![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
“Kulihat kau berbohong pada kak Edgar tentang Purnama.” Suara serak Randy menyela di belakangku setelah kututup pintu ruang inap Edgar. Kulirik sekilas dirinya; menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan tangan bersedekap di dada. Aku hanya diam membisu, tak sanggup untuk berbicara saat ini. Mulutku terkunci rapat seakan ada lem yang menguncinya.
“Melihatmu terdiam seperti itu, pasti ada yang tak beres.” Randy memicingkan matanya, pandangannya begitu menusuk. Lagi aku hanya diam.
“Katakan, Elias! Di mana PURNAMA!” Randy mulai tak sabaran akan reaksi diamku, suaranya mulai meninggi beberapa oktaf. Pelan kupejamkan mata, tetap bergeming diam. Randy membalik tubuhku dengan kasar kemudian menarik kerah kemejaku. Ia mendelik tajam padaku.
“Kau tak ingin menjawabnya?” Randy menggeram. Aku mendengus kasar, lantas melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemejaku.
“Purnama diculik.” Akhirnya aku tak bisa menyimpan rahasia ini sendirian, sebab Randy yang terus mendesakku.
Bug!
Detik berikutnya, kurasakan pipiku sangat sakit akibat ditonjok oleh Randy. Aku diam, tak membalas. Tak berniat membalas sedikitpun perlakuannya padaku. Hatiku sudah remuk redam, akibat Purnama diculik.
Bug!
Kali ini Randy meninju perutku hingga tersungkur ke lantai. Kembali Randy menendang perutku bertubi-tubi. Aku menggeliat kesakitan. Tapi ini tak seberapa sakitnya, dibandingkan sakitnya Purnama diperlakukan kasar olehku. Aku pantas mendapatkannya, bahkan diriku sudah tak sanggup lagi membayangkan saat nantinya Purnama tahu bahwa kakak tersayang-nya mengidap penyakit mematikan semenjak aku membawanya ke New York.
Uhuk ... kurasakan darah asin keluar dari sela-sela mulutku. Tubuhku mati rasa dan hanya membentuk bola saat tendangan Randy makin ganas di perutku.
“Randy hentikan ...” Mommy berteriak panik menahan gerakan ganas Randy. Beliau menangis memeluk tubuh lemahku. Randy kini dipegang erat oleh Daddy yang masih terus berontak ingin menendangku.
“Tidak Aunty, dia pantas mendapatkannya. Andai saja dia tak menjebakku dan kak Edgar saat itu, hingga membuat penyakitnya makin mengganas, mungkin Purnama takkan diculik saat ini. Arrrgh ...” Randy berteriak frustasi, menjerit histeris disela-sela rasa amarahnya yang begitu meluap. Ya benar, semua ini salahku. Andai saja waktu itu aku tak menjebak Edgar dan membiarkan Purnama bertemu dengannya. Semuanya takkan berakhir seperti ini.
***
Aku tersentak, kubuka mata lebar-lebar. Memandang sekeliling ruangan. Ah baru ingat, kalau diriku sedang diculik oleh Jeremy, dia menjadi dalang utama penculikanku. Sungguh tak menyangka, bahwa selama ini ia tega mengkhianati Elias. Menjadi musuh dalam selimut.
Huks ... air mataku terus mengalir tanpa bisa kubendung, rasanya sungguh pedih. Aku tak bisa menghapus air mataku. Kedua tanganku diikat ke tiang ranjang, sedangkan posisiku terduduk di lantai. Kepalaku kusandarkan ke dinding ranjang. Mataku terus berkeliaran menatap sekitar. Tak ada apapun selain tempat tidur dan sebuah satu sofa panjang di ruangan ini. Bahkan jendela ditutup sangat rapat. Hanya sedikit pencahayaan kecil dari luar bisa masuk melalui ventilasi udara.
Di mana Jeremy menyekapku? Pikiranku kembali beberapa saat lalu. Kala dia menelepon Elias. Dengan sengaja me-loud speaker agar bisa aku mendengarnya meskipun hanya sesaat. Hatiku kembali berdenyut sakit saat Elias dengan jelas mengatakan bahwa tak peduli padaku, dan setelah itu Jeremy pergi menutup pintunya, hingga aku tak bisa mendengar apapun lagi.
