I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Purnama begitu terkejut melihatku. Sedikit memundurkan tubuhku, hingga ada jarak sedikit jauh di antara kami. Aku menyunggingkan senyuman. Duduk tepat di sampingnya. Menatap sendu wajahnya. Purnama menggeram. Wajah manisnya dipenuhi warna merah. Aku tak bisa mengartikan arti wana merah itu. Apakah marah atau senang melihatku.


“Kenapa kau ada di sini.” Suaranya meninggi bercampur rasa kesal dan marah. Aku hanya diam. Buru-buru kutahan tangannya ketika dia berdiri. Langsung saja kepeluk tubuh berisinya. Purnama meronta.


“Lepaskan aku, Elias,” hardiknya.


Aku menggeleng. Sedikit meregangkan dekapanku agar dia bisa menarik napas. Bibirku hendak mengatakan sesuatu. Tapi terlambat, keburu Purnama melepaskan diri dari dekapanku. Berjalan cepat keluar dari restoran. Aku menghela napas. Purnama masih menolakku. Kuseret kakiku. Mengikuti istriku. Mengejarnya.


Kuraih tangannya ketika hampir sampai di mobil Randy. Randy membuka kaca jendela mobil. Ia terkejut melihat kami berdua. Randy tak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan tak keluar dari dalam mobil. Seolah membiarkan kami menyelesaikan masalah kami berdua, tanpa dia ikut campur tangan.


Purnama mengibaskan genggamanku. Membalik tubuhnya dan menatapku dengan sengit. Dari raut wajahnya yang marah itu, seolah mengatakan; ada apa lagi, aku tak ingin diganggu.


Mulutku hanya bergerak-gerak, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ingin sekali bibir ini berucap kata maaf untuknya. Namun tenggorokanku sangat sakit sekali, mungkin terlalu banyak menghabiskan energi di toko pakaian bayi tadi, terlalu semangatnya memilih dan memerintahkan pelayan.


Aku berdeham sebentar. Dengan terbata-bata aku berbicara, “Ma-maafkan, maafkan a-ku, Pur-Purnama.”


“Hanya ingin mengucapkan kata maaf saja kau begitu terbata-bata berkata. Sangat terlihat kau tak tulus mengatakannya. Sebegitu menjijikkannya aku hingga kau sungkan berbicara padaku.” Purnama meninggikan volume suaranya. Pandangannya semakin sengit menatapku.


Aku menggeleng-gelengkan kepala menyangkal perkataannya.


“Kalau kau ingin aku memaafkanmu, tunggulah dengan sabar, hingga hatiku bisa melunak padamu. Dan berusahalah sedikit lebih keras membujukku,” ucapnya dengan marah. Masuk ke dalam mobil. Menutup kasar pintunya.


Kuketuk jendelanya. Tak ada respon apapun dari dalam mobil. Randy keluar dari mobil. Menggandeng bahuku menjauh dari mobil.


“Kau harus berusaha lebih keras melunakkan hatinya.” Randy berbisik padaku sesekali melirik Purnama di dalam mobil. “Selamat berjuang kembali mendapatkan cintanya,” lanjutnya. Meremas bahuku dan berlalu dari hadapanku.


“Eh, kau sudah tahukan alamat apartemenku.” Randy kembali berbalik. Aku mengangguk. Sebelum kembali ke Beijing. Edgar sudah mengirimkan alamat Randy padaku dua hari yang lalu.


Kuembuskan napas pendek. Mobil yang membawa istriku mulai melaju menjauhi area parkir restoran tradisional China. Ponselku bergetar di dalam kantong jaket jeans-ku. Randy mengirim pesan.


[Sorry merepotkanmu, El. Biskah kau membayar tagihan makanan di restoran tadi? Aku tak sempat membayarnya. Maaf, ya. Lain kali kuganti uangnya. Hehehe...]


Aku tertawa kecil. Oke. Saatnya berjuang mendapatkan kembali cinta Purnama. Aku melangkahkan kaki, memasuki restoran dan membayar tagihan makanan Purnama yang tadi tak sempat dimakannya.


Membungkukkan tubuhku mengucapkan terima kasih pada kasirnya. Baru mau melangkah, kasir itu memanggilku kembali. Memiringkan kepala, menaikkan kedua alisku, menatap tajam kasir. Kasir itu menyodorkan botol sirup.


“Ini, ketinggalan di meja tadi.”

__ADS_1


Kembali membungkukkan tubuhku, tersenyum kecil pada sang kasir dan mengucapkan terima kasih. Kutimang botol sirup di tanganku. Dengan adanya botol sirup ini, aku punya alasan menemui istriku.


 


 


***


 


 


Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, pukul delapan malam. Setelah tidur sejenak, mengistirahatkan tubuh lelahku di apartemen Mommy dan mendapatkan kembali tenagaku, aku berencana menemui istriku di apartemen Randy. Kalau beruntung, Purnama mau kuajak kembali ke apartemen kami--tentunya bersama Edgar.


Mengeratkan mantelku saat dirasa angin malam menusuk kulitku. Mulai melangkah memasuki gedung apartemen. Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di depan pintu apartemen Randy. Sembari mengetuk pintu, sesekali aku memperhatikan obat di tanganku. Tak berapa lama pintu apartemen terkuak. Kebetulan yang membuka pintunya Purnama. Dia terkejut melihatku. Langsung kujegal pintunya dengan kakiku saat Purnama hendak menutupnya kembali.


“Mau apa kau kemari?” ujarnya dengan ketus sambil membuang pandangannya ke arah lain.


Kutatap sayu wajah manisnya. Belum sempat membuka suara, muncul Randy di belakangnya. “Eh ada Elias. Kenapa tak disuruh masuk, Purnama. Masuklah, El.”


