
Hari mulai menjelang malam, Tinah yang tadi belum sadar kini mulai membuka matanya dengan posisi tidur namun diikat semua.
Tinah tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa menangis dan ketakutan melihat Barjo yang ada di dekat dirinya dengan wajah yang seram akibat luka bakarnya.
Barjo yang mengetahui Tinah sudah sadar ia mengambilkan sepiring nasi untuk Tinah makan. Dan membuka penutup mulutnya.
“Makan ini,” Barjo yang menyodorkan sepiring nasi ke tempat Tinah.
“Siapa kamu, tolong ... tolong ....” teriak Tinah.
“Percuma kau berteriak tidak ada yang dapat mendengarkan mu di dalam hutan ini,” gertak Barjo.
“Apa mau mu sehingga berbuat seperti ini kepadaku?” tanya Tinah.
“Sudah tidak usah banyak bertanya sebaiknya kau makan saja,” kata Barjo dengan kasar.
“Kau tidak mau makan? Kau akan menyesal” ancam Barjo.
Tinah tetap bersih kukuh tidak ingin memakan pemberian Barjo.
Barjo yang mulai kesal mencoba menyiksa Tinah. Barjo mencoba menjambak rambut Tinah memaksanya makan namun Tinah tetap tidak mau membuka mulutnya.
“Kau harus makan?” paksa Barjo.
Tinah tetap tidak ingin membuka mulutnya, melihat hal itu membuat Barjo semakin marah ia melayang tangannya ke pipi Tinah.
PLAKK (Tamparan keras mendarat tepat di pipi Tinah).
__ADS_1
Tinah semakin takut ia menangis dan berteriak minta tolong berharap ada seseorang yang mendengarnya.
Darah segar mengalir antara sela bibir Tinah akibat tamparan keras Barjo.
Barjo yang di buat semakin marah dengan Tinah mulai kehilangan akal sehatnya. Dan Barjo yang dulu tidak seperti Barjo yang sekarang.
“Jika kau masih tetap seperti itu aku akan membuatmu menyesal,” ancam Barjo kepada Tinah.
Tidak tidak menghiraukan ucapan Barjo, ia hanya dapat menangis ke kuat hatinya.
Dengan gelap hati Barjo mulai membuka baju yang Tinah kenakan satu persatu baju Tinah ia lepaskan dan tidak ada selembar kain yang menutupinya.
Barjo mulai mencium tubuh Tinah berusaha untuk melecehkan Tinah. Tinah yang tidak ingin dirinya di seperti itu kan ia meronta-ronta dengan kaki tangan yang tetap di ikat Barjo.
“Lepaskan aku, aku mohon jangan kau hancurkan aku,” Tinah yang memohon dengan menangis.
“Jika kau tidak ingin keperawanan mu hilang turuti keinginanku,” ancam Barjo yang menjauh dari tubuh Tinah.
Tinah yang takut pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan ia mulai tidak berteriak lagi, Tinah takut Barjo akan semakin marah dengan dirinya.
“Aku akan memakaikan bajumu kembali dan kau harus makan,” ujar Barjo kepada Tinah.
“I-iya a-aku akan menuruti kemauan mu,” sahut Tinah dengan terbata.
Barjo pun mulai membantu mengenakan baju Tinah yang ia lepas tadi. Setelah baju sudah terpasang dengan rapi Barjo pun mulai menyuapi Tinah dengan sepiring nasi yang ia bawa tadi.
Tinah pun membuka mulutnya sambil menangis
__ADS_1
“Jika dari tadi kau tidak melawanku mungkin kau tidak akan tersiksa seperti ini.”
“Sebenarnya apa yang kau mau dari aku?” tanya Tinah.
“Aku akan membaut kau tenang dan tidak merakan sakit lagi.
“Apa yang sebenarnya kau mau dariku, aku mohon lepaskan aku pak!” sahut Tinah dengan memohon.
“Sudahlah, jangan banyak bicara. Andai saja Bapakmu Rohim tidak menghasut warga desa aku tidak akan seperti ini semua ini ulah Bapakmu,” bentak Barjo dengan kesal.
Tinah ternyata secara kebetulan adalah anak gadis Rohim dalang dari pembakaran rumah Barjo.
‘’Bapak Tinah orang yang baik dia tidak mungkin melakukan itu,” Tinah yang membela orang tuanya.
“Baik katamu, jika dia baik wajahku yang rusak ini tidak akan ada dan teman baikku tidak akan mati.”
“Kau? Barjo? Kau tidak mati,” tanya Tinah yang sangat kaget.
“Yang kalian bunuh adalah teman terbaikku Sugeng aku bisa menyelamatkan diri dari tragedi itu tapi separuh wajahku tidak bisa aku selamatkan.”
“Jadi kau yang harus menanggung semua ini!” ancam Barjo kembali.
“Tolong lepaskan aku, aku mohon,” pinta Tinah dengan menangis.
“Aku tidak akan melepaskan mu.”
Barjo meninggalkan Tina sendirian di rumah gubuknya. Ia keluar rumah ingin melihat keadaan di desa dan ingin mengambil ari-ari bayi yang telah di kubur oleh ibu warung kopi.
__ADS_1