![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Ia tak takut padaku? Ucapan Purnama membuatku terhenyak sesaat. Kutatap lekat Purnama. Sorot matanya tak gentar melawanku. Kurasakan kalau tangannya perlahan memeluk perutnya sendiri. Sial. Aku kembali tersadar. Hampir saja aku menyakiti bayi dalam perutnya. Kembali aku teringat kejadian siang kemarin saat masih berada di New York. Aku tak ingin kejadian itu terulang lagi. Pelan kuembuskan napas, menenangkan jantungku yang berpacu cepat.
Pandanganku melunak saat menatap kembali wajahnya yang hampir pucat pasi, tapi tetap saja sorot matanya tak gentar melawanku. Tanganku perlahan membelai wajahnya.
“Ma-mau apa, kau,” pekik Purnama dengan nada berani, bahkan menyingkirkan tangan kananku yang membelai wajahnya. Aku tak menjawabnya, lebih baik menurunkan emosiku sebelum kembali berdebat dengannya, dan kehilangan kendali lagi. Memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali. Menatap Purnama tajam kemudian melembut.
“Kumohon, Purnama. Jangan memancing emosiku saat ini. Aku tak ingin kau dan bayi dalam kandunganmu terluka,” kataku parau nan lembut menatap sayu mata Purnama, sejenak aku bisa menyingkirkan emosiku. Purnama terdiam mendengar ucapanku.
“Dan kau hari ini begitu berani melawanku,” pujiku tersenyum sinis mengejeknya.
“Te-tentu saja. Sudah cukup kau menyakitiku. Sejak kapan kau peduli pada kandunganku? Ba-bahkan kau tak pernah menemaniku memeriksakan kandungan. Aku sakit hati karenamu,” teriak Purnama bergetar. Wajahnya memerah menahan amarah dan tangis secara bersamaan, matanya mulai berkaca-kaca.
Aku terhenyak sesaat. Sakit? Takkah dia tahu, aku juga menahan rasa sakit selama ini. Mengepalkan jariku yang mulai memutih. Memundurkan tubuhku menjauh dari tubuhnya, takut bila aku kembali khilaf dan menyakitinya.
“Kau pikir, hanya kamu yang sakit hati! Aku bahkan lebih sakit darimu. Menanggung dendam berkepanjangan pada Edgar. Menanggung mimpi buruk selama hampir dua belas tahun ini, bahkan aku hampir gila ditinggalkan mendadak oleh orang-orang yang kucintai.”
Ingin rasanya aku menjerit menumpahkan rasa sakitku, menangis meraung-raung seperti yang dilakukan Purnama padaku. Tapi air mata ini seakan tak mau turun. Hati beku nan dingin ini mampu menjadi benteng pelindungku disaat aku berada di bawah titik terlemah sekalipun.
“Elias,” lirih Purnama, suaranya bergetar menahan tangis. Matanya meredup sayu saat mendengar ucapanku.
“Dan semua ini salah kakakmu, bermuara pada Edgar. Seandainya saja dia tak membunuh orang tercintaku, mungkin saja kau takkan kusakiti, bahkan mungkin kita tak bertemu,” ucapku parau, menumpahkan semua isi hatiku.
Dengan gontai aku melangkah keluar kamar, tak ingin lagi berdebat dengan Purnama. Sekali lagi kutatap penuh luka pada Purnama yang diam mematung memandangku.
***
Mommy menatapku heran saat aku kembali berada di apartemennya.
“Ada apa ini, El. Kau tak pulang? Siapa yang menjaga istrimu?” tanya Mommy bertubi-tubi mengekoriku. Aku tak menggubrisnya, terus berjalan hingga tiba di kamar tamu dan membuka pintu. Mengempaskan kasar tubuhku di atas tempat tidur, sampai-sampai menimbulkan bunyi berderit di ranjang besi itu. Segera menutup mata dengan lengan tanganku.
