ILMU HITAM

ILMU HITAM
RITUAL


__ADS_3

Bau busuk serta berbagai hewan melata yang mengerubungi mayat membuat Tejo tidak tahan, saat ia masih menggit tali pocong itu ia merasakan sesuatu bergerak di antara bibirnya. Tejo pun melepas gigitannya dan beberapa kali menyeka mulut dengan tangannya. Terlihat beberapa belatung berukuran besar menggeliat di tangannya Tejo langsung memuntahkan isi perutnya.


“Cepat tutup!” perintah Tejo kepada bawahannya.


“Jika bukan karena jimat aku tidak akan mau berurusan dengan mayat busuk ini!” gumam Tejo.


Kuburan sudah ditutup dan di tata seperti semula, Tejo dan bawahannya pun pulang ke rumah.


Saat sampai di rumah Tejo langsung membersihkan tubuhnya, rasa geli dan jijik membuat Tejo terus membersihkan mulutnya berulang kali.


Waktu menunjukkan pukul 02.20 namun Tejo sama sekali tidak bisa tidur, ia terus terbayang sosok mayat yang kuburannya baru ia gali.


Hingga Tejo melihat bayangan seseorang di jendelanya.


“Siapa itu?” teriak Tejo.


Tejo penasaran, ia berjalan perlahan dan mengintip di balik gordennya. Terlihat seorang wanita berpakaian putih dengan kaki yang mengambang membelakangi jendela Tejo.


Dengan cepat Tejo melangkah mundur dan naik ke atas kasurnya. Karena ketakutan Tejo menyelusup ke bawah selimutnya.


TAK ... TAK!


Terdengar ketukan pelan dari kaca jendelanya, dengan perlahan Tejo keluar dari selimutnya dan melihat ke arah jendela.


“Siapa itu? Kamu jangan main-main denganku!” bentak Tejo dengan raut ketakutan.


Merasa tidak tenang, ia memutuskan untuk keluar dari kamar, saat Tejo menurunkan kaki dari kasurnya ia merasa seseorang telang memegangi kakinya.


Tangannya terasa sangat dingin, Tejo melihat ke arah bawah dan benar saja sebuah tangan keluar dari bawah kasurnya dan memegangi kakinya.


Tangan pucat serta membiru dengan kuku yang hitam mencengkram keras pergelangan kakinya.


“Aaaaaaaaa!” Tejo berteriak.


Tejo berusaha melepaskan cengkraman itu namun ia malah terjatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Keesokan harinya Tejo tersadar dan masih berada di lantai, ia pun bangkit dan melihat pergelangan kakinya membiru dengan cepat Tejo keluar kamar dan menuju ruang tamu.


“Aku harus cepat-cepat menemui Mbah Sirah!” gumamnya.


Ia mengambil kunci mobil dan meminta dua orang bawahannya yaitu Firman dan Anwar untuk ikut dengannya tidak lupa Tejo membawa semua syarat yang diminta Mbah Sirah.


Tejo melaju menuju rumah Mbah Sirah, saat di tengah perjalanan sesuatu membuat kedua bawahannya heboh.


“Bau apa ini?” ucap Firman.


“Sepertinya bau bangkai,” pekik Anwar.


“Bau apa? Aku tidak mencium apapun. Teruskan perjalanan jangan berhenti!” ucap Tejo.


“Baik Den,” sahut Firman.


Semakin lama bau itu semakin menyengat dan menyeruak ke semua sisi, karena tidak sanggup menahannya Firman menghentikan mobil dan langsung keluar begitu pula dengan Anwar.


Bau itu membuat mereka mual dan muntah, Tejo pun kesal karena Firman berhenti secara tiba-tiba.


“Ma-maaf Den, tapi saya sudah tidak tahan lagi bau busuknya sangat menyengat,” sahut Firman.


“Kau jangan mengada ada! Dari tadi aku tidak mencium bau apapun. Cepat masuk kalau tidak kalian berdua aku pecat!” Tejo mengancam kedua bawahannya.


“Bagaimana mungkin Den Tejo tidak mencium bau busuk di dalam, apa penciumannya sudah rusak?” bisik Anwar.


“Sudahlah kita antar dia sampai tujuan, kali ini kamu yang bawa mobil, aku sudah tidak sanggup,” ucap Firman.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju rumah Mbah Sirah, mau tidak mau Firman dan Anwar harus menahan bau busuk yang begitu menyengat, mereka jua membuak kaca pintu mobil agar bau itu berkurang.


Hingga mereka sampai di rumah Mbah Sirah.


“Mbah? Mbah Sirah?” teriak Tejo.


“Ya masuk!” sahut Mbah Sirah dari dalam.

__ADS_1


“Kalian bawa ayam serta bungkusan hitam itu ke dalam,” perintah Tejo.


“Baik Den,” sahut Firman dan Anwar.


Tejo masuk ke dalam rumah Mbah Sirah, saat masuk tercium bau kemenyan yang menyengat terlihat Mbah Sirah sudah duduk di depan tungku dengan asap yang membumbung tinggi.


“Bagaimana sudah kau dapatkan?” tanya Mbah Sirah.


“Sudah Mbah ini,” Tejo menyodorkan seutas tali kafan yang sudah ia ambil kemarin malam.


“Hebat juga kamu anak muda, cepat sekali mendapatkannya padahal tali pocong ini sangat susah mendapatkannya.”


“Saya kerahkan semua bawahan untuk mencari informasi di beberapa desa dan akhirnya saya mendapatkannya,” sahut Tejo dengan bangga.


“Sekali lagi aku katakan, apa kamu siap menerima semua konsekuensinya?” tanya Mbah Sirah.


“Siap Mbah asalkan saya bisa terhindar dari kutukan hantu Barjo sialan itu,” sahut Tejo.


Mbah Sirah hanya tersenyum mendengar ucapan dari Tejo. Mbah Sirah mulai membakar kemenyan dan mengeluarkan sebilah belati.


Ia mengasapi belati itu dengan asap bakaran kemenyan sambil terus membaca mantra.


Mbah Sirah mengambil ayam cemani dan menyayat leher ayam itu dengan belati tersebut. Darah berwarna hitam pekat langsung mengalir keluar ia menampung darah itu ke dalam mangkuk kecil yang terbuat dari tanah liat.


“Minum!” Mbah Sirah menyodorkan darah ayam cemani itu kepada Tejo.


“Harus diminum langsung Mbah?” tanya Tejo.


“Cepat minum sebelum ajiannya hilang!” ucap Mbah Sirah.


Dengan terpaksa Tejo meminum darah ayam cemani tersebut, rasa yang aneh serta bau anyir dan amis menyatu membuat Tejo mual dan ingin memuntahkannya.


“Jangan dimuntahkan!” ucap Mbah Sirah.


Dengan cepat Tejo menutup mulutnya agar tidak memuntahkan darah ayam cemani tersebut.

__ADS_1


__ADS_2