ILMU HITAM

ILMU HITAM
Mengambil Tali Pocong


__ADS_3

Sambil menunggu para bawahannya mendapatkan informasi yang ia butuhkan Tejo pergi ke sebuah rumah yang terletak di ujung desa di sana tinggal seorang wanita paruh baya yang bernama Mbok Ponirah dia menjual ayam dan juga bebek.


“Assalamualaikum?” ucap Tejo.


“Walaikumsalam, Eh Den Tejo tumben sekali. Mau beli ayam? Bebek? Atau yang lainnya?” Mbok Ponirah menawarkan dagangannya.


“Saya butuh ayam cemani, Mbok ada?” bisik tejo kepada Mbok Ponirah.


“Cemani? Untuk apa Den?” Mbok Ponirah kaget.


“Sudah jangan banyak tanya! Ada tidak? Berapa pun akan saya bayar,” ucap Tejo.


“Ada. Mari ikut Mbok ke kandang belakang,” ucapnya.


Tejo pun mengikuti Mbok Ponirah berjalan menuju belakang rumahnya. Rupanya kandang itu menyatu dengan dapurnya. Di sana terdapat sebuah kandang yang di kunci cukup rapat.


Mbok Ponirah pun membuka pintu kandang itu dan mengeluarkan seekor ayam. Perawakannya mirip ayam kampung hanya saja sekujur tubuhnya berwarna hitam tanpa terkecuali.


Tejo menyeringai ketika ia berhasil mendapatkan ayam cemani tersebut.

__ADS_1


“Satu syarat sudah ku dapatkan, tinggal syarat yang tersulit yang harus aku lakukan,” guman Tejo dalam hati.


Sentara itu para bawahan Tejo terus mencari informasi dari desa satu ke desa lainnya mulai dari mendatangi penggali kubur hingga penjaga makam untuk mencari tahu, bahkan beberapa penggali kubur disogok oleh salah satu bawahan Tejo agar mau memberi informasi dan mereka pun mendapatkan informasi tersebut.


Seorang wanita bernama Puspa Sari menginggal dunia saat masih mengandung dan meninggalnya tepat pada malam Jumat Kliwon. Mereka pun pencari makam wanita tersebut dan benar saja di nisan itu tertulis nama Puspa Sari dengan tanggal dan tahunnya.


Mereka bergegas meninggalkan pemakaman dan memberitahukan hal tersebut kepada Tejo.


Mereka semua berkumpul kembali di rumah Tejo, dengan sangat antusias salah satu bawahan Tejo yang bernama Firman memberitahukan informasi itu karena Tejo menjanjikan imbalan.


“Den, saya sudah mendapatkan informasi yang Den Tejo pinta bahkan saya juga sudah mengetahui lokasi makamnya,” ucap Firman.


“Apa kau sudah memastikan jika di makam itu wanita hamil?” tanya Tejo.


“Bagus, dimana lokasinya?” tanya Tejo.


“Di desa sebelah Den, di pemakaman dekat hutan,” sahut Firman.


“Nanti malam kita ke sana, kita akan menggali kuburannya,” Tejo menyeringai.

__ADS_1


“Benarkan dugaanku Den Tejo mau mengambil tali pocongnya,” bisik salah satu bawahan Tejo kepada Firman.


“Stttttt ... Nanti kedengeran!” sahut Firman.


Malam harinya tepat pada pukul 00.11 Tejo dan tiga orang bawahannya termasuk Firman pergi menuju kuburan wanita yang bernama Puspa Sari itu. Karena ambisinya Tejo tidak mmemedulikan segala resiko yang akan muncul.


“Ini Den kuburannya,” tunjuk Firman.


“Kalian gali kuburan ini!” perintah Tejo.


“Baik Den.”


Mereka bertiga berusaha menggali kuburan itu, karena makam itu cukup jauh dari pemukiman membuat Tejo semakin mudah untuk mendapatkan tali pocong itu.


Mereka menggali semakin dalam hingga menemukan susunan kayu. Tejo pun turun dan membuka kayu itu satu persatu.


Terlihat kain kafan yang sudah usang dan kotor, bau menyengat keluar ketika semua kayu itu dibuka. Tejo sedikit ragu untuk mengambil tali pocong itu mengingat bau busuk dari mayat itu sangat menyengat.


Dengan perlahan Tejo mendekatkan kepalanya, karena tidak tahan dengan bau busuk itu Tejo memalingkan tubuhnya dan muntah beberapa kali.

__ADS_1


Tejo pun menarik nafas dalam-dalam dan mulai mencoba mengambilnya kembali dengan mulutnya. Ia harus berusaha tidak takut ketika wajah mayat yang penuh hewan melata itu berada di depan wajahnya.


Dengan giginya Tejo mengambil tali pocong tersebut dan ia pun berhasil dan bergegas naik ke atas.


__ADS_2