
Mbah Sirah mengambil tali pocong yang telah di berikan oleh Tejo, ia membungkus tali pocong itu dengan kain hitam lalu meneteskan sisa darah ayam cemani.
Mbah Sirah mulai membaca mantra kembali, ia menambahkan lagi kemenyan ke dalam tungkunya. Asap pun mengepul aroma kemenyan bercampur amis darah menyeruak ke seluruh ruangan.
Sesekali Tejo menutup hidungnya karena aroma yang menyengat tersebut.
Mbah Sirah mulai mengangkat telapak tangannya seakan sedang memberi suatu energi ke tali pocong tersebut.
“Ikat ini di lenganmu dan jangan sampai dilepas!” perintah Mbah Sirah.
“Baik Mbah,” Tejo mengambil tali pocong yang sudah diritualkan itu.
Dengan sangat percaya diri Tejo tersenyum dan merasa tidak akan ada yang bisa mengganggunya termasuk Barjo.
“Berapa maharnya Mbah?” tanya Tejo.
“Kamu bawa saja, aku hanya membantu.”
“Apa? Jangan begitu ini uang untuk Mbah,” Tejo menyodorkan amplop coklat yang terlihat cukup berisi.
“Baik jika kau memberi aku tidak akan menolaknya,” Mbah Sirah tersenyum.
“Dengan jimat ini kamu akan terhindar dari segala teluh dan gangguan makhluk halus tapi, kamu jangan kaget jika pemilik dari tali pocong ini mencarimu,” tutur Mbah Sirah.
“Ah ... Gampang itu Mbah yang terpenting saya punya jimat ini sekarang,” sahut Tejo santai.
Tejo dan bawahannya berpamitan dengan Mbah Sirah, dengan perasaan yang sangat tenang Tejo pulang ke desanya.
“Firman kita mampir ke pasar dulu,” ucap Tejo.
__ADS_1
“Tumben Den, mau beli apa?” tanya Firman.
“Aku pemilik lahan, apa yang salah?” ucap Tejo ketus.
“Ti-tidak Den hanya saja biasanya Den Tejo menyuruh yang lain untuk memantau,” sahut Firman.
“Tidak perlu! Mumpung masih pagi mereka pasti sedang sibuk berdagang. Ini waktu yang pas untuk menarik iuran,” sahut Tejo.
Hingga mereka sampai di depan pasar, Tejo turun dari mobilnya dan langsung meminta iuran kepada para pedagang.
“Mana iurah minggu ini?” ucapnya sambil mengulurkan telapak tangannya.
“Ini Den tejo,” ucap pedagang itu sambil menyodorkan uang.
Tejo berjalan dari pedagang satu ke pedagang lainnya hingga ia melihat Barjo yang menggelar dagangannya di bawah tanpa menyewa tempat.
“Tapi saya belum punya cukup uang untuk sewa tempat,” sahut Barjo.
“Ha-ha-ha ... Pak tua miskin! Angkat semua daganganmu itu! Di sini hanya boleh berdagang jika menyewa tempat!” bentak Tejo.
“Lihatlah nanti apa kau masih bisa tertawa seperti itu Tejo,” gumam Barjo dalam hati.
BRAK!
Tejo menendang dagangan milik Barjo, beberapa sayur milik Barjo berhamburan ke tanah.
“Maaf Den, biar saya yang bayar sewa untuk bapak ini,” ucap seorang pedagang sembako.
“Kamu jangan ikut campur!” bentak Tejo.
__ADS_1
“Ada apa ini?” Briptu Ardi tiba-tiba muncul.
Mata Tejo mengarah ke Briptu Ardi yang saat itu sedang tidak memakai seragam polisinya, ia berencana untuk mengunjungi Tarsim alias Barjo.
“Siapa kamu? Orang baru?” ucap Tejo dengan angkuh.
“Maksudnya?” tanya Briptu Ardi.
“Jangan berlagak bodoh! Kau tidak tahu siapa aku? Aku Tejo pemilik lahan ini!” ucapnya dengan sombong.
“Oh ya? Apakah kamu sudah memiliki izin pengolahan pasar?” tanya Briptu Ardi.
“Persetan dengan izin! Ini lahanku ya terserah aku mau aku apakan,” sahut Tejo.
“Sebaiknya urus izinnya dulu sebelum nanti saya yang melaporkan hal ini ke dinas daerah! Karena saya lihat anda meminta iuran dengan harga sangat tinggi dan ini pelanggaran!” ucap Briptu Ardi.
“Man dia siapa sih?” tanya Anwar.
“Kalau dilihat-lihat dia mirip polisi yang menangani kasus di sini,” sahut Firman.
“Den Tejo harus kita kasih tahu!” ucap Anwar.
Anwar pun mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Tejo.
“Den lebih baik kita pulang saja, sepertinya dia polisi yang lagi tugas di sini,” bisik Anwar.
“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!”
“Ya sudahlah! Aku malas berdebat dengan orang seperti kamu, ayo kita pergi!” ucap Tejo kepada Anwar dan Firman.
__ADS_1