I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

Aku mematikan shower, mengambil handuk, dan melilitkannya ke tubuh bagian bawahku. Rasanya segar bila sudah mandi. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Setidaknya aku bisa memeluk dia sepuasnya saat tidur. Lalu aku bangun lebih dulu darinya sebelum ketahuan olehnya.


Kuambil gawaiku yang tergeletak di meja rias. Mengecek beberapa pesan masuk. Salah satunya dari Mommy. Pesannya berisi tentang apakah aku berhasil membawa Purnama pulang ke apartemen. Kalau berhasil ia menyuruh kami berdua main ke apartemennya. Setelah menjawab pesan Mommy. Aku melihat pesan-pesan lainnya yang belum kubaca.


“Gyaaa...”


Suara teriakan terkejut di ambang pintu membuatku sontak mengalihkan perhatian dari smartphone ke sumber suara. Buru-buru melangkahkan kakiku lebar-lebar menuju istriku yang menutupi wajahnya dengan tangannya.


Langsung saja kuguncang bahunya menanyakan keadaannya. Sungguh teriakannya membuatku khawatir. “Kau baik-baik saja, Sayang? Apakah terjadi sesuatu dengan kandunganmu?” tanyaku cemas, menelisik seluruh tubuhnya. Memeriksanya dengan teliti.


Purnama menurunkan kedua tangan dari wajahnya. Wajahnya terlihat memerah tomat. Dia...malukah?


Purnama menggelengkan kepala. “Tak terjadi apapun, hanya saja--” Dia tak meneruskan kata-katanya. Mataku mengikuti ke mana arah ekor matanya melihat. Aku berdeham. Ternyata irisnya tertuju ke tubuhku. Tepatnya bagian bawahku yang hanya tertutupi dengan handuk saja. Sudut bibirku melengkung ke atas. Menyeringai. Ternyata istriku malu melihat tubuh menggodaku. Aih lucu dan menggemaskannya istriku. Semakin tak sabar untuk memakannya.


“Kenapa pintunya tak dikunci he!” Teriakan Purnama sukses membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan sadar seketika. Kutatap lekat wajah istriku yang semakin memerah pipinya. Perlahan bibirku menunjukkan smirk berbahaya. Berniat menggodanya.


“Sayang, kenapa malah menyalahkan pintu yang tak kukunci. Lagipula di apartemen hanya ada aku dan kamu. Sedang Edgar takkan tertarik masuk ke kamar kita. Jadi, buat apa menguncinya? Bukankah kau istriku. Hal biasa melihat suami bertelanjang dada. Bukankah kita pernah melakukan hal intim. Buktinya tuh di perutmu,” godaku terkekeh senang sambil menunjuk perut buncitnya melalui isyarat mataku.


Buru-buru kubasahi tenggorokanku dengan saliva. Masih terasa sakit saat berbicara panjang lebar seperti tadi. Apalagi terlambat meminum obatnya, hingga reaksi obat tersebut belum berjalan seratus persen dalam tubuhku.


Purnama berdecak. Menatap tajam padaku. Walaupun begitu, dia tak bisa lagi menyembunyikan dariku semburat merah jambu yang memenuhi seluruh wajahnya akibat godaanku. Entahlah, pagi ini rasanya sangat cerah begitu melihat ekspresi wajah manis istriku. Sudah berapa kali dia kugoda, hum.


“Tetap saja ditutup pintunya. Bisa kan,” kilahnya kehabisan kata-kata berusaha berbalik menyerangku. Hanya kekehan kecillah keluar dari mulutku, menanggapi perkataannya. Ekor mataku mengikuti ke mana istriku bergerak. Mengambil smartphonenya yang tergeletak di ranjang. Tanpa berkata apapun dia berjalan melewatiku begitu saja. Keluar dari kamar, masih dengan wajahnya yang memerah merona. Uh, benar-benar menggemaskan istriku.


 


 


***


 


 

__ADS_1


Aku melirik pada gawaiku yang bergetar nyaring di dekat laptop. Setelah mandi tadi aku kembali meneruskan pekerjaan. Lebih memilih bekerja di rumah, dan mengontrol semua pekerjaanku melalui internet. Aku tak berniat masuk ke cabang perusahaanku di Beijing dalam beberapa hari ke depan. Saat ini aku lebih memprioritaskan istriku. Sangat mengkhawatirkannya mengingat dia hamil besar dan tak ada yang menjaganya. Serta kesehatan Edgar. Kondisinya juga sama gawatnya. Bagaimana bila ia kolaps mendadak ketika aku tak ada disini.


Deringan di gawaiku kembali menyadarkanku dari lamunan. Kugeser tombol jawab, sebelumnya melihat ID penelpon, ternyata dari Randy.


“Kenapa, Dy?” tanyaku langsung, seperti biasanya tanpa basa basi.


“Elias, kau di mana sekarang ini?”