Aku tersenyum tipis, menuruti ucapan Randy. Aku masuk. Beruntung Randy mengerti akan maksud kedatanganku. Setelah menyilahkanku duduk di sofa, Randy pergi menghilang, entah ke ruangan mana--mungkin saja ke dapur. Kuperhatikan sekilas apartemen Randy. Tak ada tanda-tanda kehadiran Edgar. Kemana dia?


“Ketinggalan di restoran tadi,” ucapku menjelaskan. Purnama tak menyahut. Matanya lebih tertarik menatap botol obat daripada menatapku. Aku mendesah melihat reaksinya. Masih dingin terhadapku.


“Sayang, apa kau sudah makan?” tanyaku dengan suara lembut.


Purnama mendengus dan menatap tajam padaku. Aku tahu arti tatapan tajamnya. Seakan mengatakan ‘sejak kapan aku peduli padanya’.


Samar kuteguk ludah, membasahi kerongkonganku yang mulai sakit saat berbicara banyak. Sebenarnya aku ingin bertanya ‘apakah dia rindu padaku?’ tetapi, jauh-jauh kutepis pertanyaan itu dari benakku. Sudah tentu dia takkan menjawabnya.


“Purnama, aku... aku ingin kau ikut kembali ke apartemen. Tak baik menginap di rumah pria lain tanpa adanya ikatan. Apalagi kini kau sedang hamil.” Kuberanikan diri berbicara, meski suaraku rasanya mau pecah. Sangat sakit bila harus berbicara panjang lebar seperti ini, tetapi karena ini serius, maka harus dibicarakan langsung.


“Ikutlah, Purnama. Benar apa yang dikatakan, Elias. Aku tak ingin para tetanggaku bergunjing tentangku, well meski ada kak Edgar juga di apartemenku.” Randy datang menyela. Purnama mendengus sebal. Menekuk wajahnya sedemikian rupa. Aku terkekeh kecil melihat sikapnya yang lucu begitu.


“Ih, apa yang kau tertawakan, Dy. Tak ada yang lucu,”  sindirnya melotot. Tampaknya dia tersinggung aku menertawakannya.


Kubungkam mulutku. Setelah tawaku mereda, barulah kembali berkata, sedikit menggodanya. “Sayang, jujur kau makin manis dan lucu bila marah begitu.”

__ADS_1


Purnama mencebik dan berdecih samar. Menyembunyikan raut wajahnya yang merah merona tersipu malu akan godaanku. Tampaknya ia mulai menerimaku kembali.


“Pulang bersamaku ya, Sayang,” bujukku. Purnama memalingkan mukanya ke arah lain. Menyilangkan kedua tangannya. Sepertinya masih merajuk padaku.


“Tak mau,” jawabnya ketus. Kuusap wajahku. Sepertinya butuh waktu lama membujuknya yang lagi merajuk. Mulutku hendak berbicara lagi, namun Randy mendahuluiku.


“Purnama, ikutlah dengannya bersama kak Edgar,” ujarnya bersandar pada dinding dengan menyilangkan kedua tangan di dada.


“Kau mengusirku, Randy!” Purnama berteriak gusar. Matanya melotot tajam. Randy tampak biasa-biasa saja, tak terpengaruh akan teriakan istriku. Wajah Purnama makin memerah menahan kesal akan sikap Randy yang begitu cuek tanpa menggubrisnya.


“Bukan mengus---”


“Aku setuju dengan Randy, Purnama.” Tiba-tiba suara Edgar menyela dan memotong ucapan Randy. Edgar menutup pintu kamar. Lalu menatapku dan tersenyum tipis padaku. Aku membalasnya dengan senyuman canggung.


“Tapi Kak Ed, aku tak mau tinggal dengannya...” lirih Purnama seraya menunjukku.


“Purnama, kalau kita terus berada di sini, kita akan membebani Randy. Dan Elias adalah suamimu. Lebih baik kita bersamanya,” jelas Edgar memberikan alasannya. Aku mengangguk setuju. Kualihkan pandanganku pada istriku. Mata kami bertemu.


Purnama berdecih dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Kuhela napas akan sikapnya, masih marah padaku. Benar-benar butuh waktu lama untuk melembutkan hatinya yang mengeras itu.


“Purnama, kau mengerti kan maksud ucapan Kakak.” Edgar berkata lagi.


“Ta-tapi, Kak Ed...” Purnama menunduk seraya mengerucutkan bibirnya. Ia masih tak terima akan ucapan Edgar.


“Kak Edgar benar, Purnama. Pulanglah bersama Elias,” tambah Randy. Purnama hanya mendengkus.


“Oke. Sekarang kita bisa mengemasi barang kita, Purnama,” sambung Edgar. Tanpa sepengetahuan istriku. Edgar dan Randy mengedipkan sebelah mata padaku. Bibirku terangkat membentuk senyum kecil tak kentara - membalas kedipan mata mereka.


“Aih, dasar! Baiklah, aku akan pergi karena kau telah mengusirku, Randy.” Purnama mengentakkan kaki ke lantai, berjalan masuk ke kamar. Menutup kasar pintunya hingga berbunyi berdebam. Lalu disusul Edgar memasuki kamar di sebelahnya.


Sepeninggal Purnama dan Edgar, Randy duduk di sampingku. Menepuk bahuku. “Selanjutnya kuserahkan padamu, El. Berjuang melembutkan hatinya yang keras, serta jaga Kak Edgar baik-baik. Satu lagi, Purnama belum makan sedari siang. Saat kalian bertemu tadi, dia hanya minum vitamin.” Randy mengakhiri ucapannya bersamaan Purnama keluar dengan wajah cemberut. Menyeret kopernya. Tak berapa lama Edgar juga keluar.


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2