ILMU HITAM

ILMU HITAM
Nathan Mengutarakan Perasaanya


__ADS_3

Di tempat lain, Nathan yang tidak bisa membendung perasaannya kepada Melati akhirnya ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya kepada Melati. Nathan terus memandangi Melati yang tengah bersantai di teras rumah, senyum malu mengembang dari bibir Nathan, rasa gugup kian memacu jantungnya bahkan ia dapat mendengar degupan jantungnya sendiri. Berulang kali Nathan mengatur nafas agar mengurangi rasa gugupnya hingga Nathan memutuskan menghampiri Melati yang sedang tersenyum sembari mengelus perutnya yang membesar.


“Sehat-sehat ya anak Ibu,” ucap Melati sambil mengelus-elus prutnya.


“Bumil kok sendirian duduk sendirian sih di sini,” tegur Nathan kepada Melati.


“Eh, Nathan,” sahut Melati dengan wajah terseyum.


“Bagaimana jika hari ini aku temani kamu untuk USG,” ajak Nathan.


“Bulan kemarin kan kamu sudah menemani saya, saya bisa sendiri kok.”


“Tidak apa-apa, anak ini adalah anakku juga,” celetuk Nathan.


Ucapan Nathan membuat Melati terdiam tak bersuara, saat mendapat perhatian lebih dari Nathan, Melati kembali teringat dengan Barjo.


“Seandainya Mas Barjo, masih hidup mungkin aku bisa merasakan kebagian yang seutuhnya walau hidup sederhana dengan dirinya,” gumam Melati dalam hati.

__ADS_1


“Bumil jangan kebanyakan melamun, gak baik untuk perkembangan bayi yang sedang dikandung,” celetuk Nathan.


“Bagaimana, mau aku antar USG hari ini?” tanya Nathan kembali.


“Tidak usah Nathan kan ada Pak sopir yang mengantar.”


“Mmm ... Melati aku mau ngomong serius.”


“Apa itu sepertinya sangat penting?”


“Maksudmu?”


“Maukah kamu menjadi istriku Melati? Aku akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk anak kita dan kamu!” Nathan berusaha meyakinkan Melati.


“Tapi kamu tahu kan ini bukan anakmu, kenapa kamu tidak mencari wanita lain yang lebih dari aku, aku hanyalah gadis desa Nathan,” sahut Melati.


“Aku tidak bisa menaruh hatiku ini pada siapa pun lagi Melati. Entah kenapa saat pertama kali melihatmu aku merasakan hal yang berbeda,” tutur Nathan.

__ADS_1


“Mungkin itu hanya rasa kasihanmu saja kepadaku Nathan, tapi terima kasih selama ini kamu sudah sangat peduli kepadaku,” sahut Melati tersenyum.


“Melati, rasa cinta dan kasih sayang sangat berbeda jauh dengan rasa kasihan. Jika aku hanya kasihan kepadamu aku tidak akan berada di sini sepanjang waktu menemani kamu kemana kamu mau pergi, bahkan menjadikanku ayah dari anakmu Melati.”


“Tapi Nathan, kamu layak mendapatkan wanita yang lebih baik. Dan lagi apa kata Ibu Ratna nanti. Beliau sangat baik saya tidak ingin mengecewakannya,” tutur Melati.


“Ibu tidak keberatan,” sahut Ibu Ratna yang tiba-tiba berada di depan pintu.


“Melati, sebenarnya aku sudah membicarakan hal ini kepada Ibu dan Ibu sangat setuju dengan keputusanku,” ucap Nathan berusaha meyakinkan Melati kembali.


“Keputusan ada di tanganmu Melati, Ibu juga tidak ingin memaksa,” ucap Ibu Ratna.


“Bisakah beri saya waktu untuk berpikir?” tanya Melati.


“Tentu saja, apa pun keputusanmu itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita. Kamu akan tetap menjadi anak Ibu,” sahut Ibu Ratna dengan tersenyum.


Sepanjang hari Melati memikirkan keputusan yang akan ia ambil, sebenarnya Melati juga menyukai Nathan karena Nathan sangat lembut dan perhatian kepadanya. Hingga malam hari ketika mereka semua berkumpul di ruang keluarga Melati akhirnya memberi jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2