
Langit mulai berubah menjadi gelap Barjo yang sedang mempersiapkan ritual balas dendamnya ke penduduk desa.
Di kamar khususnya Barjo sedang bersila memegang boneka voodoo yang ia buat dari rerumputan kering ia ikat dan menjadi sebuah boneka voodoo, boneka yang biasanya di pakai untuk ritual santet.
Boneka itu di pengang Barjo dan di asap-asapi oleh kemenyan yang sebelumnya sudah dibakar, tidak lupa juga baca membaca manta memanggil setan untuk membantunya.
“Bantulah aku untuk membunuh yang pernah membuat aku seperti ini,” seru Barjo
Setelah selesai membaca mantra Barjo mulai mengambil beberapa paku, jarum dan pecahan beling lalu memasukkan benda tersebut ke dalam perut boneka tersebut.
Sementara keadaan di desa berubah menjadi histeris salah satu istri pemuda yang Barjo santet berlari keluar rumah meminta pertolongan warga sekitar.
“Tolong ... Tolong ... Tolong suami saya” teriak seorang gadis.
Mendengar teriakan gadis itu penduduk desa keluar rumah.
“Ada apa ini ada apa?” tanya Ki Damar yang kebetulan keluar rumah mendengar teriakan minta tolong yang histeris.
“Ki, Mas Agus Ki, Mas Agus!”
“Kenapa dengan Agus?”
“Mas Agus teriak-teriak kesakitan Ki perutnya sakit.
Tanpa pikir panjang Ki Damar pun pergi ke rumah Agus untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi kepada Agus.
Sesampainya di rumah Agus Ki Damar masuk ke dalam kamar Agus dan terlihat Agus yang terbaring berteriak menahan sakit.
Istri Agus pun langsung mendekatinya dan berusaha menenangkan suaminya.
“Sakit De, sakit perutku seperti teriris-iris dan tertusuk-tusuk,” Agus yang menjelaskan ap yang ia rasakan.
__ADS_1
“Aku seperti tidak sanggup lagi menahan sakit ini,” sambung Agus kembali.
Istrinya yang melihat suaminya seperti itu semakin cemas, dan ia menanyakan kepada Ki Damar.
“Ki bagaimana ini, mas Agus kesakitan Ki.”
Ki Damar duduk di samping Agus yang sedang tidur menggeliat menahan sakit, tangan Ki Damar mulai mengarah ke perut Agus untuk merasakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ki Damar menutup matanya dan merasakan energi negatif yang cukup kuat di dalam tubuh Agus.
“Teluh,” ucap Ki Damar dengan singkat.
“Apa Ki teluh, siapa yang berbuat sejahat ini Ki kepada Mas Agus.”
“Bersabarlah aku coba membatu Agus,” ucap Ki Damar.
Dengan doa yang ia bacakan di dalam hati di tambah lagi energi tenaga dalam yang Ki Damar miliki membuat Agus semakin meronta-ronta kesakitan karena benturan dari energi Ki Damar dan teluh dari Barjo.
Sementara itu Barjo yang tidak terima Ki Damar membantu Agus, semakin membaut Barjo marah lalu menyuruh prewangannya(Jin, setan atau sebangsa makhluk gaib yang membatu tuannya).
“Kurang ajar kau Ki Damar berani ikut campur masalahku, kau pun nanti akan mendapat giliran ha-ha-ha,” ancam Barjo.
“Habiskan Agus” ucap Barjo yang menyuruh prewangannya menghabisi Agus.
Saat Agus tengah muntah ia pun tidak sadarkan diri, ada makhluk yang masuk ke tubuh Agus dan merasukinya.
“Beraninya kau ikut campur, orang ini harus mati,” bentak makhluk itu yang merasuki Agus.
“Kembalilah ke pemilikmu sebelum aku yang akan mengembalikan semua ini,” ancam Ki Damar.
“Ha-ha-ha-ha, coba saja kalau kau bisa,” sahut makhluk itu yang bersemayam di tubuh Agus.
__ADS_1
Semua penduduk kampung mendatangi dan melihat rumah Agus ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Baiklah kau yang meminta,” sahut Ki Damar.
Ki Damar mengulurkan telapak tangannya ke wajah Agus ia mengeluarkan tenaga dalamnya dan juga membacakan doa.
Namun nasib malang berpihak kepada Agus, tubuh agus menjadi kejang-kejang di tambah lagi ia banyak mengeluarkan darah segar dari mulutnya dan benda-benda tajam membuat Agus tidak dapat menahan sakit lalu mengembuskan nafas terakhir dengan mata yang terbuka.
“innalillahi wainna ilaihirojiun,” seru Ki Damar dengan wajah sedih.
Sementara istri Agus pun menangis dengan histeris melihat suaminya tidak bernyawa lagi.
“Mas, bangun Mas, bangun,” istri Agus yang menangis histeris sambil menggoyang-goyangkan badan Agus.
Ki Damar yang melihat peristiwa ini ikut menjadi sedih dan mencoba menenangkan Istrinya Agus.
“Maafkan saya, saya sudah berusaha membantu namun gagal, ikhlaskan suamimu agar ia dapat pergi dengan tenang,” Ki Damar yang memberikan nasehat.
“Mas kok jadi seperti ini toh Mas, aku gak sanggup di tinggal kamu sendiri Mas, kamu sudah janji akan membesarkan anak kita bersama tapi kenapa kamu malah meninggalkan aku Mas,” istri Agus yang tidak terima suaminya meninggal.
“Bersabarlah ikhlaskan, kasihan Agus melihatmu seperti ini,” Ki Damar yang berusaha menasihati kembali.
Malam ini malam yang di rundung kesedihan warga desa karena salah satu warga mereka meninggal dunia.
Disisi lain Barjo yang sedang tertawa akan keberhasilannya membalaskan dendam.
“Ha-ha-ha-ha, mampus kau Agus .Sugeng aku sudah membalaskan dendammu satu persatu orang-orang yang ikut campur membunuhmu dan membuat aku cacat seperti ini mereka harus mati satu-persatu, ha-ha-ha-ha-ha,” gumam Barjo dengan sangat senang.
__ADS_1