![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
“Eh, tiket?” Purnama memandang tiket di tangannya saat kami sarapan pagi ini.
“Lusa kita berangkat ke Beijing,” jawabku dingin sambil meminum kopi. Sedang Purnama meneguk susu hamilnya.
“Beijing? Untuk apa?” tanyanya polos.
“Menemaniku. Tak mungkin kau kutinggal sendiri di rumah ini, aku takut kau melarikan diri membawa anakku yang kau kandung itu,” kataku sewot sambil mengacungkan pisau untuk mengolesi selai ke Purnama. Purnama meneguk salivanya melihat pisau kecil di tanganku - takut. Buru-buru kusingkirkan pisau di tanganku.
“Aku tau,” jawabnya hampir berbisik, menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.
Aku menatap tajam Purnama yang memakan sarapan dalam diam – menyipitkan mata sejenak. Sebenarnya alasanku ke Beijing untuk menemui si berengsek Edgar. Memastikan sesuatu yang masih mengganjal di hatiku.
* I’m Sorry To Hurt You *
Aku pulang ke rumah malam ini jam tujuh. Tak biasanya aku pulang secepat ini. Paling cepat pulang jam sepuluh malam. Tapi ada sesuatu yang menyuruhku untuk pulang cepat malam ini. Membuka kenop pintu tanpa bersuara---sebelumnya melepaskan sepatu dan melenggang masuk ke ruang tamu.
Di sana aku melihat Purnama meringkuk di sofa memeluk bantal sambil tertawa menonton reality show. Samar aku mendengar Purnama menggumam sesuatu sambil mengelus perutnya.
“Huft, rasanya ingin makan ramen panas buatan Elias---tapi mana mungkin aku memintanya,” gumamnya kecewa dengan wajah ditekuk cemberut.
“Maaf ya nak, Mama lagi-lagi tak bisa mengabulkannya.” Purnama menghembuskan nafasnya sambil mengusap-ngusap perutnya – berbicara sendiri.
Hatiku berdenyut sakit dan kembali terenyuh mendengar gumaman Purnama. Aku Purnama, anakku, batinku.
.....
........
...........
“Elias, jangan terlalu keras dengan Purnama. Kasian ia dan anakmu sendiri,” omel tante Rina yang lagi-lagi menggelengkan kepalanya melihat kekeras kepalaanku saat memeriksa kandungan Purnama, yang lagi-lagi tanpa ditemani diriku. Dan aku hanya mendengar laporan kesehatan kandungan Purnama dari tante Rina melalui telepon.
__ADS_1
“El, apa susahnya sih mengabulkan keinginan anakmu sendiri,” sungut Intan lagi-lagi mengomeliku melihat Purnama susah payah meminta bantuan Jagat membeli tongseng daging pedas di saat hujan.
“Purnama mengidam itu karena keinginan amakmu juga, ingat itu, El.” Kali ini Nila yang mengomel denganku, saat ia dan suaminya, Sakti, kewalahan mencarikan mangga muda impor dari Indonesia beruntung ada satu minimarket yang menjual buah-buahan dari Indonesia dan lokasi minimarket itu di luar kota New York, butuh satu hari agar pengiriman paket mangga itu bisa sampai ke rumah.
..........
......
...
Aku tersenyum kecil mengingat beberapa minggu ini mendengar ocehan dari pasangan Nila-Sakti dan Intan-Jagat saat kewalahan memenuhi keinginan Purnama---tidak, bukan Purnama tapi anak yang dikandungnnya. Baiklah apa salahnya melunak sedikit pada Purnama. Toh, demi anakku juga.
Aku sengaja berdeham mengagetkan Purnama. Perlahan Purnama menyembulkan kepalanya dari sofa.
“Elias? Sudah pulang? Cepat sekali.” Purnama berdiri menyambutku, dan mengambil tas kerjaku, tak lupa dengan senyuman manisnya. Aku tak menjawabnya dan melepaskan jasku dan melemparnya ke sofa.
“Tak usah dibawa ke kamar dulu, letakkan saja tasnya di sana, Sayang,” ujarku menyuruh Purnama meletakkan tasku di samping jas yang teronggok di sofa.
“Eh?” Purnama memiringkan kepalanya, sedikit heran atas sikapku, terlebih aku kembali memanggilnya Sayang saat kami baru akan menikah.
Aku tersenyum kecil melihat Purnama tersipu, wajahnya penuh dengan rona merah. Ia duduk sedikit menjauh dariku---masih takut padaku. Kembali ia menonton reality show.
“Aku mau masak ramen panas,” kataku beranjak berdiri dan menggulung lengan kemejaku hingga batas siku. Melirik sekilas pada Purnama, ingin melihat reaksinya. Purnama tampak berbinar sesaat, kemudian ia cemberut kembali. Ia tau aku takkan pernah memasak untuk dirinya.
Huft! Demi anakmu, El. Fighting. Aku mengemangati diriku, lantas mulai memasuki dapurku. Sudah lama aku tak memasak lagi semenjak menikah dengan Purnama. Purnama-lah yang selalu memasakkan untukku meski masakannya tak pernah kusentuh. Selang beberapa menit, ramen buatanku pun jadi.
Purnama yang awalnya fokus menonton akhirnya menoleh padaku dan menatapku, ia meneguk salivanya berkali-kali melihatku menyantap ramen buatanku sendiri. Aku pura-pura mengabaikannya dan tersenyum geli melihat tingkahnya, sedikit-sedikit ia menggeser tempat duduknya hingga tanpa ia sadari sudah duduk di sampingku. Aku menoleh padanya hingga wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Purnama tergagap.
