I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
LIMA


__ADS_3

“APA!!!” Bahkan aku dan Purnama serempak berteriak terkejut. Aku mendelik tajam kearah Nila.Ia hanya menyeringai. Oh, jadi ini rencananya.Ide bagus. Aku tersenyum tipis, setuju akan rencana Nila.


“Yeah, begitulah. Kalau dipikir kalian ini cocok juga.” Nila mengusap dagunya sambil memandang kami bergantian.


“Apa-apaan itu!” Aku dan Purnama kembali teriak bersamaan. Kamipun saling berpandangan, Purnama menundukkan kepalanya, tak berani menatapku lebih lama.


“Ha ha ha, tuhkan. Teriak saja kalian kompakan.” Nila memegang perutnya karena keras tertawa. Kulihat wajah Purnama semakin merona merah.


“Kak Nila, kenapa mesti aku yang menemani Elias.Kenapa bukan Kak Nila saja yang menemaninya.” Purnama menyela perkataan Nila. Nila menatap tajam Purnama.


“Karena aku menemani Sakti.Jadi, situan Benjamin ini tak ada yang menemani.Apalagi ia super sibuuuk, sekalipun tak sempat mencari pasangan. Dan lagian, aku tak sudi menemaninya.” Aku mendeath glare Nila. Nila hanya mengedikkan bahu, tak mengubrisku. Cih, kalau bukan misi balas dendam, mana mau aku pergi dengan gadis polos ini.


“Ta-tapi, Kak Nila ...” Purnama menggigit bibirnya, tampaknya ia bingung.


“Tak ada tapi-tapian,nona Bulan.Kau mesti menemani si tuan Benjamin ini. Lagian kalian kan sudah saling kenal,” jelas Nila memaksa. Purnama hanya mengangguk, membenarkan bahwa kami memang sudah saling mengenal. Dan sedari tadi aku hanya memperhatikan mereka berdua tanpa bersuara.


“Nah,karena nona Bulan sudah setuju.Untuk rencananya selanjutnya, kuserahkan pada kalian berdua,” kataNila riang sembari turun dari meja dan kembali mendudukan butt-nya dikursi. “Oh ya, satu lagi, kalian berdua boleh pergi, karena aku sibuk. Dan jangan lupa tutup pintunya, ya.” Nila berkata ringan sambil membuka majalah tanpa memperhatikan kami.


Aku berdecak sebal dan melemparkan bantal sofa ke Nila yang tepat mengenai mukanya, ia berteriak sebal.


“Rasakan,” ejekku sambil tertawa, kulirik Purnama ikut tertawa kecil.


“Ayo, Purnama.Kita out.Kalau lama-lama disini bisa-bisa kita berdua tak berbentuk,” ujarku meledek Nila.Nila semakin berteriak sebal. Kutarik tangan Purnama keluar dari ruangan sebelum Nila benar-benar mengamuk.


“Jadi,Purnama, kau mau menemaniku?” tanyaku memastikan  ucapan Nila tadi. Kami berhenti di undakan tangga. Purnama hanya mengangguk dan tak berani menatapku langsung, ia lebih memilih melihat kearah bawah.


“Oke. Besok malam kujemput jam delapan.” Putusku tanpa mendengarkan pendapatnya dahulu. Astaga. Aku tersentak kaget saat Nila menepuk bahuku dari belakang.


“Apa?” kataku berbalik menghadap Nila.


“Sebaiknya, kau mengajaknya malam ini berbelanja pakaian untuk pesta besok, sekalian mendekatkan diri satu sama lain.” Nila berbisik padaku. Aku hanya menganggukkan kepala, setuju akan idenya.


“Yuk, nona Bulan.” Nila menepuk bahu Purnama sambil berlalu.


“Nila menyuruhku untuk mengajakmu berbelanja pakaian.” Aku mencoba menebak pertanyaan yang ada dibenak Purnama ketika menatapku penasaran.


“Si-siapa yang bertanya.” Nila tergagap salah tingkah saat aku menebak dengan tepat pikirannya.


Aku terkekeh geli. “Terbaca dari wajahmu.”

__ADS_1


“ >_< ” Wajah Purnama semakin merona merah.


