ILMU HITAM

ILMU HITAM
Terbunuhnya Dua Pemuda


__ADS_3

Keesokan harinya dua orang pemuda desa masuk ke hutan terlarang untuk mencari tanaman obat.


“Kirno coba sini aku melihat sesuatu di tanah ini,” Tono yang memanggil temannya.


“Ada apa To? Tanya Kirno.


“Coba sini, liat apa yang aku temukan sepertinya ada yang aneh, tanah ini kok tidak rata seperti bekas di kali dan ada sesuatu yang keluar dari tanah ini,” ujar Kirno yang menyampaikan kepada temannya apa yang dia liat.


Tono mulai berjalan mendekati Kirno. Tono yang melihat sesuatu yang di pegang oleh Kirno menanyakan hal tersebut.


“Kirno, apa yang kau pengang itu kok seperti rambut manusia?” tanya Tono yang curiga.


“Ah masa, coba kita gali apa yang ada di dalam tanah ini?” sahut Kirno.


Mereka berdua mulai menggali dengan menggunakan perlengkapan seadanya Kirno yang menggunakan golok yang ia bawa sedangkan Tono menggunakan kayu yang ia temui di hutan. Mereka berdua sedang asik menggali gundukan tanah tersebut.


Kirno seketika terkejut melihat seorang gadis yang terkubur dengan luka sayatan di lehernya.


“Astagfirullah, ini bukannya Nilam siapa yang membunuhnya dengan cara yang kejam seperti ini,” tutur Kirno yang kesal.


“Kita harus cepat melapor Ki Damar, dan Para warga desa,” celetuk Tono.


Saat mereka hendak bersiap-siap beranjak dari sana ingin pergi melapor, Barjo tiba-tiba muncul dari depan mereka melayangkan celurit ke leher Kirno sontak saja kepala Kirno terjatuh di tanah darah segar yang keluar dari tebasan leher Kirno.


Melihat temannya mati secara mengerikan membuat Tono berlari ketakutan, untuk menghindari Barjo.


Barjo dengan santainya berjalan ingin membunuh Tino. Namun dengan sekuat tenaga Tono berlari membuat Barjo tidak dapat mengejarnya.


Tono pun sembunyi antara semak dan rerumputan berharap Barjo tidak menemukannya.


Ilmu Hitam yang dimilki Barjo semakin meningkat, tidak ada yang bisa bersembunyi darinya termasuk Tono.


Tono merasa aman saat bersembunyi sehingga ia menghela nafas lega saat bisa kabur dari kejaran Barjo, namun satu hal yang tidak dia tahu yaitu Barjo sedari tadi sudah mengetahui keberadaannya.


“Siapa pun tidak akan bisa lari dariku,” seringai Barjo sambil berjalan dengan santai.


Suara kemerisik dedaunan kering mulai terdengar, hela nafas lega dari Tono seketika sirna dengan perlahan Tono mengintip di balik semak namun ia tidak melihat siapapun yang datang mendekat.

__ADS_1


Tono tidak menyadari jika Barjo sudah berada di belakangnya, Tono masih sibuk mengintip di balik semak, hingga Tono berbalik badan.


“Aaakkhhhh ...,” leher Tono di cekik oleh Barjo.


Mata Tono seketika terbelalak karena kerasnya cekikkan dari Barjo, wajah Tono mulai memerah karena kehabisan nafas. Tono berusaha berontak namun anehnya ia tidak bisa bergerak sedikitpun.


“Mau lari kemana kau?” seringai Barjo.


Barjo sangat menikmati penderitaan dari Tono, dengan santai Barjo mengambil belati yang ia bawa sebelumnya.


“Kau sudah mengetahuinya, apa kau kasihan dengan wanita itu? Tenang saja sebentar lagi kau akan menemainya,” ucap Barjo sambil menempelkan belatinya di pipi Tono.


Barjo menyayat perlahan kulit wajah Tono dan melepaskan cekikkannya.


“Aaaaaaahh ...,” Tono berteriak sambil memegangi pipinya yang robek.


Darah mengalir deras dari pipi Tono, raungan kesakitan terus terlontar menggema ke seluruh hutan.


“Ha-ha-ha ... Bagaimana? Apakah sakit? Namun itu tidak sebanding dengan apa yang kalian lakukan terhadapku!” ucap Barjo yang mengungkit masa lalunya.


“Saya tidak mengerti apa yang Bapak bicarakan, tolong lepaskan saya pak saya mohon,” ucap Tono memohon.


