
Keesokan harinya Barjo yang bekerja sebagai buruh perkebunan milik Ki Damar tidak pergi bekerja Ia memilih pergi ke rumah Ki Damar untuk melamar Melati.
“Hari ini sebaiknya aku ke rumah Melati untuk melamar dirinya, walau aku tahu aku tidak punya apa-apa untuk melamarnya tapi ada perhiasan peninggalan Ibu yang bisa aku gunakan untuk melamar Melati,” gumam Barjo dengan memegang kotak perhiasan peninggalan orang tuanya.
Dengan hati yakin Barjo membawa kotak perhiasan itu dan keluar dari rumahnya. Sepanjang perjalanan Barjo tersenyum gembira dan yakin bahwa lamarannya akan di terima oleh Ki Damar.
“Barjo ... Mau ke mana kau? hari ini tidak ke kebun,” teriak salah satu teman Barjo yang bekerja di perkebunan Ki Damar.
“Tidak Sugeng, aku mau ke rumah Ki Damar melamar Melati,” sahut Barjo dengan penuh percaya diri.
Sugeng pun menghampiri Barjo ia tidak percaya kalau Barjo akan senekat itu melamar Melati.
“Barjo ... Barjo ... Tidak usah bermimpi kau, Ki Damar tidak akan menerimamu sebagai menantunya. Seharusnya kau sadar Barjo mereka siapa dan kau siapa,” sahut Sugeng menyadarkan Barjo dari khayalannya.
“Aku sangat mencintai Melati, aku pun sudah membawa kotak perhiasan peninggalan orang tuaku untuk melamar Melati,” ucap Barjo yang menunjukkan kontak perhiasan yang ia bawa.
“Ha-ha-ha-ha, Barjo ... Barjo jangan mimpi kau Ki Damar tidak akan menerima lamaranmu dan kau tidak tahu Melati akan dijodohkan dengan Tejo,” Sugeng yang menertawakan tindakan Barjo.
“Aku tidak peduli, aku ingin melamar melati,” sahut Barjo yang agak kesal dengan temannya.
“Ya sudah kalau niatmu itu bulat melamar melati, aku sebagai temanmu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu,” sahut Sugeng memberi semangat Barjo.
“Terima kasih Sugeng,” Barjo yang tersenyum lalu bergegas meninggalkan Sugeng kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Melati.
Di setiap perjalanan Barjo teringat dengan kata temannya Sugeng, bahwa Melati akan dijodohkan oleh Tejo.
“Apa benar yang dikatakan oleh Sugeng bawa melati akan dijodohkan oleh Tejo? Kalau itu benar terjadi aku tidak peduli aku akan tetap ingin meminang Melati!” gumam Barjo di dalam hatinya yang tidak terima Melati dijodohkan.
Selang beberapa lama Barjo pun sampai di rumah Melati. Barjo mulai mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Assalammu’alaikum,” sahut Barjo sembari mengetok pintu rumah Ki Damar.
“Walaikumsalam, ada apa Barjo kau datang ke rumahku,” sahut Ki Damar yang membukakan pintu untuk Barjo.
“Be-begini Ki, maksud kedatangan saya un-untuk,” ucap Barjo dengan gugup.
“Sebaiknya kau duduk Barjo, agar bicaramu lebih leluasa,” Ki Damar yang mempersilahkan Barjo duduk di depan teras rumahnya.
“Terima kasih Ki,”
__ADS_1
“Melati ... Melati,” teriak Ki Damar yang memanggil Melati.
Mendengar Bapaknya memanggil Melati pun segera menghampirinya.
“Iya Pak ada apa?” sahut Melati dengan lembut.
“Tolong Nduk, bikinkan minum Bapakmu sama Barjo!” perintah lembut Ki Damar.
“Mas Barjo? ada apa mas Barjo ke rumah dan bertemu dengan Bapak, apa Mas Barjo serius mau melamarku?” gumam Melati yang masih tidak percaya dihadapnnya adalah Barjo.
“Loh kok malah ngelamun di suruh buatkan minuman,” tegur Ki Damar.
“Eh ... Iya Pak,” sahut Melati tersadar dari lamunannya.
“Enggak usah repot-repot Ki dan Melati,” sahut Barjo yang Menolak dengan lembut.
Sementara Melati bergegas pergi menuju dapur, Barjo melanjutkan berbicara kepada Ki Damar.
Namun Barjo tidak langsung berbicara ke intinya melainkan iya harus berbasa-basi terlebih dahulu. Melati yang berada di dapur untuk membuatkan minuman pun di tanyai oleh Ibunya.
“Ada siapa Melati?” tanya Lastri ibu dari Melati.
