ILMU HITAM

ILMU HITAM
Arwah Tinah


__ADS_3

Barjo pun menoleh ke sudut kamarnya dengan kaget ia melihat seseorang pria dengan seluruh tubuh yang gosong terbakar tangan dan muka yang terdapat luka bakar yang terkoyak terlihat daging merah yang tidak di lapisi oleh kulit pun terlihat oleh Barjo.


 


Dengan kaget Barjo menanyakan siapa sebenarnya makhluk itu.


 


“Siapa sebenarnya kamu, dan ada urusan apa denganku.


 


Barjo yang telah melaksanakan ritual ilmu hitamnya sekarang mata batin Barjo terbuka dengan sempurna dan dapat berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata.


 


“Aku Sugeng Barjo, balaskan dendamku kepada mereka semua,” ucap Sugeng dengan amarah.


 


“Kau Sugeng?” Barjo yang dibuat kaget oleh sosok Sugeng yang menyeramkan.


 


“Iya Barjo, balaskan dendamku Barjo, balaskan dendamku,” ucap Sugeng lalu menghilang.


 


“Aku akan membalaskan dendammu Sugeng, kepada mereka semua yang membuat kau dan aku seperti ini,” sahut Barjo dengan amarah yang tidak bisa ia kendalikan.


 


Malam semakin larut Barjo pun melanjutkan kembali tidurnya. Sementara Burhan yang sedang tertidur lelap bersama istrinya bermimpi mengerikan.


 


Di dalam mimpinya Burhan melihat anaknya yang di ikat kaki dan tangannya didekati oleh sosok yang mengerikan mencabik leher Tinah.


 


“Jangan sakiti Tinah!” teriak Burham yang langsung terbangun dari mimpinya.


 


 Istri Burhan terkejut mendengar teriakan dari Burhan.

__ADS_1


 


“Ada apa Pak?” tanya istri Burhan.


 


“Aku mimpi Tinah Bu, mimpi itu sangat mengerikan Tinah di bunuh oleh sosok menyeramkan,” Burhan yang menceritakan mimpinya kepada istrinya.


 


“Semoga itu hanya bunga tidur Pak, semoga Tinah baik-baik saja. Sudah dua hari Tinah hilang tidak kunjung di temukan.”


 


“Iya Bu aku harap ini hanya mimpi saja, dan Tinah baik-baik di sana.”


 


Saat mereka berdua sedang bercerita tiba-tiba jendela kamar Burhan terbuka seperti ada yang mendobraknya.


 


Mengetahui hal tersebut Burhan bergegas turun dari tempat tidurnya untuk menutup kembali jendela kamarnya yang mungkin dalam benak Burhan hanyalah angin.


 


 


Burhan pun menghampiri jendela kamar yang terbuka di saat ia ingin menutup terlihat sosok Tinah yang samar-samar terdapat banyak darah yang menetes dari leher Tinah hingga ke tubuh Tinah.


 


“Tinah!” ucap Burhan dengan spontan.


 


“Tolong Tinah Pak, tolong Tinah,” Tinah yang bersuara dengan suara kesedihan.


 


Saat Tinah tengah bersuara tiba-tiba secara kebetulan muncullah sosok makhluk yang terbungkus dengan kain kafan muka dengan muka yang rusak dan ada beberapa helai kapas yang menempel di wajahnya makhluk itu adalah pocong.


 


Burhan yang terkejut melihat sosok pocong di samping Tinah putrinya menutup kedua matanya secara spontan, dan di saat ia membuka mata kembali Tinah berserta makhluk itu hilang.

__ADS_1


 


“Tinah ...  Tinah ....” ucap Burhan yang memanggil-manggil dan mencari anaknya Tinah.


 


Istri Burhan pun menghampiri diri ingin mencari tahu apa yang sebenarnya di lihat oleh Burhan.


 


 “Ada apa sebenarnya ini Pak, kenapa dari tadi kau memanggil-manggil Tinah.”


 


“Aku melihat Tinah di luar sana,” sahut Burhan menunjuk keluar jendela yang gelap hanya ada pohon-pohon karet yang rindang yang membuat suasana angker di malam itu.


 


“Sudah tutup jendelanya ayo kita tidur,” perintah Istri Burhan yang merasakan merinding.


 


Burhan melaksanakan perintah Istrinya ia menutup jendela yang terbuka dan kembali menuju tempat tidur. Saat sudah di tempat tidur Burhan menceritakan kembali apa yang dia lihat.


 


“Sebenarnya apa yang terjadi Pak?”


 


“Aku melihat sosok Tinah di luar sana penuh dengan darah ia memanggil ku dan meminta tolong tapi tiba-tiba ada sosok pocong di samping Tinah dengan wajah yang sangat menyeramkan, lalu aku menutup mataku dan saat aku membuka mataku kembali sosok Tinah tidak ada sebenarnya apa yang terjadi kepada Tinah Bu aku sangat khawatir.”


 


“Itu hanya halusinasimu saja Pak, semoga Tinah baik-baik saja lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Tinah agar bisa di temukan.”


 


“Iya Bu mungkin ini hanya halusinasi ku saja karena sangat mengkhawatirkan Tinah.”


 


“Lebih baik kita tidur hari sudah mulai larut malam,” ajak Istri Burhan


 

__ADS_1


Di malam yang hening dan mencekam Burhan beserta istrinya kembali melanjutkan tidurnya


__ADS_2