
Briptu Ardi melihat sekeliling kebun Barjo yang tumbuh subur.
“Wah kebun Bapak sekarang sudah siap panen, oh iya nanti saya beli sayuran Bapak ya buat istri saya. Dia suka sekali sama sayuran hutan seperti ini soalnya di tempat saya tidak ada yang jual,” ucap Ardi.
“Ndak usah beli, saya kasih saja hitung-hitung ucapan terima kasih saya,” ucap Barjo.
“Bapak umurnya berapa kalau boleh tahu?”
“Jika saya jawab nanti kamu kaget,” sahut Barjo yang sebenarnya masih seumuran dengan Bribtu Ardi.
“Apa jangan-jangan Bapak ini sebenarnya masih muda? Karena tertutup luka jadi tidak ketahuan. Soalnya saya lihat lagi fisik Bapak tidaklah seperti orang yang sudah sudah berumur,” tutur Ardi.
Mendengar ucapan Briptu Ardi, Barjo hanya tersenyum tanpa membalas perkataannya.
“Berarti benar?” Briptu Ardi mengartikan senyuman dari Barjo.
“Ya ... Begitu lah terkadang yang terlihat dengan mata itu belum tentu kebenarannya,” ucap Barjo.
__ADS_1
“Kalau begitu saya panggil Tarsim saja, bagaimana?” tanya Ardi.
“Terserah saja, apa saja tidak masalah,” sahut Barjo.
Kini Barjo berpikir akan hidup dengan nama baru yaitu Tarsim, dengan begitu ia akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan para warga bahkan mencari mangsa berikutnya.
Ardi duduk bersantai sejenak menikmati hijaunya pepohonan di depan rumah Barjo, sesekali ia memandang ke arah kebun milik Barjo. Sedangkan Barjo tengah sibuk di dapur sederhana miliknya ia menyalakan api untuk merebus air karena Barjo tidak memiliki kompor jadi ia hanya memanfaatkan kayu kering sebagai bahan bakar untuk memasak.
Api sudah menyala, asap pun membumbung tinggi melewati sela-sela bilik dapur yang terbuat dari bambu.
“Diminum dulu kopinya,” ucap Barjo.
“Terima kasih, harusnya tidak usah repot-repot,” ucap Ardi.
“Namanya tamu harus itu disajeni,” ucap Barjo sambil menyeruput kopinya.
“Saya lihat kamu sangat sering ke desa ini, apa ada hal yang terjadi?” tanya Barjo.
__ADS_1
“Yah ... Ada kasus baru yang cukup aneh. Pemuda yang beberapa hari yang lalu pernah ke sini bersama saya meninggal dengan cara yang tragis,” tutur Ardi.
“Kita tidak akan tahu dengan umur, terkadang banyak manusia yang terlalu sombong dan percaya diri jika dirinya akan hidup lama,” sahut Barjo dengan santai.
“Kamu orang baik, tapi jangan terlalu baik kepada seseorang karena kita tidak tahu manusia itu banyak menutupi wajahnya dengan topeng,” sambung Barjo.
“Prinsip yang selalu saya pegang adalah selalu berbuat baik walaupun nantinya orang itu akan menusuk saya secara tiba-tiba,” tutur Ardi.
Mendengar ucapan Ardi, Barjo hanya tersenyum. Ia mengingat betapa bodohnya ia dulu sehingga kebodohan itu mencelakai dirinya dan sahabatnya Sugeng.
Matahari semakin naik, Briptu Ardi berpamitan dengan Barjo, tidak lupa Barjo memberikan sayuran hasil kebunnya kepada Ardi, saat perjalan pulang Ardi merasa aneh dengan hutan yang ia lalui, karena sebelumnya tidak ada jalan setapak seperti sekarang ia lalui. Saat pertama berkunjung ke rumah Barjo hampir semua di tutupi oleh semak-semak dan pepohonan hingga sangat susah untuk berjalan.
“Apakah Tarsim yang membuat jalan ini? Tapi mana mungkin bisa dilakukan dalam waktu beberapa hari hingga bersih seperti ini?” gumamnya dalam hati.
Briptu Ardi pun keluar dari hutan dengan sangat cepat tidak sampai lima menit, hal itu membuatnya lebih heran karena sebelumnya ia sangat ingat jika jalan menuju rumah Barjo cukup jauh masuk ke dalam hutan.
Namun ia tidak terlalu memikirkan hal itu, ia lebih memilih untuk pulang ke rumahnya dan kembali ke desa besok paginya untuk kembali melakukan pemeriksaan.
__ADS_1