“Apa?” tanyaku pura-pura ketus sambil meniup mie yang diapit oleh sumpit tanpa memakannya.
Purnama menggelengkan kepala, namun matanya tertuju pada mie ramen di tanganku. Ia meneguk salivanya, kemudian menatapku. “Tidak,” katanya polos.
Aku akhirnya terkekeh melihat wajah polosnya yang mudah terbaca. “Mau?” tawarku.
Secepat kilat Purnama mengangguk.
“Nih, buka mulutmu - aaaaa,” kataku. Aku menyuapi mie yang berada di tanganku tadi ke mulut Purnama. Purnama membuka mulutnya lebar-lebar.
“Enak?” tanyaku.
Purnama mengangguk, matanya berbinar senang, keinginannya kali ini terkabul bahkan ia disuapi olehku.
“Enak. Pas sekali kau membuatkannya, disaat aku juga ingin makan mie ramen juga,” jawabnya polos.
“Oh ya? Benarkah?” tanyaku pura-pura terkejut. Purnama mengangguk.
Aku menaikkan sebelash alisku dan menatap Purnama yang mengunyah mie. Sebenarnya aku sengaja membuat mie untukmu, Purnama, batinku senang. Ada rasa bahagia menyeruak di hatiku.
__ADS_1
“Makanlah yang banyak.” Kusodorkan semangkuk mie ramen ke tangan Purnama.
“Makasih, El.” Purnama tersenyum lebar.
“Tak usah sungkan, Sayang.” Aku mengelus lembut rambut almond-nya. Purnama tersipu, semburat merah bermunculan di pipinya yang mulai sedikit berisi.
“Kau tak makan, El?” tanya Purnama dengan mulut berisi penuh mie saat ia melihatku hanya memandanginya. “Eung ... kita bisa makan bersama,” lanjutnya ragu, menatapku yang hanya diam. Aku menggeleng dan tersenyum.
“Tidak, Sayang. Aku sudah kenyang melihatmu makan dengan lahap.” Aku tak hentinya memandanginya makan. Bahkan kini mataku hanya tertuju pada bibir plum berisinya. Sudah lama aku tak mengecupnya dan menjamah bibir sexy ini. Purnama merona merah. Tak berani menatapku.
“Selesai.” Purnama mengelus perut buncitnya dan meletakkan mangkuk kosong ke meja, lantas mengambil segelas susu hamil rasa stroberry dan meminumnnya cepat-cepat hingga susu keluar dari sela mulutnya. Purnama grogi karena aku terus memandanginya, terlebih ke bibir berisinya, ingin rasanya bibirku yang menempel di sana.
Aku meneguk saliva melihat pemandangan di depanku. Purnama semakin lama terlihat sangat sexy dan menggoda. Tanpa sadar tanganku bergerak mengelus bibirnya, mengusap susu yang masih menempel di bibirnya.
Lama kami berpandangan. Aku menatap mata sayu Purnama. Perlahan mendekatkan wajahku padanya hingga hidung kami saling berbenturan. Purnama menutup matanya saat kusentuh lembut bibirnya dengan bibirku. Memejamkan mataku saat aku mengisap lembut bibir bawahnya, lidahku mulai bergerilya di dalam mulutnya. Tanpa penolakan seperti sebelumnya saat aku memaksa menciumnya, Purnama dengan pasrah membuka mulutnya membalas ciumanku.
Purnama mengalungkan kedua tangannya ke leherku dan meremas rambutku saat aku memperdalam ciumanku. Dengan protektif kedua tanganku sudah berada di pinggangnya. Semakin erat memeluk pinggangnya saat lidah kami saling mendominasi---meski akulah yang menjadi pemenangnya di battle tounge.
Selang beberapa menit, dengan berat hati aku melepaskan sejenak tautan bibirku saat Purnama butuh bernafas. Purnama terengah-engah dengan wajah memerah, tak lupa dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Kuelus lembut bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciuman ganasku.
Purnama tersenyum manis yang mengalirkan rasa tenang ke hatiku melihat senyumannya. Lama kami saling memandang intens. Seolah bicara dari hati ke hati. Aku mengelus punggunggnya saat duduk di atas pahaku. Tangannya tak beranjak dari leherku dan mengelus rambut hitam tebalku. Sejenak aku teringat sesuatu.
“Sebentar, Sayang. Aku telepon seseorang dulu.” Aku mengecup sekilas bibirnya. Meraba saku celana dasarku dan mengambil smartphone. Mendial nomor tante Rina - berkonsultasi kilat.
“Tante. Benarkah tak apa-apa kalau aku melakukan itu?” kataku serak. Samar aku mendengar jawaban dari tante Rina. Kuelus rambut almond Purnama – kadang aku mengecup puncak kepalanya - ketika ia menyandarkan kepalanya ke dada bidangku sambil menungguiku berbincang dengan tante Rina.
“Benarkah?” Aku tersenyum senang, mataku berbinar bahagia.
“Ya, aku akan hati-hati. Takkan menyakiti bayinya---terima kasih atas sarannya, tante. Sampaikan salamku pada Om Glen. Maaf, telah menggangu malam tante,” ujarku menutup teleponnya.
“Aman, Sayang.” Aku tersenyum senang dan mengecup sekilas bibir plum Purnama saat ia menengadah menatapku dengan heran. Kupeluk erat dirinya, gemas melihat kepolosan dirinya.
Sepertinya, malam yang panjang ini akan kulalui dengannya penuh kehangatan. Bahkan kini, cinta yang mulai tumbuh di hatiku kubiarkan saja bersemi, takkan kupadamkan lagi. Dan tanpa kusadari, hati ini mulai menerima kehadiran Purnama-kah. Benarkah?
===============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1