I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

“Masuk,” kataku tanpa melihat ke arah pintu. Kulirik sekilas dari sudut mataku, kepala Sakti menyembul dari balik pintu, lalu masuk dan menutup pintu di belakangnya.


“Tumben, kau masuk ketuk pintu dahulu. Biasanya kau dan Jagat langsung menyerobot masuk,”  sindirku pada makhluk tampan bergigi kelinci, sedang menyengir lebar di depanku. Tanpa kupersilakan, Sakti sudah duluan duduk di sofa dan mengambil minuman sendiri. Aku beranjak dari kursiku, segera bergabung. Menyilangkan kedua kakiku dan menatap wajah Sakti.


“Kenapa kau tak datang menemuiku, El. Sudah seminggu kau berada di New York, sama sekali tak memberi kabar pada kami. Bahkan aku tahu perusahaanmu bermasalah dari televisi,” ujar Sakti dengan nada kesal.


Kuelus batang hidungku. Memang benar, sudah seminggu ini aku berada di New York tanpa memberi tahu mereka. Aku terlalu fokus mengembalikan stabilitas perusahaanku, dan mengejar jejak Jeremy. Sampai sekarang belum ada kabarnya dari detektif bayaranku.


“Maafkan aku tak memberi kabar pada kalian. Soal perusahaanku, aku tak ingin kau terlalu khawatir,” jelasku.


Sakti mendesis. Meninju bahuku pelan. “Kalau soal tak memberi kabar, kau kumaafkan. Tapi sebagai teman dan saudara, aku wajib membantumu bila punya masalah, Elias. Apalagi ini menyangkut perusahaanmu yang juga rekan bisnisku.”


Aku mendesah samar, memandang lekat Sakti. Aku tak ingin membuat orang sekelilingku terlalu khawatir padaku.


“Ya, aku mengerti. Andaikan aku butuh bantuan, orang yang pertama kali kuhubungi adalah kau,” ucapku menenangkannya.


“Seharusnya memang begitu.” Sakti mengangguk setuju. “Bagaimana kabar Purnama? Karena tak sempat ke mana-mana, Nila selalu menanyakan kabar Purnama padaku. Maklumlah, punya anak bayi jadi repot dan tak sempat menjenguk ke rumah kalian.”


Aku mengelus alisku. Soal kabar istriku, aku selalu memantau keadaannya di Beijing lewat Edgar. Aku bersyukur, Purnama sudah sehat kembali dan baik-baik saja, bahkan melalui hari-harinya dengan ceria.


“Dia baik-baik saja. Tapi saat ini Purnama masih berada di Beijing bersama Edgar,” jelasku. Sakti sesaat kaget tapi kemudian manggut-manggut. Tanpa kujelaskan lebih rinci, Sakti sudah tahu permasalahan kami.


 


 


 


***


 


 


Aku duduk di taman, beristirahat sejenak, menunggu Mommy yang membeli es krim di kedai tak jauh dari tempatku duduk. Aku menatap jalan setapak berbatu yang banyak dilalui orang. Hari demi hari kulewati dengan tenang di sini.


Sudah seminggu aku berada di Beijing tanpa dia. Hatiku merasa damai dan tentram. Meski ada sedikit rasa rindu pada orang itu. Ya, hanya secuil. Karena saat ini rasa marah masih mendominasi hatiku. Dia saja tak memberikan kabarnya di sana atau menanyakan keadaanku. Aku tak bisa berharap banyak padanya. Dari awal juga dia memang tak peduli pada keadaanku. Elias menikahiku pun karena dendam pada kakakku. Kembali aku mendesah, kedua tanganku mengelus perutku. Sekarang ini kandunganku berusia lima bulan.


Aku mencebik bila mengingat orang itu. Setidaknya peduli sama anak, bisakan? Dasar pria dingin menyebalkan. Awas saja bila dia datang menjemputku kembali. Akan kubuat sesulit mungkin.

