![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Kutatap lekat bangunan luas di depanku. Ketika melamun—berjalan tanpa arah—tadi tanpa kusadari telah berada di halaman yayasan kanker Beijing. Halamannya sangat luas dengan ditumbuhi banyak pepohonan. Di bawah pohon yang rindang banyak penderita kanker bersama para relawan sedang berbicara. Mereka berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Tersenyum. Tertawa dengan bahagianya tanpa takut dan cemas pada penyakit yang diderita. Tidak seperti diriku. Penyakit yang kuderita seolah mengisap habis semangatku. Aku sudah tak punya harapan hidup lagi ketika pertama kalinya mendengar kata divonis.
Kuraba smartphone-ku di dalam saku celana. Sedari tadi ponselku terus berbunyi. Kulihat siapa yang menelepon, Purnama. Pasti dia mengkhawatirkanku.
Maafkan Kakak, Pur. Sengaja kumatikan ponselku. Aku butuh ketenangan tanpa diganggu siapapun. Aku butuh tempat untuk menyendiri. Aku ingin memikirkan kembali semua yang telah kulalui dalam hidup ini agar bisa mengambil keputusan. Keputusan untuk melakukan operasi—yang kupikir semua itu akan sama saja hasilnya. Aku tetap akan mati. Takkan ada yang berubah.
“Permisi, tuan, adakah yang bisa saya bantu?”
Aku membeku. Darahku berdesir halus. Jantungku berdetak kencang. Suara itu ... suara yang sudah tak asing lagi di telingaku—meski sudah dua tahun ini tak mendengarnya. Aku berbalik. Zahra. Ya. Mantan kekasihku.
“Mas Edgar? Be-benarkah ini kau?” ujarnya dengan mata membelalak lebar. Sama seperti Zahra, aku pun sangat terkejut melihatnya. Lebih terkejut lagi melihat perubahan padanya. Dua tahun tidak bertemu dengannya. Dia benar-benar sudah berubah. Dia sudah mengenakan hijab. Menurutku dia semakin cantik dan manis.
Melihat perubahannya membuatku semakin merasa tidak percaya diri untuk hidup. Kurasa lelaki yang baik dan dicintainya telah membawanya jadi makin baik. Syukurlah. Benar yang seperti yang kukatakan dua tahun yang lalu. Dia mampu mencari pria yang lebik baik dariku. Bahkan sangat-sangat baik dariku.
Tanpa kata, dan tak ingin menyakiti hatiku melihat perubahannya, aku pun berbalik pergi. Namun suara Zahra yang merdu dan serak menahan tangis menghentikan langkahku.
“Bisakah kita bicara, Mas?” ujarnya memohon. Dengan cepat telah melangkah di depanku. Menghalangi langkahku. Kuhela napas pendek. Tak ada gunanya lagi menghindar. Aku pun mengangguk.
Kemudian kami duduk di kursi kayu di bawah pohon rindang. Kami duduk agak berjauhan. Zahra sengaja menjaga jarak denganku. Aku paham. Tak ingin mendebatkannya. Toh, kami bukan muhrimnya. Kurasa Zahra menjaga kehormatannya demi suaminya.
“Bagaimana kabar Mas selama ini?” tanya Zahra. Dia yang duluan memulai berbicara.
“Baik,” jawabku singkat.
“Mas sudah menikah ya?” ujarnya hingga membuatku menoleh padanya. Dalam pancaran matanya yang redup tergambar luka yang mendalam di sana. Kurasa ia masih terluka akan keputusanku mendadak dua tahun yang lalu. Tanpa sebab telah meninggalkannya. Zahra buru-buru menunduk ketika mata kami bertemu.
“Belum,” jawabku serak. Ingin kuberkata bohong padanya. Tapi hati kecilku mengatakan untuk berkata jujur padanya. “Kurasa kau yang sudah menikah, Ara.” Aku balik bertanya.
“Sama. Aku juga belum.”
Jawabannya membuat jantungku berdetak cepat. Seulas senyum samar menari di belah bibirku. Seolah ada harapan muncul di dasar hatiku. Ah salahkah aku bila mengharapkan dia kembali padaku? Apakah aku masih pantas padanya yang telah mencampakkannya. Namun kemudian sudut bibirku kembali datar. Walau dia belum menikah mungkin dia sudah punya calon suami. Lelaki yang setia menunggunya.
