I'M Sorry To Hurt You [Tamat]

I'M Sorry To Hurt You [Tamat]
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

“Operasi untukku?” suara lemah Edgar memenuhi seluruh ruang apartemen. Wajahnya tampak makin pucat saja, dan hal tersebut semakin sukses membuatku kian cemas melihatnya.


“Iya, Kak. Elias bilang di rumah sakit Mount Sinai Medical Center, di New York, ada operasi pencakokan tulang sumsum belakang untuk penyakit lupus seperti Kakak.” Purnama menjelaskan sama persis apa yang kuutarakan padanya siang tadi.


Aku mengangguk membenarkan saat Purnama menatapku. Sebelum kembali ke Beijing, aku memberikan dokumen penyakit riwayat Edgar pada Dr. Katy. Dokter yang menangani pita suaraku. Lalu dokter Katy menyarankanku berkonsultasi dengan sahabatnya yang sama-sama dokter. Dokter Albert yang menangani penyakit lupus. Menurut diagnoasanya; karena penyakit lupus Edgar telah berkomplikasi menjadi leukimia, maka beliau menyarankan Edgar segera melakukan operasi pencakokan tulang sumsum belakang, untuk mengobati penyakit leukimianya terlebih dahulu.


“Lalu  Purnama... setelah Kakak dioperasi pencakokan tulang sumsum belakang. Kemudian akan ada operasi-operasi lainnya. Hal itu akan menyakiti tubuhku saja. Penyakit Kakak sudah sangat parah, begitu banyaknya komplikasi yang mengikatnya.” Edgar mendesah berat, menatapku dan Purnama secara bergantian.


Purnama menggelengkan kepala. Diraihnya tangan Edgar dan digenggamnya dengan erat. “Kakak ... hanya dengan jalan itu Kakak bisa saja sembuh. Kita obati dulu penyakit leukiminya. Maka penyakit lupusnya bisa disembuhkan. Selama ini penyakit lupus Kakak sudah mulai membaik. Huks, Purnama mohoh, Kak.”


Aku membuang wajah ke arah lain mendengar isak tangis istriku. Hatiku sungguh tak tega melihatnya, menangis pilu karena orang tercintanya.


“Purnama, jangan menangis. Kau sedang hamil bes---”


“Kak Edgar jangan pikirkan keadaanku. Saat ini...kondisi Kakaklah yang paling penting.”


“Dengar Purnama, Kakak tak mau operasi. Hasilnya akan tetap sama saja. Lebih baik seperti ini. Lagipula penyakit Kakak sudah sangat parah.”


“Kakak...jangan katakan itu. Kakak pasti sembuh. Aku akan terus merawat Kakak. Huks ...”


Hening sesaat. Hanya isakan Purnama yang terdengar memilukan memenuhi ruangan. Kuembuskan napas pendek.  Lalu menoleh pada Edgar. “Tapi, Ed. Walaupun itu parah, kalau Tuhan berkehendak. Separah apapun penyakitnya bisa saja sembuh. Kita tak boleh pesimis,” kataku dengan suara parau. Meski hatiku bergetar dan terenyuh, tidak setegar apa yang kukeluarkan dari celah bibirku.


Aku pun juga pernah merasakan hidup pesimis. Saat aku dinyatakan bisu dan tubuhku lumpuh sementara di saat aku ingin segera menemui istriku. Tetapi demikian, karena istriku jugalah aku menemukan kembali semangatku. Demi Purnama dan bayi dalam kandungannya membuatku semangat untuk melewati ujianku. Dan kuharap Edgar juga demikian. Kuharap ia menemukan semangat hidupnya kembali. Setidaknya demi Purnama adiknya, ia harus bertahan hidup.


Kuperhatikan lekat Edgar. Ia tersenyum lemah dan mengusap lembut pucuk kepala Purnama. Bola matanya yang hitam dan redup itu menatapku sesaat, lalu beranjak dari ruangan ini menuju kamarnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Kuembuskan napas pendek. Aku hanya terdiam dan menundukkan kepala. Menatap jari-jari kakiku mendengar isak tangis Purnama yang makin memenuhi ruangan dan tiba-tiba menjadi sangat pengap tanpa udara. Sesak. Sungguh sangat menyakitkan situasi seperti ini.


Tak tahan mendengarnya terus menangis. Kuraih tubuh istriku ke dalam dekapanku. Menepuk-nepuk punggungnya.


“Ssst! Jangan menangis lagi, Sayang. Kita coba bujuk lagi Edgar, sampai ia mau,” bisikku parau.


“Tapi---ini semua salahmu, El. Andaikan saja--” Purnama tak melanjutkan lagi ucapannya. Melepaskan diri dari pelukanku. Irisnya memancarkan amarah. Ia memukul dadaku sesaat lalu beranjak pergi meninggalkanku sendirian di ruangan.

__ADS_1


Pelan kuraba dadaku. Aku meringis. Inilah pembalasan yang setimpal untukku akibat dendamku. Sampai kapanpun Purnama akan terus salah mengira. Setiap perbuatan pasti ada karmanya. Kini...aku memetik hasilnya.


 


 


***


 


 


Aku menatap langit malam hari di kota Beijing di balkon kamar utama apartemen. Terhitung sudah seminggu aku dan Purnama berada di sini. Sikapnya masihlah sama padaku, masih agak marah. Meski tidak terlalu marah-marah amat. Ia masih menjawabku bila aku bertanya.