__ADS_1


Kepalaku menengadah menatap langit cerah. Bagaimana kabar Randy? Sudah seminggu ini, selama aku tinggal di apartemennya, dia pergi entah ke mana, tanpa memberi tahuku sama sekali.


 


 


***


 


 


Aku memeriksa dokumen keuangan perusahaanku yang masih belum stabil. Bahkan aku belum bisa mengambil alih seluruh aset perusahaanku yang berpindah atas nama Jeremy. Kendati demikian, aku sudah bertindak cepat dengan membekukan seluruh akses data perusahaanku. Dengan begitu dia tidak bisa mengutak-atik aset perusahaanku.


Pandanganku beralih ke pintu. Tiba-tiba saja dibuka dengan paksa. Muncul Randy berdiri di depan pintu bersama Christine, sekretarisku yang berusaha menghalau Randy, dengan kedua tangan terentang menahannya masuk. Tapi dengan tubuh Randy yang tinggi, dia dengan mudahnya masuk tanpa halangan.


Wajah Christine memucat di depan pintu. Dia sangat tahu bahwa tak ada seorang pun bisa masuk ke ruanganku tanpa seizinku dahulu, terkecuali dua makhluk dari planet tak jelas yang sering menggangguku – Sakti dan Jagat.


“Ma-afkan saya, Presdir. O-rang ini memaksa masuk,” ucap Christine terbata-bata dengan menatap Randy. Menyandarkan tubuhnya ke daun pintu serta menyilangkan kedua tangannya dengan cuek. Aku menghela napas. Berarti tanpa sadar Christine telah melalaikan tugasnya sebagai sekretarisku. Aku mendesis kesal, menatap Christine dengan wajah dingin. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya, takut.


“Pergilah,” ucapku dengan mengibaskan tangan.


Christine mengangguk. Bergegas menutup pintu. Soal menghukum Christine nanti saja. Aku lebih tertarik pada ******** tengik ini. Ada alasan apa dia berani datang jauh-jauh ke tempatku. Kupikir dia berada di Beijing.


Randy berdeham dengan suara keras, jemarinya mengetuk mejaku sangat keras. Akhirnya kutatap mata hitamnya, menunjukkan seringain mengejek.


“Ada apa, hum? Bukankah kau seharusnya berada di sisi Purnama setiap saat, dan bukan berada di sini,” sindirku menohoknya. Ya, dialah selama ini yang menggantikan posisiku berada di sisi Purnama, ketika Purnama marah padaku.


Randy menggeram kesal dan mendecih. “Bukan urusanmu! Lagian seharusnya, yang berada di sisi Purnama setiap saat itu adalah kau, suaminya. Perlu diingat itu, tuan Benjamin yang dingin.” Randy memajukan sedikit wajahnya menghadapku. Dia menyeringai sinis.


Tanganku bergetar. Memang benar, ejekannya telak menghantam ulu hatiku. Pintar juga ******** tengik ini membalikkan keadaan. Aku hanya tersenyum kecil, menatap datar wajahnya, tampak kesal akan reaksiku yang tak terpancing. Well, salah satu keahlianku selama aku bernyawa, yaitu menampakkan wajah dingin tanpa ekspresi. Aku pandai mengatur emosiku agar tak terlihat di wajahku.


Aku menopangkan kedua tangan ke dagu dan menaikkan sebelah alisku. “Ada gerangan apa kau kemari,” ucapku tanpa basa basi lagi.


Randy memundurkan tubuhnya, bersandar sepenuhnya ke kursi. Menyilangkan kedua tangannya di dada. Menatap wajahku dengan serius. “Aku punya informasi penting buatmu.”


Informasi? Tumben dia memberikan informasi padaku. Benar-benar laki-laki aneh.


“Katakan!” sergahku dengan nada memerintah tanpa bertanya. Aku tak mau berbelit-belit dan berbasa basi.

__ADS_1


Randy mendengus. “Kau memang pintar membuat orang kesal, Elias. Benar-benar sifatmu. Pantas Jeremy selalu terpancing emosinya bila berkata denganmu.”


