
Pasrah, hanya itu yang ada di benak Nathan sekalipun ia tak mampu, ia masih berharap akan keajaiban dari sang pencipta. Begitu juga dengan Ibu Ratna yang tak henti-hentinya memanjatkan doa dengan berlinang air mata.
“Nathan apa yang sebenarnya terjadi?” Wajah sendu Ibu Ratna memandangi aktifitas yang ada di dalam ruangan tempat Melati berada.
“Engahlah Bu, Melati hanya bilang ingin tidur sebentar jadi Nathan memilih untuk duduk di sofa, tapi hanya selang beberapa menit wajah Melati semakin pucat dan tangannya sangat dingin. Nathan mencoba membangunkannya tapi Melati tidak ada respon Bu,” tutur Nathan.
Tidak lama Dokter dan para Perawat keluar ruangan.
“Kenapa cepat sekali? dan bagaimana keadaan istri saya Dokter?” Nathan langsung menghampiri Dokter.
Dokter itu terdiam dan menghela nafasnya beberapa kali.
“Kami sudah berusaha semampu kami, saat kami datang detak jantung pasien sangat lemah. Padahal sebelumnya kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan pasien tidak memiliki riwayat atau keluhan apa pun. Mungkin Tuhan berkehendak lain dan kami turut berduka cita.”
Seketika tangis Ibu Ratna pecah, begitu pula dengan Nathan mereka berdua berlari mendatangi Melati yang sudah terbujur kaku.
Kesedihan Nathan tak bisa terbendung lagi, ia memeluk tubuh Melati dengan sangat erat.
__ADS_1
“Kenapa kamu meninggalkanku secepat ini?” ucap Nathan sambil terus memeluk tubuh Melati.
Ibu Ratna hanya bisa menangis memandangi anaknya memeluk erat jasad Melati.
“Sudah Nak, ikhlaskan Melati,” Ibu Ratna mengelus kepala Nathan.
“Tapi Bu, Nathan belum siap kehilangan Melati!” seru Nathan.
Isak tangis menggema, suasana bahagia karena lahirnya seorang bayi kini berubah menjadi duka. Wanita yang sangat ia cintai kini berpulang dengan cara yang tidak terduga.
Wajah pucat Melati dihiasi dengan senyum kecil, di bibirnya. Melati menghembuskan nafas terakhirnya dengan sangat tenang tanpa beban bahkan ia sempat memberi wasiat kepada Nathan untuk putri kecilnya.
Keluarga dan tetangga juga sudah mulai berdatangan.
“Kita sudah pulang di rumah Melati, dan kamu benar-benar pulang sekarang,” ucap Nathan.
Jasad Melati diturunkan, dan dibawa masuk ke dalam rumah. Nathan dengan wajah sendunya terus memandangi wajah Melati.
__ADS_1
“Sudah Nathan, ikhlaskan istrimu. Apakah kamu tidak lihat ia tersenyum,” ucap salah satu sahabat Nathan yang datang untuk melayat.
“Aku sudah ikhlas, hanya saja aku ingin memandangi wajahnya untuk yang terakhir kalinya,” sahut Nathan.
“Aku turut berduka cita, dan semoga istrimu diberikan yang tempat terbaik,” ucapnya dengan penuh simpatik.
“Aamiin, terima kasih,” sahut Nathan.
Jasad Melati telah dimandikan dan disholatkan, kini tiba saatnya Nathan mengantarkan istri tercintanya ke peristirahatan terakhirnya. Ngiungan sirine ambulan menggema, iring-iringan mobil dari keluarga pun ikut mengantarkan Melati.
Hingga tiba di pemakaman, peti pun telah dimasukkan ke dalam liang lahat. Bunga-bunga tertaburan penuh di atas makamnya, karangan bunga bela sungkawa pun berjejer rapi.
“Tenang dan berbahagialah kamu di sana Melati, aku berjanji akan menjaga dan merawat anak kita sebaik mungkin hingga ia tumbuh dewasa,” ucap Nathan di depan pusara istrinya.
Nathan dan Ibunya serta para keluarga pun pergi meninggalkan pemakaman dan kembali ke rumah.
Rumah yang dulunya hangat karena kedatangan Melati kini hening, sesekali terdengar suara tangisan bayi yang kehausan.
__ADS_1
Dengan sigap Nathan masuk ke dalam kamar, dibantu Ibunya Nathan mengurus Kenanga dengan sepenuh hati dan kasih sayang sesuai janjinya kepada Melati.