“Kenapa bisa ada di Beijing?” Tiba-tiba kami sama-sama mengajukan pertanyaan. Kami berpandangan sesaat. Kemudian Zahra kembali menunduk.
“Kau yang duluan jawab, Ra,” kataku.
Zahra menarik napas pendek dan memilin jemarinya. Tanpa melihatku dan terus menunduk, ia mulai berbicara, “Aku kesini karena menjadi relawan.”
“Relawan?”
“Ya. Sudah satu bulan ini aku berada di sini membantu menyemangati orang-orang yang terkena penyakit kanker. Itu janjiku pada mama kalau dia sembuh.”
“Janji pada mamamu?” tanyaku sedikit heran.
“Setahun kita berpisah mama divonis mengidap kanker serviks. Umurnya sudah tidak lama lagi.”
Aku terhenyak mendengarnya. Ya, Tuhan, betapa berat ujian Zahra saat itu. Harus mengurus ibunya seorang diri. Sedang ayahnya sudah meninggal sejak ia masih bayi.
__ADS_1
“Lalu sekarang mamamu?” tanyaku dengan menahan napas. Tak ingin mendengar kemungkinan yang buruk terjadi.
“Syukurlah. Sebulan yang lalu mama dinyatakan sembuh. Ini semua berkat semangatnya yang terus berjuang untuk sembuh.”
Aku tersenyum lega mendengarnya. “Mamamu sungguh orang yang hebat,” pujiku. Aku terdiam sesaat. Sesuatu yang hangat menjalar di hatiku. Mamanya Zahra yang divonis umurnya tidak lama lagi saja bisa survive dari penyakitnya. Dan aku .... kutatap lekat kerudung biru muda Zahra yang melambai-lambai tertiup angin.
“Ra, kau pasti sekarang sangat bahagia ya?” kataku.
“Tentu saja. Mama sembuh dari penyakitnya adalah hal yang paling membahagiakanku.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Tapi bukan itu maksud ucapanku, Ra. Melihat perubahan besar padamu, pasti dibaliknya ada laki-laki hebat yang mencintaimu.”
“Maksud Mas karena melihat penampilanku inikah?”
Aku mengangguk.
Zahra tersenyum manis. “Mas salah kalau aku berubah karena seorang pria. Aku hijrah karena janjiku pada mama. Kalau mama sembuh, aku akan menutup auratku. Menjadi muslim yang lebih baik lagi.”
“Jadi kau belum punya calon suami?” tanyaku.
Zahra menggelengkan kepala. “Orang yang terakhir kalinya mengisi hatiku hanya kamu, Mas. Sampai detik ini aku belum punya siapa-siapa lagi,” ujarnya malu-malu.
“Ra, menurutmu apakah seseorang yang mungkin saja divonis mati masih punya harapan hidup?” tanyaku lagi.
“Semua makhluk yang bernapas berhak memiliki hidup. Sekalipun orang itu divonis mati, bila Allah berkehendak lain, maka itu takkan terjadi. Hanya Allah yang berhak mengatur makhluknya. Kita sebagai hambanya sebaiknya tak pernah berputus asa. Jangan pernah menyerah berjuang untuk sembuh. Dan selalu berdoa kepada-Nya. Seperti yang terjadi pada mamaku.”
Seketika aku tersenyum cerah. Seperti langit yang ditutupi mendung lalu tiba-tiba berubah menjadi cerah kembali. Seperti itulah perasaanku saat ini. Entah darimana datangnya. Mendengar ucapan Zahra membuat semangatku seakan kembali lagi. Semangat untuk meniti masa depan lebih baik lagi.
“Mas, boleh aku minta nomor teleponmu? Soalnya nomor telepon Mas yang lama sudah gak aktif lagi,” ujarnya malu-malu dengan wajah memerah. Itu benar. Setelah putus dari Zahra dan pergi ke Beijing aku mengganti nomor kontakku. Ini kulakukan untuk menghilangkan jejakku dari Elias kala itu.
“Ung ... siapa tau saja ada yang mau diobrolin. Walau kita sudah gak punya hubungan apapun lagi, bukankah sesama muslim kita wajib menjaga silatuhrahmi,” perjelas Zahra saat melihatku diam saja. Dia pikir aku tak mau memberikan nomor kontakku. Padahal aku diam karena sangat bahagianya.
Aku menganggguk. Kemudian mengambil ponselku dalam saku celana. Kamipun bertukar nomor telepon. Di kejauhan seseorang datang menghampiri kami. Berbicara dengan Zahra. Sepertinya waktu kami berbicara sudah selesai. Sebelum pergi dia kembali berbalik, menatapku dengan lekat.
