
Satu minggu sudah Nathan berada di rumah Ibunya, ia dan Melati pun juga semakin akrab, rasa penasaran Nathan sangat besar terhadap Melati. Selain karena paras Melati yang cantik, sikap lembutnya membuat Nathan ingin lebih mengenal Melati.
Bahkan saat Melati ingin pergi ke Dokter kandungan, Nathan bersedia menemaninya. Mereka berjalan beriringan dengan rona penuh bahagia seperti sepasang suami istri, mereka berdua duduk di kursi tunggu untuk menunggu panggilan dari Dokter.
“Melati apa kamu haus?” tanya Nathan.
“Iya sedikit,” sahut Melati.
“Ya sudah kamu tunggu sebentar, aku ambilkan minuman di mobil,” ucap Nathan yang bergegas pergi.
Nathan menuju parkiran dan mengambil air minum yang sebelumnya dibawa oleh Melati.
“Ini minumnya,” Nathan menyodorkan botol yang sebelumnya sudah dibuka olehnya.
“Terima kasih, Nathan apa kamu tidak apa-apa menemani aku ke sini?” tanya Melati.
“Enggak kok, lagian aku juga pengen tahu gimana kondisi bayinya,” ucap Nathan.
Tidak lama terdengar seorang Suster memanggil nama Melati, Melati dan Nathan pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
“Kamu kok ikutan masuk?” tanya Melati yang menyadari Nathan mengikutinya dari belakang.
“Kan aku sudah bilang aku mau tahu kondisi bayinya,” ucap Nathan.
“Kamu di luar saja! Aku malu. Suster dia bukan suami saya,” ucap Melati.
“Maaf, selain suami tidak boleh masuk,” ucap Suster itu sambil menahan Nathan.
Melati pun masuk ke dalam ruangan sedangkan Nathan menunggu diluar.
“Kenapa sih nggak boleh masuk? Padahal kan cuma periksa aja,” gumam Nathan.
Setelah selesai Melati pun keluar ruangan, dengan cepat Nathan menghampiri Melati.
“Gimana? Bayinya sehat kan?” tanya Nathan.
“Alhamdulillah sehat,” sahut Melati.
“Bagus kalau begitu, ayo sekarang kita pulang,” ajak Nathan.
Mereka pun pulang ke rumah, saat sampai di rumah mereka sudaah di tunggu oleh Ibu Ratna.
“Bagaimana Melati dengan kandunganmu aman kan?” tanya Ibu Ratna.
“Alhamdulillah tidak ada masalah apa pun Bu,” sahut Melati.
“Baguslah kalau begitu, kamu pasti belum makan, kamu makan dulu Melati,” ucap ibu Ratna.
“Baik Bu, Melati ganti baju dulu,” ucap Melati sambil berlalu menuju kamarnya.
“Kamu juga sana makan dulu,” ucapnya kepada Nathan.
__ADS_1
“Nanti aja deh Bu, masih belum laper. Nathan juga mau keluar lagi setelah ini ada urusan sedikit.”
“Ya sudah tapi kamu jangan sampai lupa makan ya,”
“Siap,” sahut Nathan sambil mengacungkan jempolnya.
“Oh iya Nathan mau tanya, kenapa sih saat periksa kandungan yang boleh masuk cuma suaminya saja? Kenapa orang lain nggak boleh masuk Bu?” tanya Nathan.
“Kamu jadi suami saja dulu, nanti kamu akan tahu,” sahut Ibu Ratna sambil tersenyum.
“Yah ... makin bingung. Ya sudah Nathan pergi dulu ya Bu,” ucapnya sambil mencium punggung tangan Ibunya.
“Iya kamu hati-hati, jangan ngebut kalau di jalan.”
Nathan pun berlalu pergi masuk kembai ke dalam mobilnya.
Kehidupan Melati di tempat baru sangat terjamin, di tambah lagi Ibu Ratna sangat menyayangi dan perhatian kepada Melati. Rasa syukur tidak henti-hentinya Melati ucapkan kepada yang maha kuasa ia juga tidak lupa selalu berdoa untuk kesehatan orang tuanya.
Kelak saat anak ini lahir, Melati akan memperkenalkannya kepada kalian. Gumam Melati sambil mengelus perutnya.
...*** ...
Di tempat lain, Ki Damar merasa sedikit cemas dengan situasi desanya sekarang, beberapa warga juga mulai memperketat penjagaan. Ki Damar memerintahkan beberapa orang untuk membuat beberapa pos penjagaan. Para polisi juga masih mendalami kasus kematian Tito yang tidak wajar namun mereka masih belum menemukan titik terang.
Sementara itu Barjo melakukan aktifitasnya seperti biasa tanpa merasa terganggu sedikit pun.
Beberapa orang penjual bahkan heboh karena kematian Tito, Barjo yang mendengar hal itu hanya menyeringai.
Hingga beberapa orang polisi menghampirinya karena polis mendapatkan info dari beberapa warga bahwa Barjo menjual sayuran hasil hutan.
“Selamat pagi, iya boleh saja,” sahut Barjo.
