I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

Aku membuka kenop pintu kamar. Mendudukkan buttku ke kasur empuk. Setelah mengobrol cukup lama pada Randy, satu jam kemudian barulah kami menghentikan obrolan. Kulihat Randy juga butuh waktu untuk berbicara pribadi dengan kak Edgar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku jadi penasaran. Tetapi aku juga tak berani untuk menguping pembicaraan mereka.


Mengembuskan napas, perlahan mulai membaringkan tubuhku dengan nyaman. Rasa penat dan pegal yang merayapi tubuhku hilang dalam sekejap. Menatap lama langit-langit kamarku, entah berapa lama aku termangu seperti ini. Tanpa kusadari kak Edgar sudah berdiri di sampingku. Menatapku begitu lekat.


“Eh, kak Ed. Sudah berapa lama di sini ya, Kak?” tanyaku.


“Sedikit lama. Semenjak adikku termangu. Memikirkan suaminya-kah?” Kak Edgar terkekeh menggodaku. Duduk dengan nyaman di sisi tempat tidur.


“Siapa yang memikirkannya,” kilahku dengan wajah mencebik. Menyenderkan dengan nyaman tubuhku di sandaran ranjang. Kutatap lekat wajah pucatnya, “Sudah selesai bicara dengan Randy?” lanjutku.


Jujur, aku sangat penasaran. Sangat ingin tahu apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Terlebih kalau melihat ekspresi dan tingkah kak Edgar yang sedari kemarin hingga sebelum kedatangan Randy kemari.


“Purnama ...”


Aku hanya menggumam. Menatap lekat tanganku yang digenggam oleh kak Edgar. Tubuhku sedikit gemetaran kala mataku ditatap dengan intens kak Edgar. Jantungku berdebar-debar kencang melihat pancaran dari iris kak Edgar yang sedikit meredup. Tidak. Aku menggelengkan kepala, segera menyingkirkan firasat buruk yang memenuhi pikiranku.


“Purnama, setelah kita bertemu kembali, kakak rasa banyak yang ingin kau tanyakan pada kakak kan?”


Aku mengangguk, itu memang benar. Banyak yang ingin kutanyakan padanya, termasuk masalah dendam Elias dengan kak Edgar. Selama ini aku tak berani menyinggung soal apapun karena penyakit kak Edgar. Aku tak ingin kesehatan kak Edgar jadi drop karena masalah ini.


Kak Edgar mendesah, melepaskan genggaman tangannya dariku, pandangannya lurus ke depan. “Kakak rasa Elias sudah mengatakan padamu bahwa kakak telah membunuh orang-orang yang dicintainya.”


Aku mengangguk membenarkan. “Ya, apa benar itu, Kak?”


“Apa kau percaya bahwa kakak menjadi seorang pembunuh, Purnama?”


Cepat aku menggelengkan kepala, menyangkal semuanya. Kak Edgar tersenyum, dan mengusap kepalaku. “Ya, Kakak tahu kau akan menggeleng dan tak percaya, Purnama.”


“Huks, Kakak...” Tanpa kusadari airmataku telah tumpah, kembali aku mengingat kekejaman Elias padaku. Apakah Elias sudah tahu yang sebenarnya?


“Jangan menangis, Purnama...” Kak Edgar menyeka airmataku. “Elias sudah tahu semuanya, siapa dalang yang membunuh orang tuanya. Kau pun juga tahukan, Purnama,” lanjut kak Edgar menatap mataku. Lagi aku menganggukkan kepala.


“Jeremy memang jahat, dialah memfitnah Kakak selama ini. Mengadu domba Kakak dan Elias. Tapi setidaknya, kita bisa bernapas lega, Purnama. Sekarang semuanya telah selesai. Jeremy sudah mendapatkan balasannya. Semoga arwahnya tenang di alam sana.”


“Eh?” Aku menautkan kedua alisku mendengar kalimat terakhir kak Edgar.


“Ya. Jeremy meninggal,” jelas kak Edgar. “Satu lagi, Purnama. Kau juga sudah tahu dari Elias soal penyakit kakak...”

__ADS_1


Lagi airmataku tumpah mengingat penyakit kak Edgar. Sudah dua tahun ini kak Edgar didiagnosa menderita lupus. Hatiku hancur saat mendengar pertama kalinya.


“Purnama, Kakak rasa tak punya banyak waktu lagi, bahkan mungkin kita tak bert--”


Segera kepeluk erat kak Edgar. “Tidak. Jangan katakan itu, Kak. Aku tak mau mendengarnya, huks.”


“Purnama ...”


“Kakak pasti bisa sembuh. Kita akan mengusahakannya berobat sampai Kakak sembuh total. Aku pasti akan menemani kak Ed kemana pun itu. Huks, Kakak ...” ucapku serak penuh airmata. Hatiku sakit mendengar ucapan kak Edgar yang tak punya banyak waktu lagi. Mengapa kak Edgar harus menderita seperti ini. Huks ... Kurasakan kak Edgar menepuk-nepuk lembut pucuk kepalaku, serta mengelus punggungku.


“Berat bagi Kakak untuk sembuh. Penyakit Kakak sudah memas ...”


“Huks, Kakak. Aku tak mau mendengarnya ...” Aku semakin keras terisak-isak.


“Jangan menangis, Purnama. Satu lagi, kau mungkin masih marah sama Elias, soal merahasiakan perihal penyakit ini. Jangan marah lagi ya padanya.”


