I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Aku menatap sekumpulan manusia keluar dari pintu kedatangan luar negeri, sama sepertiku. Berjalan santai menuju parkiran, di mana assistenku, Xiao Jin setia menungguku. Menghela napas lega, kala diriku dengan nyaman duduk di dalam kursi penumpang mobil seraya memandang ke luar jendela kaca. Menatap langit jingga di sore hari.


“Eum, tuan Benjamin sekarang mau ke mana? Langsung ke apartemen anda atau ke tempat nyonya Chintya?” tanya Xiao Jin. Melirik melalui kaca spion depan.


Kuambil note di balik saku jaket jeans-ku. Note yang menggantikan langsung mulutku berbicara. Hal rutin yang menjadi kebiasaanku, ketika suaraku hilang sementara dalam sebulan yang lalu. Lagipula untuk menjaga pemulihan suaraku agar cepat stabil.


Aku mencoret-coret sesuatu di note, lantas memberikannya pada Xiao Jin. Pria sipit ini mengerutkan keningnya setelah melihat catatanku, lalu memberikan kembali note-nya padaku. Sepertinya dia ingin berkata sesuatu, seperti tak yakin apa yang aku tulis. Tapi diurungkan niatnya, karena dia tahu aku bukanlah tipe orang yang suka main-main.


Mobil mulai melaju dengan tenang membelah jalanan kota Beijing menuju toko perlengkapan bayi. Dua hari yang lalu, aku menelepon Edgar, menanyakan seperti biasa kabar istriku. Edgar memberi tahuku bahwa saat ini Purnama sangat ingin berbelanja, tetapi selalu saja malas keluar apartemen. Mungkin bawaan perut buncitnya, jadi malas untuk bergerak dan melakukan apapun. Maka dari itu sebelum aku kembali ke apartemenku sendiri. Aku sudah berniat. Sesampainya menginjak Beijing lagi, aku akan mengunjungi toko perlengkapan bayi. Membeli segala keperluan Purnama, hanya yang penting-penting saja, sebab aku tak terlalu mengerti soal urusan bayi. Nanti kalau kami sudah berbaikan--aku menargetkan sebelum Purnama lahiran kami sudah berbaikan kembali--membeli perlengkapan bayinya berdua.


 


 


***


 


 


Mataku memicing menatap lekat papan nama yang tertera di atas pintu restoran tradisional yang diukir dengan kaligrafi huruf China setelah selesai membeli perlengkapan bayi. Kembali terlintas kenangan pahit di restoran ini. Dimana aku memergoki Purnama makan bersama Randy yang ternyata ingin bertemu dengan Edgar. Namun sayang sekali mereka tak bertemu, sebab keburu ditemukan olehku akibat hasutan Jeremy.


Lagi, rasa penyesalan merayap di hatiku, selalu berhasil menyiksa batinku. Aku menggeleng sesaat lantas melangkahkan kaki jenjangku memasuki restoran. Baru mau membuka pintu, tiba-tiba saja tubuhku terdorong ke belakang. Untung kakiku menjejak kuat di lantai hingga tak jatuh terjerembab. Mengelus dadaku, menenangkan jantungku yang berdegup-degup liar karena terkejut. Kutatap tajam orang yang telah menabrak dadaku. Dia Randy ...


Sepertinya Randy belum menyadari siapa yang ditabraknya. Mengusap-usap kepalanya. Ia meringis dan menengadah, lantas terkejut.


“Elias, kenapa bisa berada di sini? Bukankah masih di New York menjalani terapi?” serbunya bertanya bertubi-tubi sambil menelisik tubuhku, memperhatikan detail penampilanku.


Aku mengerling ke belakangnya. Tepatnya ke dalam restoran. Dahiku mengerut. Bertanya-tanya. Bersama siapa Randy di sini?

__ADS_1


“Ada Purnama di sini.” Seakan tahu apa yang kupikirkan Randy berkata.


Aku membelalak terkejut. Tak berapa lama pandanganku meredup. Ada rasa bahagia dan rindu memenuhi dadaku. Tiba-tiba Randy menyeretku yang masih terpaku, buru-buru masuk ke mobilnya.


“Kenapa kau bisa berada di Beijing bukan di New York?” tanya Randy mengulangi perkataannya tadi.


Aku menarik napas tak kentara. Berdeham agar suaraku bisa stabil. “Aku ingin menjemput Purnama kembali.”


“Bukan itu yang kutanyakan,” sanggahnya mengerutkan dahi. “Bukankah kau masih sakit? Mengapa terburu-buru sekali datang kemari?” jelasnya lebih lanjut. Irisnya jatuh ke tanganku yang menuliskan sesuatu di note, lantas kusodorkan padanya. Aku masih merasa sakit untuk mengeluarkan suara terlalu banyak, maka dari itu, aku lebih nyaman menuliskan ucapanku.


