
“Wan, Ibu sudah tanya tetangga katanya mau antar kita ke kota,” ucap Ibu Iwan yang masih mengira Iwan berada di dalam kamar.
“Wan? Kamu sudah tidur?” sambungnya.
Karena tidak ada jawaban Ibu Iwan masuk ke dalam kamar milik Iwan.
“Si Iwan kemana?” ucapnya sambil berjalan keluar kamar.
“Wan? Iwan?” teriaknya sambil mengitari ruangan dengan raut cemas.
“Astagfirullah! Iwan! Ya Allah Nak! Tolong!” teriaknya dengan histeris.
Hatinya hancur ketika melihat putra semata wayangnya tergeletak di lantai bersimbah darah dengan tangan yang masih memegangi pisau dapur.
Ia terduduk lemas, dengan tangan yang gemetar sambil menangis histeris memanggil nama Iwan.
Para tetangga yang mendengar teriakannya pun berdatangan.
“Ada apa Mbok?” ucap seorang warga yang berlari masuk ke dalam rumah.
“Astagfirullah!” sambungnya ketika melihat keadaan Iwan yang mengenaskan.
“Tolong! Tolong!” teriak warga itu.
Tempat yang awalnya sepi senyap kini tiba-tiba riuh, banyak warga berdatangan karena teriakan minta tolong termasuk Ki Damar yang lokasi rumahnya tidak jauh dari rumah Iwan.
“Ada apa ini?” tanya Ki Damar.
“Iwan Ki.”
Tanpa basa basi Ki Damar menerobos kerumunan warga dan masuk ke dalam rumah Iwan. Terlihat Ibu Iwan terduduk lemas di kursi dengan ditemani oleh seorang tetangganya.
__ADS_1
“Mbok Iwan kenapa?” tanya Ki Damar.
“Iwan bunuh diri Ki,” sahutnya dengan terisak.
Ki Damar pun masuk ke dalam dapur dan melihat keadaan Iwan, Ki Damar tak kuasa melihat keadaan Iwan yang mengenaskan para warga juga tidak berani menyentuh tubuh Iwan yang masih tergeletak dengan luka menganga di perutnya.
“Bagaimana ini Ki? Apa kita panggil ambulans?” tanya salah satu warga.
“Ya sudah biar saya yang panggil ambulans, saya juga akan hubungi polisi,” sahut Ki Damar.
Raungan tangis dari Ibu Iwan terus menggema di antara riuhnya kerumunan warga, beberapa orang berusaha menenangkannya. Sedangkan Ki Damar tengah sibuk menghubungi Polisi.
Satu jam kemudian terdengar jelas ngiungan dari sirine ambulans serta mobil Polisi.
“Selamat malam, boleh kami masuk?” ucap Briptu Ardi.
“Silahkan Pak,” ucap Ki Damar.
“Kenapa dia bisa berakhir seperti ini?” tanya salah satu rekan Briptu Ardi.
“Kami juga tidak mengerti, kami dengar Ibunya Iwan teriak jadi kami semua berlarian ke sini,” tutur Ki Damar.
“Baiklah kami akan membawanya terlebih dahulu untuk diautopsi, dan sepertinya kami juga tidak bisa langsung menanyai kronologi kepada Ibunya karena pasti beliau sangat syok,” tutur Briptu Ardi.
“Baik Pak polisi,” sahut Ki Damar.
“Masalah Tito belum selesai ada lagi korban baru, apa memang benar desa kita ini kena kutukan?” cicit salah satu warga.
“Husttt! Jangan mengada-ada!” ucap Ki Damar.
“Tapi ini benar-benar aneh Ki, dari kematian anak buah Tejo, Tinah, Nilam, Agus, Tito dan sekarang Iwan mereka semua meninggal dengan tidak wajar Ki.”
__ADS_1
Mendengar hal itu Ki Damar terdiam dan memikirkan perkataan warga tadi.
“Ya sudah, kalian pulang saja dulu biar Pak polisi dan lainnya yang menangani ini,” sahut Ki Damar.
Jasad Iwan pun dibawa ke rumah sakit, sedangkan Ibu Iwan tak kuasa menahan kesedihannya. Tubuhnya semakin lemas dan hampir tak sadarkan diri. Polisi juga mulai memasang garis polisi di rumah Iwan agar tidak banyak warga mendekat untuk mempermudah proses pemeriksaan.
“Aku harus cari tahu, sebelum masalah ini berlarut-larut,” gumam Ki Damar.
Ki Damar pulang ke rumahnya dengan hati yang gusar, istri Ki Damar pun terlihat cemas dengan keadaan desa saat ini.
“Bagaimana Pak?” tanya Lastri yang sengaja menunggu Ki Damar pulang.
“Aku tidak bisa diam saja, ini sudah sangat keterlaluan!” ucap Ki Damar.
“Maksud Bapak apa?” tanya Lastri yang bingung.
“Sudah kita masuk dulu.”
Ki Damar dan istrinya masuk ke dalam rumah dan membahas masalah desa yang saat ini tengah kacau.
“Sepertinya ini bukanlah kebetulan, aku harus mencari tahu,” ucap Ki Damar.
“Apa ini ada hubungannya dengan penganut ilmu hitam?” tanya Lastri.
“Entahlah, jika kecurigaanku benar maka aku sendiri yang akan menangkapnya baik hidup ataupun mati!” ucap Ki Damar geram.
Ki Damar masuk ke sebuah ruangan kosong yang ada di dalam rumahnya, ia duduk bersila di tengah-tengah ruangan tersebut. Ia mulai mengatur nafas dan memejamkan matanya sembari mengucap mantera.
Dalam sekejap sukma Ki Damar terpisah dari tubuhnya, ia langsung berpindah dimensi menuju sebuah hutan lebat dan gelap serta di penuhi kabut tipis.
Aku harus menemukan penganut ilmu hitam itu. gumam Ki Damar dalam hati.
__ADS_1