![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Dalam kehidupan ini ada dua hal yang tak bisa kita hindari dan kita prediksi. Yaitu kematian dan kelahiran. Kita bisa berencana. Tapi Pemilik Alam Semesta-lah yang berhak menentukannya.
Begitu pun dengan yang kualami sekarang ini. Prediksi dokter istriku akan melahirkan dalam dua hari ini. Tapi sampai hari ketiga yang diprediksikan istriku belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Aku dan Purnama sefakat untuk melahirkan secara normal. Menurut dokter kondisi istriku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Jadi ya begitulah, kami menunggu dengan sabar sampai si bayi ingin melihat dunia dengan sendirinya. Padahal baik aku, Purnama atau pun keluarga sudah tak sabar menunggu kedatangan malaikat kecil kami ke dunia. Tapi kembali lagi dengan kehendak Tuhan. Namanya juga melahirkan normal. Tak bisa ditentukan kapan akan melahirkan.
Dan disinilah aku berada. Di rumah sakit. Bukan. Aku bukan menunggui istriku karena sudah kubilang istriku akan melahirkan secara normal. Tapi sekarang aku menunggui kakak iparku yang akan dioperasi. Kami berada di kamar istirahat sementara pasien. Edgar berada disini menunggu jadwal operasinya. Setengah jam lagi dirinya akan segera dibawa ke ruang operasi. Dan tiga hari yang lalu Edgar setuju dioperasi saat aku hendak ingin mencarinya. Entahlah apa yang membuatnya termotivasi melakukan operasi. Sampai detik ini aku tak tahu.
Aku mendesah gugup. Jantungku berdetak kencang. Tanganku terasa dingin. Mataku memindahi ruangan putih dengan alat-alat medis menyertai; selang infus, tabung oksigen, defibrillator dan lainnya, serta bau obat-obatan begitu menyengat. Menyebar di udara menusuk indra penciuman. Perasaan tak asing ini muncul kembali. Selama aku berada di Beijing, di rumah sakit, hal-hal yang berkaitan dengan rasa sakit terus membayangiku, menyertai langkahku di tempat ini. Jujur, karena terlalu seringnya berhubungan dengan rumah sakit, sedikit membuatku trauma.
Kutatap dengan lekat wajah pucat Edgar. Terbaring lemah di atas ranjang. Dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Purnama, Mommy, Daddy, dan Randy. Mereka tiada hentinya terus memberikan support berupa semangat untuknya agar bisa tegar melalui operasi. Tak lupa diiringi untaian do’a agar operasinya berjalan lancar hingga selesai dilangsungkan.
“Elias, kemarilah. Jangan berdiri terus diambang pintu. Tahukah kau? Kau seperti malaikat maut yang akan segera menjemputku.” Edgar menyunggingkan senyuman yang menurutku sangat indah. Ia bercanda ditengah-tengah menunggu jadwal operasinya. Tapi rasa humornya begitu menakutkan bagi yang mendengarnya---termasuk aku yang bergidik ngeri. Bulu kudukku seketika meremang.
Kuhela napas pendek, baru saja aku dari ruang administrasi, menyelesaikan segala yang menyangkut biaya operasi Edgar. Aku tak ingin hal sekecil apapun bisa menghambat jalannya operasi Edgar. Hanya karena sedikit telat membayar, operasi Edgar ditunda. Aku tak mau itu terjadi. Aku tak ingin melakukan kesalahan fatal yang berujung jatuh ke dalam jurang penyesalan kian dalam. Aku tak ingin penyesalan-penyesalan lainnya menghampiriku lagi.
Kusunggingkan senyuman kaku. Duduk disisi ranjang di samping istriku. Sedang Randy, Mommy dan Daddy, kutengok sekilas mereka duduk di sofa. Wajah mereka menampakkan raut cemas, rasa resah dan gelisah mendominasi hati yang galau saat ini. Tak jauh berbeda denganku dan Purnama, sama seperti mereka alami. Bahkan jantungku terus berdetak kencang sepanjang menerima kabar; bahwa kakak iparku bisa melaksanakan operasi siang ini.
“Elias, terima kasih atas semuanya. Kau adik ipar yang paling baik sedunia menurutku. Kau sangat bisa diandalkan dalam hal apapun. Terima kasih banyak, Elias. Sungguh, El. Aku tak bisa bayangkan bila adik iparku itu bukan kamu. Pasti ceritanya akan jadi lain.” Edgar menggenggam erat tanganku. Nada suaranya semakin tak kedengaran jelas, tenggelam dalam ritme napas yang mulai tak beraturan. Gugupkah?
“Tak usah berterima kasih, Ed. Semua itu sangatlah wajar. Aku membantumu sebab kau adalah kakak iparku. Tidak. Lebih dari kakak ipar. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri.” Aku tersenyum tipis memberikan kekuatan untuknya. Balik membalas genggamannya yang lemah.
“Jangan mencemaskan apapun lagi, Ed. Semuanya akan baik-baik saja,” lanjutku dengan suara parau. Meremat tangannya dalam genggamanku.
“Elias ... kemarilah, lebih mendekat lagi ...” Edgar memberikan isyarat melalui tangannya yang lain supaya aku membungkukkan tubuh. Segera kulakukan apa yang dimintanya. Merendahkan tubuhku. Mendekatkan telingaku ke mulutnya.
“Elias, andaikan saja operasi ini tak berjalan semestinya ... satu hal kupinta darimu, jaga selalu adikku, Purnama. Teruslah mencintainya. Beri dia limpahan kasih sayang sepanjang hidupnya. Ayomi dia setiap saat. Jangan pernah menyakiti hatinya. Jangan pernah mengecewakannya lagi.”