“Mom, malam ini aku menginap di sini.” Kutatap Mommy yang masih berdiri berkacak pinggang, mendengus sebal akan tingkah gilaku.
“Apa!”
“Aku lelah, Mom. Besok saja aku menjelaskannya.” Aku beranjak bangun dan mendorong Mommy keluar dari kamar. Lamat kudengar Mommy berteriak di depan pintu yang kututup dengan kasar.
***
“Hoammm, pagi, Mom,” sapaku pada wanita cantik paruh baya duduk di depanku. Segera menyamankan butt-ku di atas kursi saat berada di ruang makan. Kulihat makanan sudah tersaji di atas meja. Kulirik sekilas Mommy yang memutar kedua bola matanya melihat tingkahku. Tiba-tiba Mommy memukul kepalaku dengan serbet.
“Aish, sakit Mom. Kenapa sih Mommy selalu memukul putramu sendiri,” sungutku sebal, meringis mengadu kesakitan.
“Salahmu sendiri, tega sekali meninggalkan istrimu sendirian.”
“Mom, aku menghukumnya karena dia berencana mau melarikan diri dariku,” jelasku sambil membuang napas kesal.
“Oh, ya?” Kedua alis Mommy terangkat ke atas, menatapku dengan lekat.
Aku hanya mengangguk tipis. “Dia berencana melarikan diri bersama pria selingkuhannya setelah menemui Edgar.”
“Kau yakin dia selingkuh, El?” tanya Mommy memastikanku.
“Yakin.” Aku mengangguk mantap. Mommy terdiam menatap lekat diriku yang sedang menyuap nasi goreng, kemudian menggelengkan kepalanya. Aku menatap heran Mommy. “Kenapa, Mom? Ada yang salah?”
“Jangan asal menuduh begitu, El. Nanti menyesal. Lagipula, apa kau tak curiga pada seseorang, terlebih orang kepercayaanmu sendiri?”
Aku mengerutkan dahi sesaat. “Curiga? Orang kepercayaanku?”
Mommy hanya mengangguk singkat. Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Mommy dariku. Aku hanya mengedikkan bahu. Mungkin hanya perasaanku saja.
__ADS_1
***
Aku menatap nanar pintu yang dibanting oleh Elias. Sayup kudengar langkah kaki keluar dari apartemen. Kuhela napas berat. Sesaat tadi, aku melihat kesedihan yang dipancarkan dari mata Elias, rasanya ada yang menusuk hatiku kala melihat sorot matanya.
Kukepalkan tangan, rasa kesal dan sedih bercampur jadi satu. Padahal baru saja aku mempunyai keberanian untuk melawannya, tapi rasanya kenapa hati ini menjadi ragu kembali. Tidak, aku kembali menggelengkan kepala. Demi bayi yang kukandung ini, aku harus kuat dan bertahan.
Dengan gontai, perlahan aku berjalan menuju jendela kaca, duduk termenung melihat ke bawah, dimana jalanan padat merayap---meski hari sudah malam. Memandang kosong, bahkan menatap ke atas, menghalau titik-titik air mata yang akan segera turun.
Dalam hati aku terus bertanya. Benarkah kak Edgar membunuh orang tua dan kekasih Elias?
***
Aku mengedarkan pandangan kala memperhatikan sekeliling restoran, mencari sosok Randy. Kami sudah berjanji untuk bertemu di restoran tradisional Cina. Tengah malam tadi, Randy mendadak kembali menelepon, membatalkan untuk bertemu di apartemen xxx yang dijanjikan. Entahlah, aku tak tahu ada alasan apa Randy membatalkan untuk bertemu di sana.
Aku tersenyum lega melihat sosok Randy yang melambaikan tangan. Berjalan menghampirinya, menggeser kursi dan duduk tepat di depannya. Tak lama para pelayan datang menyajikan hidangan masakan khas Cina.
“Kenapa tempat janjiannya diubah?” tanyaku langsung, setelah para pelayan tadi pergi.