Apa Elias akan menyelamatkanku? Aku ragu, mengingat selama ini dirinya begitu membenciku. Kulirik pintu kembali terbuka, muncul Jeremy. Ia menyeringai. Mendekatiku dan berjongkok selangkah di depanku. Aku mendelik tajam. Ia hanya terkekeh melihatku.
“Mau apa kau Jeremy, lepaskan aku, ********!” teriakku, bahkan dadaku kembang kempis menahan amarah. Tanganku terus bergerak, rasanya gatal ingin kulepaskan dan menampar laki-laki gila di depanku ini. Jeremy semakin terkekeh dan menyeringai mengerikan.
__ADS_1
“Hahaha ... Purnama. Kalau kau marah seperti ini, dicampur dengan air matamu yang terus mengalir di pipi, membuatmu makin bertambah indah. Wajahmu begitu menawan berhiaskan air mata.”
Aku menggeram. Tiba-tiba Jeremy mencolek sedikit air mataku lalu menjilatnya. Dan kembali terkekeh. Dasar psikopat gila. Kemudian matanya beralih ke perutku – naluriku langsung bergerak untuk melindungi bayiku. Aku langsung menendangnya. Tepat mengenai pipinya hingga ia terjengkang selangkah. Jeremy menggeram semakin marah. Matanya mendelik tajam dan tiba-tiba saja, ia mencekik leherku. Ukh ...
“Aku salut padamu, Purnama. Dalam keadaan disekap kau masih ingin melindungi bayimu. Aku jadi makin tak sabar bagaimana reaksi Elias. Apakah serigala buas itu akan memakan umpan lezatnya, hahaha ...”
Ukh, kurasakan susah bernafas saat tangan Jeremy makin mengerat di leherku. Aku megap-megap, kini perutku merasakan keram. Nak, kumohon, bertahanlah sedikit lagi, batinku pada bayiku.
Sedetik kemudian aku bisa bernafas kala Jeremy melepaskan cekikannya. Aku terengah-engah, air mataku terus mengalir deras.
“Ck! Tak ada gunanya bila sekarang ini kau mati duluan,” katanya. Beranjak meninggalkan ruangan. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Huks, Elias ... Kak Edgar ...
***
Sayang, semoga kau baik-baik saja di sana ...
Sudah tiga hari Purnama diculik oleh sibangsat Jeremy. Aku sudah berusaha sekuat tenaga mencari keberadaannya, tapi nihil. Belum ada tanda-tanda dimana Purnama disembunyikan oleh Jeremy. Tiga hari ini aku menunggu panggilan dari Jeremy, tapi siberengsek itu belum pernah lagi menelponku.
Melempar jasku ke lantai dan membaringkan tubuh lelahku ke tempat tidur. Tiga hari ini aku tak tertidur lelap. Pikiranku bercabang antara Purnama diculik serta Edgar yang masih berada di rumah sakit. Saat Randy memaksaku untuk menceritakan keberadaan Purnama, ternyata dibalik pintu Edgar mendengar semuanya. Beruntung tak terjadi apa-apa dengannya.
Kini dirinya memaksa keluar dari rumah sakit, ikut mencari keberadaan adik tersayangnya - mengabaikan penyakitnya yang parah itu. Tentu saja aku menentang keras keinginan kakak iparku. Aku tak mau menambah parah penyakitnya. Dengan Mommy dan Daddy yang menenangkannya dan membujuknya, akhirnya dia mau dirawat kembali di rumah sakit tanpa mengkhawatirkan keadaan Purnama.
Kututup kedua mataku dengan lengan kananku. Air mata hangat kembali merembes di sudut mataku. Perasaan sakit bercampur menyesal menghinggapi hatiku. Aku sungguh menyesal selama ini memperlakukan Purnama dengan buruk, bahkan memisahkannya dengan Edgar. Tapi kini ... tak ada kata maaf lagi untuk diriku.
Aku membuka mata lebar-lebar ketika smartphone-ku berdering. Sudah seminggu ini aku selalu terjaga dan waspada. Langsung kugeser tombol jawab saat tertera ID tak dikenal.
