ILMU HITAM

ILMU HITAM
pencarian Dukun sakti


__ADS_3

Tejo pun bercerita tentang kejadian yang ia alami serta meninggalnya Firman karena ulahnya, Burhan seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar karena dia sendiri tidak percaya dengan hal gaib dan semacamnya.


Burhan memastikan jika dia akan segera mencari orang untuk bekerja sebagai penjaga di rumah Tejo. Sementara itu Burhan juga bertanya soal kedekatan Tejo dengan teman Melati yaitu Sri.


“Den kalau boleh saya tahu, apa Den Tejo benar-benar ingin melamar Sri?” tanya Burhan.


“Iya, lagi pula siapa yang tidak suka dengan Sri dia cantik, dan dari keluarga terpandang,” sahut Tejo.


“Tapi bagaimana dengan Melati? Apa Den Tejo sudah melupakannya?” tanya Burhan.


“Aku sudah tidak peduli lagi, yang terpenting sekarang Sri harus cepat-cepat menjadi istriku,” Tejo menyeringai.


“Lagi pula siapa yang tidak suka sama Den Tejo ini sudah tampan, dari keluarga terpandang banyak duit pula,” Burhan memuji Tejo.


Mendengar pujian dari Burhan Tejo semakin besar kepala. Percakapan mereka pun semakin panjang hingga Tejo memutuskan untuk tidur karena sudah sangat larut malam.


Ia masuk ke dalam kamar, di kamar itu hanya terdapat sebuah kasur usang, satu buah bantal dan kipas angin kecil.


Karena sudah sangat lelah Tejo membaringkan tubuhnya di kasur, walau merasa tidak nyaman Tejo tetap membaringkan tubuhnya, karena biasanya ia berbaring di atas kasur yang empuk serta ruangan yang nyaman.


Keesokan harinya Tejo mengajak Burhan untuk pergi ke desa di mana Mbah Sirah berada.


“Den sebenarnya untuk apa pergi ke dukun itu?” tanya Burhan.

__ADS_1


“Jimatku hilang, dan beberapa hari ini aku sering melihat orang lain di rumahku namun saat aku kejar orang itu menghilang,” sahut Tejo.


“Mungkin saja itu salah satu mantan pengawal Den Tejo,” Burhan masih berpikir positif.


“Tentu saja bukan!” sahut Tejo dengan nada tinggi.


Burhan pun terdiam dan tetap fokus mengemudikan mobil, hingga mereka sampai di depan rumah Mbah Sirah.


“Ini rumahnya Den? Tapi kok sepi sekali?” ucap Burhan.


“Ayo keluar!” perintah Tejo.


Tejo berjalan menuju pintu dan mengetuknya berulang kali.


“Cari siapa Mas?” tanya seorang pemuda yang kebetulan melintas.


“Mbah Sirah, aku ketuk pintunya berulang kali tapi tidak ada yang menyahut,” sahut Tejo.


“Anu Mas, sebenarnya Mbah Sirah sudah-”


“Sudah apa?” tanya Burhan.


“Sudah meninggal,” ucapnya sambil mendekat ke arah Tejo.

__ADS_1


“Meninggal? Kapan?” Tejo terkejut mendengar hal tersebut.


“Beberapa hari yang lalu, dan dikubur di belakang rumahnya,” tutur pemuda tersebut.


“Kalau boleh tahu meninggal kenapa?” Burhan penasaran dan ikut bertanya.


“Anu Mas, saya ini juga  tidak terlalu paham dari informasi tetangganya si Mbah meninggal setelah muntah darah hebat,” sahutnya.


“Kacau! Kacau!” ucap Tejo sambil meremas rambut dengan kedua tangannya.


“Kalau begitu saya permisi Mas,” pemuda tersebut berpamitan.


Tejo yang kesal menendang-nendang pohon yang ada di sampingnya. Ia bingung kemana lagi harus meminta bantuan.


“Aku sudah banyak mengeluarkan uang bahkan melakukan hal bodoh yang dia suruh! Dan kamu tahu Burhan wanita itu, dia mendatangiku!” ucapnya dengan penuh amarah.


“Maksud Den Tejo apa? Wanita yang mana?” Burhan tidak mengerti apa yang di maksud oleh Tejo.


“Wanita itu! Dia pemilik tali pocong yang aku ambil dan sekarang Mbah Sirah malah Mati!” ucap ya dengan penuh rasa frustrasi.


“Begini saja, bagaimana jika kita cari dukun di desa lain saya punya teman dari Desa Mawar siapa tahu di sana terdapat dukun yang sakti,” ucap Burhan.


“Ya sudah cepat kamu hubungi temanmu itu, atau kita datangi saja dia sekarang.”

__ADS_1


“Lebih baik saya hubungi dulu, jika dia sedang berada di rumah kita langsung mendatanginya,” usul Burhan.


__ADS_2