![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku terkesiap kaget saat tiba-tiba saja gelas susu yang kupegang meluncur turun dari tanganku, dan pecah berantakan. Sesaat aku termangu diam, memandang gelas yang hancur di lantai. Entahlah hatiku merasakan denyutan sakit, serasa ada yang menusuk-nusuknya. Bahkan saat kak Edgar datang dan berteriak kagetpun tak kuhiraukan.
“Astaga, Purnama. Kau tak apa-apa? Tak ada yang terluka kan?” tanyanya panik sembari memeriksa tubuhku yang hanya diam mematung.
“Purnama?” panggilnya lagi manakala tak mendapatkan respon dariku.
“Ya?” tanyaku linglung seperti orang yang baru saja dihipnotis. Menatap datar kak Edgar yang masih terlihat panik--terlihat jelas di wajah pucatnya. Kugelengkan kepala, kemudian menundukkan tubuhku, segera membersihkan serpihan gelas.
“Tak usah dibersihkan, biar Kakak saja yang membersihkannya.” Kak Edgar menahan tubuhku yang hendak berjongkok. Aku menurut. Kembali meluruskan tubuhku. Lalu kak Edgar menuntunku, membawaku ke sofa ruang keluarga.
“Nah, duduklah di sini. Jangan kemana-mana. Kakak akan membuatkan susumu yang baru.” Kak Edgar tersenyum.
Aku hendak protes. Namun tak ada satu patah katapun yang keluar dari celah bibirku. Mataku mengikuti ke mana langkahnya. Menuju ke dapur. Kuhela napas pendek. Aku termangu lagi. Kenapa sesaat tadi aku merasakan ada firasat tak baik. Tapi apakah itu? Semoga saja semuanya baik-baik saja. Tak berapa lama kak Edgar kembali dengan segelas susu di tangannya.
“Nih, susumu.” Kak Edgar menyodorkan segelas susu hangat padaku. Aku mengucapkan terima kasih dan mulai menyeruput susunya. Ada perasaan tak enak menyelinap di hatiku kala kak Edgar yang membuatkan susu untukku, padahal dirinya juga sakit.
Aku meletakkan gelas yang kini sudah kosong. Meraih remot di atas meja, berencana mau menonton acara televisi. Dahiku mengernyit, bingung. Kutatap kak Edgar penuh tanya. Melirik tangannya yang tiba-tiba saja menghentikan gerakanku, dengan lembut mengambil remot di tanganku.
“Kenapa, Kak?” tanyaku heran.
“Ba-gaimana kalau kita berkeliling di sekitar kompleks apartemen saja. Ah, tidak. Terlalu panas di siang hari begini. Bagaimana kalau kau tidur saja ya,” ujar kak Edgar terbata-bata. Aku semakin menautkan kedua alisku heran. Apalagi dia menyengir lebar dan tersenyum canggung. Seperti ada yang disembunyikan?
Aku menggeleng, kembali meraih remot televisi di tangannya. Akan tetapi kembali direbut olehnya. Aku semakin heran pada sikap kak Edgar kali ini.
“Kenapa, Kak Ed? Sepertinya Kakak tak membolehkan aku menonton, memangnya ada apa?” selidikku, sedikit sebal pada sikapnya seperti itu. Kak Edgar menggaruk kepalanya dan tertawa garing.
“Eum, soalnya ... i-tu, tak baik buat orang hamil menonton televisi, apalagi menonton berita yang aneh-aneh,” jelasnya mencari-cari alasan. Dia menggigit bibirnya sembari menatapku dengan gelisah. Kumiringkan kepala melihat sikap anehnya yang melarangku menonton? Bukankah acara di televisi tidak hanya dipenuhi dengan berita, ada juga acara lainnya yang bisa ditonton.
“Ak--” Belum sempat berbicara, tiba-tiba saja perutku sedikit keram karena bayi dalam perutku, sepertinya memberikan sedikit tekanan.
“Kau tak apa-apa, Purnama?” tanya kak Edgar dengan suaranya begitu cemas terdengar. Aku mengangguk lemah seraya mengelus perutku, menenangkan bayiku. Aku sedikit meringis.
“Sepertinya, kau harus benar-benar istirahat,” bujuk kak Edgar khawatir. Kali ini, kubiarkan saja kak Edgar menyuruhku istirahat. Membimbingku kembali ke kamar.
***
__ADS_1
Hari yang cerah di hari minggu. Pagi ini aku sedang melakukan kegiatan bersih-bersih apartemen Randy. Apartemennya sangat kotor sekali. Sudah sebulan ini niatku ingin membersihkan apartemennya--terhitung semenjak pertama kali menginjak apartemen ini. Tanganku sudah gatal ingin segera membereskan semuanya.
