![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
“Elias, akhirnya kau datang!” Jeremy menarik napas lega takkala aku menghampirinya di sebuah gudang tua bekas pabrik tekstil tak terpakai. Letaknya pun jauh dari pusat keramaian kota, tepatnya dipinggir desa. Cocok sekali untuk menyekap seseorang, bahkan apabila ingin membunuh, mayatnya takkan ada yang tahu. Aku menyeringai senang. Sangat cocok untuk kuburan seorang Edgar Dirgasuwoto di malam yang dingin ini.
“Kerja bagus.” Kutepuk bahu Jeremy.
Jeremy hanya menyeringai senang. Kemudian membuka pintu gudang bekas pabrik tekstil, terdengar bunyi deritan pintu besi tua yang menggema. Suasana gelap saat pintu sudah terbuka. Jeremy mencari saklar lampu dan menghidupkannya.
Aku memicingkan mata saat cahaya lampu menyilaukan pandanganku. Irisku segera tertuju pada Edgar, sedang terduduk lemas bersandar di dinding. Wajahnya maupun tubuhnya penuh dengan luka lebam, sepertinya itu perbuatan para bodyguardku karena ia melawan. Matanya terpejam, tapi aku yakin ia belum tidur.
Tak mudah melumpuhkan Edgar, seorang lawan yang tangguh bagiku. Terpaksa, aku menggunakan cara licik untuk menjebaknya ketika mengetahui bahwa Purnama akan menemuinya. Iapun masuk perangkapku. Sebenarnya akan lebih baik lagi kalau si ******** tengik Randy juga kutangkap, akan tetapi keburu Edgar melindunginya hingga berhasil lolos.
Sudah dua hari aku menyekap Edgar di sini. Begitupun juga diriku yang tak pulang ke apartemen sejak malam itu. Aku menghukum Purnama dengan mengurungnya di kamar.
“Bangun bedebah!” Aku menendang tubuh lemah Edgar. Perlahan dia membuka matanya dan mendongak, menatapku yang sedang berdiri menjulang di depannya. Ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah dan sudah mengering. Matanya kini beralih menatap Jeremy, dirinya menggeram sepertinya sangat marah.
“Sialan, kau menjebakku!”
Aku hanya tertawa sinis tanpa menanggapi perkataannya.
“Di mana Purnama kau sekap.”
“Tak usah kau mengkhawatirkannya, yang perlu kau khawatirkan saat ini hanyalah dirimu, bedebah!” Aku menundukkan tubuh hingga berhadapan dengannya. Menarik kepalanya hingga tepat di depanku, dan menjambak rambutnya sangat kuat. Edgar memegang tanganku lemah. Sepertinya tak punya tenaga lagi untuk melawanku.
“Aku ingin melihat saat detik-detik kematianmu. Aku ingin kau merasakan bagaimana sakitnya kedua orang tuaku meregang nyawa olehmu,” geramku.
Edgar tersenyum sinis, membuatku naik pitam hingga menjambak rambutnya semakin kuat, ia meringis kesakitan. “Tak usah kau bunuhpun perlahan aku juga akan mati,” katanya dengan nada tegas.
Kutampar pipinya. Edgar menggeram, menatapku tajam. Begitupun aku menatapnya menantang. “Seharusnya kau kuhabisi saja sedari dulu,” geramku dengan gigi gemeletuk.
“Silakan! Tunggu apa lagi!” tantang Edgar tak gentar.
Kurogoh saku jas, mengambil pistol dan menodongkannya tepat di pelipisnya, sebelah tanganku mencengkram kepalanya hingga ia menengadah menatap mataku. Edgar memejamkan matanya pasrah – tak bisa melawan lagi karena tubuhnya hampir lumpuh.
“Ada pesan yang ingin disampaikan sebelum kau meregang nyawa, huh,” bisikku menyeringai sinis.
Kembali Edgar membuka matanya dan terkekeh. “Ternyata kau masih punya hati, El. Satuhal kuperingatkan padamu, jangan terlalu percaya pada orang terdekatmu. Ia bisa jadi mus---”
“Elias! Tunggu apa lagi. Cepat kau habisi bedebah ini, jangan biarkan ia terlalu lama hidup dan berbicara omong kosong!” Jeremy menyela---setelah lama hanya memperhatikan kami tanpa berbicara ataupun bertindak.
“Aku tahu.” Aku menjawab tanpa menatapnya, mataku terlalu fokus menatap Edgar. Mulai menekan pistolku dan menarik pelatuknya. Edgar memejamkan mata. Aku mulai menghitung mundur dalam hati. Tiga ... Dua ... Sa---
“Eliaaas! Tahan!!!”
