![I'M Sorry To Hurt You [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/i-m-sorry-to-hurt-you--tamat-.webp)
Aku tak peduli. Itu perkataanku semenit yang lalu pada Jagat dan Sakti. Tapi, beberapa detik ini aku sudah berada di belakang Purnama dan lelaki tak dikenal ini. Aku berdecak sebal dengan diriku sendiri - merasa aneh, menyesali hati dan mulut tak sinkron. Sedangkan kulihat dikejauhan Sakti dan Jagat tertawa puas melihatku—kuyakin mereka membicarakan atau menertawakan keanehanku. Masa bodoh, aku memutar kedua bola mataku.
“Baby.... kenapa tak memperkenalkan pria ini pada suamimu?” Aku mengejutkan Purnama. Kupeluk erat pinggangnya dan menyandarkan kepalaku di bahu sempitnya. Nafasku berembus pelan, membuat Purnama bergidik. Mataku menatap tajam pada pria tak dikenal ini---yang kini juga menatapku dengan berbagai ekspresi. Aku semakin mendekap erat Purnama, memberi tau pria ini, bahwa akulah pemilik sah Purnama Dirgasuwoto, tidak Purnama Bowman.
“Ellias – perkenalkan ini Randy, sahabatku. Randy ini Elias---suamiku,” jelas Purnama memperkenalkan kami berdua. Aku berdecak. Jadi pria tak dikenal ini bernama Randy.
“Elias,” ujarku dingin menjabat tangannya.
“Randy,” balas Randy tak kalah sinis.
“Astaga, Purnama. Kenapa tak mengabariku kalau kau sudah menikah?” Randy kembali menatap Purnama dengan raut wajah kecewa. Kecewa tak mengabarinya atau kecewa karena tak ada kesempatan untuk memiliki Purnama.
“Panjang ceritanya, Dy.” Purnama melirik padaku yang bergelayut di bahunya. “Kenapa kau juga bisa ada disini, Dy?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Aku diundang oleh kak Nila,” jawab Randy.
Purnama hanya mengangguk kecil, dan kembali melirik padaku. Mereka berdua jadi canggung saat aku berada di tengah mereka. Purnama dan Randy diam membisu.
“Purnama, Elias, aku ke sana dulu.” Randy menunjuk tempat di mana Sakti dan Jagat berada, sambil melambaikan tangan pada mereka.
Purnama hanya berdengung samar, tampak berat melepaskan Randy pergi. Randy tersenyum manis pada Purnama dan mengacak rambut almond-nya. Purnama mengerucutkan bibirnya, tak terima rambutnya diacak. Aku mendecakkan lidah melihat ekspresi Purnama. Ekspresi yang dulu sering ditampilkan oleh Purnama saat kami belum menikah. Kini, berbagai ekspresi itu tak tak ada lagi diraut wajahnya yang pucat.
“Ekspresi apa itu,” kataku sinis pada Purnama saat Randy sudah tak ada lagi di depan kami.
“Aku lelah, El,” jawabnya datar dan melepaskan kepalaku di bahunya. Meninggalkanku sendiri, melotot melihatnya berlalu. Ia menghampiri Intan dan Nila kembali.
“Apa-apaan ini,” kesalku dan mengikuti Purnama dari belakang sambil memasang wajah sebal.
* I’m Sorry To Hurt You *
“Hey, ada apa dengan ekspresi wajahmu?’ tanya Nila padaku kala melihat wajah tertekukku, kini mengerutkan kening saat sudah berada di tengah mereka lagi. Aku hanya diam sambil menatap tajam Purnama, sedangkan orang yang ditatap tak memberikan respon apapun.
“Sayang, biarkan saja ekspresi wajahnya seperti itu,” celetuk Sakti yang baru bergabung bersama kami---juga memeluk mesra Nila. Begitu pun dengan Jagat ia menghampiri Intan dan merengkuhnya.
“Memangnya kenapa dengan ekspresinya itu?” tanya Intan penasaran. Jagat dan Sakti saling berpandangan, kemudian tertawa, membuat ketiga wanita (Purnama, Intan dan Nila) di sampingku semakin penasaran.