“Elias.”


Aku menoleh. Edgar menepuk pundakku. “Edgar, kenapa berada di sini? Terlalu banyak angin di sini. Bagaiman--”


“Tak usah cemas begitu, El.” Edgar memotong ucapanku, menahan tanganku yang telah berdiri. Aku hanya menarik napas pendek dan mengelus tengkuk. “Sudah lama kita tak bicara berdua seperti ini. Duduklah kembali,” lanjutnya, memerintahkanku untuk duduk di sebelahnya. Ia menepuk kursi kosong di mana aku duduk tadi.


“Terima kasih,” ujarnya.


“Sama-sama, Ed.” Aku membalas senyuman Edgar tak kalah lebarnya.


Lama kesunyian melanda kami berdua. Aku sendiri, bingung apa yang harus dikatakan. Apakah mencoba kembali membujuknya?


“Ed, soal operasi...” Aku menjeda kalimatku sesaat. Meneguk salivaku, irisku beralih menatap ke bawah pada jalanan yang padat merayap di jam-jam sibuk, saatnya pekerja pulang kantor. Aku melirik jam tanganku, menunjukkan angka sembilan malam.


Lalu kuteruskan kembali ucapanku, “Sebenarnya aku sudah lama merencanakan soal operasi itu, Ed. Sebelum aku kembali ke Beijing, berkasmu sudah kuserahkan ke pihak rumah sakit di New York, dan mereka menyarankan untuk operasi. Tinggal menunggu tanggal untuk operasinya saja,” jelasku kembali. Berharap Edgar mau mendengarkanku kali ini, dan setuju untuk dioperasi.


“Tapi aku menyarankan operasinya usai Purnama melahirkan di sini. Yaaa, selagi menunggu jadwal operasi yang tepat dari pihak rumah sakit.” Aku mengangkat bahu.


Samar kudengar Edgar mendesah. Mengeratkan mantel tebalku di tubuhnya. “Elias, kau selalu mencemaskanku dan Purnama, lalu bagaimana dengan kau sendiri? Sungguh aku sangat bersyukur mempunyai adik ipar sangat pengertian sepertimu.”

__ADS_1


Kutundukkan kepala. Entah kenapa pujian Edgar rasanya begitu menghujam jantungku. Semuanya terlambat bila pada akhirnya jadi begini. Edgar sakit. Kalau bukan sifat egoisku, mungkin saja penyakit Edgar masih bisa disembuhkan, dan ditangani sedini mungkin.


“Karena kau juga, aku jadi tak terlalu cemas meninggalkan Purnama sendirian di dunia ini.”


“Edgar, kumohon jangan katakan itu. Aku yakin kau bisa sembuh. Seperti yang dikatakan Purnama. Kau tak lihat betapa semangat dan bahagianya Purnama saat tahu kau akan dioperasi,” lirihku. Semua rasa penyesalan serta menyalahkan diri sendiri menyeruak di dadaku. Menguap begitu saja ketika mendengar keluh kesah kakak iparku.


“Ed, kau punya masa depan. Kau akan menikah. Punya anak banyak. Akan ada wanita yang sangat mencintaimu nantinya,” ujarku lagi menyemangatinya.


Edgar menggelengkan kepala. “Tidak, El. Aku bisa merasakan sakitku sampai di mana, merasakan tubuhku bisa bertahan sampai di mana. Takkan ada wanita di hidupku.”


Aku terdiam, tak mampu lagi untuk menyangkal semua ucapannya. Yang kini kulakukan hanyalah menjadi pendengar setianya saat ini.


Edgar meraih tanganku, meremas kedua tanganku yang mendingin. Aku memejamkan mata, menghitung dalam hati. Lalu membuka mata kembali, kali ini kuberanikan menatap iris coklat redupnya.


“Elias, berjanjilah untuk selalu berada disisi Purnama, menjaganya selalu.”


“Jangan khawatir soal itu, Ed. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Akan selalu menjaga dan mencintainya selalu.”


“Syukurlah. Terus bagaimana dengan suaramu? Apakah sudah membaik? Kau sering melatih suaramu sesuai saran dokter kan? Apakah kau sudah menjelaskan alasanmu  pada Purnama bahwa kau tak bisa menemuinya selama dua bulan ini karena kau koma dan memulihkan suaramu?” Tiba-tiba saja Edgar bertanya beruntun padaku.


Aku menghela napas pendek. Kuggelengkan kepala dengan lesu. Sampai detik ini aku belum menceritakan semuanya pada Purnama. Aku takut dia akan syok. Dan berdampak pada kandungannya.


“Belum,” jawabku dengan jujur. “Aku takut dia shock mendengarnya bila selama sebulan ini aku koma, berefek pada kelumpuhan tubuhku juga suaraku bisu sementara. Sekarang inipun aku masih melakukan pengobatan rawat--”


Ucapanku seketika terhenti saat kudengar suara benda jatuh. Jantungku berdetak cepat. Sontak aku menoleh ke arah pintu balkon kamar. Mungkinkah itu Purnama? Kalau benar dia... apakah dia mendengar percakapanku dengan Edgar tadi? Kutahan napas sesaat. Kami saling berpandangan. Jantungku pun berpacu kian cepat tak terkendali.


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2