Tono meregang nyawa di tangan Barjo dengan cara yang tragis. Tidak lama sosok hitam bertubuh besar merangkak menghampiri jasad Tono, air liurnya menetes ketika melihat Tono berlumuran darah, taringnya yang runcing begitu jelas terlihat.


“Nikmatilah!” ucap Barjo.


Makhluk itu menjilati seluruh darah yang ada di tubuh Tono hingga tak tersisa, tidak hanya itu dengan mulutnya yang lebar dia menghisap darah lewat ubun-ubun hingga darah yang ada ditubuh Tono habis. Tubuh Tono bukan lagi pucat namun seluruh kulit Tono seakan menyusut. Usai menghisap darah Tono makhluk itu pergi menjauh.


Barjo pun menyeret jasad Tono sampai keluar hutan dan meninggalkannya begitu saja di tengah jalan.


Keesokan harinya para warga gempar karena jasad Tono yang tergeletak di tengah jalan, para warga dibuat merinding dengan keadaan Tono yang mengenaskan.


“Bagaimana ini Ki?” tanya para Warga.


“Saya akan hubungi polisi terlebih dahulu,” ucap Ki Damar.


“Tapi ini aneh Ki, semakin lama semakin banyak warga kita yang meninggalnya tragis, apa desa kita dapat kutukkan?” ucap warga.

__ADS_1


“Jangan bicara takhayul! Kelihatannya Tino habis berkelahi dan lihat saja di pipinya bekas sayatan, sebaiknya kita panggil polisi saja,” sahut Ki Damar.


“Tapi kenapa darahnya tidak ada? Hanya bekas tusukkan dan sayatan saja,” Warga terus menaruh kecurigaan.


“Sudahlah, saya akan panggil polisi dulu, kalian jangan ada yang menyentuh jasad Tino, tutupi saja pakai daun pisang biar yang lain gak lihat,” perintah Ki Damar.


Ki Damar menghubungi polisi dan melaporkan jika terdapat jasad warga yang memiliki bekas luka tusukkan di sekujur tubuhnya.


Para warga semakin banyak berkumpul, dan mengelilingi jasad Tino. Ngiungan suara sirine mobil polisi menggema di desa kecil itu, sejumlah polisi turun dan langsung memeriksa jasad Tono.


Garis polisi pun dipasang di sekitar tempat kejadian, beberapa orang mulai memeriksa kondisi Tono, sebagian lagi mengitari sekitar lokasi jasad Tono, hingga polisi berjalan menuju hutan.


Namun anehnya tidak ada bekas ataupun jejak darah berada di sana, bahkan hutan itu seperti hutan yang tidak pernah dimasuki orang lain.


Barjo yang tidak lain adalah tersangka utama, ikut berbaur dengan para warga serta ikut menyaksikan pemeriksaan jasad Tono. Sesekali Barjo menyeringai melihat para polisi yang sibuk dan kebingungan dengan kematian Tono yang tidak wajar.


Isak tangis istri Tono pecah ketika melihat jasad Tono.


“Ya Allah Mas, kenapa nasibmu jadi begini Mas,” ucapnya dengan terisak.


“Maaf apa Ibu ini istrinya?” tanya salah satu polisi.


“Iya Pak saya istrinya,” sahutnya.


“Apa ibu tahu pak Tono ini terakhir pergi kemana?” tanya polisi.


“Kemarin suami saya bilang ingin ke hutan untuk mencari tanaman obat pak,” sahut istri Tono.


“Baik, apa saudara Tono memiliki musuh atau punya masalah dengan seseorang belakangan ini?” tanya polisi itu lagi.


“Setahu saya tidak ada Pak, suami saya tidak memiliki musuh.”


“Baiklah, apa boleh jasad Toni kami bawa untuk di otopsi?”


“Jangan! Suami saya sudah seperti ini keadaannya saya tidak rela jika suami saya di lukai lagi! biar saya dan keluarga yang mengurusnya sendiri,” ucapnya sambil menagis.


Polisi disertai dengan beberapa warga mengantarkan jasad Tono ke rumah duka, saat jasad Tono sampai di rumah tangis seluruh keluarga pun pecah tidak terkendali. Beberapa mengutuk orang yang melakukan hal tersebut kepada Toni.

__ADS_1


Banyak dari warga percaya jika itu adalah ulah makhluk halus penunggu hutan.


__ADS_2