Waktu yang terus berputar di sekitarku seakan berhenti bergulir. Arus udara di ruangan yang terasa sesak ini seakan ikut berhenti mengalir. Tubuhku menjadi kaku. Telingaku berdenging manakala mendengar untaian kalimat menyesakkann itu. Kata demi kata meluncur dari celah bibir kering Edgar. Samar kudengar isakan tangis kesedihan menyertai gendang telingaku, istriku menangis pilu di pundakku. Ia juga mendengar ucapan saudara satu-satunya yang sangat disayanginya ini.
Edgar beralih menatap Purnama. “Purnama, jangan menangis ... ingat selalu pesan Kakak. Janganlah kau dendam pada siapapun, andaikan saja Kakak tiada--” ucapan Edgar terputus ketika beberapa perawat masuk. Segera membawa Edgar ke ruang operasi
__ADS_1
***
Aku mendesah samar. Kutatap lekat ruang operasi yang tertutup rapat. Lima belas menit yang lalu Edgar berada di dalam sana. Waktu satu menit bagiku terasa sangatlah lama. Sedari tadi jantungku berdetak kencang. Aku belum bisa tenang sampai Edgar keluar dari ruang operasi dan sehat kembali.
Begitu pun yang dirasakan oleh istriku. Ia bersandar di bahuku. Sedang aku merangkul tubuh berisinya. Tangan kananku terus mengelus perut buncitnya. Sesekali kulayangkan kecupan di dahinya. Memberikannya ketenangan.
Di samping kiriku ada Mommy yang ikut menemani. Sedang Daddy dan Randy sementara waktu kusuruh pulang untuk beristirahat. Kasihan mereka berdua, sedari semalam ikut begadang menemaniku menunggui Edgar. Awalnya Purnama kusuruh istirahat di ruang inap di rumah sakit ini sambil menunggu lahirannya. Tapi dianya tak mau. Katanya dia ingin menunggui Edgar bersamaku.
Suara deringan ponsel di tas istriku menyela keheningan kami. Purnama menjauhkan kepalanya dari bahuku. Merogoh tasnya.
“Siapa yang telepon, Sayang?” tanyaku ingin tahu. Ternyata suara deringan itu berasal dari ponsel Edgar.
Istriku mengangkat bahu. “Tidak tahu. Dari tadi ponsel kak Edgar terus berdering.”
“Kenapa tak diangkat, Sayang? Siapa tahu itu penting,” kataku seraya mengelus perut buncitnya.
“Coba kulihat.”
Purnama menyodorkan ponsel Edgar yang tak berdering lagi padaku. Kulihat nomornya siapa tahu aku kenal. Ternyata memang tidak kukenal. Dahiku mengerut melihat riwayat panggilan di nomor ini. Sudah ratusan kali menelepon. Apa benar-benar penting? Kembali ponsel Edgar berdering. Kali ini kuangkat panggilannya.
“Halo? Dengan siapa ini?” ujarku langsung.
Hening sesaat setelah aku mengangkatnya.
“Halo?” ujarku lagi. Bila tak menjawab kuputuskan untuk mematikannya. Ternyata ada suara di seberang telepon. Suara wanita.
“I-ini nomor Mas Edgar kan?” ujar suara wanita itu dengan gugup. Namun masih kudengar jelas suaranya begitu lembut. Sama lembutnya dengan suara istriku.
“Ya. Ini nomornya,” balasku dengan memutuskan berkata jujur.
“Bisa aku bicara dengan Mas Edgar?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Edgarnya sedang ada urusan penting. Tak bisa bicara sekarang,” jawabku.
“Kumohon, bisakah aku berbicara dengannya. Aku tahu ia sakit. Maka dari itu aku ingin bicara dengannya. Oh ya, katakan saja padanya aku Ara.”
Kutarik napas pendek. Jadi nama panggilan wanita itu adalah Ara. Ada hubungan apa dia dengan Edgar. Dari suaranya, jelas ia sangat ingin berbicara dengan Edgar. Sekali lagi kuputuskan untuk berbicara jujur dengan wanita ini. “Sebenarnya Edgar saat ini sedang dioperasi.”
“Ya, Allah. Rumah sakit mana? Bisakah kau memberi tahuku?”
***
Kutatap lekat wanita yang duduk berseberangan dengan kami. Nama wanita itu adalah Zahratul Hafshah. Kuperkirakan seumuran denganku. Satu tahun di bawah Edgar. Wanita muslimah. Berkerudung. Berpakaian sangat sopan. Sangat manis. Tak kalah mempesonanya dari istriku. Tidak. Tidak. Tidak. Biar bagaimanapun juga, di mataku, istrikulah yang paling manis, paling cantik tak tertandingi di dunia ini. Hehehe. Anggap saja aku bucin pada istriku. Dan mungkin di mata Edgar, wanita ini juga tak kalah mempesonanya.
Entahlah, aku belum tahu hubungannya dengan Edgar seperti apa. Aku juga belum tahu jelas siapa wanita ini. Yang kutahu hanya nama lengkapnya ketika dia mengenalkannya pada kami sejam yang lalu. Itu saja yang kutahu. Aku tak berani mengorek keterangan apapun darinya dalam kondisi kalut seperti ini.
Satu hal yang kutangkap dari pertemuanku dengan wanita ini. Mungkinkah ada kaitannya dengan Edgar yang tiba-tiba mau dioperasi?
Kulihat eskpresi wajah wanita ini juga sangat cemas. Kuperhatikan lebih telitit lagi dari wajahnya yang menunduk itu, samar ia terisak. Ia menangis?
\================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1