“Itu adalah ekspresi wajah penuh dengan kecemburuan,” bisik Jagat, tapi bisa dengan jelas aku mendengarnya dan disambut gelak tawa riuh dari Sakti cs---terkecuali Purnama. Ia balik menatapku dengan raut wajah bertanya, seakan bertanya, benarkah itu, El? Namun, sedetik kemudian, matanya berbinar, seakan ia tau jawabannya sendiri.
“Bodoh,” ujarku menjitak kepala Jagat.
“Hey! Kenapa kasar sekali dengan orang yang lebih tua, heh,” sungut Jagat meringis, menahan sakit jitakanku.
Aku berdecak. “Siapa suruh smengataiku seperti itu,” balasku dingin sambil tertawa. Aku risih ketika Purnama masih menatapku lekat kala melihatku tertawa seperti ini.
“Apa,” kataku dengan sinis padanya. Purnama hanya menggelengkan kepalanya.
* I’m Sorry To Hurt You *
__ADS_1
Aku mengemudikan mobil seperti orang kesetanan. Tak menghiraukan umpatan setiap mobil yang kusalip. Purnama memejamkan matanya, takut melihat ke depan. Wajahnya tampak makin pucat. Aku tak peduli. Saat ini aku benar-benar sangat marah.
“Sial! Dasar mobil berengsek, beraninya menyalipku,” umpatku pada mobil yang mendahuluiku. Sebenarnya, ini hanya luapan kekesalanku. Purnama tau itu, ia menggigit bibirnya melihat kemarahanku.
“El, tolong pelan sedikit,” ujarnya dengan suara bergetar. Aku diam membisu – menulikan telingaku.
“El-El---”
Sontak aku memberhentikan mobil, hingga suara ban mobil berdecit di jalan beraspal dan memekakkan telinga. Purnama terdorong ke depan. Kukepalkan tangan di setir mobil dan menggeram, hingga berbunyi gemerutuk dari gigiku yang beradu. Betapa marahnya aku saat ini. Aku membalikkan tubuhku dan berhadapan dengan Purnama.
Kudengar suaranya yang mencicit, “A-apa soal Randy tadi?”
* I’m Sorry To Hurt You *
Elias dan Purnama keluar dari gedung saat acaranya telah selesai. Keduanya menuju parkiran mobil. Tiba-tiba dari belakang, Randy menarik tangan Purnama.
“Purnama, tunggu. Aku mau bicara sebentar.”
Purnama membalikkan tubuhnya, menghadap Randy. “Kenapa, Dy?”
Randy menatap Elias, meminta izin. Elias memalingkan mukanya dan tetap berdiri di samping Purnama. Tak merespon apa pun.
“Kau tak apa-apa, Purnama?” kembali Randy bertanya seolah memastikan sesuatu.
“Maksudnya?” tanya Purnama heran.
“Kau tak bisa berbohong, Purnama. Kalau ada apa-apa pada dirimu, cepat hubungi aku.” Randy menatap sendu mata Purnama. Kemudian berbalik menatap tajam Elias hingga kedua pria itu saling bertatapan sinis. Dan kembali lagi Randy menatap Purnama.
“Randy ...”
“Cukup!” Elias jengah pada Purnama dan Randy. Menarik kasar tangan Purnama, membawanya pergi. Tetapi, Randy juga menarik tangan Purnama. Elias menghentikan langkahnya dan berbalik menantang Randy. Mereka berdua saling berhadap-hadapan, memicingkan mata satu sama lain - dengan Purnama berada di tengah-tengah. Tangan kanan Purnama digenggam oleh Elias, sedangkan tangan kirinya dipegang oleh Randy.
“Apa maumu, ha!” bentak Elias dengan mata melotot tajam.
“Aku cuma ingin memastikan keadaan Purnama, itu saja,” balas Randy santai.
“Memastikan?” Elias berkata sinis.
“Ya. Memastikan bahwa Purnama baik-baik saja dari seseorang sepertimu,” sindir Randy terang-terangan.
“Apa yang kau bilang. Memangnya siapa dirimu, ha! Beraninya mengganggu milik orang lain.” Elias membalas tak kalah tajamnya.
Randy mengepalkan tangan. Emosinya tersulut akan ucapan Elias. “Kau---”
“Sudahlah, Dy. Tak usah pedulikan aku, oke! Lihat, aku baik-baik saja,” sela Purnama.
