ILMU HITAM

ILMU HITAM
Ronda


__ADS_3

Tiga orang pria tengah berjaga di pos ronda namun dua di antaranya tertidur lelap.


“Jangan tidur terus ayo ngeronda!” ucap Basri yang membangunkan dua temannya yang sedang terlelap di pos ronda.


“Berisik! Aku masih ngantuk!” Sahut Suryo.


“Ayo jangan malas! Cepetan masa aku sendirian,” Basri menarik kaki kedua temannya Suryo dan Karim.


Suryo dan Karim pun bangun, dengan mata yang masih sepat mereka berjalan berkeliling area desa.


Sambil berkeliling mereka saling bercerita tentang keadaan desa dan juga rumor penganut ilmu hitam.


“Basri, aku dengar di desa kita ini ada yang sedang menganut ilmu hitam,” ucap Karim.


“Ah ... Jangan terlalu percaya dengan berita takhayul seperti itu,” sahut Basri.


“Apakah karena peristiwa pembakaran Barjo desa kita dikutuk? Karena kita semua tahu Barjo adalah orang yang baik, apa lagi Barjo terbakar hidup-hidup di rumahnya” tutur Suryo.


“Benar! Aku heran kenapa mereka bisa cepat terhasut omongan si gendut Burhan itu!” sahut Karim.


“Ngomong-ngomong soal Barjo, dia kan berteman baik dengan Sugeng, semenjak Barjo meninggal aku tidak pernah melihatnya lagi bahkan di perkebunan milik Ki Damar pun dia tidak pernah kelihatan,” ucap Basri.


“Iya juga ya, apa dia pulang ke desanya?” Karim menerka.


“Mungkin saja,” sahut Suryo.

__ADS_1


Mereka terus berpatroli mengelilingi desa hingga mereka melintas di depan rumah Barjo, yang hanya tersisa tiang-tiangnya saja tempat itu terlihat sangat selap dan suram.


Bulu kuduk mereka langsung berdiri berhenti di depannya.


“Sudah kita menjauh dari sini, aku merinding!” ucap Karim.


“Kamu ini penakut sekali, memangnya di sini ada apa? Rumahnya saja sekarang sisa tiang begini,” sahut Suryo.


Saat mereka ingin beranjak dari tempat itu, tiba-tiba tercium bau aneh yang membuat langkah mereka terhenti.


“Bau apa ini?” ucap Basri sambil mengerutkan keningnya.


“Bau gosong, tapi bau busuk juga,” sahut Karim.


“I-itu apaan di samping tiang?” ucap Basri sambil terus menyoroti dengan senter.


“Mana?” tanya Suryo.


“Alah ... Itu kan tiang rumah yang gosong,” sahut Karim.


“Eh ... Tapi kok gerak-gerak?” Suryo terkejut.


Mereka bertiga mendekat perlahan agar bisa melihat dengan jelas, hingga nampak yang mereka lihat bukanlah tiang namun sosok makhluk yang sekujur tubuhnya gosong, dengan kulit yang terkoyak dan wajahnya pun hancur.


“Ba-Barjo! Hantu Barjo!” ucap Karim sambil menarik kedua temannya untuk lari.

__ADS_1


Mereka bertiga lari terbirit-birit dengan cepat mereka kembali ke pos ronda. Dengan nafas tersengal mereka duduk saling berdempetan karena ketakutan.


“Sur, kamu tadi lihat kan?” tanya Karim.


“Kalau tidak lihat, tidak mungkin aku ikut lari,” sahut Suryo.


“Sepertinya memang benar desa kita dikutuk oleh arwah Barjo,” ucap Suryo.


“Bagaimana besok kita ceritakan hal ini kepada Ki Damar?” usul Basri.


“Iya aku setuju,” sahut Karim.


“Sebaiknya kita pulang saja, aku takut terjadi apa-apa terhadap kita bertiga,” ucap Basri.


Mereka bertiga akhirnya memilih pulang karena sudah terlanjur ketakutan, mereka berpisah di tengah jalan karena rumah mereka berjauhan dan paling jauh adalah rumah Suryo.


Dengan bermodalkan senter Suryo berjalan menuju rumahnya, hingga ia bertemu dengan Barjo. Suryo mengenal Barjo ia juga berdagang di pasar.


“Lho ... Pak ngapain malam-malam sendirian?” tanya Suryo.


“Saya lagi menunggu seseorang,” sahut Barjo.


“Nunggu siapa tengah malam begini Pak? Lebih baik Bapak pulang saja ke rumah,”


Tanpa berkata apa pun Barjo pergi meninggalkan Suryo, hal itu membuatnya bingung dengan sikap Barjo. Barjo hanya tersenyum dan meninggalkan Suryo sendirian.

__ADS_1


__ADS_2