I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH TIGA


__ADS_3

Aku memberhentikan range rover-ku sesuai petunjuk Randy. Tepat di kawasan kota Manhattan, butuh waktu 20 menit sampai di sini. Mataku menatap tajam pada bangunan bertingkat tiga setengah tak terurus. Sebuah motel. Jadi selama ini Jeremy bersembunyi di sini.


Masih di dalam mobil, aku mendengarkan dengan seksama instruksi dari Randy. Aku tak ingin membuat kesalahan lagi, hingga Jeremy kembali lolos dari tanganku. Tapi, kali ini tidak akan.


“Kau paham, El,” tandas Randy mengakhiri penjelasannya. Aku mengangguk.


Kami bergegas masuk ke motel. Menyusuri lorong lantai dua motel ini. Kamar Jeremy tepat berada di ujung. Randy mengetuk pintu kamar Jeremy. Menyamarkan suaranya. Bepura-pura ada layanan kamar motel agar Jeremy membuka kamarnya. Sedangkan aku bersandar di dinding dengan pistol yang telah kusiapkan untuk melumpuhkannya.


Pintu terbuka. Dengan sigap aku dan Randy menerjang masuk. Kutendang tubuh Jeremy hingga terjengkang ke belakang. Aku menyeringai. Dia mendelik tajam saat kuarahkan moncong pistolku tepat di kepalanya. Jeremy meneguk ludahnya. Benar apa yang dikatakan Randy, saat ini Jeremy hanya sendirian tanpa anak buah di sampingnya.


Aku terkekeh sinis. “Apa kabar, Jeremy. Lama juga kau menghilang,” sindirku basa-basi sambil menggerutukkan gigi. Betapa hatiku dipenuhi dengan amarah.


“E-Elias, ki-ta bisa bernegoisasi,” ucap Jeremy terbata dengan tubuh gemetaran. Ia mundur beberapa langkah. Aku semakin maju, tak memberinya kesempatan lagi untuk berlari. Orang ini penuh dosa padaku, membunuh kedua orang tuaku, Kalina, kedua orang tua Edgar dan Purnama, juga mengkambing hitamkan Edgar denganku.


Dengan susah payah Jeremy berdiri, tubuhnya disanggahkan ke sisi jendela; tanpa sekat apapun. Aku semakin menggeram dan naik pitam saat Jeremy tiba-tiba menyeringai. Tanpa peringatan lagi, segera kutembak kakinya. Sengaja menembak kakinya agar tak bisa kemana-mana lagi. Serta membuatnya lebih menderita, merasakan bagaimana sakitnya aku selama tiga belas tahun ini.


Jeremy mengerang kesakitan. Kakinya mengeluarkan banyak darah. Dia menatapku penuh amarah. Aku berdecak.  Dia marah? Seharusnya disini akulah yang berhak marah padanya


Lagi kutembak Jeremy tepat di dadanya. Dia berteriak kesakitan. Teriakannya tak membuat hatiku goyah. Hatiku telah membeku akan ulahnya sendiri. Jeremy terkekeh disela-sela rasa sakitnya. Suaranya hampir teredam, kendati demikian dia masih mau menantangku.


Entah karena kelengahanku saat menikmati kesakitannya. Tiba-tiba saja, tanpa kusadari Jeremy menembak balik hingga pelurunya tepat mengenai perutku. Aku meringis kesakitan bersama pistolku yang terlepas dari tanganku. Aku terduduk. Beruntung, peluru dalam pistol Jeremy hanya satu kali saat kudengar ia mengumpat keras.


“Sialan. Dasar pistol tak berguna!” umpatnya membanting pistolnya ke lantai.


“Elias.” Randy bergegas menghampiriku manakala melihatku terluka. Dia menggeram marah pada Jeremy dan mulai menarik pelatuk pistolnya. Akan tetapi langsung kutahan. Randy menatapku dengan bingung. Aku menggeleng.


“Biarkan aku yang mengakhiri semua ini. Biarkan tanganku yang ternoda untuk membunuh orang gila ini,” ujarku penuh amarah. Sambil menahan rasa sakit di perutku, kembali kutembak Jeremy beberapa kali, hingga tubuhnya tak bergerak lagi.


Aku beringsut mendekati tubuh Jeremy. Memastikan bahwa tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Aku menyeringai puas melihat tubuh kakunya. Bernapas lega. Akhirnya, permasalahan ini selesai juga.


Sayang, tunggulah. Aku akan menjemputmu, teriakku dalam hati dengan perasaan gembira. Saat aku memasukkan kembali pistol ke saku jas. Tanpa kusadari, saat aku lengah, tiba-tiba saja Jeremy yang kupikir telah mati. Berdiri di depanku sambil menyeringai dengan wajah penuh darah.


“Elias, mari kita mati bersama dan menuju ke neraka bersama.”


Sepersekian detik saja, tubuhku melayang bersama Jeremy. Menembus jendela tanpa sekat apapun. Samar kudengar Randy berteriak panik memanggilku disusul dengan suara lantang debaman tubuhku dan Jeremy menghantam jalan aspal. Semuanya berputar. Sebelum aku menutup mata, melintas wajah istriku yang tersenyum manis padaku ketika menatapku.


Purnama ...


 

__ADS_1


 


***


 


 


“Bagaimana keadaannya, Randy?” tanyaku dengan raut wajah luar biasa cemas. Begitu pula dengan istriku, Nila.