Randy menatap redup Purnama. Ia tau sahabatnya ini menyembunyikan kekerasan yang ada pada dirinya. “Tapi, Pur---”
“Kau dengar itu, Randy! Purnama baik-baik saja. Dan kuperingatkan sekali lagi, jangan mengganggu milikkku,” tekan Elias garang. Mengibaskan kasar tangan Randy dari tangan Purnama, kemudian menarik paksa Purnama, menjauh menuju parkiran.
“Purnama, kalau terjadi apa-apa cepat hubungi aku,” kembali Randy berteriak dari jauh.
__ADS_1
* I’m Sorry To Hurt You *
Aku mendecakkan lidah. “Sebenarnya ada hubungan apa kalian berdua? Kenapa selama kita menikah kau tak memberi tau soal Randy,” kataku geram.
Purnama menelan salivanya. “Itu ... hubungan kami hanya sebatas sahabat, dan soal Randy, aku tak sempat memberi taumu karena kita mendadak menikahnya. Kau tau sendiri setelah kita menikah selanjutnya apa yang terjadi,” jelasnya sambil menunduk dan memilin jarinya.
Aku terdiam. Ya, aku tau setelah kami menikah. Aku sibuk dengan melampiaskan pembalasan dendamku padanya.
“Mulai sekarang, kau tak boleh berhubungan lagi dengan pria itu,” titahku pada Purnama. Purnama mendongak menatapku.
“Kenapa tak boleh?” tanyanya dengan wajah keberatan.
Aku berdecak dan bersungut dalam hati, dasar bodoh.
“Kau lupa siapa dirimu, ha. Kau sudah bersuami. Dan itu artinya kau milikku. Aku berhak melarangmu dengan siapa kau berhubungan,” ucapku penuh penekanan.
Purnama tersenyum sinis menatapku. “Bersuami? Tapi selama ini aku merasa tak bersuami. Kau tak pernah memperlakukanku layaknya seorang istri,” sindirinya tajam.
Aku menggeram mendengar ucapannya. “Sialan. Kau ingin memancing kemarahanku, ha!” bentakku. Purnama menciut, ia memejamkan matanya ketakutan.
Aku menghela nafas, meredakan jantungku yang berpacu cepat bak roller coaster. Sabar. Aku mencoba untuk tak terpancing emosi. Sepanjang hari ini, aku selalu marah-marah padanya, bahkan luka fisik yang kemarin saja belum sembuh, haruskah aku menyakitinya lagi.
* I’m Sorry To Hurt You *
“Akh, Elias, pelan-pelan.” Purnama menjerit kesakitan sambil mengigit bibirnya - air matanya tumpah ruah membasahi pipinya saat aku menyatukan tubuh kami dengan paksa tanpa pamanasan dahulu. Malam ini, kembali aku memaksanya untuk berhubungan badan saat pikiranku kacau. Aku melampiaskan semua padanya.
“Arrrgh. Apa yang kau lakukan.” Kali ini aku yang berteriak, tertahan menahan sakit. Aku terjungkal dengan butt-ku mencium keras lantai marmer dingin saat Purnama mendorong keras tubuhku---yang menyatu dengan tubuhnya. Tiba-tiba Purnama berlari ke kamar mandi. Samar aku mendengarnya muntah.
Aku mengacak rambutku, frustasi melihat ke area bagian bawahku yang masih on. Dengan gontai merebahkan kembali tubuh telanjangku ke tempat tidur size-ku. Terlentang menatap langit kamar. Menutup kedua telingaku saat mendengar Purnama masih muntah. Aku tak peduli padanya saat ini. Pokoknya aku tak mau mendengar ada suara di dalam kamar mandi. Aku menulikan kedua telingaku. Persetan dengan itu semua.
Lama aku mendiamkannya hingga lima belas menit, kini aku tak mendengar suaranya lagi- sunyi di dalam kamar mandi. Nyuuut. Aku meraba dadaku yang kembali berdenyut.
Apa yang dilakukannya di dalam sana? pikirku. Aku mendudukkkan tubuhku dan bergumam tak jelas. Membuka pintu kamar mandi dengan paksa.
“Kenapa lam---Ya, Tuhan! PURNAMA.”
==================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1