Aku menggeram kesal mendengar seseorang mencoba menahanku, segera berbalik menatap kesal ke arah pintu yang didobrak. Muncul diambang pintu Mommy dan si berengsek Randy? Darimana mereka tahu? Kenapa Mommy bisa bersama Randy? Kukerutkan dahi bingung. Mommy berlari ke arahku dan merebut pistolku. Aku terngangga dan kaget secara bersamaan.
“Syukurlah belum terjadi apa-apa.” Mommy mengembuskan napasnya lega. Secepat kilat Randy menarik tubuh Edgar menjauh dariku. Aku menggeram marah. Apa-apaan ini kenapa Mommy dan Randy bekerja sama menyelamatkan Edgar?
“Kenapa Mommy menyelamatkan bedebah ini! Sialan!” Aku memaki kesal.
“Elias, sadarlah! Musuhmu sebenarnya bukanlah Edgar, tapi musuhmu adalah---”
Tiba-tiba kami terperanjak kaget mendengar suara letusan pistol dari arah lain. Jeremy menembak ke atas.
“Jeremy ...” Aku terkesiap kaget saat Jeremy berbalik menodongkan pistolnya ke arahku - tepat ke jantungku. Tak mungkin Jeremy ...
“Waktunya habis untuk bermain-main.” Jeremy menyeringai padaku. Aku terpaku. Apa maksudnya ini?
“Jangan macam-macam terhadap anakku, Jeremy.” Mommy menodongkan pistol yang direbutnya dari tanganku tadi ke arah Jeremy.
“Lama tak bertemu, Aunty cantik. Apa kabarnya?” Jeremy tersenyum sinis.
__ADS_1
Mommy menggertakkan giginya. “Cepat kau jauhkan pistolmu dari anakku atau---”
“Atau apa, Aunty?” Jeremy menantang Mommy, menyeringai berbahaya.
“Berengsek!” Mommy mengumpat dan menurunkan pistolnya saat kami melihat sekawanan penjahat berjumlah sepuluh orang menodongkan pistolnya ke arah kami.
Kukepalkan tangan, sangat-sangat marah. Jadi selama ini musuhku adalah Jeremy sendiri. Tapi bukankah Edgar yang membunuh Daddy dan Mommy Maria? Adakah hal yang terlewatkan dariku?
“Ya! Selama ini kau salah. Bukan Edgar yang membunuh – lebih jelasnya akulah yang telah membunuh Daddy dan Mommy tirimu tiga belas tahun yang lalu.” Jeremy menjawab pertanyaan yang ada dibenakku seakan bisa membaca pikiranku.
Aku menggeram marah. “Kauuu ... tak pantas hidup, Jeremy!”
****
[Tiga belas tahun yang lalu ...]
Siang itu, terdengar bunyi letusan pistol menggema di sekitar rumah megah kawasan elit kota New York. Marcus Benjamin Bowman dan istrinya--Maria--terkapar bersimbah darah. Marcus sekarat, tapi tidak dengan istrinya yang sudah tak bernyawa semenit yang lalu. Dengan tangan gemetar Marcus memegang erat tangan dingin Maria, berbalik menatap geram sang keponakan yang dipercayainya hampir dua puluh tahun umur sang keponakan. Jeremy Dalton.
Jeremy tertawa puas. “Well, terima kasih atas sanjungannya Om Marcus. Tapi misiku adalah membunuhmu dan keluargamu.”
“Uhuk.... kau...” Marcus terbatuk mengeluarkan darah kental segar dari mulutnya.
Tiba-tiba pintu didobrak, Edgar menerjang Jeremy hingga terpental beberapa meter jauhnya dari Marcus dan Maria yang terkapar. Edgar memangku kepala Marcus ke pahanya, kemudian menyelimuti tubuh berdarah Edgar dengan jaket kulit hitamnya yang bertulisan bordir namanya. Jaket kulitnyapun ikut berlumuran darah.
“Om, anda terluka parah, sebaiknya kita cepat-cepat keluar dari sini sebelum Jeremy sadarkan diri.” Edgar melirik Jeremy yang pingsan.
“T-tak u-usah, Ed. Se-sepertinya terlambat uhuk...kumohon...uhuk uhuk... berjanjilah padaku, Ed,” ucap Marcus terbata-bata dengan mulutnya tak hentinya mengeluarkan darah kental.
