ILMU HITAM

ILMU HITAM
Perjodohan


__ADS_3

Barjo merupakan pemuda desa yang baik hati, rajin di tambah mempunyai paras yang tampan, bertubuh tinggi dan profesional namun ia hanya golongan rakyat bisa yang jatuh cinta kepada Melati seorang kembang desa di sana dan anak kepala desa yang mempunyai keturunan berdarah biru.


Cinta Barjo ternyata tidak bertepuk sebelah tangan Melati sendiri pun menaruh hati kepadanya. Namun Melati takut akan Bapaknya Ki Damar yang merupakan orang terpandang dan disegani di desa itu dan juga sebagai juru kunci di desa tersebut, sedangkan  Barjo hannyalah orang biasa yang menaruh rasa kepada Melati mereka berdua pun akhirnya menjalan cinta secara diam-diam.


Malam itu adalah malam yang tidak terlupakan oleh Barjo waktu dimana sepasang kekasih sedang dimabuk asmara serta beradu kasih.


“Mas Bagaimana jika nanti Melati hamil?” tanya Melati yang menyesal dengan perbuatan yang ia lakukan.


 


“Maafkan Mas Melati, Mas akan bertanggung jawab dengan perbuatanku. Mas akan menikahimu,” Barjo yang menegaskan kepada melati


“Bagaimana jika Bapak tidak merestui hubungan ini mas, mas tahu sendiri Bapak ingin menjodohkan Melati dengan mas Tejo yang sama-sama keturunan darah biru,” sahut Melati yang sangat khawatir.


“Dengarkan Mas Melati, bagaimana pun Bapakmu menolak Mas, Mas akan tetap memperjuangkan cinta Mas. Besok mas akan datang ke rumahmu untuk melamarmu Melati,” Barjo yang meyakinkan Melati. 


“Jangan Mas, Melati takut nanti Bapak akan marah kepada Mas Barjo,” sahut melati yang merasa takut.


“Lalu bagaimana jika nanti kau hamil Melati,” tanya Barjo. 


“Entahlah Mas semoga saja ini tidak terjadi,” sahut melati yang sedih dengan keadaan yang terjadi kepadanya.


 


“Ya sudah sebaiknya kamu pulang, Mas antar nanti takutnya Bapakmu mencari dan khawatir kepadamu,” ucap Barjo.


Mereka berdua memasang dan merapikan kembali baju mereka. Barjo pun keluar dari rumah kayunya untuk menemani Melati pulang.


Jalan yang dilalui pun sangat gelap karena belum ada penerangan untung jalan. Sepanjang jalan Melati hanya terdiam tidak bersuara satu kata pun karena ia binggung apa yang harus ia ceritakan kepada orang tuanya nanti jika terjadi hal yang tidak ia inginkan.


“Mas sebaiknya Melati diantar sampai sini saja, Melati takut nanti Bapak tahu dan marah kalau Melati diantar sama Mas Barjo,” pinta Melati kepada kekasihnya.

__ADS_1


 


“Baiklah Melati berhati-hati.”


“Terima kasih Mas Barjo.” 


Barjo pun kembali pulang ke rumah gubuknya sedangkan Melati terus berjalan menuju rumahnya. 


“Assalamualaikum Bu, Pak,” ucap Melati sambil mengetok pintu rumahnya. 


“Habis dari mana saja kau Melati? jam segini  kau baru pulang,” sahut Bapak Melati yang membukakan pintu utama.


“Dari rumah Sri Pak,” sahut Melati sambil menundukkan kepalanya.


“Kamu tahu ini jam sembilan malam! Mana pantas anak gadis jam segini masih keluyuran apa nanti kata penduduk kampung, kau jangan bikin malu nama Bapakmu di sini Melati Bapakmu orang terpandang di desa ini,” sahut Ki Damar yang sangat tegas menasihati anaknya. 


“Iya Pak maafkan  Melati,” sahut melati sambil menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


Tiba-tiba dari arah dalam rumah keluar sosok wanita tidak lain adalah ibunya Melati sendiri yaitu Lastri. 


“Kau terlalu memanjakan Melati Lastri, aku tidak mau sampai orang kampung membicarakan Melati, aku malu di mana harga diriku Lastri,” 


“Melati kamu masuk kamar Nak,” perintah Ibu melati. 


Melati pun meninggalkan mereka berdua, sedangkan Lastri ibunya sedang menenangkan Ki Damar. 


“Sebaiknya kita masuk dulu Pak, gak enak didengar tetangga berbicara di depan teras. 


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan berbincang-bincang di ruang tamu. 


“Ada apa sih Pak, kok marah-marah terus dengan Melati, lagi pula melati sudah besar Pak sudah tahu yang mana yang baik mana yang tidak untuk dirinya,” sahut Lastri yang menenangkan Ki Damar. 

__ADS_1


“Besok keluarga Tejo mau datang untuk melamar Melati, aku tidak ingin ada desas desus apapun dari warga kamung tentang Melati!” ucap Ki Damar. 


“Tapi apa tidak terlalu cepat Pak, Melati saja baru lulus sekolah biarkanlah dia menikmati masa-masa remajanya.” 


“Kalau Melati udah menikah dia akan ada yang menjaganya Bu Bapak tidak perlu khawatir dengan Melati, lagi pula keluarga Tejo keturunan dari darah biru cocok kalau bersanding dengan Melati.” 


“Ibu tidak setuju Pak, biarkan Melati menikmati masa mudanya terlebih dahulu, kalau Bapak tetap ingin menerima lamaran keluarga Tejo tunangan saja terlebih dahulu tunggu 2 tahun lagi biar Melati benar-benar siap rohani dan jasmani.” 


“Ya udah terserah Ibu, Bapak ngikut ibu saja.” 


Tanpa mereka berdua sadari ternyata Melati mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. 


Seketika Melati menutup rapat-rapat pintu kamarnya dan menuju tempat tidurnya, hatinya hancur mendengar ucapan Bapak dan Ibunya yang akan mentunangkan dirinya kepada Tejo. 


Sedangkan cinta Melati sendiri adalah Barjo, Melati hanya bisa menangis di dalam kamarnya. 


“Maafkan melati mas Barjo, Melati tidak bisa melawan kehendak Ibu dan Bapak,” gumam Melati dengan menangis. 


Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar Melati. 


“Belum tidur kamu Nduk?” tanya Lastri Ibunya. 


Melati dengan cepatnya mengusap air matanya yang berjatuhan di pipi. 


“Belum Bu,” sahut Melati dengan lembut. 


“Ada apa denganmu Nduk, seperti habis menangis?” 


“Tidak ada apa-apa Bu, mata Melati kemasukan debu jadi merah,” Melati yang berbohong kepada ibunya.


 

__ADS_1


“Melati naluri seorang ibu itu tidak akan pernah salah Nduk, cobalah cerita kepada Ibu apa yang sebenarnya terjadi,” dengan penuh kelembutan Lastri membujuk anaknya. 


Melati pun memeluk Ibunya dan menangis Ia bingung apakah ia harus bercerita kepada sang Ibu atau memendam sendiri kesedihannya.  


__ADS_2