Aku hanya mengedikkan bahuku acuh, tak tertarik mengomentarinya. Randy menarik napasnya sebentar, dan memulai berbicara serius. Menatap kedua bola mataku.


“Aku tahu tempat persembunyian Jeremy saat ini,” katanya.


Aku menegang dan terdiam sejenak mendengar informasi penting ini. Randy tahu tempat persembunyian Jeremy? Menaikkan sebelah alisku. Menatap Randy dengan tajam dan sengit.


“Jangan main-main, Randy. Aku bisa menghabisimu saat ini juga,” ancamku serius. Aku tak ingin main petak umpet saat ini. Aku butuh informasi yang benar-benar akurat untuk mengetahui keberadaan Jeremy. Tak ada waktu membuat tipuan padaku.


Randy kembali mendengus. Dengan kasar mengusap dagunya. Berdecak sinis. “Kau pikir aku ini anak kemarin sore, ha! Aku serius! Itupun bila kau setuju. Lagipula tak ada untungnya juga buatku menangkap Jeremy. Dahulu itu karena kak Edgar yang terlibat karenamu, makanya aku masuk kelingkaran masalahmu. Tapi sekarang ... you know. Aku tak peduli. Hanya saja--ah, lupakan. Kembali pada pilihanmu, terserah,” ucapnya panjang lebar dengan berapi-api. Sesaat raut wajahnya sedikit sedih, tapi kemudian beralih normal kembali. Sepertinya Randy menyembunyikan sesuatu.


Wajahku melunak mendengar penjelasannya. Tapi, kalau tak ada untung buatnya, kenapa mau memberikan informasi besar ini padaku?


Apakah ini jebakan?


Sesaat menghirup udara segar, memenuhi paru-paruku. Mengambil beberapa pertimbangan penting. Mengetukkan jari-jariku ke atas meja. Mata elangku menatap sengit Randy yang tampak biasa-biasa saja.


“Baiklah, katakan di mana Jeremy sekarang,” ucapku sedikit merendah pada akhirnya.


Randy menarik napas lega. Membenarkan postur tubuhnya. “Aku tak bisa mengatakannya padamu sekarang.”


Kembali menaikkan sebelah alisku, bingung. Tak mau memberikan alamatnya padaku? Jadi apa maunya pria tengik ini? Tadi dia bilang punya informasinya. Mengembangkan senyum sinis di wajahku. Mendekatkan wajahku padanya. Hampir menunduk kala menatap lekat wajah tampan Randy.


“Sebenarnya apa maumu, Randy. Katakanlah!” ucapku penuh penekanan.


“Tidak ada. Hanya saja aku tak ingin rahasia ini sampai bocor ke tangan orang lain.”


Aku menatap wajahnya dengan kesal, hampir frustasi. “Kalau kau tak memberikan alamatnya. Bagaimana bisa aku melacak keberadaan Jeremy. Sialan!” makiku, akhirnya kehilangan kesabaran. Randy berjengit mendengar umpatanku. Ya, aku hanya ingin segera mengakhiri masalah ini secepatnya, dan kembali ke Beijing merengkuh tubuh istriku.


“Baiklah. Aku akan menunjukkan tempatnya padamu. Tepatnya besok siang, aku akan kembali menemuimu di sini.”


Aku tertawa sinis. Jadi ******** tengik ini yang akan langsung mengantarku ke tempat persembunyian Jeremy. Mengapa? Kenapa dia peduli? Atau karena mencintai istriku, jadi dia repot-repot mengantarkanku? Atau ada hal lainnya?


Randy menggeram mendengar tawa sinisku. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatapku tajam.


“Jadi, tuan Benjamin. Apa keputusanmu?” tanyanya.


Aku mengedikkan bahuku, acuh. “Tentu saja. Asal bisa menangkap si berengsek Jeremy dan mengakhiri semua ini, aku tak keberatan pergi denganmu.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2