Marcus menggenggam erat tangan kanan Edgar. “To-tolong ja-jaga Elias anakku---lindungilah ia dari Jeremy. Ialah harapanku sa-satu-satunya. Ma-masa depanku....”
Mracus mengeluarkan air matanya saat terlintas nama Elias, putranya yang sangat disayanginya. Namun, tak pernah mendapatkan kasih sayang darinya semenjak bercerai dari ibu kandungnya, Cinthya.
“Ya, aku berjanji ...” lirih Edgar sedih dan membalas genggaman Marcus yang dibalas Marcus dengan tersenyum tulus.
“Te-terima kasih banyak, Ed. Ce-cepatlah per---”
“Arrrgh!” Edgar berteriak kesakitan saat sebuah peluru menembus belakang tubuhnya. Ternyata Jeremy sudah sadar dari pingsannya.
“Cepatlah lari, Ed,” bisik Marcus.
“Ta-tapi---”
“Jangan hiraukan, Om---cepatlah!”
Dengan berat hati Edgar berlari meninggalkan Marcus yang sekarat, menembus pintu dapur dan melompat dari jendela. Berlari sekuat tenaga---menyusun rencana untuk membalas Jeremy dan melindungi Elias.
__ADS_1
Dengan gontai Jeremy mendekati Marcus yang ternyata mengembuskan napas terakhirnya beberapa detik yang lalu.
“Sial!” Jeremy memaki kesal melihat korbannya tak bernyawa. Tapi sedetik kemudian ia menyeringai mengerikan. Diambilnya jaket kulit bertuliskan EDGAR DIRGASUWOTO.
“Kali ini kau kubiarkan bebas, Edgar.” Jeremy menyeringai. Merogoh saku jasnya, menelepon seseorang, tak lupa dengan wajah tanpa dosanya.
“Hallo, Elias. Cepatlah pulang. Orang tuamu ...”
****
“Jeremy, kau benar-benar iblis,” makiku geram setelah mendengar ceritanya. Jeremy tersenyum menyeringai, hingga membuatku naik pitam. Secepat kilat aku menerjang ingin memukulnya. Saat itu juga aku mendengar suara letusan pistol mengudara.
“Elias.” Mommy dan Edgar berteriak bersamaan. Mataku terpejam seakan nyawaku baru saja dicabut, kurasakan beban berat menimpaku kala tubuhku jatuh ke lantai. Sontak kubuka mata dan terbelalak.
“Ukh.” Edgar mendesis di atasku. Kulirik bahunya yang tertembak oleh berandalan yang dibayar Jeremy. Jadi ia yang melindungiku.
“Kau baik-baik saja, Elias?” tanyanya khawatir. Aku hanya bisa mengangguk, lidahku kelu tak bisa menjawab apapun – terlalu shock. Selama ini orang yang kuanggap musuhku ternyata yang melindungi nyawaku.
“Edgar.” Mommy dan Randy berteriak bersamaan, segera menghampiri kami. Randy membantu Edgar berdiri dari atas tubuhku. Sementara Mommy membantuku duduk.
“Sialan! Kenapa banyak sekali pengganggu. Elias beruntung kali ini kau selamat, dan kau Edgar, urusan kita belum selesai. Tunggu saja. Setelah aku menghabisi Elias, selanjutnya giliranmu!” ancam Jeremy membuat perhatian kami kembali padanya.
“Jangan harap, Jeremy! Takkan kubiarkan kau membunuh anakku, maupun Edgar.” balas Mommy tak gentar, meskipun Jeremy punya banyak berandalan di dekatnya.
Jeremy bertepuk tangan dan terkekeh menyeringai senang. “Salut buat Aunty yang pemberani – tapi tenang saja setelah aku membunuh mereka berdua, aunty dan ******** tengik ini akan menyusul.”
Randy menggeram marah, ia ingin melawan tapi Edgar menahannya.
“Nah, Elias sekarang bersiaplah!” Jeremy mengacungkan moncong pistolnya tepat ke wajahku.
“Tidaaak! Jangan bunuh anakku!” raung Mommy yang tak bisa berbuat banyak - kini kedua tangannya dipegang oleh dua berandalan bayaran Jeremy hingga pergerakannya terbatas. Begitupun dengan Randy dan Edgar. Kami dikepung dengan pistol teracung pada kami.
Aku memejamkan mata. Pasrah. Apakah ini hari akhirku? Seketika terlintas di benakku wajah menyedihkan Purnama.
Baby, i’m sorry. Maafkan aku karena selama ini telah menyakitimu.
==========
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1