pergi.
“Silakan duduk, tuan Elias.”
“Terima kasih, Dok.” Aku membungkuk sekilas dan duduk tepat di depan dokter Wu.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanyaku langsung. Dokter Wu melihat catatan medis dan menghela napas berat.
“Peluru yang bersarang di dalam perut pasien awalnya susah diangkat, tapi syukurlah kami bisa mengambilnya.”
“Eh?” Dahiku berkerut. “Setahuku, Dok. Maaf kalau menggurui, operasi mengangkat peluru yang bersarang di tubuh tak sampai dua jam, paling lama tiga jam, tapi ini sampai seharian?”
“Memang betul. Tapi operasi kali ini sangat berisiko.”
“Berisiko? Maksud, Dokter?”
Dokter Wu diam sesaat. “Karena pasien mempunyai riwayat penyakit Systemic lupus erythematosus (SLE) atau biasa kita umumnya mengenal dengan penyakit lupus.”
Aku mengangga mendengar penjelasan dokter Wu. Tak mungkin, pasti aku salah pendengaran, ya, pasti begitu.
“Penyakit lupus yang diderita oleh pasien sudah menyebar ke seluruh tubuh dan sudah memasuki stadium empat. Menurut catatan medis kami, tuan Edgar sudah menderita penyakit lupus dua tahun belakangan ini.”
“Tak mungkin. Pa-pasti ada kesalahan. Ya, dokter pasti salah,” tolakku tak mau menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Dokter Wu menggelengkan kepalanya, kemudian menyodorkan dokumen.
“Karena penyakitnya telah mengalami komplikasi, menyebar ke tulang belakang, dan juga gagal ginjal secara bersamaan. Itu mengapa kami sedikit mengalami kesulitan saat mengambil pelurunya tadi.”
Dokter Wu menjelaskan disela-sela aku membaca dokumen tentang riwayat penyakit Edgar. Aku memejamkan mata dan mengurut kening. Sungguh tak percaya akan dokumen ini.
__ADS_1
“Sepertinya pasien tak pernah memeriksakan penyakitnya secara berkala, penyakit yang dideritanya termasuk ke dalam kategori luar biasa. Biasanya penyakit ini menyerang kaum wanita bukan laki-laki, hanya terjadi pada 10 dari laki-laki di seluruh dunia, termasuk yang menimpa pasien kita ini.”
Aku hampir merobek dokumen di tanganku kala mendengar Edgar tak pernah memeriksakan penyakitnya. Jadi selama dua tahun ini, Edgar mengalami penderitaan berat tepat ketika Purnama menikah denganku, dan kubawa ke New York. Ah, terkutuklah diriku.
Stadium empat, benar-benar antara hidup dan mati, sekarang kau puas, Elias? Apa yang sekarang kau dapatkan, hum?
Aku mengusak rambutku hingga berantakan. Rasanya ada batu besar menghantam dadaku, sakit - sangat sakit hingga membuatku sesak bernapas, memaksaku mengembalikan pada kenyataan pahit.
“Dokter Wu, apakah ada jalan lainnya untuk menyembuhkannya?” tanyaku penuh harap.
“Ada, selalu ada jalan untuk kesembuhan pasien---meskipun harapan hidup pasien 1 %. Misalnya saja dengan jalan operasi transplantasi sumsum tulang belakang dari orang yang mau mendonorkan sumsumnya.”
Ya, aku benar-benar berharap seperti itu.
***
“Bagaimana hasilnya, El?” tanya Daddy ketika aku memasuki ruang inap. Edgar telah dipindahkan ke sini.
Kuhela napas keras, mataku kini tertuju pada Edgar, masih belum sadarkan diri pasca operasi. Aku kembali keluar dan duduk di kursi tunggu. Sungguh aku tak sanggup melihat tubuh Edgar dipenuhi dengan alat-alat medis yang terhubung dengan monitor.
“Seperti yang Daddy lihat, operasinya berhasil. Hanya saja, Edgar menderita---” Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Kupejamkan mata dan menyenderkan kepalaku ke sandaran kursi. “Penyakit lupus stadium akhir,” lanjutku parau.
Daddy terdiam. Sepertinya juga shock.
“Dokter ... Pasien menggerakkan tangannya.” Randy berteriak dari dalam, memanggil beberapa tim dokter.
Aku langsung berdiri. Edgar sadar? Bersama Daddy, aku berlari ke dalam. Aku terduduk lemas, tubuhku merosot ke lantai. Ada rasa hangat mengalir ke hati, mataku berkaca-kaca. Berulang kali aku mengucap syukur. Kulihat Edgar perlahan membuka matanya. Para tim dokter yang diketuai oleh dokter Wu dengan sigap mengambil alih semuanya.
==============
A/N;
Meskipun sedih untuk Edgar yang berkorban. Tapi, takdir mulai berbalik, mulai dari sini Elias akan merasakan karmanya yang lebih berat. ^.^
Btw, ini cerita nggak sampai ratusan episode, ya. Sama kek cerita This Is Your Baby, kurang di bawah empat puluh sudah tamat. (=^▽^=)
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1