Dahiku mengerut mendengar nada suara Randy. Tampaknya dia khawatir sekali, terbaca dari suaranya yang begitu berat serta deru napas tak beraturan.


“Di apartemen. Kenapa memangnya?” tanyaku.


“Di apartemen? Terus kenapa Purnama meneleponku, dan memintaku membelikan tiket untuk pulang ke Indonesia...”


Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut dari Randy, buru-buru kumatikan sambungan telepon. Bergegas melihat keadaan istriku. Mencegahnya untuk pulang ke Indonesia di tengah kandungannya yang tinggal menghitung hari saja. Terlalu riskan untuk bepergian menaiki pesawat. Aku takut terjadi apa-apa padanya dan bayi kami.


Aku berjalan tergesa-gesa menuju kamar utama. Aku yakin saat ini Purnama sedang mengepak barangnya ke koper. Dan benar saja dugaanku kala membuka pintu. Purnama sedang mengeluarkan pakaiannya dari lemari ke atas ranjang.


“Sebaiknya kau melahirkan di sini saja, Sayang. Terlalu berbahaya naik pesawat. Aku takut kau melahirkan mendadak di sana.” Kubasahi tenggorokanku yang mulai terasa sakit saat valume suaraku agak meninggi. Purnama membisu. Ia tetap melakukan kegiatannya.


“Sayang, kumohon. Aku sangat mencemaskanmu.”


Purnama menghentikan kegiatannya. Menatap lekat diriku. Aku menarik napas lega sesaat.


“Terserah,” ujarnya ketus. Kuusap wajahku mendengarnya.


“Sayang, dengarkan aku. Lebih baik kita mempersiapkan kelahiran bayi kita di sini saja ya. Setelah lahir nanti baru kita kembali ke Indonesia,” bujukku lagi. “Kumohon, Sayang.”


Purnama menghentikan kegiatannya. Ia diam tak menyahut.


“Sebenarnya apa yang membuatmu ingin ke Indonesia sekarang juga? Bisakah kau membicarakannya padaku?” pintaku dengan nada suara begitu rendah. Sebisa mungkin tak menyinggung perasaannya.


Purnama menggigit bibirnya. Ekspresi wajahnya sedikit berubah muram. Kenapa? Sungguh melihat ekspresinya yang seperti itu membuat hatiku ikut muram.

__ADS_1


“Kudengar di Indonesia...” Purnama mengembuskan napasnya dan mengelus perut buncitnya. “Ada pengobatan alternatif untuk orang penyakit lupus, seperti yang diderita oleh Kak Edgar sekarang ini, dan...dan a-aku i-ing--”


Tak ingin mendengarkan ucapannya lagi, segera kedekap erat tubuh berisi istriku. Kusalurkan semua rasa yang ada dalam dadaku. Aku mengerti sepenuhnya apa yang dirasakan pada Purnama. Gelisah dan takut. Sangat takut kehilangan saudara satu-satunya. Demikian dengan diriku, aku juga tak sanggup kehilangan Purnama dari sisiku.


“Jangan diteruskan lagi, Sayang. Aku mengerti,” bisikku lembut tepat di telinganya. Kurasakan Purnama mulai terisak-isak di dadaku. “Sayang, kau tahu? Aku juga telah merencanakan yang terbaik untuk Edgar,” kataku lagi.


Purnama menengadah, menatap lekat ke dalam bola mataku. Mengerutkan keningnya, bertanya-tanya.


Aku tersenyum tipis. Jemariku menghapus jejak air mata di pipi istriku. “Aku berencana membawa kalian ke New York. Terlebih untuk Edgar, aku akan membawanya berobat ke rumah sakit Mount Sinai Medical Center, New York.”


Rumah sakit yang kusebut itu juga tempatku dirawat selama koma, pasca insiden perkelahianku dengan Jeremy.


“Disana ada operasi untuk pencakokan tulang sumsum belakang bagi penderita lupus. Karena menurutku kondisi Edgar sudah membaik dan memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, maka aku berani untuk membawanya ke New York,” lanjutku sambil menyelipkan poni yang menjuntai di dahi istriku.


Mata Purnama melebar. Bibirnya tersenyum sumringah. “Benarkah itu, El?”


Aku hanya mengangguk.


“Kalau begitu...tunggu apa lagi, kita segera berangkat hari ini. Ayo, kita bicarakan pada Kak Edgar, ia pasti senang mendengarnya.”


Aku menggelengkan kepala. Meraih tangannya. “Tidak sekarang, Sayang. Saat ini kau sedang hamil besar. Rencanaku setelah kau melahirkan barulah kita pergi ke New York. Tidak akan lama. Bukankah kau melahirkan sudah dalam hitungan hari?” bujukku.


Purnama diam. Ia menunduk menatap perut buncitnya. Lalu mengembuskan napas. “Baiklah, aku mengerti.”


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2