ILMU HITAM

ILMU HITAM
Melati yang tidak tahu


__ADS_3

Sementara keadaan Melati sendiri hanya mengurung diri di kamarnya ia tidak mengetahui kabar ke dari Barjo. sedangkan Bapak dan ibu Melati ingin pergi ke pemakaman Barjo dan sengaja tidak memberitahukan kabar duka ini kepada Melati.


"Pak apa Melati tidak di beritahu sebaiknya tentang Barjo," ujar Lastri kepada suaminya.


"Tidak usah, biarkan saja kalau Melati tahu hal ini akan membuatnya menjadi sedih lagi pul sebentar lagi ia kan menikah dengan Tejo.


"Ayo Bu mari kita pergi ke pemakaman Barjo," ajak Ki Damar.


"Iya Pak."


Mereka berdua akhirnya pergi ke pemakaman Barjo tanpa di ketahui oleh Melati dan mengunci rumah Meninggalkan Melati seorang diri di kamarnya. Melati sangat binggung apa yang harus iya lakukan kepada anak yang ada di dalam kandungannya karena semua keluarganya kecuali ibunya ingin menggugurkan kandungannya.


"Apa yang harus Melati lakukan mas Barjo, Melati tidak ingin anak ini pergi," gumam Melati di dalam kamar yang sedang menangis meratapi hidupnya.


Tidak lama kemudian terdengar suara seseorang wanita muda yang memanggil nama Melati di balik jendela.


"Melati, Melati ini aku," panggil seseorang wanita itu.


Melati yang mendengar yang memanggilnya mendatangi seseorang di balik jendela itu.

__ADS_1


"Siapa ya?" tanya Melati yang tidak asing mendengar suara Wanita itu.


"Ini aku Sri, cepatlah kemari ada kabar duka untukmu," Sri yang ingin memberikan kabar Barjo kepada Melati.


Melati langsung membuka jendela kamarnya dan menanyakan kabar duka apa yang sebenarnya di bawa oleh Sri.


"Kenapa Sri, mengapa kau lewat jendela masuk lah ke dalam rumah," ujar Melati yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya.


"Tadi aku tidak sengaja melihat Bapak dan Ibu mu pergi dan mengunci pintu rumah."


"Lalu kabat duka apa yang ingin kau sampaikan Sri, cepatlah bicara sebelum Bapak dan Ibuku datang."


"Ada apa dengan Mas Barjo Sri?" tanya Melati yang mulai khawatir.


"Rumah Barjo telah di bakar warga Melati karena berusaha untuk memperkosa mu, tapi aku tidak yakin Barjo tidak akan berbuat hal seperti itu."


"lalu bagaimana keadaan mas Barjo Sri, ceritakan kepadaku?" tanya Melati yang mulai panik.


Warga menemukan jasad yang terbakar dan hari ini semua warga termasuk Bapak dan Ibumu menghadiri pemakaman Barjo.

__ADS_1


Seperti disambar petir disiang hari bolong mendengar seseorang yang dicintainya kini telah pergi untuk selamanya tubuh Melati seketika lemas air mata tidak dapat lagi terbendung. Melati mencoba bertanya kepada Sri kembali.


"Sri apa benar itu mas Barjo?" tanya Melati sekali lagi.


"Iya Melati kata warga desa itu jasad Barjo wajahnya tidak terlihat lagi penuh dengan luka bakar."


"Maafkan Melati mas, karena Melati mas seperti ini," gumam Melati sambil menangis.


"Sri mau kah kau membantuku aku ingin pergi meninggalkan desa ini, aku sedang hamil anak mas Barjo dan mereka ingin menggugurkannya."


"Apa jadi benar yang di katakan penduduk desa Barjo memperkosamu Melati?" tanya Sri yang kaget.


"Tidak Sri itu tidak benar kami hilaf waktu itu dan Mas Barjo ingin bertanggung jawab melamarku namun Bapakku menolak lamaran dari Mas Barjo, karena kelurga Tejo yang akan datang melamar juga di waktu itu," Melati menceritakan apa yang terjadi saat itu kepada Sri.


"Jadi begitu ceritanya Melati, baiklah kau adalah sahabatku yang tebaik aku kan menolongmu."


"Terima kasih Sri, aku tidak ingin kehilangan anak ini bagaimana pun aku akan melindungi anak ini," ujar Melati kepada Sri.


"Ayo Melati kita pergi, sebelum bapak mu pulang dan warga kampung tahu," ajak Sri.

__ADS_1


Melati pun mulai berusaha menaiki jendela kamarnya serta membawa beberapa keperluannya tidak lupa ia memakai cincin yang di beri oleh Barjo dan surat. Melati yang memanjat dan turun jendela secara perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Begitu berat perjuangan Melati untuk mempertahankan dirinya dan jabang bayi yang masih berada di dalam kandungan. Akhirnya Melati pun kabur dari rumahnya bersama dengan Sri.


__ADS_2