“Ikut aku.” Tanpa babibu lagi aku menarik tangannya menuruni tangga, sedangkan Purnama masih dalam fase blank dan penuh dengan rona wajah kemerahan.


 


 


 


 


🌹I'm Sorry To Hurt You 🌹


 


 


 


 


Aku memarkirkan mobil mewahku tepat di depan rumah mungil Purnama. Waktu masih jam delapan kurang. Janjiannya sih jam delapan tepat, tapi aku lebih suka menunggu sedikit, daripada telat. Sekalian mau melihat reaksi kakaknya, Edgar, saat melihatku mengajak adik tersayangnya keluar. Aku tau Edgar overprotektif terhadap Purnama.


Kuketuk pintu. Terdengar suara teriakan dari dalam. Tak berapa lama suara kaki melangkah mendekat dan perlahan pintu terbuka. Aku menyeringai senang saat yang membuka pintu adalah Edgar.


Edgar mendelik tajam ke arahku. Aku balik membalas tatapan tajamnya. Shit, siapa yang takut akan tatapannya itu.


“Siapa, Kak?” suara Purnama mengagetkan kami berdua dari acara saling tatapan tajam. Aku tersenyum sumringah melihat Purnama, Edgar berdecak sebal melihatku. Dan, well, aku tak peduli itu.


“Astaga, Elias. Aku belum selesai berdandan,” pekik Purnama kaget melihatku.


“Masuklah dulu.” Ia menarik pergelangan tanganku, melewati Edgar yang terpaku di tempat akan sikap Purnama terhadapku. “Tunggu sebentar, ya, takkan lama.” Purnama mempersilahkan aku duduk di sofa butut.


“Kak Ed, tolong temani Elias sebentar, ya,” tutur Purnama melesat ke kamarnya. Edgar berteriak menolak, tapi tak digubris oleh Purnama yang sudah tak ada lagi di depan kami.


Edgar melipat kedua tangannya di dada, dan berdiri angkuh di depanku.


“Apa yang kau rencanakan, ha!” bentak Edgar sinis. Aku menyeringai dan menatap tajam Edgar.

__ADS_1


“Rencana? Rencapa apa? Aku hanya mengajak adikmu yang polos itu untuk menemaniku. Dan pastinya kau sudah taukan, tak mungkin Purnama tak memberi taumu, mengingat dirimu overprotektif terhadapnya.” Aku menyeringai sinis. “Dan lihat sekarang, kau tak berdaya untuk melarangnya pergi bersama denganku.”


“Sialan, kau Benjamin.” Edgar menggeram dan mengepalkan tangan kanannya.


“See, benarkan apa yang kukatakan.”Aku tertawa puas. Edgar mencengkram jasku kuat hingga aku berdiri. Aku terpaksa menundukkan kepala--karena ia lebih pendek dariku--dan semakin menyeringai puas. Edgar mendelik, ia mendekatkan wajahnya padaku beberapa centi dan hembusan nafasnya menerpa wajahku.


“Kuperingatkan, ya! Jangan macam-macam dengan adikku atau ak---”


