![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku memandang sekeliling kamar, melihat pakaianku dan pakaian Purnama berserakan di lantai. Tanpa sadar aku tersernyum---entah keberapa kalinya semenjak semalam aku tersenyum senang. Kurasakan perut buncit Purnama yang menempel erat dengan tubuhku - tanpa sehelai benang pun. Kuusap tubuh bagian belakang Purnama, sementara tangan yang satunya lagi sibuk membelai bibir plumnya yang sedikit terbuka.
Purnama menggeliat atas perlakuanku, tapi tak sampai mengusik tidurnya. Kembali kukecup bibir plumnya yang membengkak akibat perlakuanku semalaman ini.
“Selamat pagi, Sayang.” Aku menyunggingkan senyuman lebar saat Purnama mulai terusik dari tidurnya.Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap mata bulatku ketika kami saling berhadapan.
“Eh? Pagi, El. Jam berapa sekarang?” tanyanya dengan suara serak.Sepertinya masih mengantuk akibat kegiatan kami semalaman ini.
“Jam tujuh, hoammm,” jawabku sambil menguap dan melirik sekilas jam beker di atas nakas.
“Jam tujuh?” Mata Purnama membelalak.“Kau tak berkerja, El?” Purnama beranjak bangun, tapi langsung kutarik tangannya hinggga tubuhnya berada diatasku. Sedikit geli saat perut buncitnya menyentuh perut kerasku.
“Aku malas ke kantor hari ini,” kataku dengan nada malas.
“Tumben kau malas,” gumam Purnama tak percaya. Selama kami hidup bersama, Purnama tak pernah melihatku telat bangun. Apalagi sampai malas ke kantor.
“Kekayaan keluarga Bowman takkan bangkrut hanya karena aku libur satu hari,” kataku dengan sedikti nada angkuh sambil mengedipkan mata padanya.
“Ish, sombong,” cibir Purnama dan mencubit perutku
“Sayang, sakit,” protesku meringis berpura-pura sakit.
Purnama mempoutkan bibirnya, kemudian mengusap perutku lembut. Aku hanya tersenyum melihat perlakuannya - selalu manis. Membalikkan tubuhnya hingga menjadi back hug.
Maafkan aku, Purnama, ujarku dalam hati, masih tak bisa mengungkapkan permintaan maafku secara langsung padanya. Mengeratkan pelukanku, menyesap aroma vanilla saat aku membenamkan wajahku ke bahu sempitnya, mengecupnya berulang kali hingga banyak tanda kissmark berwarna merah hati, sepertinya takkan hilang dua hari kedepan tanda ini.
“Uh, El. Aku mau buat sarapan untuk kita berdua.” Purnama menepuk tanganku di perutnya, bahunya ia gerakkan hingga kepalaku ikut bergerak mengikuti arah bahunya. Aku menggelengkan kepala.
“Aku masih ingin seperti ini, Sayang. Lagian bukan untuk kita berdua tapi kita bertiga,” godaku sambil mengelus perut buncitnya. Samar kuintip pendaran merah merona hadir di pipinya. Astaga! Jadi makin senang menggodanya.
* I’m Sorry To Hurt You*
“El, bisa berhenti sebentar menggangguku?” protes Purnama ketika kami berada di dapur. Kupeluk erat tubuhnya dari belakang dan mengelus perut buncitnya, sementara ia membuat adonan pancake. Aku menggeleng, dan malah semakin gencar mengecupi lehernya.
“El, hentikan, nnhhh.” Purnama mendesah, tak kuasa menolak seranganku. Aku terkekeh senang menggodanya.
“Elias,” rengek Purnama memohon dan menghentikan kegiatannya membuat pancake, tangan mungilnya mencubiti jariku yang mengelus perutnya. Aku semakin terkekeh.
“Baiklah,” balasku menyerah dan melepaskan pelukanku saat layar smartphone yang terletak di meja makan berdering - menandakan ada panggilan masuk. Mengecup sekilas bibirnya kemudian meraih smartphone dan menggeser tombol jawab. Sempat kulihat ID penelepon, Jeremy.
“Ya, Jim,” sapaku.
“Aku punya kabar penting tentang Purnama dan kakaknya,” ujar Jeremy langsung. Kulirik sekilas ke Purnama, lagi memanggang pancake. Aku berjalan keluar dapur, tak ingin Purnama mendengar pembicaraanku dengan Jeremy.
