![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Kutatap lekat Edgar yang masih setia memejamkan mata. Tidak lebih tepatnya aku, istriku, Mommy, Daddy, Randy serta satu tambahan seorang lagi, Zahra, di ruangan rawat inap Edgar. Kami menatap dengan cemas Edgar. Setengah jam yang lalu Edgar selesai dioperasi. Operasinya sukses. Tak ada kendala apapun.
Kutahan napas saat Edgar mulai menggerak-gerakkan kelopak matanya, ia mulai siuman. Pertama kali membuka mata, dia langsung menatapku. Aku menyunggingkan senyuman dan mengembuskan napas lega. Ia baik-baik saja. Syukurlah. Lalu Edgar beralih menatap istriku. Purnama langsung menghambur kepelukan Edgar. Menangis tersedu-sedu.
“Jangan menangis, Purnama. Kakak baik-baik saja,” ujar Edgar dengan suara seraknya sambil menepuk-nepuk punggung istriku.
“Selamat ya, Ed. Operasinya berhasil.” Daddy menggenggam tangan Edgar. Lalu diikuti Mommy dan Randy memberikan ucapan selamat.
“Terima kasih, ini semua berkat do’a kalian semua,” balas Edgar tersenyum lemah. Kemudian pandangannya berakhir pada sosok yang sedikit menyembunyikan tubuhnya di belakang Randy. Sedari tadi wanita ini tak membuka suara sama sekali
“Ara?” Edgar tampak kaget melihat kehadiran Zahra.
Zahra mengangguk. “Iya ini aku, Mas. Huks ... maafkan aku. Aku tak tahu kalau kau dioperasi.”
Waktu kian bergulir, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari terus kulewati dengan perasaan kompleks yang memenuhi batinku. Kini kembali kuhabiskan waktuku hampir setengah jam di ruang persalinan setelah satu hari Edgar dioperasi. Akhirnya istriku melahirkan dengan bertaruh nyawa, berjuang membawa satu malaikat kecil kami ke dunia.
“Tarik napas, Nyonya. Embuskan.” Kudengar suara dokter di ujung kaki Purnama memberikan instruksi. Sedang aku—sesuai janjiku padanya—terus berada disisinya. Tak pernah aku beranjak ke manapun. Terus kugenggam erat tangannya. Sesekali kuseka keringat yang bercucuran di pelipisnya. Juga buliran air mata di belah pipinya. Kadang kukecup dahinya. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya saat ini.
“Sayang, kamu pasti bisa,” bisikku parau. Kakiku sudah gemetaran hebat. Sungguh aku tak sanggup berdiri. Hatiku semakin terenyuh melihat betapa sakitnya istriku. Meski ia tidak menangis meraung-raung.
Ingin sekali aku menggantikan posisinya. Ya, Tuhan. Kututup mataku sesaat. Rasa sesak menyakitkan kian menusuk-nusuk dadaku. Pikiranku melayang akan kejadian dua tahun belakangan ini. Melihat istriku berjuang seperti ini, sungguh aku sangat bersalah padanya. Aku menyesal telah menyakitinya. Perlahan air mataku mulai berjatuhan di pelupuk mataku. Aku tak sanggup lagi. Aku menangis.
Oeeek...
Kelopak mataku terbuka sempurna, sudut bibirku mengembang, tersenyum bahagia. Satu lagi duniaku akan kembali cerah, diisi oleh tangisan pembawa kebahagianku.
__ADS_1
“Sayang, kamu berhasil,” bisikku dengan suara parau. Tersenyum bercampur tangis haru bahagia. Purnama ikut menangis. Ia tampak kelelahan. Segera kudekap dirinya. Kami menangis bersama.
“Sayang, akhirnya kamu menjadi ibu,” kataku lagi.
“Selamat, tuan Benjamin. Bayi anda berjenis laki-laki. Dia sangat sehat dan tampan, sama seperti Daddynya.” Dr. Lee tersenyum lebar seraya menggendong putraku yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Kulepaskan dekapanku. Lalu dokter Lee meletakkan bayi kami di atas dada Purnama. Membiarkan sang bayi menyusu untuk pertama kalinya pada istriku.
Air mataku dan Purnama semakin deras keluar. Tangan istriku bahkan gemetaran hebat ketika mendekap pertama kalinya bayi kami. Aku tersenyum bahagia melihat keduanya baik-baik saja. Kutatap lekat wajah bayiku yang polos itu. Berkata dalam hati, My son ... selamat datang di dunia yang fana ini. Geoff Benjamin Bowman ...
Langsung kupeluk istriku dan putraku. Kudekap keduanya dengan erat. Seolah melindungi keduanya. Menjaganya sampai titik darah penghabisanku.
Sekali lagi kukecup dahi istriku. Berkata serak padanya di tengah isak tangisku. “Sayang, kau lihat. Bayi kita sangat tampan sekali. Bentuk bibirnya mirip denganmu.”
Kuulurkan jariku pada wajah bayiku. Mengelusnya. Menelusuri bentuk wajahnya. Bibirnya yang tipis mewarisi bibir istriku. Bentuk alisnya juga dari istriku. Bentuk matanya warisan dariku. Warna kulitnya putih bersih mewarisi kulit kami berdua. Satu lagi, warna rambutnya mewarisi warna rambutku. Wajahnya terlihat bule. Tentu saja keturunan dariku.