“Ada apa tidak biasanya Barjo datang ke rumah.”
“Entah Bu, Melati pun binggung ada urusan apa Mas Barjo bertemu dengan Bapak?”
“Ya sudah cepat bawakan minuman ini untuk mereka,” perintah Lastri kepada Melati.
“Baik Bu,” sahut Melati sambil membawa dua gelas minuman kopi.
Sementara itu Barjo mulai menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah Ki Damar.
“Begini Ki maksud kedatangan saya ke rumah Ki Damar untuk melamar Melati. Ini ada sekotak perhiasan peninggalan almarhum ibu saya untuk maharnya,” Barjo yang menyampaikan keinginan melamar Melati.
Mendengar ucapan Barjo Ki Damar pun menertawakan Barjo.
“Ha-ha-ha-ha apa kau tidak salah Barjo kau mau melamar putriku, sudah kau berkaca Barjo kau siapa dan Melati siapa. Lagi pula Melati sudah aku jodohkan dengan Tejo dan hari ini keluarga Tejo akan datang untuk melamar Melati,” sahut Ki Damar yang mengejek Barjo.
“Ta-tapi Ki saya benar-benar mencintai Melati Ki, apa pun akan saya lakukan asal saya bisa menikahi melati,” Barjo yang tetap bersih keras ingin melamar Melati.
__ADS_1
Selang beberapa menit Melati pun datang membawa dua buah cangkir kopi. Melati yang tidak sengaja mendengar perbincangan antara Barjo dan Bapaknya sebelum ia keluar mengantarkan kopi tersebut.
Dan mencoba memberanikan diri berbicara kepada Bapaknya Ki Damar.
“Ini kopinya Pak, Mas,” kata melati yang menaruh kopi itu di atas meja.
“Kenapa bapak tidak menerima lamaran Barjo? Melati mencintai Barjo Pak bukan Tejo,” sahut Melati yang memberanikan diri untuk mengeluarkan isi hatinya .
“Melati apa kau bilang? Jangan bikin malu Bapak! keluarga Tejo akan segera kemari untuk melamarmu!” Ki Damar yang sangat marah dan membentak Melati.
“Tapi Pak Melati tidak mencintai Tejo,” sahut Melati dengan menangis.
Disisi lain keluarga Tejo pun datang menyaksikan penolakan lamaran Barjo.
“Sebaiknya kau masuk kamar sekarang juga, dan kau Barjo bawa kotak perhiasan ini pulang lamaranmu tidak aku terima, aku tau yang mana yang lebih pantas untuk menjadi suami Melati lebih baik kau pulang sekarang juga sebelum aku mengusirmu secara tidak terhormat,” Ki Damar yang benar-benar marah dan merasa malu kepada keluarga Tejo yang sudah datang.
Melati pun dengan sangat terpaksa mengikuti perintah Bapaknya untuk masuk ke kamar dan menangis meluapkan kesedihannya.
Barjo pun menyampaikan beberapa kata kepada Ki Damar.
“Baiklah Ki saya akan pulang, saya harap Melati dapat bahagia bersama pilihan Ki Damar,” sahut Barjo sambil beranjak meninggalkan semuanya dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Tidak terpikir oleh Barjo bahwa Ki Damar akan menolak dan mempermalukan dirinya. Karena Barjo mengenal Ki Damar adalah seseorang yang baik. Dan Barjo pun tidak berterus terang dengan apa yang telah ia perbuat oleh Melati, Barjo tidak ingin Ki Damar akan marah kepada Melati jika mengetahui hal tersebut.
Setelah Barjo pergi meninggalkan Ki Damar, Ki Damar pun menyambut dengan baik keluarga Tejo yang kedatangannya untuk melamar Melati.
“Silahkan masuk Pak Joko dan ibu Surti,” Ki Damar yang mengajak keluarga Tejo untuk masuk ke rumahnya.
“Terima kasih Ki Damar, tadi saya dengar ada yang ingin melamar Melati?” tanya Pak Joko yang ingin tahu.
“Alah Pak, itu hanya pemuda kampung yang tidak tahu diri mana mungkin saya menerima lamarannya,” sahut Ki Damar dengan nada sombong.
“Baguslah kalau begitu Ki, kita keluarga terpandang masa mau menerima lamaran dari pemuda kampung itu,” kata Surti menghina Barjo.
“Iya benar apa kata Ibu, masa pemuda itu ingin menyaingi Tejo itu hal yang tidak mungkin,” ucap Tejo dengan sombongnya.
Mereka berempat menghina dan membicarakan Barjo yang tidak sepadan dengan keluarga mereka.
jangan lupa like dan vote ya man teman
__ADS_1