Randy mendesah, kemudian duduk di kursi diikuti aku dan Nila juga duduk. Randy menggelengkan kepalanya. Sontak tubuh istriku menjadi lemas tak bertenaga kala mendengar jawaban Randy. Itu artinya Elias masih berjuang di dalam sana. Kutarik tubuh istriku ke dalam dekapanku, menenangkan isakannya yang mulai lolos dari celah bibirnya.


“Apa kau sudah menghubungi Tante Cinthya?” tanyaku sambil menepuk-nepuk punggung Nila yang masih bergetar menangis. Mataku menatap Randy yang tampak lemas, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Randy menganggukkan kepalanya tak semangat.


“Ya, Aunty dalam perjalanan kemari. Untuk Purnama ... aku belum menghubunginya, mungkin sudah diberi tahu oleh Aunty, atau belum sama sekali,” jelasnya tertunduk lemah sambil menggigit bibirnya.


“Soal Purnama nanti saja. Tunggu sampai Elias sadar. Elias pernah berpesan padaku, apapun yang terjadi padanya, jangan beritahu Purnama dulu. Ia khawatir akan keadaan Purnama yang hamil,” kataku.


Randy menatapku sejenak. Menghela napasnya. “Baiklah, kalau itu maunya Elias.”


Saat aku dan Randy tengah berbincang, kami diinterupsi oleh seorang dokter kebangsaan Amerika. Aku dan Randy saling berpandangan ketika mendengar dokter menanyakan perihal kartu identitas yang ternyata itu milik Jeremy.


“Sebaiknya apa yang kami lakukan dengan jenazah itu, tuan Sakti?” tanya dokter.


Aku berpikir sejenak. Mengingat Elias pernah berhubungan baik dengan Jeremy, walau Jeremy juga berbuat jahat. Elias juga takkan sampai hati bila ditelantarkan begitu saja mayat Jeremy. Akhirnya kuputuskan Jeremy dimakamkan secara baik-baik oleh pihak rumah sakit. Terserah mau dimana saja dimakamkan. Aku tak mau tahu.


Selang dua jam kemudian, ruang ICU terbuka.


“Keluarga pasien?” tanya sang dokter menghampiri rombongan kami.


Aku berdiri, segera menjawab pertanyaan dokter. “Saya wakil dari keluarganya.”


 


 


***


 

__ADS_1


 


Aku memandang lekat Elias yang masih memejamkan matanya. Beberapa kali aku mendesah setelah keluar dari ruangan dokter yang menangani Elias. Penjelasan dokter tadi membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan tubuhku pun masih gemetaran.


Kupegang erat tangan Elias. Mataku memperhatikan lekat tubuhnya, penuh dengan alat-alat medis; menyambungkan hidup Elias saat ini.


Nila menepuk pelan bahuku, lantas menyeret kursi, duduk di sebelahku. Kualihkan pandanganku pada istriku. Matanya begitu lekat menatap tubuh Elias. Dari sorot matanya, ia miris melihat sepupunya jadi seperti ini.


“Apa yang dikatakan dokter tadi?” tanyanya. Kulirik sekilas pada Randy, menegakkan tubuhnya di sofa, ingin mendengar keadaan Elias juga.


Kuhirup udara dan melepaskannya perlahan, mataku tak lepas menatap Elias.


“Mengingat Elias jatuh dari lantai dua, yang langsung mengempaskan tubuhnya. Dia koma. Mungkin akan sadar seminggu atau lebih buruknya, sebulan lagi, bahkan beberapa bulan. Tergantung respon dari tubuhnya,” jelasku dengan suara serak. Tak sanggup membayangkan bila Elias terbaring koma selama beberapa bulan.


Nila menutup mulutnya. Airmatanya tumpah. Randy pun demikian, termangu mendengar penjelasanku.


Randy menengadah saat kugenggam tangannya. Tak menyadari kalau aku telah duduk didekatnya. Lantas meremas tangannya begitu kuat, menatap dalam matanya. Randy sama terlukanya denganku dan Nila saat ini.


“Pesan Elias kemarin padaku. Kau harus kembali ke Beijing dan menemani Purnama di sana. Apapun yang terjadi, jangan sampai Purnama tahu keadaan Elias. Dia tak ingin terjadi apa-apa pada Purnama dan kandungannya,” ujarku sambil mengingat pertemuanku kemarin malam dengan Elias. Dia datang ke rumahku dan menitipkan pesan aneh ini padaku. Ternyata inilah maksud ucapannya. Ia sudah menduga akan terjadi kemungkinan buruk padanya.


“Mungkin berita Elias akan menyebar ke seluruh dunia, mengingat Elias adalah salah satu pengusaha sukses. Pasti media mencari tahu tentangnya. Tadi sudah kuhubungi Edgar agar menjauhkan Purnama dari televisi dan berita apapun menyangkut soal Elias. Tugasmu menghibur Purnama, mengingat saat ini kaulah yang paling dekat dengannya, serta dipercaya olehnya,” imbuhku meminta pengertian.


Randy menunduk, menatap nanar lantai rumah sakit dan mendesah samar. Dengan lesu menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, sekarang pergilah. Soal Elias, biarkan aku dan Nila yang menjaganya disini. Juga sebentar lagi Tante Cinthya dan Om Robert akan datang. Jadi kau tak perlu terlalu khawatir,” ucapku dengan tersenyum kecil. Menepuk-nepuk pundak Randy, menegaskan tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


“Ya. Aku akan pergi. Jaga Elias disini demi Purnama, kak Sakti.”


“Tentu,” balasku.


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2