Kembali aku beralih menatap wajah pucat istriku. Berkata dalam hati;
Sayang, kau sungguh hebat. Terima kasih telah bertahan mengandung anakku. Menjaganya selama sembilan bulan dari semua cobaan dan kesakitan yang kuberikan selama ini. Aku cinta padamu, istriku, Purnama Benjamin Bowman. Kau adalah istriku juga wanita yang paling hebat di dunia ini.
Dalam diam aku tersenyum kecil memikirkan betapa bahagianya aku saat ini. Ruang rawat inap sekarang dipenuhi dengan canda tawa kebahagiaan. Ada Mommy, Daddy dan Edgar—untuk sementara waktu dia duduk di kursi roda untuk pemulihan pasca operasi. Sedang Randy, dia tadi mengirim pesan padaku akan datang sebentar lagi setelah urusan pekerjaannya selesai. Sekarang aku tahu sedikit tentang Randy yang sesungguhnya, ternyata dia lulusan sarjana pertanian. Seorang juragan yang mempunyai berhektar-hektar tanah perkebunan anggur di Beijing. Aku salut padanya. Asli warga Indonesia namun sukses di negeri tirai bambu ini.
Aku juga tahu pekerjaan Edgar yang sebenarnya. Dia bekerja pada Randy sebagai kepala lapangan. Setelah mengetahui pekerjaan asli Edgar, aku jadi sangat malu padanya. Dulu aku menuduhnya yang bukan-bukan. Kudengar dari cerita Mommy, Edgar, demi amanah almarhum Daddy kandungku, rela melakukan apapun. Rela menjadi buronan dan menghilangkan jejak dariku. Berkali-kali berhenti bekerja beberapa tahun hanya untuk fokus melindungiku. Hingga berimbas mengorbankan sekolah Purnama. Tak melanjutkan sekolah lebih tinggi karena tak ada biaya yang cukup.
Lagi-lagi aku malu mengakui kesalahanku. Kuakui, Edgar benar-benar seorang pria sejati yang penuh tanggung jawab dan cinta keluarga.
Satu lagi, soal wanita bernama Zahra. Kemarin hanya datang sebentar saja menjenguk Edgar. Sampai saat ini aku belum tahu hubungan keduanya. Aku masih belum berani bertanya pada Edgar. Biarlah dia yang berbicara sendiri nantinya. Soalnya itu urusan pribadinya. Aku tak mau ikut campur.
__ADS_1
Lamunanku buyar saat suara canda tawa di ruangan menyela. Perlahan kudekati istriku yang sedang menggendong bayi kami.
Memoriku kembali berputar akan ucapan—ah tidak, lebih tepatnya ejekan Jagat tiga tahun yang lalu, disaat akan memulai misi balas dendamku. Serta nasihat Sakti.
Kata mereka, suatu hari nanti, aku akan mengikuti jejak mereka. Namun dengan angkuhnya, diriku saat itu tegas menolaknya. Tetap berada dijalurku; menjalankan misi balas dendamku, menikahi Purnama tanpa cinta, lalu menceraikannya dikemudian hari. Takkan pernah mengikuti jejak mereka berdua. Dan saat itu, mereka hanya tertawa dan berdecih, seakan tahu bahwa hari ini akan tiba.
Tapi kini ... Dengan gentleman aku nyatakan pada Jagat dan Sakti ...
Aku, Elias Benjamin Bowman. Mengakui, kalau diriku mengikuti jejak Jagat dan Sakti, menjadi suami bagi seorang Purnama Benjamin Bowman serta Ayah untuk anakku, Geoff Benjamin Bowman.
Arrrgh, sialan. Suara hatiku berteriak, memaki tak terima mengakui kekalahan pada dua makhluk paling menyebalkan di muka bumi—sahabat baikku—Jagat dan Sakti. Well ... kurasa kini mereka tertawa terbahak-bahak bila melihat keadaanku sekarang ini. Bersiap menjalankan peran Ayah dan suami yang baik bagi istriku, dimulai dari sekarang dan seterusnya. Sesuai prediksi mereka.
Kutatap sekali lagi cintaku. Kudekap dengan erat sepenuh jiwaku. Mengelus punggungnya. Karena dendam salah sasaran selama ini, telah membawaku pada orang yang kucintai dalam dekapan hangatku. Dalam diam janjiku terukir, menghapus jejak dendam di hatiku. Takkan pernah aku menyakitinya lagi. Tidak akan pernah.
TAMAT
Untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Kadang kita harus ditempa dulu dengan ujian yang berat. Belajar dulu dari kesalahan yang dilakukan – Elias Benjamin Bowman.
Note;
Akhirnya cerita ini tamat juga. Pasti kalian kaget ya tiba-tiba langsung tamat, gak ada pemberitahuan sebelumnya. Karena memang belum sepenuhnya tamat. Ada season dua. Sebab biar gak ganggu inti dari cerita ini, soal pembalasan dendam Elias pada Edgar.
Kalau di season dua bakalan fokus sama lika-liku kisah rumah tangga Elias sama Purnama.
Juga kubuat beberapa chapter spesial khusus kisah Abang Edgar. Nanti diceritain dibalik kenapa Edgar mau dioperasi. Juga siapa Zahra bagi Edgar.
Terima kasih teman-teman sudah setia nungguin cerita ini. Sudah kasih like dan komentnya 😍.
Sampai jumpa lagi di beberapa chapter spesial Edgar dan season dua 🤗💜.
__ADS_1