“Yes, hello.” jawabku serak karena terlalu lelah menangis. Sebelum menjawab panggilan ini, terlebih dahulu mengirimkan pesan pada Luhan untuk melacak di mana posisi ID tak dikenal ini. Sebisa mungkin mengulur waktu, agar tempatnya bisa terlacak. Siapa tahu itu Jeremy.
“Elias, lama tak berbicara.”
Aku tersenyum sinis. Ternyata benar itu Jeremy.
“Kenapa baru menelponku, bedebah.” Aku sudah tak punya empati lagi pada Jeremy untuk memanggil namanya, setelah apa yang dilakukannya selama ini. Apalagi kini Purnama juga berada di tangannya.
“Apa kau sudah mengumpulkan nyalimu untuk membunuhku, eum?” lanjutku dengan nada sinis nan dingin. Kurasa Jeremy menggertakkan giginya menahan amarah atas ejekanku padanya.
__ADS_1
“Nyali? Kau benar, Elias. Butuh waktu lama mencari tempat lokasi untuk kuburanmu. Tapi setidaknya, satu orang lagi sudah sekarat menunggu ajal, jadi untuk sementara ini, aku hanya perlu mempersiapkan satu kuburan.”
Jeremy tertawa sinis mengejekku, hatiku mendidih mendengar lelucon gilanya – tanganku mengepal kuat.
“Hahaha.” Akupun tak kalah tertawa. Bahkan sengaja tertawa terbahak agar Jeremy tahu bahwa aku tak lemah, tak boleh ada kesempatan dia mencari cela dalam diriku. Aku menyerang balik perkataannya barusan.
“Ide bagus, bedebah. Perlu kuberi aplause untuk hasil kerja kerasmu. Aku sangat berterima kasih padamu, telah susah payah mencarikan kuburan buatku. Atau kuburan buatmu sendiri? Hahaha.”
“Elias, kau--”
“Kenapa, bedebah? Umpannya tak mempan, hum,” ujarku semakin mengejeknya.
“Ash, berengsek kau, Elias.”
“Hahaha ... terima kasih buat sanjunganmu. Nah, sekarang katakan, di mana kita bisa ketemuan, dan mengakhiri ini secepatnya.” Aku mendesaknya.
“Tunggulah, secepatnya akan kukirim alamatnya. Aku sudah tak sabar ingin melihat tubuhmu tanpa nyawa, Elias.”
“Tung-tunggu dulu. Bagaimana dengan Purnama? Aku ingin mendengar suaranya,” langsung saja aku berucap saat Jeremy hendak mematikan sambungan teleponnya.
Ia terkekeh. “Ow, ternyata sang serigala masih mengingat istrinya yang tak dipedulikannya.”
Aku menggeram. Membalas dingin ucapannya, “Bukan begitu. Aku hanya tak percaya akan akal licikmu. Bisa saja kau menipuku dengan menggunakan Purnama palsu.”
Kudengar Jeremy menggeram marah, kemudian terdengar bunyi gemerisik. Ia memanggil anak buahnya. Hatiku terasa disiram air garam - pedih - saat mendengar suara serak rintihan kecil dari Purnama. Ya Tuhan, itu memang benar Purnama. Istriku.
“Elias ... ak--” Seketika suara Purnama tidak terdengar lagi. Sialan. Jeremy tak mengizinkan Purnama berbicara. Tapi setidaknya, aku masih bisa mendengar suara lemah istriku. Semoga saja dia baik-baik saja.
Tunggulah, Sayang. Aku akan menyelamatkanmu, teriakku dalam hati.
“Nah, sekarang aku sudah memberikan buktinya, Elias. Tinggal kau, apakah bisa menepati janjimu dengan menyerahkan nyawamu.”
Aku menatap smartphone-ku yang tak menyala lagi. Baru beberapa detik yang lalu Jeremy memutuskan sambungan teleponnya. Tak bisa aku berharap banyak pada Jeremy yang akan memberikan alamatnya. Aku tahu, Jeremy sangatlah licik seperti rubah. Tak mudah menipunya. Kembali smartphone-ku berdering, kali ini nama ID Luhan yang tertera.
“Bagaimana, Luhan?” tanyaku langsung tanpa basa basi.
“Beres. Aku sudah menemukan lokasi dimana Purnama berada.”
\===============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1