Aku sangat maklum, hidup sendirian tanpa beban seperti Randy, pasti malas untuk bebersihan. Lihat saja. Ketika aku sampai, pakaian kotor bertumpuk di kamar mandi, belum lagi bantal-bantal sofa bertebaran di lantai. Serta bekas remahan makanan instan berhamburan di meja pantry seluruh dapur. Bekas piring yang belum dicuci selama dua hari bertumpuk di wastafel.
Dan baru hari ini niatku terlaksana. Benar-benar meluangkan waktuku untuk bersih-bersih, dikarenakan tak banyak waktuku tinggal lama di apartemen, sebab harus mengurusi kak Edgar. Selama sebulan ini, aku sibuk bolak-balik ke rumah sakit menemani kak Edgar. Kabar baiknya, kak Edgar mulai menunjukkan kesehatannya membaik--meski tak terlalu baik-baik amat--dan diperbolehkan pulang semenjak kemarin, dengan catatan harus tetap rutin kontrol berobat dua hari sekali.
Aku tersenyum sumringah. Menyeka keringat yang membanjir di seluruh wajahku. Menepuk lembut perut berisiku. Melirik sekilas pada kak Edgar. Sedari tadi terus mengawasiku bersih-bersih. Aku mengabaikan omelannya sedari tadi. Tak menyuruhku untuk melakukan tugas berat, menyarankan lebih baik menyewa jasa tukang bersih-bersih selama seharian, tetapi langsung kutolak idenya.
Sementara kak Edgar kusuruh untuk istirahat saja, mengingat penyakitnya memang tak mengharuskannya bekerja berat.
“Sudahlah, kak Ed. Tak usah cemberut begitu. Lihat! Hingga selesai beres-beres, aku tetap baik-baik saja kan,” ujarku menenangkannya.
Aku berjalan menuju balkon, di samping pintu ada berbagai macam bibit bunga. Aku membelinya dua hari yang lalu. Ya. Aku ingin menghiasi balkon Randy dengan berbagai macam bunga agar nampak indah, serta banyaknya udara sehat di sekitar. Lagipula untuk mengisi kekosonganku selagi merawat kak Edgar di apartemen, sekalian menjalankan salah satu hobiku menanam bunga yang telah menjadi kebiasaanku ketika berada di New York,
Dengan semangatnya aku memasukkan beberapa bibit bunga ke pot-pot yang telah disediakan. Kuhiraukan saja kak Edgar yang tak henti-hentinya mengomel sedari tadi yang terus memperhatikanku.
Kalau aku hanya duduk-duduk atau membaca buku novel terus-terusan tanpa beraktifitas, bisa-bisa mataku ikut kelelahan dan jadi bosan sendiri. Lagipula kak Edgar juga tak mengizinkan aku menonton televisi semenjak kemarin. Jadi apa yang bisa kulakukan? Aku berdecak sebal dalam hati, kulirik ke bawah apartemen, dimana semua orang beraktifitas di luar. Sibuk kesana kemari, sementara aku hanya duduk diam di apartemen. Huft, benar-benar tak adil bagiku.
“Kak Edgar, sudah satu setengah jam yang lalu kau terus mengomel. Apa kau tak lelah? Lagipula sedari tadi sudah kukatakan, tak terjadi apa-apakan padaku,” ujarku, menenangkannya. Dia duduk disebelahku, memperhatikanku menanam bibit bunga matahari. Kak Edgar menoleh padaku sekilas. Memperhatikan wajahku. Kemudian mengembuskan napasnya dan mengangguk kecil.
“Dan lagian, Kak Ed. Kau terlalu mengkhawatirkanku, kau jadi mirip bapak-bapak tua di luaran sana, mengomeli anak gadisnya yang sering pulang larut malam.” Aku terkekeh menggodanya. Kak Edgar ikut terkekeh dan menyikut lenganku dengan lembut. Hal itu mengingatkan kami akan cerita kami di masa lalu. Sebelum aku menikah dengan Elias, kak Edgar sangat protektif menjagaku.
“Ada-ada saja kau, Purnama. Aku mengkhawatirkanmu karena pesan dari El--ah, maaf.” Kak Edgar cepat-cepat merapatkan mulutnya, menyadari perkataannya barusan yang langsung kutangkap nama Elias--hampir saja ia menyebut nama Elias.
Kuhela napas pendek. Berdecak sebal. Pesan dari Elias untuk menjagaku? Kenapa tak langsung saja meneleponku. Bahkan ini sudah sebulan telah terlewati. Bila dia memang peduli peduli padaku dan calon bayiku, seharusnya dia melakukannya.
