
Barjo mulai menyelusuri hutan di malam yang sangat gelap hanya disinari oleh sinar bulan yang remang-remang terlihat penduduk desa yang sedang gempar mencari Tinah.
Barjo yang mengetahui hal tersebut pun bersembunyi di balik pohon besar yang ditumbuhi semak-semak agar tidak ketahuan penduduk kampung. Terdengar suara laki-laki dewasa memanggil nama Tinah.
“Tinah ... Tinah ... Tinah,” teriak laki-laki itu di sambut teriakkan balik penduduk kampung.
“Bagaimana ini Burhan sudah berjam-jam kita dan yang lain menyelusuri sungai ini tapi Tinah belum saja di temukan, hanya pakaian yang ia ingin mencucinya yang masih ada,” ucap salah satu warga desa kepada Burhan.
“Lehah apa kau yakin Tinah masih berada di sini?” tanya Burhan kepada lehah yang menemani Tinah mandi.
“Iya Pak, saya yakin Tinah di sini waktu kami mandi di sungai ini saya duluan untuk pulang katanya Tinah masih ingin mencuci baju kotornya di sungai ini, saya pun meninggalkan Tinah dan berbicara kepadanya jangan sore-sore pulangnya Tinah bilang Iya setelah itu saya pergi meninggalkan Tinah di sungai ini,” Lehah yang menjelaskan kejadian ia bersama Tinah.
“Tapi apa tidak mungkin Tinah sampai sekarang tidak pulang!” sahut Burhan.
Sesaat Burhan terdiam dan memikirkan di mana anak gadisnya berada.
“Tinah dimana kau Nduk, bapak sangat khawatir kepadamu semoga kau tidak kenapa-kenapa Nduk,” gumam Burhan.
“Apa jangan-jangan Tinah di makan Buaya sungai,” celetuk salah satu pemuda desa.
“Kau jangan berbicara hal-hal yang aneh!” Burhan tegur pemuda itu.
__ADS_1
“Siapa tahu Pak Burhan, di sungai ini ada buaya,” sahut pemuda itu.
Ucapan pemuda desa itu membuat Burhan semakin khawatir. Dibalik pepohonan yang di tumbuhi semak-semak Barjo melihat semuanya.
“Ini yang akan kau rasakan Burhan, kehilangan orang yang sangat kau sayangi,” gumam Barjo di balik pohon sambil melihat mereka semua.
Sementara penduduk desa sudah mulai lelah mencari Tinah yang tidak kunjung mendapatkan hasil.
“Bagaimana ini hari sudah mulai larut malam kita semua sudah berjam-jam di sini mencari Tinah namun tidak membuahkan hasil, apak kita akhiri pencarian ini lanjut besok saja,” saran dari Ki Damar yang ikut serta mencari keberadaan Tinah.
Burhan pun mengiyakan karena memang sudah berjam-jam Tinah di cari namun tidak kunjung ketemu.
Akhirnya penduduk desa pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing melanjutkan pencarian Tinah di esok hari. Barjo yang mengetahui hal ini sangat senang karena ia dapat menjalankan misi selanjutnya yaitu mencari ari-ari bayi.
Malam sudah semakin larut penduduk desa pun sudah mulai tertidur semua. Barjo mulai beraksi ia berjalan mengendap-endap agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya, sesampainya di warung kopi yang tadi siang ia datangi Barjo mulai menyelusuri rumah pemilik warung tersebut yang kebetulan rumahnya beda di belakang warung kopi itu.
Saat Barjo tengah berjalan menyelusuri di samping rumah pemilik warung itu, terlihat cahaya yang di tutupi oleh ember plastik melihat hal itu Barjo langsung menghampirinya.
“Itu dia yang aku cari,” gumam Barjo.
__ADS_1
Barjo pun langsung membuka ember plastik itu dan mulai menggali tanah mengambil ari-ari yang telah di kubur oleh si pemilik.
Dengan cepat dan tergesa-gesa Barjo menggali tanah tersebut ia pun khawatir jika ada salah satu penduduk desa yang mengetahui tindakannya.
“Akhirnya aku mendapatkannya,” gumam Barjo di dalam hati kecilnya dengan senyum tipisnya ia sangat senang sekali karena telah mendapatkan syarat untuk ritual besok malam.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari Barjo bergegas pergi meninggalkan semua tanpa ia rapikan karena ia takut orang-orang yang berada di pos roda memergokinya.
Barjo pun mulai berjalan mengendap-endap kembali menuju rumahnya. Sesampainya di dalam hutan Barjo pun tertawa dengan sangat senangnya.
“Ha-ha-ha-ha, aku sudah mendapatkan semuanya sebentar lagi aku akan mendapatkan ilmu itu dan aki dapat balas dendam kepada kalian semua,” gumam Barjo dengan tertawa jahatnya.
Beberapa menit kemudian Barjo pun telah sampai di rumahnya ia melihat Tinah gadis yang culik itu tertidur. Barjo pun meletakkan di atas meja kendi yang di bungkus oleh kain dan di dalamnya terdapat ari-ari.
Setelah itu Barjo pun pergi ke kamarnya sementara Tinah di letakan di kamar ritualnya bersama ari-ari yang telah ia dapatkan.
Sesampainya di kamar Barjo pun membaringkan tubuhnya di lantai, ia teringat akan ucapan salah satu pemuda yang berada di warung kopi itu tentang Melati.
“Di mana kau Melati, maafkan aku tidak bisa bersama dan melindungi mu” gumam Barjo yang merasakan bersalah.
__ADS_1