__ADS_1
“Aku mengerti. Aku segera ke kantor.” Kuputus sambungan telepon. Menghela nafas, kemudian berjalan menuju meja makan. Purnama sudah menungguku dan tersenyum manis. Mengecup kening Purnama sekilas dan menarik kursi. Kupandangi sajian di meja yang telah siap dua piring pancake dan segelas kopi untukku, serta susu hamil untuknya sendiri.
“Sayang, sepertinya aku kembali ke kantor setelah sarapan. Ada hal penting di kantor,” kataku usai meneguk kopi. Purnama hanya mengangguk tanpa perlu banyak bertanya.
* I’m Sorry To Hurt You*
Aku mengetukkan jemariku ke meja. Melirik arloji - hampir satu jam lamanya menunggu Jeremy dari waktu yang dijanjikan. Biasanya aku tak mau menunggu seseorang walau terlambat lima menit. Namun, karena ini menyangkut Purnama dan kakaknya, akhirnya aku mengalah. Beruntung aku menunggunya di kantor, jadi tak masalah mau menunggu berapa lamapun.
Aku menengok ke arah pintu. Orang yang kutunggu akhirnya muncul. Kepala Jeremy menyembul di balik pintu.
“Maaf, El, aku terlambat.” Jeremy masuk sambil menyengir lebar yang langsung dibalas olehku dengan tatapan dingin. Aku bersidekap didada dan memandangnya tajam.
“Dari mana saja kau. Kenapa baru menampakkan batang hidung, ha! Kalau bukan kau mengatakan soal Purnama dan Edgar, kau sudah tak bernyawa sekarang ini,” umpatku kesal dan melemparkan tatapan membunuh.
“Tenang, El. Sebelum kau menghabisiku, kau harus menghabisi seseorang terlebih dahulu,” balas Jeremy tenang membujukku. Ia melambaikan amplop cokelat yang berada ditangannya dengan mengibas-ngibaskannya di depan mataku.
“Apa itu,” hardikku.
Aku memicingkan mata pada Jeremy dengan memandang penuh tanya. Segera kuambil amplop cokelat itu dan merobeknya. Mataku membelalak, terkejut melihat isi amplop tersebut yang ternyata beberapa lembar foto ....
“Foto itu baru diambil dua hari yang lalu oleh mata-mataku," jelas Jeremy. Sejenak aku menatap Jeremy, mengalihkan perhatian sebentar dari foto yang sangat menyakitkan ini.
Hatiku berdenyut. Dada ini sangat sakit melihat adegan yang ada di foto itu. Tanganku mengepal seakan ingin meninju seseorang. Mataku menggelap menahan amarah.
“Adiknya sama saja dengan kakaknya, seperti ular. Ia juga akan mengkhianatimu dan menusukmu dari belakang, sama seperti yang dilakukan oleh kakaknya terhadapmu, El. Dan setelah kau bertemu dengannya, ia mungkin akan mengataiku yang tidak-tidak karena telah mematainya diam-diam....”
* I’m Sorry To Hurt You *
__ADS_1
Aku membanting pintu dengan sangat kuat, membuat Purnama dan beberapa maid di halaman belakang terkejut. Purnama terpaku melihatku penuh dengan amarah. Ia meletakkan pot bunga ke meja dan segera menghampiriku.
“El----”
“Ikut aku,” kataku dingin dan menyeret lengan Purnama, menaiki tangga menuju lantai dua, di mana kamar tidur utama tempatku dan Purnama berada.
Aku mendorong Purnama hingga ia terduduk di tempat tidur. Menutup pintu kamar dan berbalik menghadapnya. Aku menatapnya penuh intimidasi, Purnama hanya meneguk salivanya melihatku seperti ini.
“Jelaskan tentang foto ini!" kataku dengan gusar. Kulemparkan beberapa lembar foto yang kukeluarkan dari amplop dan melemparnya tepat ke wajah pucat Purnama. Fotonya berserakan di lantai. Purnama memungut beberapa lembar foto.
“Ini ....” Purnama terkesiap. Suaranya parau. Tangannya bergetar memegang foto itu saat melihat adegan dalam foto tersebut. Purnama sedang berpelukan dengan lelaki yang bernama Randy di restoran Italia. Lelaki yang bernama Randy itu---setauku diperkenalkan padaku saat sedang menghadiri pesta perayaan peringatan pernikahan Sakti dan Nila. Itu terjadi sekitar dua bulan yang lalu.