“Kami ingin sedikit bertanya, apa Bapak sering bepergian ke hutan belakangan ini?” tanya salah satu polisi.
“Iya, saya setiap pagi pergi ke hutan untuk mencari pakis,” tutur Barjo.
“Apa selama di hutan Bapak melihat seseorang yang mencurigakan? Dan apa benar Bapak tinggal di dalam hutan?” tanya Ardi.
“Iya Benar, saya tidak punya tempat tinggal dan keluarga makanya saya memilih mendirikan gubuk di hutan,” tutur Barjo.
“Apa bisa Bapak antar kami ke rumah Bapak?” tanya salah satu polisi.
“Ya monggo, tapi rumah saya jelek dan lapuk,” tutur Barjo.
Beberapa polisi beserta warga ikut menuju rumah Barjo yang terletak di tengah hutan, dengan tubuh bungkuknya Barjo memandu para polisi dan warga menuju rumahnya.
Beberapa warga memperhatikan setiap detail jalan yang mereka lewati begitu pula dengan polisi, namun mereka tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Mereka makin masuk ke dalam hutan hingga dari kejauhan terlihat sebuah kebun kecil yang di tanami beberapa sayuran.
“Ini kebun Bapak?” tanya Ardi
“Iya, saya tanam sayur sendiri,” sahut Barjo.
__ADS_1
“Pak tua rumahnya masih jauh tidak?” teriak salah satu pemuda yang ikut ke rumah Barjo.
“Kamu kalau bicara yang sopan!” bentak salah satu polisi.
“Sudah tidak apa, sebentar lagi sampai,” sahut Barjo.
Semakin jauh berjalan, terlihat sebuah gubuk bambu dari kejauhan.
“Itu rumah saya,” ucap Barjo.
“Bapak tinggal sendirian di sini?” Ardi memandang iba tempat kediaman Barjo.
“Iya saya sendirian, mari masuk,” Barjo mengajak semuanya masuk ke dalam.
“Pak polisi! Saya di luar saja ya takut rumahnya rubuh,” celetuk pemuda tersebut.
“Lagian kamu kenapa ikut ke sini?” ucap seorang pria paruh baya yang juga ikut ke rumah Barjo.
“Ya, saya kan pengen tau siapa pembunuh Tito, siapa tahu si Pak Tua itu pembunuhnya! Dan dia hanya berpura-pura tidak berdaya saja!” pemuda itu mengoceh tiada henti.
“Kamu itu masa orang tua gak ada sopan-sopannya. Kualat tahu rasa kamu!” umpat pria paruh baya itu.
“Sudah-sudah! Ayo kita masuk!” ucap Ardi.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Barjo, terlihat di dalam rumahnya hanya ada sebuah kursi dan selembar tikar anyaman bambu yang sudah usang.
“Apa saya boleh melihat-lihat Pak?” tanya Ardi.
“Monggo silahkan,” ucap Barjo.
Bribtu Ardi beserta rekannya memeriksa setiap jengkal gubuk milik Barjo, beberapa orang lainnya menyusuri hutan sekitar rumah Barjo, mereka hanya menemukan sebilah celurit yang tersimpan di belakang rumah Barjo.
Namun mereka tidak bisa berasumsi jika itu adalah senjata yang melukai Tito. Saat Polisi dan para warga sibuk memeriksa, Barjo hanya duduk dan menunggu mereka semua selesai.
Mata Barjo pun mengarah ke seorang pemuda yang meneriakinya tadi. Terlihat pemuda itu menginjak-injak tanaman sayur milik Barjo. Alis Barjo berdenyit karena marah melihat kelakuan dari pemuda itu.
“Sepertinya kami tidak menemukan benda atau hal mencurigakan di sini, kami mohon maaf jika kami mengganggu Bapak,” ucap Ardi.
“Tidak apa, saya malah senang akhirnya ada orang yang mau berkunjung ke gubuk saya ini,” tutur Barjo.
“Kalau bukan karna mendiang Tito aku juga tidak mau menginjak gubuk Pak Tua itu!” celetuknya.
Hal itu rupanya di dengar oleh Barjo, karena seluruh Indranya terbuka maka suara sekecil apa pun ia bisa mendengarnya.
“Pak, nanti kapan-kapan saya main lagi ke tempat Bapak. Kami pamit dulu,” ucap Ardi.
“Baiklah, kalian berhati-hati terkadang di hutan suka terjadi hal secara tiba-tiba,” ucap Barjo.
“Iya saya mengerti, nah ini dari saya pribadi walaupun tidak banyak,” Ardi bersalaman dengan Barjo sembari menyelipkan beberapa lembar uang untuknya.
“Ini tidak perlu,” Barjo mengembalikan uang itu.
__ADS_1
“Ini untuk Bapak, saya ikhlas mohon jangan ditolak, saya permisi ya Pak,” ucap Ardi sambil berlalu meninggalkan Barjo.
Rupanya masih ada orang yang mau peduli dengan orang sepertiku ini. Gumam Barjo dalam hati.