Randy menaikkan salah satu alisnya, menatap lekat mataku yang telah kulepas kacamata hitamku, lalu beralih pada note di tangannya, segera membacanya.


[Aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi. Sebentar lagi Purnama akan melahirkan, setidaknya aku berada disisinya ketika nanti dia melahirkan. Dan, kenapa Purnama juga berada di sini?]


“Oh, itu,” Randy menghentikan ucapannya, sudut bibirnya tertarik ke atas - menyeringai tipis. “Kau cemburu padaku, bila kami sedang berkencan?--Aw! Sialan!” umpat Randy mendapatkan hantaman kecil di perutnya. Aku meninjunya.


“Tolong serius sedikit, Dy,” ujarku dengan raut muka serius.


Randy mendengus. “Sebelum pergi berbelanja perlengkapan bayi, kami berencana makan dahulu di sini.” Irisnya menatap ke luar jendela mobil, tepatnya ke mobilku. Lalu beralih menatapku kembali. “Dan kau sendiri?” lanjutnya sambil meremat selembar note di tanganku lantas membuka kaca jendela mobil. Membuang note tersebut. Matanya mengikuti note yang telah melayang tertiup angin, entah kemana perginya. Lalu meraih note baru yang disodorkan olehku kembali.


[Barusan saja aku dari toko perlengkapan bayi. Kesini ingin mengisi perut sebentar.]


“Kalau begitu, Purnama tak jadi pergi membeli perlengkapan bayi.” Randy tersenyum tipis yang langsung diangguki setuju olehku.


“Kau ingin melihat Purnama sekarang atau tidak?” tanyanya


Aku mengangguk, menatap sayu ke depan, tepatnya ke dalam restoran. Hatiku memang rindu berat, tapi apakah istriku mau melihatku kembali? Namun demikian, aku tetap ingin menemuinya. Apapun hasilnya itu.


“Masuklah, El.” Randy menepuk bahuku. Aku menurut, membuka kenop pintu, tetapi sedetik kemudian kembali menghadap Randy saat teringat sesuatu.

__ADS_1


Randy menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya ‘ada apa lagi?’


"Kamu sendiri?" tanyaku.


Randy terkekeh kecil. “Tak usah dipikirkan. Aku bisa menunggu di mobil, kebetulan ada makanan. Jangan khawatir.” Dia mendorong lembut tubuhku keluar dari mobil.


“Tunggu sebentar, Elias,” panggilnya lagi. Aku berbalik menatapnya. Dia menongolkan kepalanya di jendela. Kedua alisku terajut ke atas dengan raut bertanya.


“Ambil ini, dan berikan pada Purnama.” Randy memberikan bungkusan--entah apa isinya--ke tanganku. Aku memperhatikan lekat bungkusannya dengan raut muka bertanya-tanya. “Itu botol sirup untuk Purnama, tadi dia membelinya karena mengeluh pusing. Dan rencananya akan diminumnya sambil makan di restoran ini,” jelas Randy menjawab kebingunganku.


Aku mengangguk dan menggenggam erat bungkusannya. Dengan langkah tak sabaran aku melangkah, memasuki restoran menemui istriku di sana. Mataku berkeliling melihat sekitar restoran. Dan menemukan apa yang kucari. Pandanganku menyayu menatap Purnama yang memunggungiku. Hanya dengan sekali lihat, aku bisa mengenal istriku dengan baik dari belakang. Ingin rasanya tubuh ini bergerak mendekap tubuhnya, menyalurkan segudang rasa rindu yang hampir dua bulan tak bertemu dengannya.


Dengan hati mengembang bahagia, senyum tercetak jelas di wajah, aku melangkah dengan pasti menuju ke arah istriku. Bibirku bergetar ingin memanggil namanya, bahkan bila perlu terteriak di restoran ini. Tapi apalah daya, suaraku masih agak sakit bila berteriak.


Dadaku berdebar kencang saat sudah berdiri di belakangnya. Samar  aku bisa mencium wangi harum vanilla yang menguar di tubuh istriku. Menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengembuskannya perlahan. Menenangkan debaran jantungku, berdentum-dentum seakan ingin keluar dari dada ini. Begitu kompleksnya setelah berada di sekitar istriku.


Kucondongkan tubuhku, seakan mendekap erat tubuhnya, pelan kuletakkan botol sirup tepat di sampingnya. Mengundangnya mendongak. Matanya membulat melihat wajahku yang hampir bersentuhan dengan wajahnya - hanya beberapa senti saja jarak wajah kami berdua. Bahkan aku bisa merasakan hembusan napas lembutnya menerpa wajahku.


“Elias?”


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2