
Keesokan harinya Barjo mulai keluar dari rumah dan mencari sayur-sayuran di hutan untuk di jual ke pasar.
Barjo yang saat itu membawa golok dan bakul untuk mencari sayur-sayuran di hutan yang bisa ia jual seperti anak bambu yang masih muda ( rebung ), daun singkong liar, tanaman pakis atau tanaman paku yang masih muda.
Setelah semua sayur yang berhasil dapatkan, Barjo segera memasukkan hasil yang telah ia cari ke dalam bakul dan membawanya ke pasar perjalanan dari hutan ke pasar lumayan sangat jauh memakan waktu setengah jam jika berjalan kaki.
Sesampainya di pasar Barjo mulai menggelar barang dagangannya dan mulai menawarkan kepada penduduk sekitar.
“Sayur-sayur,” teriak Barjo menjual dagangannya.
Tak seberapa lama ada seorang ibu-ibu yang menghampiri Barjo.
“Ini rebungnya berapa Pak?” tanya ibu itu.
“Udah Bu lima ribu saja ibu ambil semua,” ucap Barjo yang menawarkan 4 buah rebung yang besar-besar kepada ibu itu.
“Murah sekali Pak, bapak tidak rugi?” tanya ibu itu yang sangat terkejut.
“Tidak Bu, itu hasil alam yang saya tinggal cari bukan saya menanam sendiri,” sahut Barjo yang ramah kepada ibu itu.
“Ya sudah Pak saya beli semuanya,” ujar ibu itu sambil memberikan uang sepuluh ribu.
“Ini kembalinya Bu,”
“Tidak usah Pak, Bapak ambil saja,” sahut Ibu itu sambil meninggalkan Barjo.
Dagangan Barjo diserbu oleh para penduduk desa karena Barjo berjualan sangat murah, dan sebenarnya niat Barjo berjualan untuk mencari tumbal gadis perawan selanjutnya.
Di saat Barjo tengah ingin membereskan hasil jualannya yang tinggal sedikit ada seorang gadis dengan kulit sawo matang berparas manis.
“Pak ini daun singkongnya berapa?” tanya gadis itu.
__ADS_1
Barjo yang terdiam saat gadis itu mendekatinya.
“Wangi aroma apa ini, aroma sangat segar,” gumam Barjo di dalam batinnya.
“Pak ... Pak ... Pak, ini sayur singkongnya berapa?” tegur gadis itu membangunkan Barjo dari lamunannya.
Sontak saja Barjo terkejut saat gadis itu memanggilnya.
“Oh iya cah ayu, ambil saja gak bapak jual karena sayurnya sudah layu dan sisa yang tidak habis,”
“Jangan Pak, berapa sayur ini,” paksa gadis itu.
“Tidak usah Bapak ikhlas kok memberikannya.”
“Makasih yah pak.”
“Siapa namamu cah ayu?” tanya Barjo.
“Nilam tinggal di mana?”
“Di dekat rumah Ki Damar Pak, kalau bapak sendiri tinggal di mana dan nama bapak siapa?”
“Bapak tinggal di desa seberang panggil aja Pak Sayur, karna bapak jualan sayur,” Barjo yang meledek gadis itu.
“Pak terima kasih yah Pak,” sahut Nilam sambil membawa sayur pemberian Barjo.
Nilam pun pergi meninggalkan Barjo. Namun di sisi lain dalam batin Barjo merasakan keanehan.
“Ada apa ini, kenapa aku mencium aroma wangi dan segar pada tubuh wanita tadi,” gumam batin Barjo.
Saat Barjo tengah bingung dengan dirinya ada bisikan yang memanggil dan menjelaskan dengan apa yang Barjo rasakan.
__ADS_1
“Barjo ... Sekarang kau sudah mempunyai ilmu aroma yang kau cium tadi adalah aroma darah gadis perawan,” ucap sesosok makhluk yang tidak tampak wujudnya.
“Jadi itu aroma darah gadis itu yang berbau wangi dan segar,” gumam Barjo kembali.
“Itu tumbal selanjutnya Barjo,” sahut makhluk itu kembali.
“Baiklah aku akan mencari rumahnya nanti,” gumam Barjo kembali.
Barjo telah selesai membereskan barang dagangannya dan ia pun pergi meninggalkan pasar itu lalu kembali ke rumahnya.
Sesampainya Barjo di rumah ia mengeletakkan badannya di lantai yang beralaskan tikar.
Barjo termenung memandangi langit-langit yang ada di kamarnya.
“Kenapa aku jadi ingin meminum darah wanita itu, rasanya begitu segar,” gumam Barjo sambil menelan air liurnya menahan kehausan yang sangat.
Tiba-tiba suara itu muncul kembali.
“Ha-ha-ha-ha jangan bingung Barjo, kau sudah menguasai ilmu hitam itu apa yang terjadi kepadamu kau tidak perlu bingung.”
“Apakah aku dapat membalaskan dendamku kepada warga desa yang telah membuat aku menjadi cacat seperti ini dan atas kematian Sugeng.”
“Malam ini kau sudah bisa membunuh mereka satu persatu dengan santet Barjo, pasukanku yang akan membantumu Barjo.”
“Baiklah jika begitu, malam ini aku akan membunuh kalian semua satu persatu ha-ha-ha-ha,” Barjo yang tertawa dengan sangat jahat
Semenjak ritual hitam itu di diri Barjo mulai mendapat keanehan ia bisa merasakan aroma wangi dari tubuh gadis yang masih perawan di tambah lagi kehausannya untuk meminum darah itu membuat Barjo semakin sesat dendamnya pun semakin berkobar-kobar untuk membunuh orang-orang yang telah menyakiti hatinya dan membuatnya menjadi cacat seumur hidup.
Yang sangat baik bisa berubah menjadi sangat buruk begitu pula sebaliknya.
Barjo yang dulunya pemuda yang sangat baik kini berubah menjadi sosok yang penuh dengan dendam akibat rasa kecewa dan sakit hatinya.
__ADS_1