“Makanlah dulu. Kau sangat pucat,” katanya tanpa menjawab pertanyaanku dahulu.
Kuhela napas berat, rasanya sudah tak sabar ingin bertemu dengan kak Edgar. Berbagai pertanyaan ingin kutanyakan padanya. Juga soal Randy, aku ingin bertanya pada kak Edgar, ada hubungan apa dia dengannya. Sudah beberapa kali aku bertanya pada Randy, tapi tak pernah menjawab pertanyaanku. Mulutnya seakan terkunci bila aku menanyakan soal kak Edgar.
Semenjak aku bertemu kembali dengan Randy dua bulan yang lalu. Dia selalu menghubungiku, menanyakan keadaanku. Sudah terhitung dua kali aku bertemu dengannya.
Pertama di restoran Italia, hingga terjadilah insiden aku masuk rumah sakit, karena kandunganku tiba-tiba saja sakit - terlalu tegang akibat Elias yang terlalu egois menanyakan soal foto.
Kedua, saat inilah. Bertemu di restoran Cina dan tak jadi di apartemen xxx. Tapi aku sedikit bersyukur, karena tak jadi bertemu di apartemen. Aku jadi teringat ancaman Elias semalam. Bahwa ia juga melacak keberadaan kakakku. Aku tak ingin kak Edgar ditangkap oleh Elias. Huft, maafkan aku Elias.
Kutatap Randy yang sedang mengisi mangkuk keramik kecil dengan sup ikan tuna. Kemudian menyodorkannya padaku. Kuteguk saliva, tiba-tiba saja aku menjadi lapar melihat sup yang mengepul panas. Segera kuseruput sup ikan tunanya.
“Kau baik-baik saja, Purnama?”
Selalu pertanyaan ini tanpa bosan Randy tanyakan padaku. Kuhentikan makanku dan menghela napas. Aku sudah berjanji, apapun yang terjadi dalam rumah tanggaku dan Elias, tak boleh ada yang tahu. Tapi sepertinya, meskipun aku tak mengatakannya - semua orang tahu. Terbukti, Intan dan kak Nila tahu, bahkan Randy juga tahu. Apa karena luka fisikku? Meski itu hanya samar tak kentara.
“Ya. Aku baik-baik saja, Dy” Akhirnya kujawab pertanyaan Randy dengan sedikit kebohongan di dalamnya, agar mengurangi rasa khawatirnya juga. Randy mengembuskan napas beratnya, kedua bola mata hitamnya menatapku tajam nan sendu.
“Kau tak pandai berbohong, Purnama,” gumamnya menyeruput kopinya.
Aku buru-buru menunduk. Maaf, Dy. Aku tak bisa jujur padamu.
“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa tempat janjiannya diubah?” lanjutku mengalihkan pembicaraan kami sebelumnya.
“Aku rasa tempat janjian kita sebelumnya telah bocor, terlalu berbahaya bagimu dan kak Edgar bertemu.”
Aku terkejut mendengar penjelasannya. Informasinya bocor? Siapa pelakunya? “A-apa kak Edgar baik-baik saja?” tanyaku cemas.
“Tak usah khawatir. Kak Edgar saat ini aman.”
Kuhela napas lega---meski masih sedikit rasa khawatir menyelimutiku. Aku ingat jelas, kemarin siang saat Randy menelepon mengatakan kalau kak Edgar sedang sakit.
“Dy, apa sakit kak Edgar parah?” tanyaku lagi.
Randy mengembuskan napas berat. Aku mengernyit kala melihat sikapnya seperti itu. Apakah dia menyembunyikan sesuatu? Kulihat dia menggeleng pelan.
“Tidak. Kak Edgar baik-baik saja.” Randy tersenyum paksa.
__ADS_1
Melihat senyum paksa Randy seperti itu, hatiku turun ketitik paling bawah. Meski Randy tak menceritakannya, sebagai saudara kandung kak Edgar, aku merasakan kesulitan yang dialaminya selama ini.
