ILMU HITAM

ILMU HITAM
Pesan dari Melati untuk Barjo


__ADS_3

Melati yang mendengarkan suara Bapaknya mengetok dan memanggilnya pun membukakan pintu kamarnya.


 


“Ya Pak ada apa?” sahut Melati dengan lembut.


 


“Mari kita makan malam ibumu sudah menyiapkan masakannya sedari tadi.”


 


“Iya Pak.”


 


“Kau habis menangis Melati, masih saja kau menangisi si Barjo itu?” bentak Ki Damar kepada Melati.


 


“Melati tidak mencintai Tejo Pak!” Melati yang menegaskan kepada Bapaknya.


 


“Ah cinta, cinta. Apa dengan cinta hidupmu dapat bahagia Melati! Bapak tidak mau tahu kau lupakan si Barjo itu atau Bapak yang akan memberi pelajaran kepada si Barjo,” ancam Ki Damar.


 


“Jangan Pak, Mas Barjo tidak salah apa-apa.”


 


“Kalau begitu kau harus menuruti perintah Bapak, jangan bikin malu bapak dengan keluarga Tejo. Ingat Melati sebulan lagi Tejo akan menjadi suamimu jadi kau harus memperlakukannya dengan baik,” Ki Damar yang menasihati Melati.


 


“Baik Pak,” sahut Melati sambil menundukkan kepalanya.


 


Mereka berdua pun pergi menuju meja makan dan menikmati makan yang telah di sediakan oleh Lastri ibu Melati sendiri. Selang beberapa menit Melati telah selesai menikmati makan malamnya ia pun kembali pamit ke kamarnya sedangkan ibu dan Bapaknya masih berada di meja makan sambil berbincang-bincang.


 


“Pak jangan terlalu keras kepada Melati Pak kasihan dia,” tegur Lastri.


 


“Kau saja yang terlalu memanjakan Melati Lastri!”

__ADS_1


 


“Dia anak kita satu-satunya Pak, wajar aku ibunya yang merasakan mengandung Melati Pak.”


 


“Alah kau sama Melati sama saja, aku mendidik Melati keras seperti ini agar dia tidak mempermalukan kita setelah resmi menjadi istri Tejo menantu dari Pak Joko.”


 


“Kau hanya mementingkan egomu saja Pak.”


 


“Sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu Lastri,” Ki Damar yang meninggalkan Lastri dan pergi ke teras untuk menenangkan pikirannya.


 


Sementara Melati sendiri mengambil surat dari Barjo yang ia simpan dan membacanya.


 


Maafkan mas Melati, mas sudah berusaha untuk menjadi pendampingmu namun Bapakmu tidak menerima lamaran dari mas.


Mas hanya bisa berharap kau dapat bahagia bersama Tejo, dan sampai kapan pun kau adalah cinta sejati mas Melati, pakailah cincin yang mas beri. Cincin itu adalah kenang-kenanga dari wanita yang paling mas sayangi almarhum ibu mas. Mas hanya bisa memberikan kenang-kenangan itu kepadamu Melati semoga kau bahagia Melati.


 


“Maafkan Melati mas Barjo,” gumam Melati sembari meletakkan surat Barjo didadanya


Air mata Melati menetes tiada henti dikala ia membaca surat dari Barjo. Malam yang hening menyayat hati Melati, tak akan bisa ia bertemu dan melihat Barjo kembali ketika ia sudah menjadi istri dari Tejo.


 


Sementara Sugeng telah kembali ke rumah Barjo ia menceritakan kondisi Melati yang ia lihat.


 


“Bagaimana sudah aku serahkan kepada Melati?” tanya Barjo.


 


“Sudah Barjo, kasihan sekali Melati ia terlihat sangat sedih matanya sembab apa lagi waktu aku memberikan surat ini matanya berkaca-kaca,” jelaskan Sugeng kepada Barjo.


 


“Apa aku salah Sugeng bersikap seperti ini, Melati tidak akan mau aku bawa kabur aku pun bingung harus berbuat apa Sugeng,” Barjo yang curhat kepada Sugeng.


 

__ADS_1


  “Kau tidak salah Barjo, kau sudah berusaha semampumu jika kalian berjodoh pasti akan bersatu nanti,” Sugeng yang memberikan semangat kepada Barjo.


 


“Terima kasih Sugeng kau memang sahabat terbaikku.”


 


“Oya aku hampir melupakan satu lagu pesan dari Melati.”


 


“Apa itu Sugeng?” tanya Barjo dengan penasaran.


 


“Bulan depan tepatnya di Jumat pahing Melati akan melangsungkan pernikahan dengan Tejo.”


 


Mendengar ucapan Sugeng hati Barjo hancur seketika merasakan sakit seperti di iris-iris oleh pisau belati, mata Barjo pun mulai berkaca-kaca niscaya orang mendengar orang yang dicintanya akan segera menikah. Barjo hanya terdiam tidak berkata satu patah kata pun.


 


Sugeng yang melihat kesedihan sahabatnya pun menghampiri mengusap pundak Barjo agar tenang.


 


“Sabar Barjo, berdoa saja semoga ini yang terbaik dan jika kalian berjodoh Melati akan bersamamu kembali,” sahut Sugeng menenangkan hati Barjo.


 


“Terima kasih Sugeng.”


 


Begitu sangat rumit sekali kisah cinta mereka berdua, karena kasta mereka berdua tidak bisa bersama. Merelakan dan mendoakan satu demi yang lain agar tetap bahagia.


 


 


 


                 


 


 

__ADS_1


__ADS_2