“E-El, aku ... aku bisa menjelaskan kejadian dalam foto ini.” Purnama mencoba menjelaskan, tangannya gemetar, matanya mulai berkaca-kaca.
“Sialan,” umpatku memaki tak jelas dan mengacak-ngacak rambutku. Kubuka jasku dan melemparnya asal, kemudian membuka beberapa kancing kemeja karena dirasa gerah hingga memperlihatkan setengah dada bidangku, lantas menggulung lengan kemeja hingga batas siku.
“Aku kecewa padamu, Purnama,” kataku terus terang dengan suara serak. “Kenapa kau mengkhianatiku, padahal baru saja aku ....” ...mulai mencintaimu dan menerimamu kembali, lanjutku dalam hati. Mataku memandangnya penuh luka. Sangat sakit serasa ditikam belati tajam. Aku meremas rambutku hingga menjadi sangat berantakan.
Purnama mulai terisak. Ia mengigit bibirnya. “Huks, El, ini tak seperti yang terjadi di foto itu.” Ia mencoba menjelaskan dan mulai berdiri, tangan mungilnya menggenggam kedua tanganku. Sorot matanya memancarkan kesedihan.
“Lalu seperti apa, ha. Dan untuk apa kau bertemu dengannya tanpa meminta izin dari suamimu! Kau menusukku dari belakang, Purnama,” cecarku sangat sakit. Kukibaskan dengan kasar tangannya dariku.
“Bukan seperti itu, El. Randy saat itu mengalami persoalan yang sangat serius dan mendadak ingin bertemu denganku. Tapi, aku sudah meminta izin padamu melalui kak Jeremy, karena kau tak mau mengangkat telepon dariku, huks,” jelas Purnama disela-sela isakannya.
Aku tersenyum sinis mendengarnya. Purnama pandai berkelit. Benar yang dikatakan Jeremy, nanti Purnama akan memfitnahnya. “Itu hanya alasanmu. Buktinya, Jim tak pernah mengatakannya padaku. Kau, jangan memfitnah Jim,” geramku.
Purnama menggeleng, tubuhnya mulai bergetar akibat isakannya yang keras, tangan kanannya memegang perut buncitnya.
“Dan kau, dengan beraninya berpelukan dengan lelaki sialan itu!” kataku penuh amarah.
Purnama mendongak, menatapku dengan air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang putih pucat. Ia meringis menahan sakit saat aku mencengkram bahunya dengan kuat. Purnama mengelus perutnya saat aku semakin meremat kuat bahunya. Sakit, pasti itu yang dirasakannya sekarang. Tetapi, aku tak peduli dengan keadaanya, karena hatiku juga terluka. Mataku kian menggelap menahan amarah.
“Kau salah. Aku tak sengaja berpelukan dengannya, aku---” Purnama tak melanjutkan ucapannya. Ia memegangi perutnya dan meringis. Tubuhnya sedikit tertunduk.
“Bohong! aku tak percaya pada penjelasanmu. Ternyata kau sama saja dengan kakakmu, licik,” sinisku. “Kau bersekongkol dengan kakakmu untuk menjatuhkanku. Iya, kan.”
Aku kembali menegakkan tubuhnya, hingga ia menatapku dengan lemah. Aku benar-benar tak peduli akan keadaaanya saat ini. “Katakan! Salahkah apa yang kuucapkan tadi,” geramku tajam.
“Sal---akhhhh.” Purnama merintih saat aku semakin kuat mencengkram bahunya. Wajahnya penuh dengan keringat dingin yang bercucuran hingga membasahi bajunya.
“Jawab aku, Purnama,” tekanku penuh penuntutan tanpa memperhatikan keadaannya.
Purnama hanya menggeleng lemah. “Ukh ... sa-sakit, El,” rintihnya menangis sambil memegangi perutnya. Tetapi, aku menutup mata hatiku. Sangat tak peduli dengan keadaannya ....
“Astaga, Purnama.” Aku terkesiap saat tubuh Purnama limbung jatuh ke lantai. Ia pingsan.
“Tidak.” Aku panik saat melihat darah merah segar mulai keluar disela-sela pahanya, hingga membasahi kaus besar yang semula berwarna biru muda berubah menjadi warna darah pekat. Wajahnya awalnya pucat kini makin membiru.
“Kumohon, Purnama. Bertahanlah.”
===================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1