“Tubuh Mas sangat kurus. Wajah Mas juga pucat Apa Mas Edgar sakit?” tanyanya membuatku menahan napas. Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tak ingin membuatnya mencemaskanku karena penyakitku ini.
***
Dua hari telah berlalu dari pertemuanku dengan Zahra. Kini aku berada di ruangan tunggu operasi. Menunggu jadwalku. Masih kuingat dengan jelas wajah terkejut serta bahagia secara bersamaan dari Elias dan Purnama ketika aku mendadak mengatakan mau dioperasi. Ini semua karena Zahra. Karena ucapannya membuatku berubah pikiran. Aku mau dioperasi.
__ADS_1
Kuperhatikan sekitar dengan dada bergemuruh. Jantungku berdetak cepat menunggu detik-detik masuk ke ruang operasi. Kupandangi wajah satu persatu orang-orang yang menyayangiku. Purnama, Elias, tante Cinthya dan suaminya, juga Randy. Mereka sama yang seperti yang kurasakan saat ini, sangat cemas dan takut akan hasil operasinya. Apakah aku akan sehat atau akan menutup mata selama-lamanya.
Ini juga alasanku kenapa aku tak mengangkat panggilan Zahra selama dua hari ini. Aku tak ingin memberi harapan palsu padanya. Aku tak ingin ia kecewa padaku. Aku tak ingin ia menangisiku saat aku tak ada di dunia ini lagi.
Maafkan aku Ara, lagi-lagi aku mengewakanmu. I'm sorry to hurt you.
***
Aku tersenyum menatap keponakanku yang tertidur pulas di dalam box bayi. Besok, umurnya baru seminggu. Benar yang dikatakan oleh Zahra, manusia hanya bisa berencana. Tapi Tuhanlah yang menentukan. Kupikir aku akan mati di meja operasi. Takkan membuka mata selama-selamanya lagi. Takkan melihat wajah keponakanku untuk pertama kalinya. Tapi nyatanya ... aku tersenyum. Allah masih sayang padaku dengan memberikanku harapan hidup sekali lagi.
Aku mengerling sekilas pada sepasang suami istri tak jauh duduk dariku. Astaga. Aku memutar bola mata memperhatikan Elias dan Purnama. Mereka sungguh membuatku iri. Mereka bermesraan di depanku seolah aku yang ada di ruangan ini hanyalah mahkluk tak kasat mata. Sial.
“Sepertinya ada yang iri sama kita, Sayang,” ujar Elias terkekeh geli sembari mencium sekilas bibir Purnama, lalu berjalan ke arahku. Mendorong kursi rodaku ke arah ruang keluarga. Menjauhkanku dari keponakanku yang manis. Aih melihat betapa lucunya bayi mereka, membuatku ingin punya anak juga.
“Ya, Tuhan, Ed. Kau sungguh jahat pada Purnama. Masa adik secantik Purnama tidak dikatakan sama Ara.” Elias meninju ringan bahuku. Waktu kukenalkan Zahra pada Purnama seminggu yang lalu—setelah operasi—Zahra tampak terkejut.
Aku mendesis. “Ini kulakukan untuk melindungi keduanya darimu. Bukankah waktu itu aku buronan polisi. Aku tak ingin Purnama atau Ara jadi sasaranmu.”
Elias mengelus tangkuknya canggung. “Begitu ya.” Dia tertawa membuatku ikut tertawa.
“Mbak Ara itu mantan pacar Kakak bukan sih?” tanya Purnama seraya menggendong Geoff yang terbangun. Aku hanya mengangguk membenarkan.
“Kenapa Kakak gak balikan lagi sama Mbak Ara? Aku lihat Mbak Ara belum punya pacar. Eh sepertinya ada yang datang.” Purnama bergegas ke ruang tamu.
Beberapa detik kemudian muncul sosok yang kami bicarakan. Zahra tersenyum canggung seraya membawa keranjang buah di tangannya. Aku tersenyum membalasnya. Ya. Inilah calon istriku. Calon makmumku. Calon ibu dari anak-anakku kelak. Zahratul Hafshah.
TAMAT
Huft, akhirnya tamat juga part spesial Edgar sama Zahra. Lanjut ke season dua. Siap-siap ya datang ke kondangan Edgar sama Zahra di season dua. Ketemu lagi dengan pasangan Elias sama Purnama.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1