“Kenapa kau bisa ada di China juga, Dy?” tanyaku lagi.
“Karena memang aku menetap di China.”
“Eh? Bukankah selama dua bulan ini kau menetap di New York?” tanyaku ingin tahu--seakan Randy punya tujuan tertentu.
“Aku punya pekerjaan penting di sana,” jawabnya enteng.
***
Kusandarkan tubuhku ke belakang kursi. Menatap langit-langit ruangan kantorku. Sekarang ini aku lebih memilih masuk ke kantor cabang perusahaanku di China. Setelah sarapan pagi tadi, dengan tidak elitnya, Mommy mengusirku dari apartemennya. Mengatakan aku punya apartemen sendiri, bahkan istriku sedang menungguku.
Istriku? Mengingat kejadian semalam, rasanya sungguh berat untuk kembali ke apartemen setelah insiden kami cekcok mulut.
Melirik sekilas dokumen yang menumpuk, tak punya minat sama sekali untuk memeriksa dokumen bertumpuk itu. Mataku kembali menerawang ke atas. Apa yang dilakukan Purnama sekarang ini? Setelah semalaman aku meninggalkannya sendirian. Mengurut keningku yang tiba-tiba saja menjadi berdenyut, saat terlintas kembali kata-kataku yang terlontar begitu saja padanya semalam.
Aku menatap smartphoneku yang kucash barusan. Semalaman ini smartphone sengaja kumatikan dan kebetulan batere-nya habis dan tak kucash hingga siang ini. Memainkan pena di sela-sela jariku, kemudian menggigit benda panjang itu. Mengalihkan rasa galau di hatiku.
Apakah Purnama jadi menemui Randy siang ini di apartemen xxx?
Tapi kenapa tak ada kabar lanjutan dari anak buahku yang kusuruh untuk mematai-matai Purnama. Kenapa lamban sekali. Apakah mereka tak jadi bertemu? Kulirik sekilas smartphoneku kala ada SMS masuk. Itu dari Jeremy.
***
Aku memarkirkan mobil sportku ketika tiba di pelataran restoran China. Menghentikan mobilku tepat di samping mobil Jeremy. Kulihat ia menyenderkan tubuhnya dengan santai di kap mobil sport hitam metalik kesayangannya.
Jeremy menegakkan tubuhnya seraya tersenyum sumringah padaku. Aku mendengus, rasanya aneh saja melihat senyuman sumringahnya padaku.
“Apa yang kau ingin katakan padaku.”
“Sabar, kita makan dulu.” Jeremy terkekeh sembari menepuk bahuku pelan. Kuhela napas dan menurutinya, melangkah masuk ke restoran China.
“Sebaiknya jangan duduk di sana, El. Bagaimana kalau di sana saja?” Jeremy menunjuk meja di sudut ruangan.
Aku mendecak. Jeremy seperti perempuan saja. Semua tempat duduk sama saja. Ketika aku berbalik melihat sudut yang ditunjuk Jeremy. Mataku melotot tajam, gigiku gemerutuk. Rasanya aliran darahku naik ke ubun-ubun. Saat daya penglihatanku kumajukan selangkah di meja sudut. Ternyata Purnama dan Randy sedang asyik makan. Pantas saja anak buahku tak bisa melacak keberadaan mereka, ternyata tempatnya sudah berubah.
Sial. Ini benar akal bulus Randy untuk mengajak Purnama keluar. Apalagi aku tak melihat Edgar berada di sana---seperti yang dikatakan oleh Randy kemarin.
Mengepalkan kedua tanganku, tanpa sadar kakiku sudah melangkah menuju meja di mana keduanya berada. Rasanya, aku ingin memotong kepala seseorang. Sial. Kenapa Purnama berani melanggar perintahku dan terang-terangan menemui Randy.
“PURNAMA!"
==============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1