“Aku apa, ha!” Aku menantangnya. Ia semakin murka. ““Kalau kau sudah tau, tak usah banyak omong.” Edgar menyeringai puas. Aku melayangkan bogemku ke wajahnya, hingga ia tersungkur duduk di sofa, wajahnya tampak kebiruan, meski hanya samar-samar. Aku berteriak puas dalam hati.“Berengsek, kau Benjamin.” Ia berdiri, dan balik menyerangku untuk meninju. Tapi ia kalah gesit, aku memegang tangannya.“Kak Ed? Apa yang kalian berdua lakukan?” Suara Purnama dari belakang mengagetkan kami berdua.“Kita lanjutkan lain kali.” Aku berbisik pada Edgar dan melepaskan peganganku. Kemudian berbalik memandang Purnama. Seketika aku terpaku menatap Purmana, ia tampak luar biasa malam ini dengan gaun semi terbuka berwarna ungu, memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Senyumnya yang indah menghiasi wajah manisnya. Belum lagi bibirnya yang merah merekah membuatku ingin melumatya. Serta tubuhnya yang mungil membuatku ingin memeluknya---“Maaf, menunggu lama.”Kudengar Purnama berbicara namun tak ada jawaban dariku. Aku telah terhipnotis akan penampilannya. Purnama mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Ia menggigit bibirnya yang sedari tadi pandanganku tak lepas dari bibirnya. Sepertinya ia tau ke mana arah mataku.“Maafkan aku, El, kalau penampilanku jelek. Lebih baik aku ganti saja.” Purnama hendak berbalik, buru-buru aku mencegahnya. Kugapai tangannya hingga ia kembali menghadapku.“Tunggu---cantik.” Tanpa sadar keluar kata ini dari belah bibirku setelah sekian lama aku terpaku. Wajah Purnama bersemu merah. Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Kulirik Edgar yang sedari tadi memperhatikan kami. Ia memutar bola mata dan mendecakkan lidahnya. Aku tak peduli.“Tak usah ganti, yang ini sudah luar biasa---cepat, nanti kita terlambat. Aku tak ingin Jagat mengomel pada kita.” Kugenggam tangan mungil Purnama yang pas dengan tanganku.“Ed, aku pinjam Purnama sebentar malam ini.” Dengan berat hati dan tak rela, kurendahkan suaraku serta sedikit membungkukkan tubuhku, berlaku sopan pada Edgar.  Tampak Edgar geram akan tingkahku, kulirik Purnama yang menggigit bibirnya melihat reaksi Edgar. Sepertinya Purnama sudah diperingatkan oleh Edgar atas diriku.===========Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.    


“Kalau kau sudah tau, tak usah banyak omong.” Edgar menyeringai puas. Aku melayangkan bogemku ke wajahnya, hingga ia tersungkur duduk di sofa, wajahnya tampak kebiruan, meski hanya samar-samar. Aku berteriak puas dalam hati.


“Berengsek, kau Benjamin.” Ia berdiri, dan balik menyerangku untuk meninju. Tapi ia kalah gesit, aku memegang tangannya.


“Kak Ed? Apa yang kalian berdua lakukan?” Suara Purnama dari belakang mengagetkan kami berdua.


“Kita lanjutkan lain kali.” Aku berbisik pada Edgar dan melepaskan peganganku. Kemudian berbalik memandang Purnama. Seketika aku terpaku menatap Purmana, ia tampak luar biasa malam ini dengan gaun semi terbuka berwarna ungu, memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Senyumnya yang indah menghiasi wajah manisnya. Belum lagi bibirnya yang merah merekah membuatku ingin melumatya. Serta tubuhnya yang mungil membuatku ingin memeluknya---


“Maaf, menunggu lama.”


Kudengar Purnama berbicara namun tak ada jawaban dariku. Aku telah terhipnotis akan penampilannya. Purnama mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Ia menggigit bibirnya yang sedari tadi pandanganku tak lepas dari bibirnya. Sepertinya ia tau ke mana arah mataku.


“Maafkan aku, El, kalau penampilanku jelek. Lebih baik aku ganti saja.” Purnama hendak berbalik, buru-buru aku mencegahnya. Kugapai tangannya hingga ia kembali menghadapku.


“Tunggu---cantik.” Tanpa sadar keluar kata ini dari belah bibirku setelah sekian lama aku terpaku. Wajah Purnama bersemu merah. Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Kulirik Edgar yang sedari tadi memperhatikan kami. Ia memutar bola mata dan mendecakkan lidahnya. Aku tak peduli.


“Tak usah ganti, yang ini sudah luar biasa---cepat, nanti kita terlambat. Aku tak ingin Jagat mengomel pada kita.” Kugenggam tangan mungil Purnama yang pas dengan tanganku.


“Ed, aku pinjam Purnama sebentar malam ini.” Dengan berat hati dan tak rela, kurendahkan suaraku serta sedikit membungkukkan tubuhku, berlaku sopan pada Edgar.  Tampak Edgar geram akan tingkahku, kulirik Purnama yang menggigit bibirnya melihat reaksi Edgar. Sepertinya Purnama sudah diperingatkan oleh Edgar atas diriku.


===========


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2