Aku hanya diam tak menjawab. Ya, aku masih marah pada Elias. Bukan soal merahasiakan penyakit kak Edgar saja, melainkan juga masalah memisahkan kami berdua. Andai saja Elias tak terlalu keras denganku, mungkin ... huks, mungkin penyakit kak Edgar bisa diselamatkan segera. Tapi, kini ... huks.


“Purnama, jangan marah lagi pada Elias, ya,” ulang kak Edgar lagi ketika tak mendengar jawaban dariku. Rasanya lidahku kelu untuk berbicara saat ini, aku hanya mampu mendengar setiap ucapan kak Edgar tanpa bersuara.


“Purnama ... Ingat, kau adalah malaikat-nya Kakak dan orang tua kita. Seorang yang berhati malaikat, takkan marah, um. Kakak yakin kau mampu melewati segalanya.”


“Purnama, sudah Kakak bilang jangan menangis.” Kak Edgar terus menepuk-nepuk punggungku, menenangkanku.


“Sudahlah, jangan disesali lagi, Purnama. Ini semua sudah kehendak Tuhan dan bukan karena Elias semata. Kakak mungkin sudah menyerah atas penyakit ini, dan biarkanlah tetap seperti ini--satu lagi, maafkanlah perbuatan Elias selama ini.”


Aku menengadah menatap mata redupnya, memaafkan perbuatan Elias?


“Ya, Kakak tahu,” ucap kak Edgar begitu tenang, seakan tahu pertanyaan dalam benakku. Dia tersenyum tipis padaku. “Dendam Elias hanya salah sasaran pada kita. Mengertilah, Purnama. Elias juga menderita selama tiga belas tahun ini. Tiga belas tahun menahan rasa sakit tanpa orang-orang yang dicintai disisinya. Sendirian menanggung rasa sakit itu. Beruntung saat kedua orang tua kita pergi, kita berdua bisa saling menguatkan dan saling memiliki. Tapi tidak dengan Elias.”


Degh!


Jantungku berdetak kencang, darahku berdesir halus mendengar ucapan kak Edgar. Menggigit bibirku, aku tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Bagaimana Elias menderita selama ini. Aku tak bisa membayangkan kala Elias menjalani hari-harinya yang begitu berat, ditinggalkan tiga orang tercinta sekaligus.


Lama kami terdiam, di ruangan ini hanya isakanku-lah yang mengisi keheningan di antara cela kami berdua.


“Satu lagi, Kakak bisa tenang karena karena ada yang menggantikan menjagamu.”

__ADS_1


Tidak ... kumohon kakak jangan berbicara seperti itu lagi. Telingaku sudah tak sanggup untuk mendengar hal-hal yang menyakitkan, huks ...


“Elias, Purnama.”


Aku mendongak kembali - menatap mata sayu kak Edgar kala mengucapkan nama Elias kembali. Dengan lembut jari-jari kak Edgar menyeka bulir-bulir airmataku yang terus berderai di pipiku.


“Elias ... dialah orang yang tepat untukmu, menjagamu, melindungimu, mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Sekali lagi jangan memarahinya apalagi berbalik membalas dendam padanya, Purnama.”


Aku mengeratkan kedua tanganku di pinggang kak Edgar. Kusurukkan kepalaku di dada kurusnya. Aku tak bisa berpikir lagi, bagaimana seharusnya aku bersikap pada Elias. Dia membuatku bingung.


“Purnama, hapuskanlah rasa sakit itu di hatimu. Terimalah Elias dengan lapang dada. Cintailah dia, rangkullah rasa dendam dan sakit hatinya--karena dengan begitu akan menimbulkan rasa damai di hatimu. Kebahagian akan datang untuk kalian berdua.”


“Huks, Kakak.” Suaraku terdengar serak, tersedak airmataku, tubuhku lemah tak mampu bertumpu lagi. Airmataku kian mengalir deras, tanpa henti mendengar setiap ucapan bijak kak Edgar.


Kak Edgar, aku ... bagaimana caranya menghapus rasa sakit hati ini pada orang yang sangat kucintai. Kak Ed katakan, bagaimana caranya aku bisa kuat sepertimu. Huks ...


Sesuai keinginan kak Edgar. Aku akan menerima Elias apa adanya, dan memaafkan semua kesalahannya. Bahkan mungkin dari dulu aku sudah memaafkannya.


Tahukah kak Edgar, betapa aku sangat mencintainya. Tapi ... kak Edgar. Saat ini saja Elias tak memberikan kabar apapun padaku. Jadi, bagaimana aku bersikap padanya saat ini, kak Edgar?


Kurebahkan tubuh lelahku ke atas ranjang setelah kak Edgar kembali beristirahat di kamarnya. Menatap langit-langit kamar yang putih, airmata tak hentinya mengalir deras di sudut mataku - seakan tak ada habisnya, seperti sungai yang bermuara di lautan luas.


Kepalaku kini penuh dengan dua wajah pria berlarian di pikiranku. Elias dan kak Edgar. Sekarang ini, apa yang dilakukan oleh Elias? Kenapa dia tak pernah meneleponku. Setidaknya satu kali saja menelepon, menanyakan bayi dalam perutku.


Kenapa Elias begitu tak pedulinya padaku. Katakan kak Edgar, bagaimana aku bersikap pada Elias, bila aku bertemu padanya nanti. Bolehkah aku menghukumnya sedikit?


Huks, Elias ...


\================


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2