ILMU HITAM

ILMU HITAM
Melati yang hilang


__ADS_3

Mereka bertiga mulai kembali ke kamar Melati untuk memeriksa jendela kamar Melati  dan benar saja jendela kamar Melati tidak terkunci dan dugaan Tejo pun benar.


 


Lastri mulai menangis sedih anak satu-satunya pergi dari rumah sedangkan Ki Damar mulai panik karena sebentar lagi pernikahan mereka akan di laksanakan.


 


“Pak bagaimana ini Melati benar-benar kabur dari rumah, ini karena salahmu Pak memaksa Melati menggugurkan kandungan dan menikah dengan Tejo,” Lastri yang sangat kesal dengan suaminya.


 


“Sudahlah Bu, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu kita pikirkan bagaimana kita dapat mencari Melati kembali,” Ki Damar yang meredam amarahnya.


 


“Begini Pak saya akan menyuruh Burhan untuk mencari Melati di desa ini, bisa saja Melati hanya di area desa ini, ia hanya bersembunyi.” Tejo yang memberikan saran kepada Ki Damar.


 


“Baiklah Tejo, dan Bapak juga akan memberi pengumuman bagi Warga desa yang dapat menemukan Melati akan mendapatkan hadiah.”


 


 “Baik Pak Tejo setuju, Tejo pamit dahulu ingin mencari Melati, siapa tahu dia berada di rumah Sri.”


 


“Tidak mungkin sudah lama sekali Melati tidak berhubungan dengan  Sri, Melati hanya di rumah saja semenjak pernikahan mu dan Melati di tetapkan ia tidak pernah ke mana-mana dan Sri pun tidak pernah ke rumah ini,” sahut Ki Damar.


 


“Pokoknya saya akan mencari Melati dahulu disekitaran desa ini,” ucap Tejo dan meninggalkan orang tua Melati.


 


Sementara itu Lastri masih saja panik melihat anaknya tidak ada.


 

__ADS_1


“Bagaimana ini Pak, Melati tidak ada,” Lastri yang menangis berbicara kepada suaminya.


 


“Sudahlah Bapak mau keluar mencari Melati dan menyebarkan pengumuman kepada penduduk desa,” Ki Damar yang meninggal Lastri sendirian.


 


Mereka pun mencari Melati di desa sementara Melati dan Sri masih di mobil angkutan menuju perjalanan kota.


 


Tiga jam telah berlalu Melati dan Sri pun sampai di kota.


 


“Sudah sampai mbak-mbak,” sahut sopir angkut.


 


Mereka pun telah sampai di terminal bus, Sri dan Melati menuju loket untuk membeli tiket bus sesuai lokasi tujuan mereka.


 


“Melati kamu cari tempat duduk dulu, ini tiket kamu aku mau ke toilet sebentar,” ucap Sri.


 


“Tapi Sri, kalau busnya jalan gimana?” sahut Melati.


 


“Enggak lah tuh lihat abangnya aja lagi nunggu penumpang penuh dulu,” sahut Sri dengan santai.


 


Karena takut Sri akan tertinggal, Melati pun memutuskan untuk menunggu Sri di dekat bus. Tanpa Melati sadari sedari tadi ada seseorang yang berdiri di dekatnya.


 

__ADS_1


“Eh ... Copet!” teriak Melati.


 


“Tolong copet!” Melati berteriak sambil berlari mengejar copet tersebut.


 


Beberapa orang yang ada di terminal pun berusaha ikut mengejar copet tersebut, copet itu berlari sangat gesit dia masuk ke dalam gang-gang kecil, beberapa orang mulai menyerah mengejar copet itu namun tidak untuk Melati. Melati terus mengejar copet tersebut hingga perutnya mulai terasa sakit.


Semakin lama perut Melati semakin sakit membuatnya tersandar di tiang listrik pinggir jalan.


 


“Aduh perutku sakit!” Melati meringis kesakitan.


 


Beberapa orang yang mengejar copet bersama Melati pun panik karena melihat darah mengalir di kaki Melati.


 


“Astagfirullah Mbak kenapa?” tanya salah satu pria.


 


“Pak tolong saya! Anak saya!” Melati menangis menahan sakit.


 


Seseorang berinisiatif menghentikan pengendara yang lewat, hingga sebuah mobil menghentikan lajunya dan turun dari mobil.


 


“Ada apa ini Pak?” tanya seorang wanita yang baru saja keluar mobil.


 


“Bu bisa bantu Mbak ini ke rumah sakit? Sepertinya dia pendarahan karena ikut mengejar copet yang mencuri tasnya,” tutur salah satu orang yang ada di sana.

__ADS_1


 “Ya Allah kasihan sekali, ya sudah Pak bantu Mbak ini masuk ke dalam mobil saya, biar saya bawa ke rumah sakit,” ucapnya yang merasa kasihan.


__ADS_2