Aku menggeleng dan setengah tersenyum paksa. “Kak Ed, tak usah minta maaf begitu. Memang saat ini Elias tak peduli padaku dan calon bayiku,” lirihku. Akhirnya tak sanggup kutahan sendiri kekesalanku. Melepaskan begitu saja unek-unek kekesalanku yang bertumpuk di dada.
“Eh, mung-kin saja begitu ...” jawab kak Edgar yang kedengarannya tak yakin.
Aku menautkan kedua alisku, kutatap lekat wajah pucatnya. Kenapa kak Edgar dari kemarin menjadi aneh padaku? Seperti melarangku menonton televisi. Melarangku melakukan hal-hal yang berat. Oke, hal-hal yang berat masih bisa diterima oleh otakku. Tapi, melarang menonton televisi?
Menagapa?
Kak Edgar semakin gugup manakala aku terus memandanginya dengan lekat, tanpa melihat ke arah lainnya, seakan-akan kak Edgar adalah makanan terlezat yang tak boleh dilewatkan begitu saja.
Belum sempat aku mengeluarkan ucapan ataupun kak Edgar, sayup-sayup kudengar suara pintu depan apartemen terbuka. Randy-kah?
__ADS_1
Kulirik sekilas pada kak Edgar, juga tampak sangat lega mendengar suara pintu. Sepertinya kak Edgar sangat tertolong sekali akan kedatangan Randy--bila menilik dari situasinya tadi; seakan aku ingin mengintrogasinya. Entahlah, terbaca jelas dari raut wajah kak Edgar yang tampak sangat gugup.
“Ayo, Purnama! Kita temui Randy.” Kak Edgar beranjak dari duduknya. Mengulurkan tangannya untuk segera kusambut. Melepaskan sarung tanganku, menepuk-nepuk debu yang menempel di bajuku. Lantas meraih uluran tangan kak Edgar. Terasa sangat hangat dan merasa terlindungi.
***
“Randy,” seruku memanggil Randy yang sedang bersidekap dada, memunggungiku dan kak Edgar dari belakang. Dia menatap lekat lukisan besar yang terpajang di dinding apaertemennya.
Randy menoleh dan tersenyum lebar. Baru satu bulan tak bertemu, dia semakin tampak dewasa saja. Wajahnya terlihat sedikit lelah? Sangat nampak sekali dari matanya yang mirip mata panda itu.
“Dy, aku rindu kamu,” ucapku sambil memeluknya. Menyalurkan rasa rinduku tak bertemu dengannya, terlebih tak memberikan kabarnya selama sebulan ini. Aku meninju pelan bahunya setelah melepaskan pelukanku, menyalurkan rasa kesalku padanya.
Randy hanya meringis kecil dan terkekeh. Pandangannya berbalik pada kak Edgar. Memberi salam dan juga memeluknya erat. Kulihat mereka seperti kakak beradik kandung. Sangat adem melihatnya.
“Randy ...” Kak Edgar ingin mengucapkan sesuatu, namun langsung dihentikannya saat matanya melirik padaku. Aku memiringkan kepala, menatap kak Edgar yang kembali gugup.
“Oh, soal itu ... nanti kujelaskan padamu, kak Ed,” jawab Randy seakan mengerti makna ucapan kak Edgar barusan. Kak Edgar mengangguk dan sedikit bernapas lega? Aku menatap penuh tanya pada mereka berdua secara bergantian.
“Hanya masalah bisnis kecil bersama kak Ed, Purnama.” Kini Randy juga menjawab kebingunganku saat aku dengan jelas melihatnya yang sepertinya memberi kode sesuatu pada kak Edgar. Aku hanya mengedikkan bahu setelah mendengar penjelasan Randy.
“Eum, bagaimana kabarmu, Dy?” tanyaku antusias. Kini, kami bertiga duduk di sofa ruang keluarga. “Ya ampun, kenapa diam-diam pergi tanpa mengabariku. Aku jadi merasa bersalah,” cemberutku.
“Maafkan aku pergi tak mengabarimu dahulu, Purnama. Aku baik-baik--” Randy menghentikan kalimatnya, ekor matanya melirik ke arah kak Edgar yang duduk di sebelahku. Kembali aku mengerutkan kening melihat tingkah keduanya. Kendati demikian, bernapas lega saat Randy menjawab dia baik-baik saja.
“--Kak Ed, setelah ini. Semuanya kuserahkan padamu,” lanjut Randy ambigu. Kulihat kak Edgar mengganguk kecil. Apa sih yang mereka sembunyikan dariku?
\================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1